Sab. Mei 8th, 2021

AKU, KAU, DAN BINTANG

Aku, Kau, dan Bintang

oleh Fulan Az Zahwan

Ingatkah kau di malam yang begitu bening tanpa awan di bulan Juni itu? Kita berbaring di atas atap rumahmu ketika orang tuamu pergi ke luar kota. Hanya ada kita berdua menatap bintang bintang di angkasa, menanti bintang jatuh sebanyak banyaknya agar semua harapan kita yang banyak itu akan terkabul semua. Namun bintang jatuh yang muncul tak sebanyak yang kita harapkan.

Bosan dengan bintang jatuh, lalu kau tunjuk satu bintang yang paling terang diantara bintang-bintang yang lain dan kau berkata “Itulah bintang harapanku.”

Dengan polos aku merusak suasana hatimu dengan mengatakan “Pilihan yang menarik, itu bintang mati.”

“Mati bagaimana? Itu bintang paling terang yang pernah kulihat,” bantahmu tak percaya.

“Sekarang tahun 2022, artinya kedua bintang itu telah mati 1800 tahun yang lalu, karena jarak bintang itu ke bumi 1800 tahun cahaya,” jelasku.

“Sebentar, kau bilang kedua bintang?” tanyamu.

“Iya yang kau lihat sekarang ini adalah Supernova atau ledakan bintang, Supernova yang kita lihat sekarang ini terjadi karena dua bintang yang bertabrakan, itu kenapa bintang itu terlihat sangat terang,” jawabku.

“Aku jadi merasa bersalah karena menganggap sebuah tragedi sebagai suatu keindahan.” katamu sambil beranjak tak ingin lagi melihat bintang itu. Kau terlihat sedih karena kata kataku.

Kupegang tanganmu, menahanmu pergi, tak ingin kurusak malam istimewa ini hanya karena dua bintang bertabrakan yang jaraknya sangat jauh di sana.

“Tunggu, lihat! Lihat cahaya merah meronanya yang begitu cerah. Itu memang sangat indah. Sini berbaring lagi, ceritaku belum selesai tentang bintang itu,” ungkapku menghibur hatimu.

“Tapi …” kau masih tampak kecewa waktu itu namun aku berhasil membujukmu untuk kembali berbaring bersamaku.

“Kedua bintang itu mungkin telah mati saat ini. Bintang itu sudah beberapa bulan ini terlihat begitu terang. Satu atau dua bulan lagi cahayanya akan mulai meredup, terus meredup sampai dua atau tiga tahun kedepan. Lalu akan muncul kembali satu bintang baru. Tak akan seindah yang sekarang, tapi dia akan bertahan hingga jutaan tahun lamanya. Cukup lama untuk menyaksikan satu per satu harapan kita akan terkabul. Sampai semua cita-cita kita tercapai.” Aku menjelaskan sambil terus menatapmu, bukan bintang itu. Kulihat senyummu perlahan tergores di wajah indahmu. Matamu memantulkan cahaya merah dari bintang harapan yang kau tatap, sementara aku menatap indah bintang harapanku sendiri, yaitu kamu.

“Ya… sudah kuputuskan, itu bintang harapanku,” katamu sambil menoleh ke arahku dengan tersenyum.

Mungkin kau memang tidak mengingat semua ini, karena sekarang akhir 2017 dan empat setengah tahun lagi semua itu baru akan terjadi. Tapi percayalah, sebenarnya kita tidak hanya bisa mengingat masa lalu, tapi kita juga bisa mengingat masa depan. Jadi jangan percaya dokter yang bahkan tak ada di masa depan kita, yang berani beraninya memvonis satu bulan umurmu. Cancer takkan bisa membunuhmu. Jalan kita masih panjang.

Meski beribu tahun cahaya, ia kan setia menunggumu, cahaya merahnya kelak akan tertanam di matamu. Dan selama jutaan tahun kita kan terus bersama. Di bawah cahaya bintang harapan.

You brighten up my life just by being around.

Get Well Soon My Love.

23122017

Fulan Az Zahwan

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: