Sab. Mei 8th, 2021

Ah, Ayah…

Langit semakin hitam, sehitam pikiranku yang tak lagi bisa berfikir jernih. Kepalaku pusing, mataku merah dengan lingkar hitam yang sangat jelas, ingin rasanya bisa berbaring sebentar setelah kemarin tidak tidur semalaman, ayahku menderita penyakit komplikasi, stroke, darah tinggi, typus, dan tak sedikitpun makanan yang bisa masuk dalam perut ayahku dua hari ini, yang bisa masuk hanya air dan obat, memakan sedikit sekali bubur, hasilnya muntah-muntah dan kini hanya menngeluarkan lendir dalam muntahnya, bahkan darah.

Malam ini ayah akan di bawa kerumah sakit, entah dengan apa membayar uang rumah sakitnya nanti, aku tidak perdulikan itu, yang aku dan kakakku pikirkan hanya kondisi ayah saat ini yang sudah semakin memburuk. Mukanya pucat, sifat kekanak-kanakannya tiba-tiba muncul seolah-olah selalu ketakutan merasa tidak seorangpun ada disisinya, kondisinya sudah tidak bisa berkomunikasi dengan lingkungan, hanya kesakitan dan ocehannya yang sudah tak jelas.
Berulang kali aku melirik jam dinding yang terpajang pada dinding kamar sembari mengusap-usap kepala ayah dan berdoa lirih di telinganya.
Kulihat ayah hanya menatap lurus ke depan, tatapan kosong. Kembali ku lantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an di telinganya dengan setengah ku pejamkan mataku karena mengantuk.
Disaat kondisiku setengah tertidur kudengar erangan keras dari mulut ayah dan basah yang kurasakan pada tangan dan bajuku. Ayah muntah lagi!
“Mbak, ember cepat!” teriakku memanggil mbak Rani yang sedang menyiapkan baju-baju ayah untuk di bawa rumah sakit.
“Ya bentar” ucap mbak Rani dengan berlari mengambil ember untuk menampung muntahan ayah.
Beberapa menit kemudian mobil teman kakakku terdengar berada di luar rumah, dan terdengar ketukan pintu. Segera kakakku membukanya, 2 orang laki-laki terlihat . tidak berselang lama dengan segera mereka membopong ayah yang kini terlihat sangat lemas dan mungkin sudah tidak merasakan apapun.
“Ly, hati-hati di rumah, kalo udah sampe sana nanti mbak kabarin, oh ya jangan lupa pintu dikunci rapat.” Itu pesan mbak Rani sesaat sebelum pergi membawa ayah ke Rumah Sakit.
“InsyaAllah” jawabku lirih dengan menangis sesenggukan. Sendiri.
Kini kulangkahkan kakiku masuk ke dalam rumah, kukunci rapat pintunya dan entah kenapa tangisku semakin menjadi.
Kulirik jam, baru pukul 19:30, sepuluh menit belum ada kabar dari kakakku. Aku beranjak dari dudukku menuju kamar ayah, melihat kamarnya sedikit berantakan dan bau.
Ya jelas saja bau, sebelum di bawa rumah sakit ayah muntah dan ngompol di kamar ini, astaghfirulloh… mengingatnya membuatku kembali ingin menangis.
Pukul 21:00 malam, rumah sudah ku bersihkan, kini kantuk menyerangku, lelah dan pusing menyertai. Ku lihat handphoneku, ada 2 sms dari kakakku.
“Udah sampai Ly,Ayah masih di UGD.” sms pertama.
“Ayah di ICU, besok pagi kamu kesini bawa baju buat mbak ya, sekarang tidur dulu biar nggak sakit.”
“Oke” balasku.
*****
Delapan hari… ayah belum bangun dari tidurnya, “Tidur yang bukan tidur” kata-kata itu masih terngiang di telingaku,
“Apa maksudnya dok?” tanyaku takut.
“Koma”
“Trus gimana dok?” tanyaku disaat jam besuk.
“Ya… Gimana lagi dek, doain aja yang terbaik, kami bukan bermaksud mendahulukan kehendak yang diatas, juga tidak bermaksud membuat keluarga drop, cuma berdasarkan pengalaman kami yang menghadapi pasien seperti ayah adek ini, kami perkirakan waktunya sudah tidak lama lagi.”
Aku terdiam… Tak sanggup mengeluarkan kata-kata.
Ku dekati ayah perlahan, ku pegang tangannya yang sedikit membengkak. Aku duduk disampingnya, membacakan ayat-ayat suci Al Qur’an, selalu itu yang ku lakukan disaat aku menjenguknya. Tidak bergerak sama sekali, membuka matanya pun tidak, “Astogfirullah hal’adzim…”
Sampai di sore yang mendung ini, akhirnya aku dan mbak Rani meng “iya” kan keputusan kerabat ayah yang memutuskan untuk membawa ayah pulang, menghentikan semua peralatan medis yang menempel di tubuh ayah, dan merawatnya dirumah.
*****
Janjiku padamu ayah, janji ketika engkau masih bisa berbicara dihadapanku, ketika kau masih bisa mendengarkanku bercerita banyak hal kepadamu, janji untuk bisa merubah hidup menjadi lebih baik, aku akan terus berlari ayah,, berlari mengerjar mimpi-mimpi indah khayalanku, tak seberapa jauh lagi ayah, ini semua ku lakukan hanya untukmu… .
*****
Oleh: Yuli Astuti

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: