Rab. Jun 3rd, 2020

Dunia Kardus di Bulan Dedaunan

Photo source : https://gumbywan.wordpress.com

Dunia Kardus di Bulan Dedaunan

Karya Tsaqif Al Adzin Imanulloh

Ini bulan dedaunan. Ketika hari menetas, kelopak surya perlahan mekar. Tanah menjadi karib yang telah ditunggui segerombolan serbuk akar kelaparan. Pucuk dihimpit tunas dalam kecepatan samar menggapai-gapai kilau sinar. Saat pendar menyisakan secuil bayangan dan ufuk menurunkan tirai peraduan, konvoi awan hitam bergelantungan. Pelan seiring dendang hijau kebun di samping belukar, bulir pecah melahirkan anak hujan menghujam tak henti. Sekali lagi ini bulan dedaunan, bulan yang tak asing bagi Ncek. Tiga lembar terakhir kalender bergambar berbagai daun di atas susunan kardusnya merupakan alarm bahwa semarak akan datang. Sepanjang rel dipenuhi onggokan hijau. Bulan kidung muda-mudi menembangkan derai tawa dalam pelaminan, menambah juragan hijau yang baru.

Dengungan gemericik besi dengan besi beradu, menyisakan decitan pilu dan bunga api. Selang sesaat, bersamaan gemuruh jug gijag gijug menghilang, hiruk pikuk tumpukan hijau kembali terhampar. Ncek masih menatap langit-langit di atas pembaringan kardusnya. Huruf miring pada tulisan kardus mie instant bak musik nina bobo penghantar tidur, tapi ia harus bangkit, ini bulan dedaunan. Ia begitu akrab dengan pagi hijau yang menjanjikan kepingan-kepingan kebahagian. Menyibak lembaran kardus, dunia dedauanan telah menyambutnya. Merangkak dengan kereta segiempat bekas kaki lemari es usang, setiap melewati juragan-juragan yang menggelar hijau, sebelum ujung bibirnya menyapa dengan senyum,

”Yihuuuu … Pagi Mbak, Mas, Mang” teriaknya dengan lantang.

Kemudian ia mulai mengumpulkan sisa-sisa hijau yang ditunjukkan juragan, sambil mereka melayani pembeli. Dari satu lapak ke lapak yang lain, karungnya membludak, hampir tak menyisakan ruang. Tangannya yang berbalut sandal jepit mengayuh gerobak yang ia tumpangi dan karung sayur dengan menderu. Tapi ini bulan dedaunan, hasilnya akan banyak dan akan ada lembar biru untuk kado nanti malam, gumamnya dalam hati, membayangkan sisa hijau disisir dirangkai ulang ditukar dengan rupiah eceran.

Kelip lampu dari seberang rel seperti magnet yang memanggil Ncek untuk segera memuaskan dahaga penantiannya. Hasratnya melepaskan segenap rindu yang terbelenggu merajah hati hendak ia tumpahkan. Dunia baginya adalah sepanjang rel yang menghilang di belokan, dan dinding beton tegak perkasa semakin meninggi di antara rel. Dan hari baginya merupakan pergumulan onggokan dedaunan, gemuruh decitan gerbong dan ruang kosong susunan triplek dan kardus bekas. Ncek dengan stelah baju terbarunya menutup hingga pangkal paha, melipat ujung rok ke dalam dudukan gerobak. Rumbai janur menyambutnya dengan semilir huruf ucapan selamat datang. Tamu undangan belum terlalu banyak, dengan leluasa Ncek meringsek ke depan pelaminan mini. Mas Udjo dan Mbak Parti menyambutnya dengan meletaknya ke kursi,

”Duh si Ncek cantik bener, baju baru ya?” goda Mas Udjo

”Yang terbaru dong buat merayakan pesta Mas Udjo,” sahut Ncek sambil menarik memamerkan pita love di dada bajunya.

”Nih Mbak kadonya, rejeki hari ini lumayan,” lanjut Ncek menyerahkan amplop putih.

”Ceileh si Ncek pake kado segala, makasih ya, Mbah Kemi ga ikut Ncek?” balas Mas Udjo.

”Si Mbah masih kerokan tadi Mas.” jawab Ncek sambil menarik nafas panjang mencium aroma melati.

”Kursi dan dipan buat Ncek udah siap noh.”  sahut Mas Undjo menunjuk pojok tenda mini.

Malam yang panjang memantulkan pelangi pada roman Ncek. Dentuman orkes melayu mini dan gegap gempita meneriakan kepada langit terang. Kadangkala para tamu meminggirkan kursi masing-masing, setelah gerbong demi gerbong berlalu, dunia rel kembali bergemuruh dalam gelak tawa. Inilah surga dunia rel kereta yang selalu ditunggui Ncek, beberapa hari ke depan ia sejenak dapat melupakan dunia kardusnya, berpindah dari satu pelaminan ke orkes yang lain. Pada jejak rindu yang sama, bulan dedaunan akan meredam malam-malam penantiannya yang gelisah, gelisah kepada banyak tanya, kakinya, pembaringan kardus saat ia dititipkan ke dunia di pinggir rel depan gubug Mbah Kemi dan dunia rel bersama dedaunan yang menjadi langitnya berteduh. Ncek gadis mungil berparas gembul menjelang tiga belas tahun dengan kaki beroda empat.

Di batas bulan dedaunan, sebuah undangan tergolek di pembaringan. Di dalamnya keluarga kecil dengan seorang putri muncul dalam bentuk embos. Kata Mbah Kemi, itu undangan ulang tahun orang kaya untuk santunan kaum dhuafa. Gerimis di luar kardus, menjadi warna kesepian. Gemericik garis putus panggilan sunyi, melahirkan gentayangan lelembut yang menciutkan nyali Ncek. Hening dan dunia luar selalu membuatnya bergidik. Ada banyak monster kecemasan yang akan memangsa dunia kardusnya di luar sana. Sekali lagi kertas warna pink dengan tinta emas ia tatap bersamaan dengan baris gerimis. Dadanya bergemuruh dan rasa terkelupas, detak jantungnya telanjang. Ada kerontang yang berpalung sangat dalam, kecemasan yang menggigil berpacu dengan derai ujung matanya berkilau.

Tetabuhan degup mengguncang tubuhnya, tetes itu luruh disaru renyai. Desah kecemasan dalam diam membuatnya bertekad. Aku akan menaklukkan kalian dunia luar. Lirihnya sambil mengguatkan diri.

”Ncek, jemputannya sudah datang.” teriak Mbah Kemi.

”Masuk Mbah … !” balas Ncek dengan sedikit ragu.

”Tunggu apalagi Ncek, jangan ragu.”

Sejenak Ncek hanya terpaku,

”Mbah, ada apa di luar sana?”

Mbah Kemi merasakan ketakutan Ncek.

”Di sana ada banyak makanan enak, permen, balon-balon dan mainan, mungkin juga ada sepasang kaki untuk Ncek.”

”Apalagi Mbah?”

”Ada gedung tinggi, orang yang cakep dan wangi, ada banyak kegirangan, Ncek pasti suka.”

”Mbah, jaga kardusku.” pamit Ncek sambil melepas pengangan kardusnya.

Langit masih memutih berkilau biru dari balik jendela mobil yang ia tumpangi. Hanya dari balik bajunya darah terus terpompa terburu-buru. Hijau dedaunan berganti pola dengan gedung yang berkaca di mana-mana. Ketegangan masih bermukim diwajahnya, ada kekhawatiran yang sedang menunggu, seperti petani menjemur padi diserbu hujan tiba-tiba. Tak ada kusut yang kunjung datang, walau belum bisa menepis gelagap, keriuhan asap berjejal di aspal yang hitam membuyarkan pikiran was-was Ncek. Hingga akhirnya sebuah gedung tinggi mengakhiri perjalanannya. Ncek duduk dalam kerumunan teman sebaya, ada banyak baju yang seragam. Nyanyian, badut yang bermuka lucu dan hidangan yang tak pernah habis. Ncek mulai merasa nyaman dan mengulum senyum sambil beradu pandang dengan sekeliling. Bianglala bias balon-balon memijarkan nafas gelora kekanakannya yang mati suri. Ada sebongkah api yang menyalakan semangat pada sepasang lengannya untuk bergerak kesana kemari.

.

Masih di bulan dedaunan menuju akhir. Segenap suka cita dengan nyanyian, kue dan lilin-lilin meriuhkan jiwa Ncek, seolah dunia kardus terlalu sempit baginya. Pelan Ncek merasa ia telah mulai menaklukan kecemasannya. Tidak ada kesepian dan kerinduan yang benar-benar membunuhnya di sini. Menjelang usai, diam mulai merangkak. Jamuan masih menyisakan wangi, orang masih ramai, tapi tidak ada lolongan suara. Mata dan suara orang-orang mulai tertukar dengan beragam bunyi. Jemari cekatan memencet tombol dan menggeser layar-layar kotak mini. Dunia menjadi asing bagi Ncek, parau-parau menghiba tanpa jawab dari orang-orang yang menyumpal telinganya dengan tali terhubung ke benda berkaca ditangannya. Kepala menunduk, orang-orang semakin bungkuk hanya menatap layar yang terus digeser-geser. Ncek tersadar, terngiang bunyi gesekan baja rel dengan roda kereta, bukan bunyi kipit-kipit pencetan. Terbayang hijau dedaunan, bukan pancaran cahaya dari kotak-kotak bertombol. Ncek menjadi asing di dunia yang asing. Dengan bekal jaketnya ia hanya memeluk sunyi,

”Mbah Kemi, mbah salah, tidak ada kebahagian di dunia luar, ini seperti dunia bisu dan nyaris mati,” lafal Ncek pasrah.

”Mbah, aku ingin kembali ke dunia kardus, duniaku dan orang-orang yang menganggapku ada dan menjadi gadis kecil yang disambut dengan suara,” lanjutnya sambil menaikan ujung bajunya menyeka mata.

.

Gemeletuk gigi dan regangan tangan, perlahan Ncek membuka mata. Tulisan itu kembali tertangkap pupilnya. Tulisan kardus mie instant, senyumnya mengembang. Dunianya telah kembali. Sejenak memutar pandang menatap sekeliling. Dengan lega meyakini diri bahwa dunia bisu telah berlalu. Menyibak kardus, dunia hijau dan keriuhkan keranjang-keranjang menyambutnya dengan gembira. Duniaku dalam kardus jauh lebih besar dari dunia luar sepetak benda canggih yang bisu. Lirisnya dalam hati sambil mengapit kaki beroda empat.

”Yihuuuu … ”

Teriakan Ncek diikutin para juragan-juragan yang menghampar hijau. Karena ini adalah keriangan dunia kardus Ncek, pada bulan dedaunan. Dunia harapan tentang kerinduan akan kedamaian dalam keriuhan, bukan keramaian dalam kesepian.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: