DEDAUN KERING DI MUSIM RINDU Kumpulan Puisi CHENDANA BIRU

0
303

1. Wajah Kita
——————

Pada seutas wajah yang terbingkai dalam kenangan
terhembus dalam tempias hujan dan wangi udara yang telanjang
merupa pada tubuh-tubuh mimpi
menemani ranjang sepi
menjadi bayang-bayang di dinding malam
yang kegelapan

tak bisa aku kisahkan tentangmu
bukanlah seorang kekasih terhebat
bukanlah guratan pena yang bermukjizat
namun dengan sederhana
aku menikmati rasa ini
walau kadang luka terjadi
namun hati tetap tegar menjalani

biarlah tentang kita
menjadi rahsia di ujung mata pena
tak perlu kuungkapkan kau dan aku siapa
dalam musim-musim yang tumbuh kelmarin
kita telah menjadi puisi di banyak daun kering
lalu ditumbuhkan lagi di ranting
menjadi bunga indah
warna-warni wajah yang sembunyi
memeluk doa dalam kecup mentari

Tint@biroeku
11092018, Dili, 0933am

[divider]

2. AKU DI DALAM LUKISAN
—————————————–

takkan pernah aku melupakanmu
setelah mencintai dalam banyak rindu
menepis bimbang dan cemburu
yang selalu mengoyak rasa percaya
hingga aku sakit menahan luka

kau selalu hilang saat pagiku datang
membiarkanku sendiri menikmati sepi
hanya ditemani secangkir kopi yang tak lagi puisi

belum puaskah kau bercanda
menjadikanku lukisan tak berwarna
di dinding kamar tanpa udara
aku terkapai di bingkai sunyi
senyumku luruh di dalam luka ini
pun kau masih tak mengerti

aku tak seindah yang kau inginkan
cintamu memudar tanpa alasan
tak lagi seperti dulu
saat kau mencumbu dan merayu
berharap aku mengisi hampa dadamu

kini kau kata itu hanya semalam
yang telah pergi tanpa kesan
aku tertunduk diam
memamah pedih yang tak hilang
menangis sendiri di dalam lukisan

tint@biroeku
11092018, Dili, 0946am

[divider]

3. KEMBALI TANPA HARAPAN
——————————————-

mendekat dalam riuh senja
yang meneriakkan malam
bulan dan mentari seakan sama berpadu
salin menyalin cahaya dan menuang setia
hingga jingga berkelakar di langit
menitip kenangan yang lupa kita kutip

kaukah yang berdiri di sana
di dalam kelam cahaya yang sukar aku baca
kelibat bayang yang telah lama hilang
kembali terlihat di ujung senja semalam
di bawah lembayung suram yang baru ditinggalkan hujan

beberapa titis airmata
menitis di cangkir waktu yang kemarau
kembali membasahi senja yang gersang
membawa pulang angin parau
merambat lelah di dahan harapan
hingga kembali patah
tersungkur dan rebah

Tint@biroeku
11092018, Dili, 1009am

[divider]

4. TINTA
———–

untuk mata hati
yang berdiam di dalam jemari
kugenggam selalu
sebagai doa yang paling cumbu
sebagai puisi yang paling merdu

kata-kata mengayuh rindu
di laut mimpi yang membiru
dihentam gelombang percakapan
yang menggugat harapan
tiap baris yang dijamu bimbang
hasutan demi hasutan
kuredamkannya penuh keikhlasan

mencintaimu
di segenap kalimah
yang tak pernah purna
merangkai bait-bait asmara
dalam paragraf demi paragraf
kadang kubayangkan dalam hujan yang
mencurah
kadang dalam gerimis di mata embun
yang lelah

kau tahu
ini percintaan yang paling metafora
kuungkapkan dalam banyak personifikasi
bersanding hiperbola dan similie
di ujung mata pena ia sembunyi
sebagai tinta yang paling misteri

tint@biroeku
11092018, Dili, 1133am

[divider]

5. Enam September
—————————

gemersik bayu membawa alunan ombak
menyeru dan merayu rindu
gemulai merintih dalam sorak badai
lepaskan geram pada buih yang hancur berkecai

mentari masih selayang pandang
dan embun tenggelam matanya
dalam butiran pasir
mendekap jejak-jejak kenangan
yang masih berjalan menuju pertemuan

hanya bebatuan yang tersergam
kukuh bertahan dalam lautan
mengeram asin tanpa keluhan
menelan cacian mentari dan hujan

nadi musim yang bergetaran
hidupkan kembali bayang-bayang
menyusuri gerimis pagi di kaki langit
mengukur garis horizon
dari sepasang sentuh yang kosong

tint@biroeku
06092018, Dili, 0759am

[divider]

6. Tanpa Ambigu
————————

bukanlah kesedihan
yang tertinggal di ujung kertas malam
terlipat rapi dalam kenangan
menyemat sekeping surat percintaan
yang pernah malaikat kirimkan

di lorong hening
bayang-bayang gagal bersanding
cahaya rembulan meronta kegelapan
jalan-jalan siulkan derap kaki kita
yang pernah hilang

malam merayap dalam embun
meniti bibir doa yang paling harum
bagai lagu kekasih dalam ranum cumbu
meyapu semua lirih ambigu

mimpi-mimpi telah lelap di peraduan
rindu masih menjadi ksatria
menjaga hati kita dengan perkasa
menjadi hulubalang paling setia

Tint@biroeku
06092018, Dili, 0056am

[divider]

7. Rendang Rindu
————————

kembali nafasku menerjang rindu
menahan degup jantung melaju
dan lambatnya waktu menghukum sendu
mata, hati dan kalbu

dalam kubangan jarak yang menghalang
sepi menggumpalkan rasa
menyelitkan rahsia demi rahsia
sebelum menyempurnakan mimpi
yang pernah luka

tunggulah di sana
akan aku gapai jalannya
dengan segala semoga
di setiap paragraf doa
yang selalu kita tulis padaNya
rendang rindu kan berbuahkan syurga

tint@biroeku
05092018, Dili, 2344pm

[divider]

8. KETIKA
————

ketika kubaca rindu
kau diam
berpura bungkam
kau jahit sunyi
kau pakai sepi
kau telanjangi cinta ini

ketika kutulis puisi
kau sembunyi
tanpa bunyi
berpura mimpi

ketika kau pagi
aku tak lagi mentari
diam-diam pergi
embun pun tak lagi
dini…

tint@biroeku
31082018, Dili, 2218pm

[divider]

9. Harap
———-

seberapa banyak diam yang bisa aku simpan
dalam kemarau langit yang meronta meminta hujan
aku tidak berharap kali ini ia membasuh kenangan
atau mencuci lukaku yang kau tikam
cukuplah ia datang sebagai teman
memeluk resahku yang menangis di ranjang
mendekap cedera rindu di mata pena yang patah semalam

aku ingin ia merintik di tanah yang sedang membuka rahim
lalu menyemai benih-benih doa kiriman mentari
begitu murni membasahi
menyiram penuh rindu
pada lumpur yang tak lagi debu

apakah aku terlalu banyak berharap
saat rintiknya mencumbui tingkap
jemariku sembunyikan lipat
menggumpal puisi di dalam kotak waktu
yang kuikat dengan riben biru
dan setetes hujan yang tertinggal di birai mataku
hadiah untuk cumbu terakhirmu
di malam kelmarin itu…

tint@biroeku
31082018, Dili, 1554pm

[divider]

10. Pagi Yang Telah Pergi
———————————–

Aku masih tertanya
Pada sehelai pagi yang pernah ada
Di mana kita menghirup rindu
Dari secangkir kopi
Dan menikmati cumbu
Bersama sepotong lagu merdu
Yang selalu menyisakan senyum
Pada mentari di luar pintu

Entah kemana pagi itu pergi
Tiba-tiba hilang
Tak pernah kutemui lagi
Setiap kali embun membuka
kelopak
Aku selalu berhasrat
Ia pulang kembali
Duduk manis di meja mahagoni
Menyambut kita
Menghapus airmata
Sembuhkan luka

Chendana@biroeku
26062018, Dili,1227pm

11.Pagi Ini
————-

Karya: Chendanabiru/biroeku

pagi ini
apa yang ingin diceritakan lagi
secangkir kopi dan selembar
kenangan sedang menanti
sementara hati mengemas
mimpi di ranjang ini

pagi ini
sepi masih kunikmati
masih juga kopi ini tentang
puisi di dalam puisi
yang aku gali dengan cumbu
sebelum embun
dijilat lidah mentari

pagi ini
kau tersenyum di pintu
menaruh sekuntum
luka buatku
di dalam helai sebuah
buku
di dalamnya tertulis
semua rindu

Tint@biroeku
27072018, Dili, 0744am

12.Di Dinding Malam
——————————

Karya: Chendanabiru

sudah penuh dinding malam
kutuliskan kesepian
dalam deretan huruf kenangan
yang tertanggal dari
sejambak perpisahan

bunga sunyi kembang
dalam luka
dinding malam tersenyum
mendekap mesra
mencumbu sakit
yang menghiris dada

ingin kutuliskan cinta
dari tinta berwarna
dinding malam tertawa
mengoyak senyum mimpi
memadam sedikit cahaya
yang tersisa di tubuh lilin ini

di dinding malam
bayang-bayangmu berlari
menangkap rinduku
lalu pergi
hingga hening pagi
tidak lagi kurasa
gigilnya mati dalam
hangat airmata

tint@biroeku
27072018, Dili, 0707am

Tinggalkan Balasan