Rab. Des 8th, 2021

Amber_Avalona / Pixabay

Arief Chandra | Sayap Rapuh

001
bismillah

TANAH

di cipta
untuk mencipta
semesta alam
semua akan kembali

Arief Chandra
301118
sei aro


002
BANGKITLAH

pemulung mengeja
profesor membaca
sastra mendunia

#pusai_pagiku

Arief Chandra
30/11/18 sei aro


003
SAYAP RAPUH
Arief Chandra

mengepaklah
ejalah mega-mega
walau rapuhnya bahasa
katakan pada dunia
mari membaca
jendela jiwa
terbuka

Salam pagi semua

02-12-18 jmb


004
BELAJAR MENGAJAR
Arief Chandra

Jangan kau bebani diri
semailah cahaya hati
agar semua tersinari
keredupan terang kembali
bumi pun indah mewangi

Salam kemaafan

02-12-18 jambi


005
DUNIA AKSARA
Arief Chandra

kucoba tuk menggali
dikedalaman lubuk hati
bertaburan aksara
yang belum dapat dieja
masih tersampir di palung jiwa

aksara tertimbun dalam sunyi
kini saatnya akan kurajut jadi puisi
tuk melepas resah dihati
gejolak jiwa kini terobati

kata-kata yang mengurai rasa
merangkul dan mendekap dunia
biarkanlah, aksara terus tereja
ungkapkan gejolak jiwa

kini
dunia aksara, menembus mega
taklukkan alam semesta
sastra pasti terus bercahaya
menerangi jiwa yang gulita

03-12-18 jmb


006
BULIR KENANGAN
Arief Chandra

didedaunan rumbia
yang teranyam tersirat rapat
di kasau-kasau berbilang makna
kasau-masau tunggu tinggal tempat
falsapah lama yang telah dilupa
peradaban entah meraja lela
ungkapan kias petuah tua
tak dihirau tak pula dibaca

buliran mengalir kenang-kenangan
kata pantangan tak dipuisikan
syair sajak tak didendangkan
pantun seiring tinggal ejaan

umpan umpin tak ada ampunan
geletak geletuk menggiurkan
belukar bentara hilang pandangan
cakar besi bercengkrama penindasan

budaya hilang
harapan terbuang
campur asuh yang bertandang

anak negeri menghamba diri
negeri sendiri asingnya diri
diri kini tak tahu diri

03-12-18 jmb


007
Bismillah

Syair melayu ke (5)
MENJALIN KASEH
Karya : Arief Chandra

Larak lirik mata hitam memandang
Membuat khayal terbang mengawang
Siang malam hati taklah tenang
Sihitam manis terus membayang

Kusingkap tirai kujalin kaseh

Entahlah apa ini gerangan
Sihitam manis jadi bayangan
Tak bisa tidur tak enak makan
Resah gelisah jadi pikiran

Kusingkap tirai kujalin kaseh

Kala petang menjelang senja
Diufuk barat mewarna jingga
Jiwa resah gundah gulana
Sihitam manis terus menjelma

Kusingkap tirai kujalin kaseh

Senja hilang malam pun tiba
Didalam rumah hidup pelita
Entah kenapa dikau hai..jiwa
Sihitam manis selalu menggoda

Kusingkap tirai kujalin kaseh

Cahaya
Rasa dalam rasa

13 Agustus 2018
Serambi muka Simpang Betung Tebo


008
LATAH PAGI

Kembang kempis perut petani
Senyum indah miris sekali
Tertawa beringas yang berdasi
Sampaikan janji tak terlunasi
Merdu irama isak anak negeri
Gemulai indah liukan diri
Hasil bumi pun kini pergi
Merantau jauh keluar negeri
Yang punya tanah gigit jari
Anak negeri bersenandung caci
Pujian santun penipulasi
Terbuai anak petani
Berseru angin mamiri
Mendekap raga remuklah hati
Ucapan selamat bertubitubi
Pujian penjilat bersafari
Muka berdempul bedak berdaki
Sarah saran tak peduli
Hukum akhirat berlakunya nanti
Hati tak bergeming sama sekali
Adzab Tuhan dianggap ilusi
Dianggap cerita dalam puisi
Carutmarut disana sini
Adakah mereka peduli?
Masa bodo utamakan diri
Perut kenyang yg lain tak peduli
Inilah cerita latahnya mentari
Sinar terputus dibalik janji
Cerita lama yang telah basi
Oh…negeri
Oh… Ibu pertiwi
Lihatlah anak negeri
Mereka bernyanyi dan menari
Dibawah teriknya hujan reformasi
Salam kami pada mereka yang obral janji

Salam pagi
Tuk anak negeri
Dekaplah erat ibu pertiwi
Dalam sumpah palsu NKRI yang katanya harga mati
Namun terus kau sakiti
Produck dalam negeri
tak pernah kau cintai
Budaya asing yg kalian puji
NKRI bualan hina didalam hati
Pujian harap dipuji
Sampai mati
Baru kau sadar diri!!!

05-12-18 jmb


009
TAMBATAN HATI

Kupintal tali aksara puisi
Kutenun dikedalaman sunyi
Kurajut mimpi-mimpi
Kelak menjadi tambatan hati
Kebahagiaan kan menanti

06-12-18 jmb


010
Bismillah

KURSIKU
Karya: Arief Chandra

Dulu kuhabiskan hartaku
Kuumbar janji janji
Kurayu sang merpati
Kupikat para kumbang
Sehingga sang bungapun
terlena

Angin yg bertiup pun terhenti
Gelombang badai mereda
Kilatan gemuruh guntur
tak pun menggelora
Kala aku bercerita
dengan reka rekaku

Bermacam cara nyanyian
kulantunkan semerdu kicauan
beburungan mendayu
Agar semua terpedaya
Oleh gombalku

Kini….
Kursiku yang slalu kupuji
Yang membuat aku bangga
Jadikan aku mulia
Punya nama
Slalu dihormati
dan disegani

Kini….
Kau ikat aku dgn kejam
Kau rajam dan kau tikam
Ragaku dapat ganjaran
Jiwaku pun tenggelam
Dalam lembah yang hitam
Dipenuhi dosa dosa hina

Kini…
Baru kusadari
Sekejap mulia kurasa
Kekal hinanya jiwa
Dihadapan sang kuasa
kuberdoa dan meminta

Mamun….
Dosaku tak berampun kiranya
Karna aku bersalah pada semua
massa dan rakyat jelata

Oh… Tuhan….
Terhapuskah dosa dosaku
Sedangkan mereka
Mereka semua sudah kutipu

Oh… Tuhan…
Andai aku tahu
Ini yang akan menimpaku
Tak kan ku mau
Untuk mengejar mimpi tabu

Penyesalanku
Kepada siapa ku mengadu
Kini….
Aku sekarat
Aku terlaknat
Aku bejat
Aku biadab
Aku penuh hasrat

Padahal…aku tahu
Kalau aku tak mampu
Hanya ambisiku
Yang menghancurkan ku

Aku tahu
Waktu pun aku tak mampu
Untuk jujur dalam olahku
Aku sadar
Waktu yang telah mengatur
Bukannya aku yang mengatur waktu

Kursiku
Laknat diriku

Salam

Tebo Ilir Jambi Indonesia

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: