Sab. Okt 1st, 2022

Asa di Penghujung September

ACTION 2 – Asa di Penghujung September – Dianingtyas Kh.“Sri…,” seru sebuah suara memanggilku. Tanpa menoleh, aku tahu yang memanggil adalah Kinar, sahabat karibku.

“Ada apa?”
“Ke rumahku, yuk,” katanya. “Kita kerjain PR dulu.”
“Maaf, Nar, kali ini aku tak bisa. Ada urusan yang mesti kukerjakan.”
“Alaa… urusan apaan, sih?”
“Ada, deh… Lain kali saja, Nar. Besok aku janji datang pagi-pagi, jadi kamu bisa mencocokkan PR-terlebih dahulu.”Dengan bergegas, kutinggalkan Kinar yang sedikit manyun. Kinar, sahabat baikku. Anak orang kaya, tetapi tidak sombong. Si cantik primadona SMA Harapan, sayang kapasitas otaknya di bawah rata-rata. Biasanya aku mengerjakan tugas bersama dia, maksudnya, aku yang mengerjakan dan dia tinggal mencontoh. Namun, aku tak pernah keberatan karena ia tak pernah malu berteman denganku, anak kampung nan miskin ini. Sayangnya hari ini aku tak bisa karena mesti mengantarkan jahitan ibu ke rumah Bu Markum, juragan konveksi ibu.

Ibu memang sedang sakit sehingga tak bisa mengantarkan jahitan sekaligus mengambil orderan lagi dari rumah Bu Markum. Kalau sudah begini, akulah yang menggantikan tugas-tugasnya, termasuk menjahit baju orderan dari Bu Markum. Memang sih, jahitanku belum serapi Ibu, tapi untuk ukuran konveksi masal, jahitanku sudah cukup memenuhi syarat.

Oleh karena itulah hari ini aku tak bisa membantu Kinar mengerjakan PR-nya. Menyelesaikan pekerjaan ibu jauh lebih penting bagiku karena itulah nafas kami. Tanpa jahitan-jahitan itu, bagaimana kami akan makan? Bagaimana aku harus menebus obat ibu di apotek? Bagaimana aku membayar uang LKS yang sudah ditagih oleh Bu Dina, wali kelasku?Dengan langkah lebar-lebar, kuayunkan kaki melewati gerbang sekolah. Dari sana nanti aku akan mengambil jahitan Ibu yang kutitipkan pada  Pak Sarju, pemilik parkiran dekat sekolah. Sengaja aku membawanya agar tak usah menempuh dua kali jalan, karena kebetulan rumah Bu Markum berada tak jauh dari sekolahku.

“Mau ambil titipan, Sri?” tanya Pak Sarju ramah.

“Iya, Pak,” sahutku sambil tersenyum. Tak ada alasan untuk tak tersenyum terhadap pria baik ini, meskipun terik siang penghujung September tengah memanggang kepala dan perutku pun sudah lapar bukan main. Dengan sigap Pak Sarju mengambilkan bungkusan ibu, lalu memberikannya kepadaku. Dengan sigap pula aku menerimanya dan meletakkan pada boncengan sepedaku. Setelah mengangsurkan selembar ribuan dan mengucapkan terima kasih, aku pun segera berlalu dari hadapan Pak Sarju.  Tak lupa kuiyakan pesan Pak Sarju untuk berhati-hati di jalan.Perlahan, kukayuh sepeda tuaku. Bukan hanya karena mematuhi pesan Pak Sarju untuk berhati-hati saja, namun karena aku takut baut-baut yang menempel di sepedaku akan berjatuhan jika aku mengayuhnya kencang-kencang.

Sepeda tua ini peninggalan ayahku. Usianya bahkan lebih tua dari aku karena Ibu bilang, kalau sepeda ini sudah dimiliki ayah ketika belum menikah dengan ibu. Sayang,  hanya sebentar aku bisa merasakan kasih sayang ayahku. Kata ibu, ketika usiaku dua tahun, ayah memutuskan untuk merantau ke Malaysia agar ekonomi keluarga membaik. Dan sayangnya pula, sampai hari ini kami tak mendengar kabar tentang ayah lagi.Ayah seolah hilang ditelan bumi. Barangkali nasibnya tak beruntung, tetapi sampai hari ini aku dan ibu masih mengharapkan kedatangannya. Entahlah. Hanya doa yang senantiasa kami lantunkan demi keselamatan ayah yang telah meninggalkan kami empat belas tahun lamanya.

“Panas, Sri?” tanya Bu Markum ketika aku sampai di rumahnya.

“Lumayan, Bu,” jawabku sambil tersenyum. Ah, banyak sekali orang baik di sekitarku.
“Ibumu sakit lagi?”
Aku mengangguk.
“Ibumu bekerja terlalu keras.”
Aku hanya mengiyakan sambil menggumam saja karena sibuk membuka ikatan kain di boncenganku, lalu menyerahkannya kepada Bu Markum.Aku tahu, Ibu memang bekerja terlalu keras demi kami berdua. Meskipun selama ini aku memperoleh beasiswa, tapi biaya makan dan buku-buku masih perlu kami bayar. Hidup kami sehari-hari sudah sangat sederhana, tetapi kebutuhan hidup yang kian hari kian mahal membuat kami tak bisa bekerja lebih santai sedikit saja.

“Andai ada ayah, ya Bu,” kataku suatu ketika pada Ibu. “Pastinya kita tak akan menderita seperti ini.”

“Tak baik menyesali masa lalu, Sri. Yang penting kita berdoa untuk keselamatan ayahmu saja. Siapa tahu, suatu saat nanti Allah mengirim ayahmu kembali untuk kita.”Barangkali, berharap ayah datang kembali adalah satu-satunya mimpi terindah kami. Selagi belum ada kabar kepastian tentang ayah, aku selalu berharap bahwa ayah masih hidup dan akan kembali kepada kami, bagaimana pun keadaannya. Namun, pemberitaan tentang TKI-TKI di negeri tetangga itu seringkali tak mengenakkan, apalagi TKI ilegal. Meskipun menyelinap rasa khawatir, kami  tetap  berdoa dan berharap. Memang, hanya itulah yang kami bisa saat ini.

Setelah Bu Markum memberikan kain-kain yang harus dijahit ibu, aku segera pulang. Banyak yang mesti kukerjakan hari ini. Menyelesaikan PR Matematika dan Bahasa Inggris dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, lalu mulai menjahit karena ibu sedang tak enak badan. Ah, jika melihat ibu sakit begitu, ingin rasanya aku berhenti sekolah dan menjaganya saja. Tapi, jika aku berhenti sekolah, bagaimana kami bisa meningkatkan kehidupan kami nanti? Aku tak mau selamanya mengandalkan otot untuk bekerja.

Perjalanan dari rumah Bu Markum menuju rumahku  biasa kutempuh dalam waktu setengah jam. Namun, dengan sedikit ngebut, meskipun dalam hati khawatir dengan keadaan baut-baut sepedaku yang seolah siap copot, aku dapat menempuhnya dalam waktu dua puluh menit. Sayang, aku kurang hati-hati di tikungan menuju rumahku, ketika sebuah mobil mendadak membelok dari arah yang berlawanan. Dan, braakkkk….

Untunglah hanya lecet sedikit. Mungkin juga sedikit keseleo. Namun, beda halnya dengan sepedaku. Rodanya ringsek, tak berbentuk. Baut-bautnya berlarian ke sana kemari. Tanpa dapat kutahan, air mataku melesak, membanjir menangisi sepeda itu.

“Sudahlah, jangan menangis, Nak. Maafkan Bapak yang tidak hati-hati berkendara,” kata si pengemudi mobil kepadaku.

Aku memandangnya. Enak saja bilang aku jangan menangis. Sepeda itu satu-satunya alat transportasiku ke sekolah. Juga untuk mengambil jahitan di rumah Bu Markum. Tapi, yang paling penting, sepeda itu adalah penjembatan antara aku dengan ayahku, yang selama ini hanya kukenal lewat cerita-cerita ibu.
“Jangan menangis, ya, kan hanya luka lecet. Nanti sepedamu Bapak ganti.”
“Bapak bisa saja mengganti sepeda itu,” sahutku sambil  tetap menangis. “Tapi Bapak tak bisa mengembalikan kenangan saya atas sepeda itu.”
“Maafkan Bapak, Nak. Sungguh Bapak tak sengaja. Kalau Bapak boleh tahu, kenangan apa yang tersimpan dari sepeda itu?”
“Buat apa Bapak tahu? Toh, sepeda itu tak akan kembali utuh seperti semula. Itu sepeda peninggalan ayah saya, Pak. Satu-satunya peninggalan ayah saya,” kataku sambil terus menangis.
Tiba-tiba saja laki-laki pengemudi mobil tadi bangkit, lalu mengumpulkan puing-puing sepedaku yang masih tercecer.
“Nama ayahmu Kurdi?” tanya tiba-tiba.
“Bagaimana Bapak tahu?” tanyaku terkejut.
“Ini ada namanya di bawah sadel,” katanya sambil menunjukkan sadel yang sudah terlepas dari badan sepeda.
Bagaimana dia tahu kalau di bawah sadel itu ada nama ayahku? Sementara aku yang mengendarainya sekian tahun saja tak tahu?
“Namamu Sri dan ibumu bernama Asih, bukan?”Lagi-lagi aku terpesona. Mengapa dia tahu namaku? Bukankah kami baru saja bertemu? Tiba-tiba saja lelaki itu berjongkok di depanku. Kulihat matanya memerah, seolah menahan sebuah perasaan. Lalu, dengan kedua tangannya, ia memegang pundakku dan katanya, “Maafkan aku, Nak. Akulah ayahmu yang sekian tahun meninggalkan kalian.” Ayah? Sungguh, aku terpana dan tak tahu harus berbuat apa. Meskipun belasan tahun aku berharap bahwa ayahku masih hidup, tapi bertemu dengannya dalam keadaan begini tidaklah pernah kubayangkan. Ah, andai saja ibu berada di sini, aku pasti tak akan ragu melompat ke dalam pelukan laki-laki yang mengaku sebagai ayahku itu. Sekian detik berlalu dan aku masih terpaku tanpa tahu harus berbuat apa. Tak ada haru karena rasa terkejut lebih mendominasi perasaanku. Tak ada pelukan sayang karena rasa canggung yang masih mendera. Tetapi,  ada sekelumit asa akan kepastian masa depanku. Asa di penghujung September yang akan menerbangkan kami ke masa depan yang lebih cerah.

*****

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: