Jum. Agu 6th, 2021
Minggu pagi yang cerah ini sangat tepat untuk jogging mengitari perumahan, tapi aku lebih memilih menambah waktu tidurku saja. Bangun satu atau dua jam lagi sepertinya lebih baik karena semalam aku harus lembur menyelesaikan chating dan posting di blog. Malam minggu tak mungkin kugunakan untuk lembur pekerjaan. Waktu sudah menunjukkan jam 9, tidak seperti biasanya, orang tuaku biasanya sudah membuat keributan di bawah, bukan bertengkar, hanya ribut, seperti meributkan masak apa hari ini atau perkakas apa yang masih kurang di rumah ini. Walau begitu keberisikan mereka sangat tidak membuatku nyaman, aku lebih suka kesunyian, suasana tenang, tanpa sesuatu yang bising.

Aku menyukai kesunyian di rumahku, tapi kali ini menurutku terlalu sunyi. Lalu kuputuskan untuk turun ke bawah, kucari ayah dan ibuku di kamarnya namun tidak ada, di ruang TV, ruang keluarga, ruang makan, kosong semuanya. Mungkin mereka sedang pergi ke pasar atau ke rumah tetangga. Ya sudahlah, aku sudah lapar, tapi ternyata ibuku belum memasak apapun. Aku melihat ke lemari makanan semoga ada yang bisa dimakan tanpa harus memasaknya terlebih dulu. Sukurlah ada sereal. Tinggal kucampur dengan susu cair dan aku bisa sarapan.
Selesai sarapan ayah ibuku belum juga pulang, itu hari minggu paling membosankan dalam hidupku, kuhubungi semua teman – temanku tapi semuanya tidak bisa, banyak alasan, mereka sibuk sendiri – sendiri. Bahkan pacarku sendiri Rian tidak bisa menemaniku, katanya dia harus menemani persalinan Nancy, dasar Rian, dia lebih mencintai kucingnya sendiri daripada pacarnya. Aku memang suka suasana sepi dan suka menyendiri, tapi bukan berarti harus sunyi dan hanyut dalam kesendirian seperti ini. Dan untuk pertama kali dalam hidupku aku baru tahu bagaimana rasanya kesepian.
Aku baru teringat kemarin siang saat aku dan Rian jalan – jalan di pameran pembangunan, di pameran ada yang membuka stand cenayang. Stand itu seperti rumah hantu bagiku, tapi itu membuatku merasa sangat penasaran. Aku mengajak Rian untuk masuk ke stand tersebut. Banyak bermacam – macam boneka voodoo dipajang di sana sini. Perasaanku sungguh tidak enak, terlebih saat melihat seorang cenayang wanita dengan kostum aneh. Wanita separuh baya itu meminta kami duduk di depannya. Kurasa kami akan ditipu, dengan duduk disitu kami sudah harus membayar sepuluh ribu rupiah. Tapi tak apalah, aku penasaran apa yang bisa ia lakukan, mungkin saja dia akan melakukan trik sulap atau semacamnya. Lalu dia memberikan 2 kartu tarot yang dia taruh di depan kami, namun kami belum boleh membukanya.
“Siapa nama kalian?”
“Oh kukira dukun sepertimu akan tahu segalanya”, bicaraku memang sering tidak sopan, terutama jika dengan orang yang belum kukenal. Tapi percayalah sebenarnya aku orang yang menyenangkan. Paling tidak itu yang Rian katakan padaku.
“Aku hanya memastikan saja.”
“Memastikan apa?” tanya Rian
“Memastikan aku tidak salah memberikan kartu.”
Lalu kami coba membuka kedua kartu itu perlahan, aku sangat terkejut di dua kartu tersebut tertulis jelas nama kami, Rian dan Dewi. Dewi adalah namanku jika kau belum tahu.
“Apa alasan kalian datang kesini?”
“Kami hanya penasaran dengan standmu, nggak lebih”
“Baiklah, karena kalian sudah membayar, aku harus memberikan sesuatu. Apa kalian menginginkan sesuatu dalam hidup kalian?”
“Ya, aku ingin…” Rian tak sempat mengatakan keinginannya karena wanita itu memotong kalimat Rian.
“Jangan sebutkan, keinginanmu akan segera terwujud, tapi itu tergantung dengan keinginan pacarmu ini, tapi keinginanmu terlalu banyak, aku tak tahu harus mengabulkan yang mana.”
“Baiklah, kabulkan ini, aku tak ingin diganggu dan biarkan aku sendiri.” Aku mengatakannya dengan cepat lalu kutarik Rian agar kami cepat pergi dari situ.
Sejujurnya memang itu keinginanku saat orang tuaku atau teman – temanku berisik. Apalagi saat aku sedang sibuk mengerjakan tugas kampus atau sekedar membuat puisi di depan laptopku, kegaduhan mereka benar – benar membuatku sulit berpikir. Tapi saat aku mengatakannya kepada cenayang itu, aku tidak benar – benar mengharapkannya, aku hanya terlalu takut, perkataanku keluar begitu saja dan agar aku dan Rian bisa cepat pergi dari stand menakutkan itu.
Semoga permintaanku tidak menjadi kenyataan, aku tidak begitu percaya tahayul, voodoo, cenayang, atau semua yang bekaitan dengan itu. Baiklah, ini sudah keterlaluan. Sekarang sudah jam 12 dan aku masih kesepian di rumah. Kupikir jika aku keluar rumah aku tidak akan kesepian lagi. Lalu kuputuskan untuk mandi dan pergi ke luar rumah. Mungkin saja di luar sana aku bertemu orang baik yang mau menemaniku.
Kulangkahkan kakiku keluar, tentu saja tak lupa kukunci pintu terlebih dulu. Aku kaget karena tidak ada orang yang lewat di depan rumahku, jalanan di perumahan sangat sepi, tapi tunggu dulu, biasanya kan memang sepi, apalagi hari Minggu biasanya tetangga – tetanggaku pergi berlibur. Tapi untuk memastikan aku berdiam diri dulu di depan piintu sampai aku mendengar suara motor, suaranya semakin lama semakin jelas, ya, seorang laki – laki tua mengendarai sepeda motornya melewati depan rumahku. Aku merasa sedikit lega. Kali ini tujuanku adalah ke mall, banyak orang di sana tentunya. Dan untuk pertama kalinya aku merindukan keramaian.
Aku berjalan kaki dengan berharap – harap cemas, semoga keinginan yang aku sampaikan kepada cenayang itu tidak menjadi kenyataan. Aku berjalan melewati pagar rumahku, menutupnya lalu berjalan ke mall, tapi siapa sangka, aku baru berjalan beberapa langkah lalu dari belakangku muncul sebuah mobil van hitam dan berhenti di sebelahku. Dua orang dengan stoking lucu di kepalanya keluar dari mobil lalu salah satu dari mereka menutup mulut dan hidungku dengan sapu tangan basah. Semua menjadi sangat gelap, aku tidak bisa bergerak, tubuhku sangat lemas saat itu. Aku diangkut ke dalam mobil van tersebut dan dibawa pergi entah kemana.
Tunggu dulu. Apa aku benar – benar diculik? Sepertinya begitu, dua orang dengan stocking di kepalanya yang terlihat lucu itu membiusku dan memasukkanku ke dalam mobilnya, apa lagi jika aku tidak diculik? Aku sangat takut, mau diapakan aku, kemana orang tuaku menghilang? Mungkinkah orang itu sudah menculik orang tuaku terlebih dahulu? Apa yang harus aku lakukan? Apa aku akan disiksa oleh mereka? Atau mungkin aku akan diperkosa? Huaa… aku tidak bisa membayangkan, semoga orang yang menculikku lebih tampan dari pacarku. Tapi mana mungkin orang tampan menjadi penculik, pria dengan wajah tampan pasti sudah jadi model atau artis dengan mudah. Pikiranku ngelantur, mungkin karena obat bius itu.
Saat aku pingsan aku memimpikan sesuatu, aku melihat teman – temanku tertawa, lalu muncul kedua orang tuaku menangis melihatku, lalu muncul Rian di sampingku, Rian memakai jas yang bagus, tak pernah kulihat Rian setampan itu. Lalu tiba – tiba muncul wanita cenayang dari stand kemarin. Aku mendengar suaraku sendiri menggema di dalam ruangan. “Baiklah, kabulkan ini, aku tak ingin diganggu dan biarkan aku sendiri” kalimat itu seperti rekaman yang diulang berkali – kali, mendengar itu membuatku sangat takut, kucoba menutup telingaku namun suara itu terus terdengar. Tiba – tiba suara itu menghilang begitu saja. Rian, orang tuaku, teman – temanku, semua melihat ke arahku, lalu sayup – sayup terdengar suara gemuruh air. Kulihat begitu banyak air datang ke arah kami, air itu membanjiri seluruh ruangan menghanyutkan semuanya, Rian, ayah, ibu, dan semua temanku hanyut, dan aku pun tenggelam.
Aku terbangun dari pingsanku saat penculik itu mengguyurkan seember air ke mukaku. Sepertinya itu yang membuat mimpiku berantakan. Aku sedikit batuk karena tak sengaja menelan air yang mereka guyurkan kepadaku. Aku masih tidak bisa melihat mereka karena mataku ditutupi dengan kain yang diikat di kepalaku.
“Tolong jangan sakiti aku”
“Kami tak akan menyakitimu”
“Apa mau kalian?”
“Namaku Dani, aku hanya menanyakan beberapa hal kepadamu, dan kau harus menjawabnya dengan sangat jujur. Apa kau merasakan sebuah kabel yang kami tempel di kedua tanganmu?”
“Ya.. ya.. aku bisa merasakannya, untuk apa kabel itu?”
“Jika kau berani berbohong, kami bisa mengetahuinya lewat alat tes kebohongan yang kami hubungkan ke tangan kirimu. Denyut nadimu akan memberitahu kami apa kau berbohong atau tidak, dan jika sekali saja kau berani berbohong, temanku Adi akan dengan senang hati menyalakan saklar yang menghubungkan kabel di tangan kananmu dengan listrik yang bervoltase sangat tinggi sampai kau mati. Apa kau mengerti?”
“Baik… baik, aku mengerti”
“Baiklah, aku mulai dengan pertanyaan pertama, siapa namamu?”
“Dewi, namaku Dewi”
“Baik, awal yang bagus, pertanyaan selanjutnya, dimana kau kemarin siang?”
“Emm.. di pameran”
“Dengan siapa kau kesana”
“Dengan Rian”
“Siapa Rian?”
“Pacarku”
“Kau punya pacar? Apa orang tuamu tahu tentang Rian?”
“Tidak, aku belum memberitahu mereka, papa mama hanya tahu dia temanku”
“Apa kau sayang dengan orang tuamu?”
“Pertanyaan apa itu? kenapa aku harus melakukan ini?”
“Jawab saja, apa kau menyayangi kedua orang tuamu?”
“Ya, tentu saja, mereka sangat berisik dan cerewet, tapi aku sangat menyayangi mereka, lebih dari apapun”
“Baiklah, kurasa itu jujur, pertanyaan selanjutnya, apa kau mencintai Rian?”
“Apa urusanmu?”
“Jawab saja pertanyaanku, apa kau mencintai Rian?”
“Huft… Untuk apa kau tanyakan itu?
“Jawab!! Apa kau mencintai Rian??”
“Baik.. baik, aku sangat mencintai Rian”
Tiba – tiba terdengar bunyi bip panjang di sebelah kananku.
“Di, Adi!” panggil Dani dengan suara keras.
“Apa, apa artinya bunyi itu?” Dewi ketakutan.
“Baiklah, kutanyakan sekali lagi, apa kau mencintai Rian?”
“Ya, aku sangat mencintai Rian sepenuh hatiku”
“Biiipp….”
“Adi!”
“Negatif Dan.”
“Apa artinya? Bunyi apa tadi?”
“Itu berarti kau tidak berkata jujur, kau berkata bohong”
“Apa maksudmu? Aku mengatakannya dengan jujur.”
“Tidak, kau berbohong.”
“Aku tidak berbohong aku memang sangat mencintai Rian, alatmu rusak, kau tahu itu?”
“Tidak mungkin.  Adi, setrum dia.”
“Aku jujur…!!
“Biipp…”
“Aku bersumpah aku tidak bohong..!!!”
“Biipp..”
“Aku mencintai Rian”
“Biipp…”
“Aku cinta Riaannn…”
“Biippp….”
“Adi, cepat setrum dia”
“Baik Dan”
“Tidak, jangan… aku jujur, aku cinta Rian, aku sangat mencintainya, aku tidak bohong, tolong jangan bunuh aku…”
“Biipp… biipp… biippp…biipp…”
“Adi cepat….”
“Tidaakkk….”
Dan seseorang membuka pintu sebelum aku sempat disetrum, aku sangat takut, aku menangis, kenapa aku dikira berbohong oleh alat pendeteksi kebohongan? Aku benar – benar mencintai Rian. Kudengar langkah kaki begitu berat mendekat.
“Bos…” Kedua penculik itu menyapa orang yang mendekat tadi.
“Siapa… siapa kau?!” Dia hanya diam tak menjawab pertanyaanku.
Lalu perlahan – lahan kudengar suara orang begitu riuh. Anehnya suara itu terdengar dari atas. Salah satu penculik melepas ikatan di tanganku, dia juga melepas kabel dari tanganku. Lalu kulepas penutup mataku sendiri, kulihat 2 penculik masih menggunakan stocking berdiri di sampingku, sementara bos penculik duduk di depanku, dia menggunakan sebuah topeng putih. Lalu kulihat ke atas, atap ruangan itu seperti terbelah menjadi dua, kumelihat langit malam yang tersorot lampu – lampu terang. Lantai tempatku berdiri perlahan – lahan naik ke atas. Suara riuh semakin terdengan lebih keras, akhirnya aku sampai ke atas, kumelihat banyak sekali orang, kini aku berada di sebuah panggung besar, aku bingung, aku tidak tahu apa yang terjadi di sini, apa ini acara Supertrap atau apa? Aku tidak memiliki ide apapun.
Aku sangat kaget saat bos penculik di depanku mengeluarkan sebuah cincin dan dia berkata “Will you marry me?” lalu ia membuka topengnya dan aku tak menyangka bahwa dia adalah Rian. Aku begitu syok, aku tak tahu bagaimana mengungkapkan perasaanku. Rian masih menatapku menunggu jawaban, sementara orang – orang disekelilingku, kukira mereka ada ribuan, mereka banyak sekali, mereka bersorak – sorai mengharap aku mengatakan “Yes”. Tapi aku tidak tahu aku merasa sangat aneh, untuk mengungkapkan perasaanku hanya ada satu, aku menampar Rian, hampir semua orang disitu terdiam, namun mereka kembali bersorak saat aku memeluk Rian dan berkata “Yes, Absolutely Yes, aku benci kamu Rian.” Aku kembali menangis, aku menangis dalam sekali, namun sekarang air mata yang kukeluarkan adalah airmata kebahagiaan.
Rian memakaikan cincin yang ia bawa ke jariku.
“Dewi Cintaku, ayo ikut aku.” Ajak Rian sambil berlari ke panggung sebelah.
“Rian, tunggu, kau mau kemana?” Tiba – tiba dua orang dengan stocking tadi mengangkatku, sepertinya mereka artis yang Rian sewa.
Aku diangkat dan dibawa ke panggung sebelah mengikuti Rian, di kanan kiriku ada belasan penari, mereka menari sangat indah, malam ini aku seperti bintang, belum pernah aku menjadi pusat perhatian seperti ini.
“Oh Rian, kenapa kau tak bunuh aku saja? Aku bisa jantungan.”
Di panggung sebelah ternyata Rian sudah menungguku bersama seorang penghulu, disitu aku juga melihat semua teman – temanku bersorak terhadapku.
“Kau serius kita menikah sekarang?”
“Ya, tentu saja, aku sudah persiapkan semuanya.”
“Bagaimana dengan orang tuaku?”
“Oh iya aku lupa, sebentar.” Rian memberi isyarat kepada seseorang dan tiba – tiba ibu dan ayahku mucul dari kerumunan teman – temanku, lalu disusul ayah dan ibu Rian di belakangnya. Mereka menangis melihat kami, mereka menangis bahagia melihatku akan menikah.
“Sebentar Rian, bajuku.”
“Sudah kubilang aku sudah mempersiapkan semuanya.”
Lalu datang sekumpulan penari – penari membawakan aku sebuah baju yang sangat indah, namun aneh, mereka bisa memakaikannya kepadaku tanpa aku harus bergerak sedikitpun, ini baru trik sulap. Lalu seseorang wanita berjalan mendekatiku, dia membawakanku sebuah mahkota kecil, dan dia ternyata orang yang menyamar sebagai cenayang waktu itu. Dia memakaikan mahkota itu ke kepalaku. Lalu kupeluk dia sekuat tenaga. Aku tak menyangka dia juga bagian dari rencana Rian.
Kami melangsungkan pernikahan malam itu juga, malam itu adalah malam terindah dalam hidupku. Aku menikah dengan orang yang sangat kucintai, orang tua kami menyetujui, ribuan orang datang ke acara pernikahanku, dan dengan pesta semegah ini, diiringi hiburan – hiburan menarik, bahkan Rian mengundang penyanyi idolaku, aku sungguh tak percaya, dan   penari latar yang sangat atraktif, lampu – lampu panggung entah berapa ribu watt, ditambah pesta kembang api semakin membuat meriah acara pernikahan kami. Aku merasa menjadi wanita paling bahagia di dunia.
Oleh:
Angga I Anurraga a.k.a Simon Maranzano

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: