Sab. Mei 8th, 2021

Bukan Kutukan

ACTION 2 –  Bukan Kutukan – Fitri.Y. yeyeSeptember bulan yang tak ia sukai, Ia tak pernah rindu September. Akan tetap sama sepertiSeptember di  tahun-tahun sebelumnya.

Mendung, penuh dengan cerita-cerita duka yang menyakitkan. Baginya September membalutnya dalam  dingin dan kebekuan, hingga jiwanya sendiripun menjadi terasa kaku.Terlalu sering ia menangis di September akhir-akhir ini.
Ia lahir di bulan September, ia senang mengingat september, bahkan ia selalu menantikan bulan itu. Hingga seringkali bicara kepada mamanya.“Mengapa tidak ada dua atau tiga kali september dalam satu tahun Ma? Mengapa hanya satu kali saja?” Mama membelai rambut tebalnya dengan penuh sayang. Dengan senyum mengembang di pipi lancipnya. Sekarang… jangankan dua atau tigakali setahun, bahkan setahun sekali saja dia enggan menunggu September.

Semua berawal dari hujan di September tiga tahun lalu, badai merenggut Mamanya dalam kecelakaan maut di malam hari ulang tahunnya. September yang menyakitkan, luka itu sangat membekas, duka kehilangan mama tak pernah bisa lepas dari ingatannya. September semakin membuatnya mendendam. Lukanya tak pernah sembuh karena di septemberberikutnya, dia ditinggal papanya. Seolah kebahagiaan satu-persatu berderai-derai dalam hidupnya. Papa menikahi seorang perempuan yang hampir seusia dirinya. Bencinya pada September menjadi-jadi. Ketika ia harus kehilangan kekasihnya.

Malam itu harusnya istimewa. Laki-laki pujaannya mengajaknya pergi,  ia ingin tampil sesempurna mungkin. Gaun shifon lembut berwarna terang melekat indah membentuk lekuk tubuh mungilnya. Rambutnya yang sebahu hanya dijepitnya di bagian kiri. Sedikit polesan lipstick warna bibir, sepatu wedges dengan tali bersilang bagian depan memperlihatkan betisnya yang langsing berisi bak bulir padi. Ia melangkah ke teras depan, melempar pandangannya ke ujung jalanan, menunggu dengan harap-harap cemas sang kekasih akan datang menemuninya. Tetapi tidak, detak waktu terasa sangat lambat berjalan, sang raja hati tak jua memperlihatkan tanda-tanda kedatangannya. Jam ditangannya sudah menunjukkan pukul 21.30 wib.

Dering telpon genggam  membangunkannya. Dengan enggan ia mengangkat, tanpa melihat siapa yang menelpon. “Hallo…Chen ini kamu nak?!” Suara seorang perempuan terdengar parau dari seberang. “hallo..iya” ia sedikit terkesiap ketika suara itu memanggilnya dengan sebutan nak.

“Chen…ini Tante, mamanya Gerald!” Serrr…darahnya terasa naik menjalar, ia langsung melompat dari tempat tidur. Menatap ke dinding kamar yang bercat biru lembut, jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari. Ada apa jam segini? Pikirnya mulai khawatir.

“Tante…ada apa? Geraldnya mana? pertanyaan itu meluncur dari mulutnya dengan curiga.
“Chen…!” suara itu tertahan, dan serak sekali. Chen lebih mendengarnya sebagai sebuah rintihan kesedihan yang dalam.
“Tante ada apa? Jangan bikin saya cemas begini!”
“Chen..Gerald..” suaranya terbata-bata.
“Gerald kecelakaan…!” suara itu tercekat, ia seperti berada dalam dunia mimpi yang menakutkan. Tiba-tiba ia merasa sangat panik, ketakutan, menangis dan semua rasa bercampur aduk dalam dadanya. Berkecamuk dan sangat mengerikan.
“Sekarang Tante dimana…? Bagaimana kondisi Geral Tante” ia berusaha mengendalikan diri.
“Di rumah sakit Harapan…Gerald tak terselamatkan nak” telpon itu terputus.*****

Perlahan-lahan Chen bangkit dari hari-hari kelam yang ia lalui. Satu tahun sudah setelah kepergian Gerald. Tak terasa September telah datang lagi. Ia telah memesan sebuah kue ulang tahun, malam ini ia akan merayakan ulang tahunnya sendirian. Chen baru saja akan meniup lilinnya, ketika suara klakson mobil di halaman menyentak. Chen menoleh ke dinding, pukul 00.01 wib. Siapa tamunya selarut ini? Tak ada seorangpun yang telah berjanji akan ke sini. Chen mendengar suara pak Kusno membukakan pagar depan.

“Non…ada tamu!” Chen membuka pintunya.

“Tante, om…” Chen tak percaya dengan kehadiran mereka. Orang tua Gerald dan saudaranya ada di sini.
“Selamat ulang tahun Chen!” Suara dalam dan tegas waktu itu kembali ia dengar. Kali ini dengan senyum di wajahnya.
“Terimakasih Tante, om, mas Ken!” jawabnya terbata. “mari silakan duduk, kenapa tidak mengabari saya kalau akan mau ke sini?” ucapnya mencoba mencairkan suasana.
“Ayo Tante, Om, mas diminum!” ungkapnya ramah.
Suara klakson kembali terdengar di luar, “wahhh siapa lagi ya?” pikirnya. Chen berdiri dan ia lebih tak percaya lagi dengan apa yang dilihatnya.
“Papa???” setengah menjerit ia berujar.
Laki-laki separuh baya itu kini sudah ada di hadapannya. “papa!!” Chen kembali mengulangi gumamannya. Laki-laki itu membuka lengannya lebar-lebar, ia ingin Chen menghambur ke sana dan memeluknya.
“Chen anakku…!” Chen tak sanggup menyembunyikan bahagianya, ia melompat dan memeluk papanya dengan penuh kerinduan. “selamat ulang tahun putriku, maafkan P        apa yang tak banyak memberikan waktu untukmu. Papa sangat merindukanmu nak” ia mengecup kening Chen lembut.
“Ini tante Ratih, om Tino dan mas Ken pa… mereka semua sudah seperti keluarga buatku!” papa Chen menyalami mereka satu satu. Lalu ruang tamu itu menjadi hangat dan ramai. Papa segera mengomandoi agar Chen meniup lilinnya. Chen bahagia sekali. Lalu tante Ratih mengeluarkan sesuatu dari tasnya. Chen ini untukmu, itu sebenarnya punya Gearld, kado ulang tahu untukmu setahun lalu. Tante pikir saat ini kamu sudah harus menerimanya.
Chen menerima kado berwarna pink itu dengan tangan bergetar. Ia membukanya, isinya adalah sebuah diary berwarna coklat muda, dan sebuah kotak kecil. Chen ragu membukanya.
“Ayo nak, dibuka!” om Tino memintanya untuk tidak ragu lagi.
Chen membuka hati-hati kotak kecil itu. Sebuah cincin permata merah jambu. Chen  menitikkan air matanya. Ia ingat setahun lalu harusnya cincin itu diserahkan Gerald kepadanya, sebagai simbol laki-laki itu meminangnya. Kenangan manis bersama Gerald kembali menyeruak di pelupuk matanya. Sampai hari ini tak ada seorang pria pun yang menggantikan Gerald di hatinya.
“Baca diarynya nak..!” Chen ragu, ia menatap kepada sang Papa. Papa memeluknya dan mengangguk.
Chen mulai membuka, halaman pertama Chen tersenyum ada fotonya di sana. Chen membaliknya satu persatu. Ia hanya ingin membaca halaman terakhir.Sudut kamar,12 september 2013 at 09.00 wib.

Kekasihku Chen sangat membenci September, kau tahu kenapa? Katanya September itu seperti sebuah kutukan. Ia selalu menangis di setiap September. Ia kehilangan orang-orang tercinta di setiap ulang tahunnya di September. Bukankah itu alasan yang cukup baginya untuk tidak menyukai September. Aku sangat mencintainya. Entahlah, wanita mungil dengan mata bulat itu telah memenjarakan hatiku. Setiap saat yang ada dipikiranku hanya dia. Misi terbesar dalam hidupku sekarang adalah bagaimana membuat Chen berpikir September bukanlah kutukan baginya.
Café biru, 13 september 2013, at 12.05
Besok ulang tahun Chen…aku akan melamarnya. Aku sudah memesan tempat romantis untuk kami makan malam bersama. O ya, kami tidak hanya berdua, aku meminta Ken pulang. Ken harus saksikan kebahagiaan kakaknya ini. Aku sengaja meminta Ken pulang. Aku telah berjanji akan memperkenalkan adik semata wayangku yang pintar itu pada Chen.  Aku ingin Chen benar-benar bahagia di malam ulang tahunnya. Dengan memenuhi semua janji-janjiku pada Chen, aku yakin dia tidak akan mendendam lagi pada September.
Gadisku itu perempuan yang sangat baik dan lembut hatinya. Aku takut menyakitinya, dan membuatnya sedih. Sepertinya setelah menikah nanti aku akan banyak tugas ke luar kota. Chen pasti akan sangat kesepian jika aku tinggal berlama-lama. Dengan memperkenalkannya kepada Ken, setidaknya dia ada teman untuk menghibur. Dan Ken bisa menjaga Chen, harus ada seseorang yang kupercaya untuk menjaga pujaan hatiku. Bahkan jika aku mati sekalipun…aku mau Ken menggantikan aku untuk Chen. 

*****Chen menutup diary itu dengan cepat, ia menunduk sangat dalam. Papa juga ikut membaca diary itu bersama Chen. Papa memeluk Chen dengan sayang.
“Chen…jika kamu tidak keberatan, aku datang ke sini untuk melamarmu!” Suara berat Ken tegas terdengar di telinganya.

Chen mengangkat wajahnya, menatap wajah gagah dihadapannya. “aku telah cukup mengenalmu dari cerita mas Gerald tentangmu. Aku mengagumimu, aku mengatakan ini, bukan hanya karena kata-kata Gerald dalam diary itu. Tetapi sejak pertama kita bertemu dan hingga sekarang aku menyukaimu. Jika diizinkan, aku juga mohon ijin papanya Chen untuk menerimaku sebagai menantu di rumah ini.

Chen terdiam, membisu…ia menatap papanya. Laki-laki itu mengangguk, “Papa yakin Gerald memiliki hatimu sepenuhnya. Dirinya tak kan kau temukan pada siapapun termasuk Ken. Hari ini papa hanya ingin anak papa mengambil sebuah keputusan besar untuk kebahagiaannya di masa depan. Ken pasti orang baik, dengan gentle mengatakan perasaannya kepadamu dihadapan kami para orang tua. Setidaknya ini jaminan bahwa ia tak kan mengecewakanmu. Sama seperti Gerald yang rindu membahagiakanmu.Chen mencerna kata-kata papanya, ia terdiam. Mencoba bertanya pada hatinya, bolehkah menerima Ken sebagai kekasihnya? Tapi papa benar, Ken bukan Gerald. Pada siapapun ia tak akan menemukan Gerald. Ken adalah Ken. Pria gagah, berpendidikan, sopan dengan suara berat dan tegas. Apa Chen bias mencintainya?

Seisi rumah menunggu jawaban Chen, Tanpa diduga Chen mengangguk perlahan. “Chen terima lamaran mas Ken!” angguknya pasti seutas senyum melengkung di bibir tipisnya. Segenap kegalauan hilang dari pikirannya. Ia merasakan hatinya lapang, tak ingin lagi kesedihan menggayuti hari-harinya. Ken mendekatinya, menggenggam jemarinya dengan hangat. “aku akan mencintaimu dengan setulus hatiku, aku juga akan membuktikan kepadamu seperti ungkapan  Gerald dalam diarynya September bukan kutukan untukmu!” ungkapnya pelan, senyumnya manis. Semanis September tahun ini, diantara orang-orang yang mencintainya.

*****

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: