Sen. Okt 21st, 2019

About

Ceentina pertama kali didirikan pada tanggal 15 Juli 2013 oleh Angga Indra Anurraga atau lebih dikenal dengan Simon Salvatore Maranzano di dunia maya. Ceentina adalah sebuah website berbentuk majalah digital yang berisi tentang sastra, seperti puisi, cerpen, cerkak, geguritan, dan lain – lain. Disamping penulis tetap, Ceentina juga menampung karya – karya penulis umum untuk ikut mengirimkan karyanya agar dipublish di website Ceentina. Itu yang membuat Ceentina juga disebut sebagai sebuah komunitas sastra. Sesuai dengan arti nama Ceentina. Mungkin kita tidak akan menemukan terjemahan kata Ceentina di kamus atau Google Translate, karena nama Ceentina sebenarnya dari bahasa Italia yaitu Centina yang berarti rusuk/pemusatan/centering. Tapi dalam hal ini Ceentina lebih merujuk kepada bentuk rusuk atap. Ada banyak bentuk rusuk atap, tapi rusuk atap rumah di Indonesia rata rata terdiri dari satu kayu yang membentang lalu diperkuat oleh banyak kayu (usuk) yang melintang. Satu website yang diperkuat oleh banyak penulis-penulis berbakat membentuk suatu komunitas. Seperti itulah Ceentina, arsitektur sederhana yang mengayomi penghuni rumah dari panas terik dan hujan.

Penambahan satu huruf “E” dalam kata Centina menjadi Ceentina bukanlah tanpa alasan. Pendiri Ceentina, Simon juga merupakan owner dari Ceemon.com, mungkin sudah jelas jika kata Simon dan Ceemon merupakan kata yang seirama. Dan Centina berubah menjadi Ceentina juga agar seirama dengan Ceemon.

Sejak pertama kali berdiri, Simon tidak bekerja sendiri dalam membesarkan nama Ceentina. Dia dibantu oleh seorang Consigliere (semacam penasehat) dan seorang Underboss, juga para Caporegime, Soldato dan Associate yang dalam hal ini dirahasiakan identitasnya. Tenang, Ceentina bukan Mafia walaupun struktur organisasinya meniru organisasi kriminal Italia tapi Ceentina tidak sedikitpun melakukan tindak kriminal.

Ceentina mengangkat lebih mengangkat kesederhanaan dan kebebasan, terlihat dari karya – karya yang dipublikasikan di website tidak jarang yang keluar dari pakem kasusastraan. Yang terpenting adalah penulis bisa mengexpresikan seni sastra sesuai dengan jiwanya, sesuai dengan apa yang ingin mereka ungkapkan.

Editorial Ceentina
[email protected]