Ming. Jun 20th, 2021

CATATANKU
Karya: Burung Gereja

Kalau saja aku bisa memecahkan jarak yang membuat kita hanyut dalam riuh kemacetan, tentu saja kata rindu akan menjadi baling-baling yang mengingatkan kita untuk pulang kepada hati yang tersipu malu di setiap pertemuan.

Kalau saja aku bisa membisikkan setiap kata hati melalui rintik dan bisik di kala senja datang, tentu setiap puisi yang kugoreskan pada langit malam akan selalu kau baca pada setiap titik embun di kali pagi menyambutmu dari ketenangan.

Sayangnya aku hanya selalu diam. Diam terhadap ketakutan dan gelisah untuk menjagamu sampai maut datang. Kadang aku berpikir untuk meninggalkan, tapi kaki dan mata tidak selalu menyesuaikan isi kepala.

Aku mencoba untuk mengikuti setiap langkahmu sampai akhirnya kita duduk berdua di sebuah taman bunga yang penuh warna, tapi aku tidak pernah menemukan kau bertahan lama di sana karena alasan yang tak pernah dituliskan oleh bibir pada udara.

Aku mencoba selalu terjaga dengan sengaja untuk memastikan kau selalu nyaman menyambut bunga tidur yang mekar dari keletihanmu, tapi kau justru mendahuluiku tanpa sedikit pun meluangkan waktu bagiku untuk memberi ucapan selamat tidur bagimu.

Apakah sebegini bodohnya aku untuk bertahan sampai detik ini demi menyumbang setiap waktu kepada acuh? Ketika aku ingin beranjak dari isi kepala, kakiku justru enggan untuk beranjak karena jemari-jemari tulus itu belum berada dalam genggaman.

Atau kehadiranmu justru melontarkan aku dari segala duri yang pernah kutuai sepanjang perjalanan kelam? Ketika setiap mata yang penuh pancaran cinta justru aku robohkan dengan sikap yang tidak berperi kemanusiaan, hanya di matamulah aku merasa terpuruk dalam penjara karena kehangatannya.

Bekasi, 24 April 2018

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: