Sel. Agu 3rd, 2021

Di Daun Gamal

Hujan yang bermain di daun-daun gamal sore itu
mengatakan kepulangan sebuah hati yang diam-diam
tak pernah mencinta
Hati yang enggan menangkap bisik gemercik
mengkaku dalam sebentuk senja
mendaras kedalaman sebuah lubuk nalar
Sebelum jatuh di wajah talas dan lesap di tanah
Sejenak membasahi, sejenak menyinggahi
Sejenak kuingat, engkaulah yang telah pergi.

Hujan itu pernah terasa begitu menggigil
pada naifnya warna karat di pagar kawat
Seperti lingkaran besi yang pernah kau semat di anak jariku
menambat jantungku pada pasak yang kau tancapkan dalam
hingga satu namamu itu mengajariku
menamai sebuah lorong sempit sebagai dunia,
Saat kurambatkan kaki di tembok sepinya malam
menungguimu yang sudah berlari jauh di depan hari
searah entah, ke tempat entah

Adakah kata selamat tinggal di ujung lorong itu kau tangisi
Kau tampung dalam cawan ratap dan kau minum
Dalam setiap dekap kosong di ruang tanpa cahaya
Lalu kau meniriskannya dari pori-pori dan kau menulis puisi

Karena sejakmu,
bergelas-gelas telah kuisi dan kukosongkan
Setiap kali hujan beranak di daun gamal
di depan jendela kamar yang masih tak bercahaya
Menanti cerita lain dari basah yang tersisa di tanah
besok pagi 

By : Zoel Z Anwar

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: