ANAK NAKAL

0
280

ANAK NAKAL
oleh Tinta Angkara

Aku diadopsi oleh seorang pria yang begitu tampan. Meski aku tak pernah memanggilnya ayah secara langsung, tapi dalam hatiku dia adalah ayah yang sangat kusayangi. Beberapa tahun berlalu aku pun semakin dewasa, mulai tertarik dengan lelaki-lelaki di sekitar rumah kami. Sampai akhirnya aku melahirkan tiga anak kembar yang aku sendiri tak tahu siapa saja ayah-ayah biologis mereka. Aku hanya bisa menerka-nerka dari warna mereka. Tapi aku tak mengapa, mereka semua anak-anakku, akan tetap kucintai meski tanpa sosok suami, ayah dari anak-anakku.

Beberapa bulan berlalu, ayah angkatku sepertinya tidak senang dengan kehadiran mereka. Sampai suatu malam aku tak tahu lagi harus kemana mencari anak-anakku. Mereka hilang begitu saja. Aku tak menuduh ayah angkatku, namun saat kukeluhkan kepedihanku, dia hanya terdiam saja. Semua menjadi sangat berbeda, hubunganku dengan ayah angkatku semakin renggang. Apalagi ketika kulihat ayah mengadopsi lagi seorang anak yang kulihat begitu imut dan lezat. Ayah sudah jarang sekali memperhatikanku, dia lebih fokus ke mainan barunya yang lebih cantik dariku.

Lebih baik aku mencari kebahagiaanku sendiri dengan pacar-pacarku yang selalu menggoda tiap kali bertemu. Meski tiap ada yang datang ke rumah, ayah selalu mengusir mereka. Entah kenapa ayah tak pernah suka aku berhubungan dengan siapapun. Aku tak kehabisan akal, setiap malam aku bisa menyelinap lewat jendela. Bercinta dengan lelaki berbeda tiap malam. Hingga aku akhirnya kembali hamil. Kali ini anakku kembar lima. Mereka sangat menggemaskan. Tentu saja ayah marah-marah. Tapi aku yakin aku bisa membesarkan mereka semua.

Keyakinanku mulai pupus ketika makanan tidak begitu cukup untukku dan anak-anakku. Kami kelaparan, ayah entah kemana, tapi kalaupun ada juga dia takkan peduli kuyakin. Aku tak tau lagi harus bagaimana sampai kulihat anak angkat ayah yang baru semakin terlihat gemuk dan sangat lezat tertidur pulas seperti tanpa dosa.

Ini makan malam terindah yang pernah kami lalui. Anak-anak begitu riang, ini kali pertama mereka makan daging segar. Kami pun akhirnya bisa tertidur pulas tanpa rasa lapar.

Pagi menjelang, aku terbangunkan oleh mentari yang menerobos lewat jendela, kulihat ayah hanya termenung melihat darah anak emasnya. Aku merasa bersalah saat itu, aku mendekatinya namun ayah terlalu marah padaku hingga tega menendangku. Aku pun kembali menjauhinya. Kubiarkan ayah sendiri.

Sore itu ayah sepertinya tak marah lagi, dia membelaiku seperti dulu ketika aku masih kecil. Aku jadi teringat masa-masa indah ketika ayah mengadopsiku. Aku ingat ayah sering membawaku jalan-jalan dengan mobilnya. Sungguh masa-masa yang indah. Namun telah lama berlalu. Ayah tidak lama membelaiku, ia pun mengajakku ke mobil, sepertinya pikiran kami sama, mengenang masa-masa indah dulu. Aku ingin mengajak anak-anakku namun ayah tak mengijinkan. Baiklah, mungkin ini momen kami berdua untuk bernostalgia.

Akhirnya aku bisa jalan-jalan lagi dengan ayah seperti dulu, meski bagiku ini terlalu sore untuk jalan-jalan. Semakin lama hari pun mulai gelap, entah kenapa ayah belum juga memutuskan pulang, malah berhenti di suatu tempat yang gelap. Hanya ada jalanan panjang yang diapit hutan yang lebat. Tak tahu apa yang akan kami lakukan di sini. Ayah mengajakku turun, aku turuti saja maunya meski penuh keraguan di hatiku. Ayah kembali membelaiku, lalu pergi begitu saja masuk ke dalam mobilnya. Aku hanya bisa menatap lampu belakang yang semakin menjauh pergi lalu menghilang dalam kegelapan. Aku tak tahu lagi harus bagaimana, aku kangen ayah, aku kangen anak-anakku. Dan kini aku takkan pernah lagi bisa bertemu mereka semua. Maafkan aku ayah, aku hanya kucing kelaparan, aku tak mengerti betapa berharganya burung kecil itu bagimu.

Negeri Saba, 3 Juli 2018
Flash Fiction by Tinta Angkara
Oil Painting by Tinta Angkara

Tinggalkan Balasan