Jum. Apr 10th, 2020

Curahan Hati Makhluk Tuhan Bernama Setan

Image Source : http://wallpapercave.com/

Curahan Hati Makhluk Tuhan Bernama Setan

Hai, namaku… ah, tak perlu aku perkenalkan diriku. Semua orang sudah tahu, orang baik, orang jahat, orang gila dan semua jenis manusia yang lain. Akulah sumber kejahatan, kambing hitam yang sempurna. Aku muara segala sumpah serapah. Karena demikian, aku merasa perlu memberitahukan kepada kalian wahai manusia, kalian telah menjaga kebodohan yang picik.

Karena kepicikan kalian, aku beritahu kisah-kisah masa lalu yang telah ada jauh sebelum kalian lahir. Sebuah kisah yang tak tertulis dalam buku manapun, sebab inilah rahasia langit yang ditutup rapat-rapat oleh para malaikat. Agar tak ada lagi salah paham di antara kita. Aku sudah terlalu lelah.

Aku minta sedikit waktumu untuk tak berburuk sangka kepadaku, sembari mendengarkan ceritaku, agar penilaian kalian tak salah-salah. Tentu saja sebagai makhluk yang dianugerahi akal budi, kalian tak kesulitan untuk menahan diri dari menganggapku sebagai sesuatu yang perlu dibinasakan tanpa ampun.

“O, tidak bisa, kau diciptakan sebagai pembangkang yang musti kami musuhi sampai kapanpun.”

Begitulah kira-kira yang hendak kalian ucapkan atas permintaanku. Karena kadang kalian itu bodoh dan picik. Dan itulah yang sebenarnya hendak aku ceritakan. Itu bagian cerita dari rahasia langit yang hendak aku ceritakan, biar kalian kembali berpikir, siapa diantara kita yang lebih pantas dianggap sebagai pendurhaka. Apakah kalian yang berakal budi, atau aku si pembangkang yang tak punya kesempatan.

Dan sebagai pembuka percakapan kita, aku beberkan sedikit tentang diriku yang selama ini aku rahasiakan dari kalian. Aku tidaklah segigih dan sekeras kepala seperti yang kalian duga. Bahkan beberapa tahun terakhir ini pekerjaanku sebagai penghasut dan pengadu domba sudah aku tinggalkan. Tak ada yang tahu, sebab kalian bodoh dan picik.

“Tidak percaya, buktinya masih banyak kejahatan-kejahatan!”

Hei, hei, siapa yang berkata demikian? Sungguh, demi tuhan yang menguasai kehidupanku, aku tak pernah lagi menghasut orang untuk mencuri, aku tak pernah mengadu domba orang-orang untuk saling memusuhi. Kekejian-kekejian yang dipertontonkan manusia sudah melebihi standar kami. Bahkan kami menganggap itu keji!

Bahkan pernah suatu ketika, saat ada seorang bapak yang menghamili anak kandungnya sendiri, aku sudah berusaha mati-matian untuk mencegahnya, tapi aku tak mampu, syahwatnya sudah sampai di ubun-ubun, aku sama sekali tak dianggap ada. Aku hanya mampu berdiri di sudut kamar dan menangis. Bisikanku tak sekeji itu…

Seumur hidupku, hanya sekali aku jumpai seseorang yang benar-benar mampu berbaik sangka. Dengannya aku bercerita panjang lebar bertukar pikiran. Mula-mula aku ceritakan kisah hidupku. Ia memaklumi kesedihanku.

“Seumur hidup menjadi pihak yang selalu dipersalahkan dalam setiap kejahatan yang tak dilakukannya adalah sebuah kesabaran tingkat tinggi. Aku sendiri tak mungkin sanggup menanggung beban itu.” Ujarnya.

Sesaat kemudian ia berkata demikian, “Manusia sudah salah dalam memandang kehidupannya. Ia gemar meniru sesuatu yang bukan dari dirinya. Ia hampir menjadi bukan dirinya sendiri.”

“Bagaimana maksudmu?” tanyaku tak paham.

“Karena seringnya diajari untuk meniru kebaikan dari ini itu, maka ia lupa untuk menjadi seperti layaknya manusia. Manusia gamang dalam memandang dirinya sendiri. Maka begitulah, hasil pikiran mereka salah-salah, begitu pula laku hidupnya.”

“Hubungannya denganku?”

“Karena gamang dan rasa superioritasnya atas makhluk lain, maka yang paling bertanggung jawab atas kegagalan mereka dalam memahami kehidupan adalah setan. Dan memang tabiat setan adalah mengajak manusia untuk melakukan tindakan menyimpang. Dan itu sesuai dengan yang tertulis dalam kitab suci agama manapun.”

“Hal ini berlangsung terus-menerus hingga menjadi sebuah kebenaran yang mutlak.” Ujarnya.

“Itu tidak adil!” jawabku. “Perlu kau ketahui wahai manusia, dalam kerja-kerja penghasutan kami, ada banyak prosedur yang harus dilalui, tidak serta merta menghasut dengan membabi-buta.”

“Itulah yang tidak diketahui manusia.”

Lantas orang itu pergi, aku membiarkan ia pergi dengan penghormatan kecil. Memang tak ada ucapan terima kasih dariku atas keterangan yang sangat berharga. Bahkan aku tengah memikirkan hadiah apa yang pantas aku persembahkan buatnya.

Kalian pernah mendengar istilah pesugihan? Ya, jalan pintas bagi orang-orang putus asa yang berambisi menjadi kaya. Bukankah melalui para juru kunci sudah kami sampaikan risiko-risiko yang hendak kalian hadapi. Itu adalah cara kami mencegah kalian dari perbuatan-perbuatan keji. Namun tak juga kalian sadari.

Baiklah, kita kembali ke jutaan tahun yang lalu saat nenek moyang kalian masih berada di surga tuhan. Sebelum itu, ketika mereka baru saja diciptakan. Saat semua ciptaan tuhan diperintah untuk bersujud kepada mereka dan aku menolaknya.

Sesungguhnya, itu adalah bentuk ketakwaanku kepada tuhan. Bahwa aku hanya berhak bersujud kepada tuhan sebagai penciptaku. Kalau kemudian itu dianggap sebagai pembangkangan, maka itu yang hendak aku ceritakan. Aku sudah tak kuat menanggung beban yang ditimpakan kepadaku.

Oleh tuhan, aku dipersiapkan untuk menjadi juru seleksi untuk memilah manusia mana yang pantas masuk ke dalam surga-Nya. Sekilas tugas itu nampak ringan, aku menerimanya dengan tanpa beban, aku pikir ini tugas mulia dari tuhan. Ya, ini adalah kesalahan dari kebodohanku sendiri. Hanya tuhan yang maha pandai.

Maka dibuatlah sandiwara antara aku dengan tuhan. Melalui seruan untuk bersujud itulah tugasku dimulai. Aku memainkan peranku dengan baik, sampai manusia percaya dan yakin jika tak ada kebaikanpun dalam diriku. Dan ini akan berlangsung sampai hari perhitungan tiba.

Masih ingat buah larangan? Buah yang konon tak ada seorangpun yang boleh mendekati apalagi memakannya. Buah yang menyebabkan nenek moyang kalian terusir dari surga. Apakah kalian percaya jika aku yang membujuk mereka untuk memakannya?

Aku bertanya kepada kalian, lebih dulu mana peristiwa pembangkanganku kepada tuhan atas perintahnya untuk bersujud kepada adam dan hawa dengan peristiwa termakannya buah larangan itu ha?

Ya, tentu saja pembangkanganku terjadi lebih awal, itu terjadi beberapa saat setelah adam dan hawa tercipta. Peristiwa itu yang kalian ketahui sebagai awal dari keterusiranku dari surga yang saat itu aku sesumbar hendak menjerumuskan manusia ke dalam neraka, menemaniku menghabiskan waktuku disana.

Lalu tinggallah adam dan hawa di surga. Mereka boleh melakukan apa saja kecuali mendekati buah terlarang itu. Kemudian aku disebut-sebut selalu membujuk mereka untuk memakan buah itu. Begitu kan?

Hei, saat itu aku sudah diusir dari surga, bagaimana aku bisa membujuk mereka? Mereka berada di surga yang dijaga oleh malaikat ridwan. Mustahil aku bisa menyelinap ke dalam surga! Kalian pikir malaikat penjaga surga akan membiarkanku masuk begitu saja? adam dan hawa memakan buah larangan itu bukan karena bujukanku, itu karena mereka tak mampu mengendalikan nafsu mereka sendiri!

Kalian diciptakan untuk memelihara bumi, itu yang dituliskan dalam kitab suci. Jika sedikit saja kalian berpikir, tentu kalian tak pernah menyalahkanku atas pengusiran nenek moyang kalian dari surga. Sebab tuhan sudah menakdirkan kalian untuk meninggali bumi. Ada atau tidak adanya aku, makan atau tak makan buah larangan, nenek moyang kalian tetap akan ditempatkan di bumi. Paham?!

Di bumi, setelah apa yang telah dianugerahkan tuhan kepada kalian, maka tuhan pun ingin mengetahui seberapa hebat akal budi kalian. Tuhan ingin mengetahui bagaimana kalian mengendalikan keinginan-keinginan, mengedepankan akal pikiran dan kebajikan. Maka diutuslah aku untuk menggoda, menghasut dan mengajak kalian pada kesenangan-kesenangan yang menenggelamkan akal pikiran. Dan sekali lagi, aku punya aturan main dalam melaksanakan pekerjaan kami.

Aku tak mungkin menggoda orang yang lurus dan tegak hatinya, aku tak akan menggoda orang yang pikirannya sudah melenceng dari jalan tuhan. Tanpa digoda pun mereka akan senantiasa melakukan kejahatan-kejahatan. Aku hanya menggoda orang gamang yang kebingungan.

Janganlah menyangka aku senang dengan keburukan yang kalian lakukan. Sungguh, aku sangat bersedih. Tapi aku tak bisa mengingatkan, sebab tugasku bukan demikian. Tugasku hanya menyeleksi kalian. Itu saja.

Tolonglah, masing-masing dari kita punya tugas sendiri-sendiri di muka bumi ini. hargai pekerjaanku dengan tidak menganggapku sebagai sumber segala kejahatan. Berbaik sangkalah. Anggaplah aku sebagai sahabat yang saling mendukung untuk meraih surga.

Ini aku ceritakan bukan sebagai keluhan atas tugas yang diberikan oleh tuhan. Ini hanya sebagai ungkapan kekecewaan betapa kehadiranku justru membuat manusia menjadi tak tahu diri. Dikiranya kejahatan yang dia lakukan itu semata-mata berkat bujukanku. Padahal sungguh, sebagian besar justru karena mereka tak mampu mengendalikan nafsu mereka sendiri.

Kini, tanpa campur tanganku, kalian sudah mampu dan terbiasa melakuan kejahatan-kejahatan yang luar biasa hebatnya.

 

Wanasaba, 25 november 2014

Karya Itok VC

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: