Ming. Okt 2nd, 2022

Apa yang Lebih Menyakitkan dari Sebuah Kematian?

Photo source : http://www.kontras.org/

Apa yang Lebih Menyakitkan dari Sebuah Kematian?

Karya Nurus Syarifatul Aini

Meski waktu telah memasuki penghujung malam, suara tarian jemari diatas keyboard masih syahdu terdengar. Bangunan rumah tua peninggalan orang tuanya yang mulai menampakkan retak rambut pada tembok disetiap sudut ruang semakin menambah kesan sunyi, mungkin ini merupakan saksi sejarah dimana sebuah luka masa lampau terkubur begitu dalam. Tidak ada yang benar – benar tahu bagaimana bisa seorang gadis berdarah Tinghoa mengiringi pemakaman kedua orang tuanya dengan sebuah senyuman. Tidak ada satu butirpun air mata yang jatuh, bahkan bendungan air mata saja tak terlihat pada kelopak matanya.

Apakah hatinya tidak terluka dengan hilangnya orang tersayang dari hidupnya? Atau memang gadis manis berwajah ceria ini membungkusnya dengan sangat rapi didalam jiwanya. Tidak pernah ada yang melihat wajah gadis manis ini muram, tatapan dipenuhi binar mata yang sangat bersahabat serta dua lesung pipi yang akan membuat siapapun rela tertawan tatapan matanya. Apa benar jika gadis manis ini terlahir tanpa bisa merasakan tumbuhnya rasa duka dalam dada?

Sepulang ayahnya berkerja sedangkan ibunya sibuk menyiapkan makan malam. Seorang gadis berusia lima tahun bergelayut manja pada ayahnya. Gadis yang sedang manis – manisnya dalam bersikap, mulai bercerita apa yang dialami ketika hari pertama masuk sekolah. Mulai dari beragam teman yang baru ia kenal hingga Ibu Guru Mey yang mampu meluluhkan sikap acuhnya pada orang asing. Ibu guru bertubuh semampai dengan rambut yang selalu diikat rapi itu juga punya senyuman maut dengan dua lesung pipi sepertinya. Selain rasa welas asih seorang guru, mungkin kesamaan inilah yang membuatnya merasa nyaman.

Ketika ayahnya sedang tersenyum meng-iyakan setiap pernyataan putrinya, tiba – tiba terdengar kerusuhan didepan rumah. Alih – alih mengamankan diri dan keluarga kecilnya, sebagai seorang ayah, beliau berjalan menuju teras rumah sedangkan aku menggenggam celana panjangnya dari belakang, mengikutinya dengan perasaan was – was berbalut ketakutan.

“Berhenti, mari kita melarikan diri melalui pintu belakang, cepat bergegas suamiku, mara bahaya besar sedang menghampiri kita.” Ibu meraih si gadis ke dalam gendongannya, seakan tak peduli perutnya yang membuncit besar terasa sakit.

“Tidak, Ma, jangan terlalu tergesa memutuskan hal besar, kita sudah membangun impian ini sejak lama, bahkan kita rela meninggalkan tanah kelahiran kita sendiri, jangan perkecoh  dengan huru – hara negeri ini, tidak bukan bagian didalamnya”

Tak lama setelah perdebatan suami istri Tionghoa itu berlangsung, segerombolan pemuda dengan bringas memasuki ruang tamu. Tanpa ampun pria Tionghoa ini menjadi bahan amukan massa dihadapan putri kecilnya sendiri. Seorang pria tumbang bersimbah darah tanpa tahu kesalahannya. Salah satu alasan yang ia ketahui yakni karena ia manusia berkulit putih dengan mata sipit, bukan bagian murni bangsa ini. Kesalahannya sendiri hijrah ditanah yang tak seharusnya ia pijak. Jerit tangis kedua wanita yang hanya bisa meringkuk berpelukan menanti giliran tercabut nyawanya. Posisinya sebagai warga negara yang sah secara hukum kini bias akan bau anyir darah. Mereka merupakan bagian dari perburuan tumbal reformasi. Bulan Mei, menjadi saksi bisu jerit tangis akibat propaganda politik. Satu – dua orang di singgasana bermain, maka satu – dua ratus orang di jalanan terenggut nyawanya.

Prangggggg…

Bunyi piring melenyapkan bayangan dari masa lampau. Dengan senyum sinis ia menyapu air matanya yang meleleh tanpa ia sadari. Ia merengkuh kucing hitam yang menatapnya nanar. Wajah ceria itu sirna dengan satu sapuan senyum sinis penuh arti. Siapapun tak akan pernah melihat ekspresi wajahnya saat ini. Kesunyian merayapi dinding bangunan yang sekilas terlihat menyeramkan. Gadis ini melanjutkan kembali tarian jemarinya sembari memangku kucing hitam kesayangannya.

Fajar menyingsing menandakan hari benar – benar telah berganti. Gadis ini menuju ranjang untuk merebahkan diri. Menyelimuti diri dari kilaunya fajar yang menyingsing pagi hari. Gadis manis ceria ini sudah dua bulan menjadi manusia kelelawar. Melenyapkan diri dari hiruk pikuk kehidupan manusia pada umumnya. Jiwanya entah kemana ketika jasadnya tak sengaja terselamatkan.

Pagi ini adalah hari pertama bulan Mei, juga hari kehilangan dimana ayah, mama, dan bu guru Mey menjadi tumbal revolusi. Mereka semua pergi bersimbah darah, meninggalkan jejak ingatan pahit. Gadis kecil yang kebingungan ketika menemukan diriya berada diantara kerumunan manusia berbaju putih. Satu pasang mata menatapnya bahagia, memposisikan diri sebagai pahlawan yang menyelamatkan jiwanya. Para manusia berbaju putih ini justru membuatnya hidup dineraka, sendiri tanpa keluarganya.

Sejak itu, ia telah bersumpah untuk melupakan air mata dan kemurungan di hadapan orang lain. Hidupnya hanya akan berarti ketika kematian ayah, mama dan bu guru Mey terbalaskan. Pada kehidupan kedua ini ia harus kuat dan semakin kuat. Sebuah kebencian yang terkubur begitu dalam tanpa siapapun menyadarinya. Kuburan dendam yang siap terbongkar kapanpun dimasa depan. Kuburan dendam itu layaknya bongkahan es dalam lautan, siap mengaramkan kapal apapun yang melewatinya.

Persediaan makanan telah habis, pagi ini tidak ada jatah memejamkan mata karena ia harus menuju pusat kerumunan manusia. Kaca mata hitam membantunya melepaskan rasa tidak nyaman karena terik matahari. Sebulan yang lalu, terakhir kali matanya melihat cahaya fajar.

“Belanjanya banyak sekali neng, ada berapa orang dirumah?”

Pertanyaan seorang pria berlogat betawi itu tiba – tiba berubah menjadi seonggok tombak yang menghujam jantungnya. Darah dalam tubuhnya terasa menghangat, berdesir bercampur dendam. Dalam lubuk hatinya, timbul kerinduan pada mereka yang jiwanya terenggut paksa. Tarikan nafas yang dalam nyatanya ampuh menurunkan emosinya, mengontrol tindakannya, sehingga kerumunan manusia itu hanya menyaksikan senyuman wanita berlesung pipi yang menawan mata siapapun. Tak akan ada yang tahu seberapa murka wanita itu, karena wajahnya lihai menipu penglihatan siapapun.

Jakarta, pusat kota yang bergelimang kesenangan, huru – hara manusia robot yang mudah di sulut untuk kepentingan politik ini sungguh memuakkan. Rasanya, kembali ke negeri sendiri lebih menenangkan, tapi dendamnya belum terbayar pada bangsa ini. Ia akan tetap singgah sembari menyusun rencana pembalasan yang lebih menyakitkan dari pedihnya sebuah kematian. Bangsa ini harus tahu arti kehilangan. Jika kematian adalah jalan satu – satunya bagi manusia untuk merasa kehilangan, maka itu bukan pilihan yang sulit.

Tidak akan ada yang menyadari kematian beruntun tanpa jejak dari keluarga demonstran tahun 1998. Polisi kelimpungan mencari mayat para korban. Pada era ini, pembantaian yang amat rapi telah terjadi tanpa meninggalkan jejak. Entah siapa yang mendalangi, atau apa motifnya, tidak ada yang benar – benar tahu. Polisi tutup mulut, toh para korban bukanlah manusia berdarah biru yang diburu media pemberitaan. Negara tidak sempat memikirkan kematian puluhan orang karena jutaan manusia sedang terbakar api politik. Di negara ini benar – benar tidak ada yang sempat peduli!

Dalam diam, gadis manis berwajah ceria ini tumbuh menjadi wanita cantik yang amat cerdas bersiasat. Dalam kurun waktu dua puluh tahun ia benar – benar tumbuh menjadi wanita yang hebat. Seluruh bagian negeri ini mengenalnya, memujinya. Para penguasa saling berebut menawarkan hidupnya demi bersanding dengan wanita ini. Bersanding dengan wanita nomor satu dimata umat adalah sebuah kemenangan besar dalam dunia politik. Negeri ini begitu haus akan sebuah pencitraan. Bukan hal baru jika setiap partai berlomba mengusungnya menaiki tahta, menyandingkannya dengan para pengampu kuasa dinegeri ini.

Wanita berkulit putih dengan mata sipit yang dulunya menjadi korban buruan, kini berjubah kekuasaan. Aksinya dalam program kemanusiaan begitu menyentuh hati jutaan umat. Wajahnya yang selalu sumpringah dengan tatapan tulus itulah pelengkap perisai perangnya. Kini ia siap melakukan perburuan era modern. Menggali kuburan dendam dalam dirinya, membebaskan luka masa lalunya. Kematian bukan lagi tujuan dalam menyalurkan dendam. Negeri ini terlalu bodoh merasakan kehilangan kareana kematian. Pasti ada yang lebih menyakitkan dari sebuah kematian. Lalu, apa yang lebih menyakitkan dari sebuah kematian?

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: