Garis Demarkasi

0
250
Pagi ini masih sama seperti pagi puluhan tahun yang lalu. Aku tercekat menatap jalanan berdebu yang bercampur dengan darah semua orang, darah ibu bapakku. Anyir sekaligus menyesakkan. Mereka tak henti-hentinya menghabisi keluarga Palestina yang semakin hari semakin terdesak. Harapan bergantung kepada dunia hanyalah harapan kosong. Satu-satunya yang masih tertanam kuat di hati hanyalah harapan yang kugantungkan kepada Dzat Sang Pemberi Rahmat. Sekarang usiaku 35 tahun, dan seluruh usiaku penuh dengan kegetiran. Aku menghabiskan usiaku di penjara Israel sejak 1995.     “Mau Spagheti?” Seorang pria dari pihak penjajah yang masih peduli menawarkanku sarapan.
“Tidak, terimakasih.”
“Sepuluh menit lagi kita akan menuju Gaza. Sebaiknya kamu minum teh dulu dan sarapan. Kita akan menempuh 70km dari sini.”
“Nanti kalau saya lapar saya akan makan.”

***

Kami naik Jeep dengan pengawalan ketat. Jalanan bising. Dalam benakku, terbayang keadaan kotaku tercinta, Gaza, yang terletak di kawasan pesisir timur Laut Tengah, di bagian selatan Palestina. Aku rindu setengah mati pada kegersangannya. Aku ingin merebut kembali setiap sudut yang diambil alih paksa oleh penjajah ini.

“Ayo turun, kita sudah sampai di markas.” Salah seorang dari mereka menarik tanganku yang terikat borgol.
“Mau apa saya dibawa ke Gaza?” Aku bertanya agak keras.
“Kamu tak perlu tahu. Lakukan saja yang kami perintahkan, kamu sudah paham akibatnya jika menolak.”
Aku terdiam, aku sama sekali tidak takut dengan ancaman mereka. Semua kekejian mereka sudah kusaksikan dan aku tidak gentar.
“Daniel, kuserahkan banci Palestina ini. Perlakukan semaumu.”
“Haha…kemari kamu. Nama?”
“Rawhi.”
“Masih mau hidup?”
“Atas kehendak Alloh.”
Bugh. Senapan melayang ke kepala kiriku. Telingaku peling dan aku sedikit limbung tetapi masih bisa berdiri.
“Aku ingin melihat banci ini telanjang dan bawa dia ke tengah lapangan. Lakukan sekarang.”
Tuhan, aku tidak bisa berbuat banyak, kedua tanganku terikat. Biadab sekali yang dilakukan penjajah laknatulloh ini. Mereka melukar seluruh pakaianku dan memajangku di tengah-tengah lapangan. Seorang pejabat Israel perempuan menggodaku dan lagi-lagi aku tidak berdaya melawan. Sungguh mereka telah menghinaku sedalam-dalamnya. Dan ini yang masih dialami oleh ribuan tahanan lainnya yang tersebar di penjara-penjara Israel.

Menjelang pertukaran tahanan, keadaan darurat diberlakukan. Pejuang Palestina berjaga-jaga di jalan utama di Khan Younis, selatan Jalur Gaza. Begitu juga para pasukan Israel. Setelah mereka puas melecehkanku, aku diarak lagi ke markas, dipakaikan lagi pakaianku dan aku menunggu saatnya tiba. Ya, senja nanti akan menjadi waktu yang paling dramatis, aku akan bergabung lagi dengan para pejuang lainnya. Aku bersumpah demi apapun, aku tidak akan menyerah kepada para jahanam ini. Seorang pejabat Israel dengan kasar menyeret seorang perempuan bercadar hitam. Aku tertegun.

“Hei man, sudah bisa menandatangani perjanjian kita?” Daniel mendesak.
“Apa?”
“Kamu akan hidup enak tanpa harus bersusah payah begini. Bergabunglah bersama kami. Ini tawaran terakhir. Camkan!”
“Tidak bisa.”
“Baiklah, lihat mereka.” Lelaki tinggi besar yang tadi menyeret seorang perempuan bercadar, mulai membuka cadarnya. Hatiku teriris pilu. Perempuan itu menunduk menutupi wajahnya.
“Kalau kamu masih keras kepala, kamu akan menyesal sampai mati. Bagaimana?”
“Tidak.” Aku menjawab singkat dan tegas.
Tiba-tiba lelaki itu membuka seluruh jubah perempuan itu dan memperkosanya. Aku menunduk dalam-dalam. Telingaku sakit mendengar jerit tangis perempuan itu. Beberapa menit kemudian si lelaki menengadahkan wajah perempuan itu dengan kasar ke arahku.
“Allohu Akbar.” Aku terpekik spontan. Aku menangis. Dendamku semakin menjadi-jadi. Dadaku naik turun.
“Biadaabbbb!!!”
Aku menyaksikan sendiri mereka memperkosa seorang perempuan, perempuan yang sedarah denganku, perempuan yang aku tidak pernah lupa pada wajah lugunya ketika masih berusia 15 tahun kutinggalkan tanpa ayah ibu, dia adikku satu-satunya. Dan mereka menggoreskan luka yang lebih dalam lagi untukku.
“Tunggu pembalasanku Israel jahanaaaammm!!!”
Aku tak mendengar apa-apa lagi. Keadaan hening. Di garis demarkasi ini, segalanya telah hancur.

Tinggalkan Balasan