Rab. Jun 3rd, 2020

4 November 2016 dan Sebaik – baik Penjagaan Terhadap Al Qur’an

Photo source : http://pojoksatu.id/

4 November 2016 dan Sebaik – baik Penjagaan Terhadap Al Qur’an
oleh Nurus Syarifatul Aini

Bicara mengenai aksi damai yang dilaksanakan serentak pada 4 November 2016. Kemarin baru saja kita menyaksikan aksi damai sebagai bentuk solidaritas umat islam di era modern. Al qur’an, pedoman hidup umat islam dikatakan sebagai “tipuan” oleh gubernur ibukota yang kala itu menyambangi kepulauan seribu. Tak pelak, tentunya hal ini menjadi permasalahan yang sangat booming bagi negara Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama islam.

Al maidah ayat 51, menjadi membumi hanguskan kekaguman masyarakat akan sosok yang mempunyai branding tegas. Disini kita akan belajar bagaimana menjaga lisan, menilik kembali wejangan umat terdahulu, “Mulutmu Harimaumu”. Nyatanya ratusan ribu umat berkumpul pasca shalat jum’at di setiap daerah untuk melakukan long march, sebagai bentuk aksi damai tuntutan pidana teruntuk sang gubernur.

Mungkin ini merupakan cara Alloh membukakaan mata hati umat muslim yang masih terang – terangan mendukung ahok memimpin kembali Jakarta. Tentunya dalam islam, haram hukumnya mengangkat pemimpin non muslim. Dalil inilah yang mungkin membuat pak Ahok pusing tujuh keliling, merasa terpojok untuk membela diri dihadapan rakyat dengan posisinya sebagai kandidat gubernur ibukota, hingga terceletuklah kalimat “Mau aja dibohongin Al Maidah  ayat 51” dalam kunjungannya di kepulauan seribu. Semoga ini menjadi pembelajaran pada para pesohor ini ini dalam bertutur kata, sehingga tidak ada lagi kasus kampanye yang kena demo.

Banyak sekali hal yang bisa kita bahas dari tragedi penistaan agama ini, pertama kita faham betul bahwa bangsa ini sangat mudah tersulut akan hal – hal yang bersifat SARA. Alhamdulilah wa syukurillah dalam aksi damai kemarin tidak menjatuhkan korban jiwa atau huru – hara besar dinegeri ini. Uniknya, untuk meredam para “demonstran” (baca:peserta aksi damai), para polisi dengan barisan rapi mengumandangkan 99 asmaul khusna. Ini benar – benar pilihan cerdas dibandingkan persiapan peralatan seperti gas air mata dan latihan pasukan gabungan untuk mengantisipasi hal – hal yang tidak diinginkan. Hal ini seperti sebuah api yang dipertemukan dengan air. Kami harap tidak lagi ada tragedi berdarah dinegeri ini, cukuplah tragedi Mei 1998 menjadi kenangan pahit yang sudah terkubur dalam kelapangan hati setiap umat.

Ormas terbesar negeri ini, NU dan Muhammadiyah sepakat tidak mengizinkan adanya penggunaan symbol – symbol terkait dalam aksi damai kemarin. Disini kita akan dituntut untuk peka terhadap “respon” para ulama dalam menyingkapi suatu permasalahan yang tidak bisa dianggap kecil.

“Ahok sudah minta maaf. Kita minta seluruh umat islam untuk tenang dan meredam amarah. Jangan dibesar – besarkan. Jika bisa diredam maka persatuan juga bisa dijaga. Jika memang umat islam Jakarta memang tak mau memilihnya karena faktor agama, ya jangan dibesar – besarkan sehingga memicu isu SARA”  dikutip dari resume wawancara dengan KH Maimoen Zubair, Sarang, Rembang. (Majalah Aula edisi November)

Kutipan diatas jangan diartikan sebagai sebuah ketidakpedulian ulama terhadap ukhuwah bangsanya. Penjelasan mendalam mengenai isu SARA merupakan pertimbangan bagi kalangan NU dan Muhammadiyah untuk tidak terlalu reaktif menyingkapi kasus Ahok. Mudah – mudahan dengan berlangsungnya aksi damai yang dilaksanakan serentak kemarin, bisa menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk memprioritaskan penanganan kasus Ahok. Marilah kita buktikan bahwa dinegeri ini, Indonesia,  tidak ada “Manusia Kebal Hukum”. Namun jangan juga dijadikan alasan untuk men-judge muslim lain yang tidak turut turun jalan sebagai gologan “Munafik”.

Mari sama – sama belajar merangkai khusnudzon dalam diri, barangkali memang menjalankan kewajiban yang tidak memungkinkan untuk ditinggal bahkan sedang berjihad dengan cara lain. Kami yakin, baik secara aksi turun jalan maupun secara birokratif, kami muslim bangsa ini sangat berharap adanya pemerintahan yang proaktif terhadap rakyat. Meskipun Ahok sudah meminta maaf, bukan berarti proses hukum terhenti. Kami muslim, bagian tersebar bangsa ini mengecam tindakan pak Ahok yang melecehkan Al Qur’an. Semoga aksi 4 November 2016 kemarin bisa membuat pihak pemerintah dan polri untuk segera menindaklanjuti kasus ini, supaya tidak terjadi lagi reaksi umat yang lebih besar. Kami hanya khawatir, niat baik kami sebagai para pembela kalam ilahi ditunggangi oknum yang berkepentingan. Dan bagian terpenting, sebaik – baik penjagaan terhadap Al Qur’an tidak sebatas reaktif terhadap sebuah penistaan semata, namun terus membaca dan mengamalkannya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: