Sab. Mei 8th, 2021

Darth Salt

Darth Salt

By Hilda W. and Angga I. Anurraga

Borgol mengikat erat kedua tangan Joe.  Dia ditahan, untuk yang kesekian kali. Namun kali ini Joe sepertinya tidak akan lolos begitu saja. Biasanya Joe hanya ditahan beberapa bulan saja karena berkelahi di bar atau ketahuan memakai narkoba. Tentu dia bisa dengan mudah keluar dengan uang jaminan karena dia memang bajingan kaya. Sayangnya bajingan kaya itu adalah temanku, bukan, dia lebih dari itu, dia adalah sahabat terbaikku, Joe dan Mary. Mereka adalah my BFF, Best Friend Forever. Ironisnya kali ini di pengadilan ini aku harus bersaksi atas kasus pembunuhan Mary yang diduga dilakukan oleh Joe.

Aku, Joe, dan Mary sudah bersahabat sejak lama. Persahabatan kami begitu erat tanpa harus dikotori oleh nafsu asmara ataupun friendzone, sepertinya. Menurutku cinta di antara kami murni cinta kepada sahabat yang sudah seperti keluarga bagi kami. Lagipula siapa yang akan jatuh cinta kepada Joe, si bodoh kerempeng pecandu morphine itu. Dia juga sangat pelupa dan tulalit. Tapi menurutku kebodohan Joe itu yang membuatnya menarik, dia jadi begitu paling kocak diantara kami bertiga, wajahnya juga lumayan, cakeplah sebenarnya kalau kulitnya tidak pucat dan kering seperti itu. Namun belakangan ini aku tahu bahwa Joe sebenarnya cinta mati dengan Mary. Sudah sejak dulu sih, hanya saja kami selalu mengingkarinya karena takut menjadi retaknya janji BFF kami. Dan Mary, dia tidak pernah menanggapi sikap perhatian lebih yang diberikan Joe, karena memang bukan Joe pria yang diinginkan Mary.

Joe memang bajingan kaya, tapi Mary adalah pelacur yang super kaya. Emm… sebenarnya mereka tidak benar – benar kaya sih. Hanya saja mereka tahu bagaimana menghabiskan kekayaan orang tua mereka yang kaya dengan cara yang paling menyenangkan. Berbeda denganku, aku hanya anak dari seorang wanita PNS miskin yang terbelit banyak hutang. Sementara ayahku entah dimana, dia pergi meninggalkan kami begitu saja. Aku hanya anak miskin yang terjebak dalam surga dunia yang menyenangkan ini bersama mereka. Meskipun aku selalu menjadi yang kedua dalam kelompok kecil ini. Joe tentu saja yang ketiga karena kebodohannya. Dan Mary selalu yang nomer satu, dia yang membuat keputusan sulit. Selain wajahnya yang jauh lebih cantik dariku, dia juga paling pintar diantara kami. Paling tidak itu yang Joe katakan.

Kemana – mana kami selalu bertiga, belanja di mall, minum di caffe, joget di diskotik, nonton di bioskop, mencuri Cheetos di minimarket, bahkan kami tidur di kamar yang sama. Sebenarnya bukan kamar, ini lebih mirip sebuah gudang tak terpakai milik ayah Mary yang sudah lama tidak diurus. Kami berbagi segalanya dalam menjalani hidup, termasuk masa lalu kami, yang memang bisa dikatakan sama. Kami bertiga berasal dari keluarga yang broken home. Aku mengenal Mary sejak masih SMA, dan setahun setelah kelulusan kami bertemu Joe dalam sebuah rumah bandar narkoba. Meski belum kenal, dia mau membantu kami dalam negosiasi dengan Bos Besar. Ternyata Joe adalah seorang bandar kecil yang selalu berlangganan di tempat tersebut. Dan sejak saat itu kami tak perlu repot – repot lagi berurusan dengan para gangster itu lagi. Joe selalu memasok barang yang kami inginkan kapanpun kami mau. Dan begitulah awal mula tiga sampah ini menjadi Best Friend Forever.

Suatu hari Joe mengatakan memiliki barang yang sangat istimewa yang belum pernah kami coba sebelumnya, katanya ini barang yang benar – benar baru dan kuat.

“Ayolah barang ini begitu bagus, kita harus berpesta,” rayu Joe.

“Bukankah kita memang selalu berpesta setiap hari?” tanya  Mary sambil nyengir.

“Maksudku kita akan berpesta yang lebih dari biasanya, kita bisa menyewa hotel berbintang dengan view jendela yang indah.” Joe memperlihatkan beberapa brosur hotel kepada Mary.

“Sepertinya ini bagus.” Aku merebut salah satu brosur dari tangan Mary.

“Kau setuju dengan ide ini?” tanya Mary padaku dengan nada agak tinggi.

“Entahlah, kurasa ini ide bagus, lagipula aku belum pernah menginap di hotel berbintang,” ungkapku.

“Tapi aku susah payah pergi dari tempat seperti ini untuk bersama kalian di gudang ini. Lebih menarik di sini daripada kemewahan hotel manapun.” Mary memang telah lama pergi dari rumahnya yang begitu mewah.

Aku penasaran kenapa kartu kreditnya belum juga diblokir oleh ayahnya. Mungkin orang tuanya terlalu sibuk hingga tidak tahu anaknya hilang atau mereka hanya tidak peduli, entahlah, itu bukan urusanku selama Mary selalu menjadi ATM berjalan untukku.

Setelah melalui perdebatan yang panjang akhirnya Mary setuju untuk berpesta di hotel pilihanku. Hotel itu begitu menakjubkan, seperti di brosur, dari lantai paling atas dan jendela yang sangat besar, bukan, sepertinya ini lebih seperti dinding yang terbuat dari kaca. Aku bisa melihat seluruh kota. Bahkan lebih baik lagi, gunung di balik kota terlihat jelas dari sini. Aku begitu riang sambil berjingkrak – jingkrak di atas kasur lalu pindah ke sofa, ingin sekali kusentuh semua yang ada di ruangan itu.

“Sudahlah, jangan lebay, diam dan duduklah, seperti orang normal.” Mary terus menggerutu.

“Haha… biarkan saja, biarkan dia menikmati ini semua.” Joe membelaku.

“Joe, sudah aku bilang ini ide buruk,” bisik Mary kepada Joe, tapi aku bisa dengar.

“No, this is best day of my life.” Aku berhenti berjingkrak lalu menghampiri mereka.

“Oh… Really?” tanya Mary sinis.

“Baiklah, apa yang kau punya Joe?” tanyaku.

“Darth Salt.” Joe mengeluarkan beberapa bungkus serbuk hitam yang belum pernah aku lihat sebelumnya.

“Jelas sekali pembuatnya adalah seorang penggemar Star Wars.” Setiap kata yang keluar dari Mary memang selalu negatif seperti ini.

“Darth Salt? Aku pernah mendengarnya, bukankah itu hanya mitos?” tanyaku.

“Ya… dan kita hari ini akan mencoba mitos itu sendiri,” kata Joe dengan bangganya.

“Tapi bagaimana bisa sebuah mitos ada di dunia nyata?” tanya Joe.

“Karena aku membelinya?” jawab Joe lugu.

“Bukan, maksudku… ah sudahlah, lupakan. Semoga kamu nggak ditipu orang lagi, Joe” Mary baru sadar kalau Joe itu tolol.

“Ya, jika ini barang asli, ini adalah Narkoba terkuat yang pernah ada, dan rumornya ini dibuat oleh Sang Lucifer sendiri,” jelasku.

“Sebentar, tidak ada Lucifer di agamaku,” ungkap Joe dengan muka agak kebingungan. Tapi memang seperti itulah muka dia.

“Kau punya agama?” tanya Mary.

“Emm… tidak.” Joe terlihat lebih menjengkelkan kali ini.

“Huft… baiklah kita buktikan saja barang macam apa yang kau bawa ini.” Mary merebut bungkusan itu dari Joe.

Kami pun memulai pesta malam itu menggunakan sebuah bong favorit kami. Bubuk hitam yang dibawa Joe begitu aneh, rasanya seperti sabu – sabu biasa, hanya saja itu hitam, asapnya pun hitam. Setelah beberapa kali shoot kami semua jadi agak ragu dengan keaslian Darth Salt itu.

“Okay, tidak terjadi apa – apa. Kita masih hidup dan tidak merasa terbang sama sekali,” kata Mary.

“Mungkin kita salah cara menggunakannya? Mungkin kita harus mencairkan lalu menyuntikkannya atau kita harus mencampurnya dengan ganja,” ungkap Joe kebingungan.

“Nggak, kalau memang ini barang kuat, seharusnya menggunakan bong sudah cukup,” jelasku.

“Baiklah, aku kena tipu lagi. Akan kuperbaiki malam ini dengan membawakan kalian sesuatu yang kuat, dan aku janji kalian takkan kecewa.” Joe bergegas keluar mengambil barang lain, mungkin sabu – sabu atau morfin.

“Sebaiknya cepat, kau merusak suasana pesta,” gerutu Mary.

Aku dan Mary mencoba barang itu lagi, namun memang sebanyak apapun kami memakainya, tidak ada efek apapun yang terjadi.

“Sepertinya aku harus pup dulu, pup yang lama sampai Joe kembali. Jadi panggil aku kalau dia udah balik.” Aku bergegas ke toilet.

“Terserah kau saja.” Mary terlihat sangat kecewa.

Mary sendiri di ruang tengah. Musik dugem yang mengalun ia matikan lalu diganti dengan siaran televisi yang berkali kali dia ganti channel. Sementara aku menikmati momen pup ku di kamar mandi yang begitu luas ini. Waktu terus berlalu, Mary belum juga memanggilku yang berarti Joe juga belum kembali. Aku jadi ragu, jangan – jangan mereka berpesta tanpa aku. Aku bergegas untuk kembali ke ruang tengah. Sambil mengenakan celanaku aku mendengar suara jeritan begitu keras.

“Mary… kecilin dong suara TV-nya.” Aku kira itu suara televisi, hingga aku sadar suara itu adalah suara Mary.

Dengan cepat aku membuka pintu dan berlari ke ruang tengah dimana Mary berada. Langkahku langsung terhenti saat aku melihat makhluk yang sangat mengerikan di depan Mary. Aku tidak bisa bergerak, tubuhku hanya bisa gemetaran. Entah makhluk apa itu, dia berjalan seperti manusia, namun aku tahu dia bukan manusia, matanya menyala merah seperti api, kulitnya diselimuti sisik berwarna hitam pekat. Dia perlahan mendekati Mary yang terus berteriak histeris. Mungkin dia juga ketakutan sepertiku dan kami sama – sama tidak bisa bergerak. Pandanganku mulai kabur, aku tergeletak di lantai, namun samar – samar aku masih bisa melihat makhluk itu mendekati Mary. Aku diantara sadar dan tidak sadar waktu itu. Suara Mary sudah tidak begitu terdengar, kurasa makhluk itu mencekik Mary. Lamat – lamat aku dengar suara kaki masuk ke kamar kami dengan terburu – buru. Lalu aku dengar suara Joe.

“Apa yang kau lakukan? Mary… berhentilah berteriak, nanti security hotel bisa kesini.” Aku tak tahu apa maksud perkataan Joe, apa Joe tidak bisa melihat Makhluk itu?

Aku mencoba membuka mataku kembali, aku melihat Joe menutup muka Mary dengan bantal, dia mencoba membungkam teriakan Mary. Sementara Makhluk hitam itu masih berada di belakang Joe dan terus mendekat. Aku harus memperingatkan Joe, makhluk itu pasti akan membunuh kami semua.

“Joe… di… di… belakang… mu.” Aku terlalu lemah untuk berteriak.

Semua menjadi gelap, dan saat aku tersadar aku sudah berada di sebuah rumah sakit. Aku kebingungan, aku tidak tahu sama sekali apa yang terjadi sebenarnya. Mungkin semua itu hanya mimpi, atau mungkin hanya efek pengaruh dari Darth Salt. Jika benar barang itu memang benar – benar kuat karena bisa memberi halusinasi yang begitu mengerikan hingga membuatku berakhir di rumah sakit.

Aku mencoba beranjak dari tempat tidur, namun ternyata tanganku terborgol dengan ranjang. Aku tidak bisa kemana – mana. Apa sebenarnya yang terjadi? Aku semakin kebingungan. Apa Mary dan Joe benar – benar terbunuh dan polisi mengira aku yang membunuh mereka, kalau benar ini semua benar – benar kacau. Hidupku akan segera berakhir.

Tak lama kemudian ada seorang pria tampan berseragam polisi masuk ke kamar dimana aku dirawat.

“Hey… kau sudah bangun? Maaf atas ketidaknyamanan ini, aku hanya menjalankan tugas.” Polisi itu lalu melepaskan borgol yang membelengguku.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

“Tadinya kami kira kau membantu pembunuhan itu, sampai orang tadi mengakui semuanya,” jelas polisi itu.

“Pembunuh? Siapa yang dibunuh?” tanyaku kebingungan.

“Mungkin sebaiknya kau istirahat dulu sekarang, keteranganmu nanti akan kami butuhkan.” Polisi itu duduk di ranjang dimana aku berbaring.

“Tidak, jelaskan dulu apa yang terjadi!” pintaku sambil beranjak duduk.

“Hufftt… baiklah, mungkin ini akan berat bagimu. Aku tahu kalian bertiga adalah teman baik. Mary telah tiada, dia dicekik hingga tak bernyawa, dan Joe telah mengakui semua perbuatannya.” jelas polisi itu sambil memegang tanganku. Entah kenapa dia lakukan semua itu.

Sejenak aku terdiam mencoba memproses semua yang dikatakan polisi itu kepadaku.

“Mary mati? Tidak mungkin, bukan Joe pelakunya, karena Joe begitu mencintai Mary, Joe Cinta mati dengan Mary. Tidak mungkin Joe membunuh Mary. Aku melihat makhluk mengerikan berada di kamar waktu itu, pasti makhluk itu pelakunya. Bukan Joe.
“Kenapa Joe harus mengakuinya?” ocehku terus menerus tanpa henti, aku tidak akan percaya semua yang polisi itu katakan.

“Tenang… tenang… mungkin kamu masih kebingungan karena baru saja tersadar dari pinsan yang lama.” Polisi itu mencoba menenangkanku.

“Mary mati? Dan Joe akan dipenjara. Tapi hanya mereka yang aku punya di dunia ini.” Aku pun menangis lalu memeluk polisi yang baru saja aku temui itu, entah kenapa aku lakukan itu.

Aku diminta memberi keterangan kepada polisi dan aku katakan semua yang aku tahu apa adanya. Mereka membuatku bercerita berkali – kali, sampai mereka harus memasang Lie Detector padaku. Dan ceritaku masih sama dan lolos uji kebohongan, karena memang aku mengatakan kebenarannya. Bahwa bukan Joe yang membunuh Mary, tapi makhluk itu. Tapi sepertinya mereka masih tidak percaya.

Sampai saat sidang berlangsung, aku masih harus bersaksi. Entah kenapa mereka masih ingin aku bersaksi jika tidak ada satupun dari mereka yang mempercayaiku. Kecuali satu, polisi tampan itu, entah dia hanya berpura – pura atau tidak tapi dia bilang dia mempercayaiku. Dan nama dia adalah Rick. Aku tidak tahu ini melanggar hukum atau tidak, tapi mungkin dia tidak seharusnya berkenalan denganku dan memberi perhatian padaku. Selama interogasi yang sangat lama itu, bahkan memakan waktu berhari – hari, bahkan sampai lebih dari seminggu, aku dan Rick semakin dekat. Rick begitu baik padaku, dan menurut Rick, makhluk yang aku lihat mungkin saja dia adalah Malaikat Maut, menurutku Rick ada benarnya juga.

Pagi itu di pengadilan aku melihat Joe hanya bisa tertunduk, dia terlihat sangat sedih. Joe yang malang, kenapa dia harus mengakui apa yang tidak pernah dia lakukan. Aku benar – benar tidak habis pikir. Jika perkataan Rick benar, kematian Mary hanyalah takdir. Jika Malaikat Maut mencabut nyawa seseorang, tidak bisa dikatakan sebagai pembunuhan. Mungkin.

Aku lihat orang tua Joe datang ke persidangan, mereka lebih tampak kecewa kepada Joe daripada sedih melihat Joe akan dipenjara dalam waktu lama. Ibu Mary aku tidak melihatnya datang, aku hanya melihat ayah Mary yang terlihat marah kepada Joe. Sementara Joe masih tetap pada pengakuannya membunuh Mary. Seharusnya mereka juga menggunakan Polygraph untuk pengakuan Joe. Aku yakin Joe pasti takkan lolos uji kebohongan. Sementara kesaksianku sia – sia belaka seperti dugaanku. Semua yang ada di persidangan hanya menganggap kesaksianku hanyalah bualan pecandu atau hanya cerita fiksi, dongeng untuk menakut -nakuti anak kecil. Terserah apa kata mereka.

Akhirnya hakim memutuskan vonis delapan belas tahun penjara untuk Joe karena kelakuan baik dan atas pengakuan Joe. Atau mungkin juga karena ceritaku yang begitu menghibur para juri. Atau bisa juga karena sedikit sogokan dari ayah Joe. Tapi menurutku delapan belas tahun masih terlalu lama untuk sebuah pengakuan palsu. Aku tidak tahu kenapa ayah Mary tidak melakukan banyak hal untuk membuat hakim memvonis Joe seberat – beratnya. Dan sebenarnya ini yang aku takutkan. Ayah Mary pasti merencanakan sesuatu yang buruk untuk Joe di penjara nanti. Dan aku tidak bisa melakukan apapun untuk menolong Joe.

Aku sendiri sepertinya juga dalam masalah, tidak seberat Joe pastinya, tapi aku harus menjalani hari – hariku di pusat rehabilitasi setelah ini. Dan yang aku tahu pusat rehabilitasi tidak lebih baik dari penjara. Mungkin ini saatnya mengucapkan selamat tinggal kepada Joe, aku diperbolehkan berbicara dengan Joe sebelum diantar Rick ke Rehabilitasi.

“Katakan padaku Joe, kenapa kau mengakuinya? Aku tahu bukan kau pembunuhnya.” Aku bicara empat mata dengan Joe, aku harap Joe mau jujur kali ini.

“Aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan,” ucap Joe lirih.

“Apa maksudmu? Seharusnya kau mengatakan yang sebenarnya,” tanyaku.

Joe hanya terdiam.

“Bagaimana kau bisa melalui semua ini?” tanyaku berharap mendapat kejelasan dari Joe.

“Aku lakukan semua ini untukmu dan yang bisa membuatku bertahan adalah kesaksianmu, sungguh menghiburku, dan bagaimana kau bisa lolos Polygraph?” jawab Joe sambil menarik senyumnya, namun matanya masih berkaca – kaca.

“Aku semakin tidak mengerti, kesaksianku benar – benar jujur apa adanya, dan kau tahu itu, karena kita ada dalam satu ruangan saat itu, dan kau juga melihat makhluk itu kan? Aku kira dia juga akan membunuhmu juga. Bagaimana kau mengalahkannya saat itu?” tanyaku lagi penuh rasa penasaran.

“Kau tidak benar – benar menanyakan itu kan?” Joe balik tanya padaku.

Aku terdiam mencoba mengerti apa maksud Joe.

“Oh tidak, tolong jangan katakan kau juga terpengaruh seperti Mary?” Joe terlihat sangat khawatir.

“Joe, tolong ceritakan apa yang sebenarnya terjadi di kamar itu!” pintaku tulus.

“Baiklah, waktu itu saat aku kembali dari rumah Bos dengan membawa beberapa gram sabu – sabu untuk kalian, tapi sampai di depan pintu kudengar kalian bercek – cok akan sesuatu. Aku lama mendengarkan kalian bertengkar dari balik pintu. Aku tak tahu Mary bisa mengatakan semua itu padamu.

“Aku takkan menyalahkanmu jika kau membunuhnya,” Joe menjelaskan dengan sangat jelas namun masih membuatku bingung.

“Aku yang membunuh Mary? Itu tidak mungkin. Apapun yang dikatakan Mary aku tidak akan membunuhnya,” sangkalku.

“Kau tahu kenapa orang tuamu jatuh miskin? Mereka berdua PNS dengan jabatan yang lumayan, tak seharusnya kalian semiskin itu hingga membuat orang tuamu berpisah. Dan yang membuat hal itu terjadi adalah Mary. Dia sengaja selingkuh dengan ayahmu dan membuatnya memberikan apapun yang Mary mau. Bukan karena Mary membutuhkannya, dia sudah punya segalanya, seluruh kekayaan Ayahmu hanya uang jajan buat Mary. Sampai suatu saat Ayahmu terbelit utang yang banyak karena Mary. Ayahmu terpaksa melarikan diri ke luar kota, sementara debt collector tidak bisa menemukan ayahmu, mereka lalu menagih utang ayahmu ke ibumu. Ibumu akhirnya mengetahui semua tentang perselingkuhan dan hutang – hutang ayahmu. Itu sebabnya ayahmu sekarang entah dimana dan ibumu jatuh miskin.

“Ibumu tidak ingin semua hal ini diketahui olehmu,” jelas Joe lagi.

“Tapi kenapa Mary melakukan itu? Dia sahabatku sejak SMA.” Aku masih tidak percaya.

“Bukan, Mary tidak pernah menjadi sahabatmu, sejak pertama dia membencimu. Dia iri melihat keluargamu yang bahagia. Itu kenapa dia ingin merusak keluarga kalian.” Ucapan Joe mulai masuk akal sebenarnya jika dipikir – pikir.

“Walaupun itu semua benar terjadi, kenapa Mary mengatakan semua itu kepadaku?” tanyaku.

“Darth Salt, efeknya ternyata berbeda pada setiap orang. Awalnya memang hanya halusinasi, namun semakin lama itu mengubahmu. Sepertinya Mary menjadi orang yang sangat jujur, tidak bisa menyembunyikan apapun. Mungkin itu yang membuat dia menceritakan semuanya padamu.” Joe menjelaskan begitu jelas dan sama sekali tidak terlihat bodoh.

“Tapi aku melihat makhluk itu begitu jelas, tidak mungkin itu hanya halusinasi, Mary juga melihatnya koq.” Belum semua pertanyaan di kepalaku terjawab.

“Tidak ada makhluk itu sama sekali, kau lah makhluk itu sendiri. Waktu itu kalian bertengkar makin hebat, hingga kudengar Mary menjerit, aku langsung bergegas masuk untuk melerai kalian. Kalian berkelahi begitu hebat, Mary terus menjerit. Aku takut security akan datang ke kamar kita. Tiba – tiba kau mencekik Mary begitu kuat. Aku tidak bisa mencegahmu. Waktu itu kau memang terlihat sangat mengerikan, matamu merah, tapi tidak seperti ceritamu, tubuhmu tidak bersisik hitam. Setelah Mary mati kehabisan nafas, kau pinsan begitu saja. Aku mendengar jejak kaki berlarian ke arah kamar kita, lalu aku putuskan untuk membuat semua itu terlihat seperti perbuatanku sendiri.

“Aku menekan bantal ke muka mayat Mary sampai para security itu datang menangkapku.” Cerita Joe sungguh membuatku seperti orang yang kehilangan akal sehat.

“Entahlah Joe, aku tidak bisa mengingat semua yang kau katakan tadi. Tapi yang paling tidak masuk akal, kenapa kau mengorbankan dirimu sendiri? Bukankah kau sangat mencintai Mary?” tanyaku.

“Haha… Pasti Mary yang mengatakannya padamu dulu. Ya, aku tadinya menyukainya saat belum terlalu mengenalnya, Tapi aku tidak jatuh cinta padanya, yang aku cinta adalah kamu. Ya, aku mencintaimu. Aku tidak mau kau berakhir di penjara.” kata – kata Joe terdengar sangat tulus dan membuatku terlihat lebih bodoh darinya selama ini.

“Sudah saatnya, ayo kita berangkat.” Rick tiba – tiba masuk untuk membawaku ke rehabilitasi.

“Lima menit lagi, bisa kan?” pintaku.

“Satu menit. Aku tunggu di luar.” Rick kembali keluar.

“Lalu Darth Salt merubahmu menjadi apa?” tanyaku pada Joe.

“Apa kau tidak sadar? Sekarang aku tidak bodoh lagi, mungkin aku seorang jenius sekarang,” ucap Joe bangga.

“Haha… kau masih tetap bodoh menurutku, seorang jenius tidak akan memasukkan dirinya sendiri ke dalam penjara, namun di sinilah kita.” ejekku.

Rick terlihat mengintip dari balik pintu.

“Ya, mungkin kau benar. Sepertinya pacar barumu sudah tak sabar menunggu. Jadi, inikah saatnya kita mengucapkan selamat tinggal?” Wajah Joe kembali menjadi serius.

“Oh ya, kau nanti harus berhati – hati di dalam sana, ayah Mary mungkin akan mengirim seseorang untuk membunuhmu,” ucapku sambil beranjak untuk pergi.

“Kau tenang saja, aku akan keluar dengan mudah dari sini, aku sudah punya rencana,” ucap Joe dengan entengnya.

“Dan satu hal lagi Joe, I love you too.” Aku meninggalkan Joe dengan sebuah senyum di wajahnya. Kuharap dia baik – baik saja.

Aku diantar Rick menggunakan mobil patroli, matahari mulai tenggelam seiring aku menceritakan semuanya kepada Rick, tapi dia tidak percaya, menurutnya aku dan Joe hanya berhalusinasi karena narkoba. Dan aku harus tetap ke rehabilitasi.

“Jadi selama ini kau hanya berpura – pura mempercayaiku? Aku selama ini mencari jawaban tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan Joe menjelaskan dengan sangat jelas. Sekarang dia harus menanggung hukuman yang tidak dia perbuat.” Aku marah dengan Rick.

“Oke, baik… baik…, aku percaya padamu, tapi bagaimana menjelaskannya, meski aku percaya, bagaimana dengan semua orang, tidak akan ada yang percaya. Dan mungkin memang seperti inilah seharusnya yang terjadi. Kau di rehabilitasi beberapa tahun dan setelah itu kau bisa memulai hidup baru,” kata Rick sambil terus mengemudi.

“Tapi kita tetap harus mencobanya kan?” aku sedikit memaksa.

“Baik, katamu obat itu bisa merubah seseorang, kau berubah jadi apa? Dan Darth Salt, itu hanya mitos, di tes darah kalian juga tidak ditemukan zat – zat aneh seperti itu.” Rick benar juga.

“Ya, kau benar, aku tidak berubah. Tapi kau tahu cerita tentang Darth Salt?” tanyaku.

“Ya, aku tahu, katanya Darth Salt adalah Sodium dari Dark Side, dunia kegelapan. Yang diracik entah bagaimana oleh Lucifer sendiri dan dibawa ke dunia ini untuk membuat kerusakan pada umat manusia. Hanya itu yang aku dengar dari orang – orang,” jelas Rick.

“Sepertinya itu mitos yang salah, sebenarnya Darth Salt bahan intinya bukanlah Sodium, Sodium hanyalah campuran.” Sepertinya aku mulai bisa mengingat – ingat kejadian yang hilang dalam memori otakku.

“Benarkah? Oh iya, apa kau mau mampir ke rumah ibumu dulu sebelum ke rehabilitasi?” tanya Rick.

“Ibuku? Maaf aku telah bohong padamu, tapi sebenarnya aku sudah membunuh ibuku dan aku juga sudah menemukan ayahku dan membunuhnya juga.” ucapku.

“Jangan bercanda, kau menakutiku tahu?” Rick terlihat bingung dan takut.

Aku menggigit bibirku sendiri.

“Hey, apa yang kau lakukan? Bibirmu berdarah.” Rick menghentikan mobilnya.

Saat Rick mencoba membersihkan darahku dengan sapu tangannya, aku langsung menciumnya begitu dalam, hingga Rick menelan darahku yang hitam ini.

“Maaf Rick, tanpa campuran Sodium, Darth Salt akan membunuhmu dalam sekejap, dan Lucifer, ayah kandungku tidak ada sangkut pautnya dengan ini,” ucapku kepada mayat Rick.

Sial memang, menghisap darahku sendiri menggunakan bong ternyata membuat memori otakku agak terganggu. Tapi yang terpenting aku sudah kembali normal. Nama asliku, Clea. Dan sekarang saatnya menyelamatkan Joe.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: