Kam. Nov 21st, 2019

kerttu / Pixabay

Git Ajja | Pelabuhan Sunyi

001
BALASABUNG

Para petarung
Bersiap dalam sabung
Iming iming dilambung
Siapkan kantung kantung meraup untung

Para petarung
Siapkan tali gantung
Belenggu kurung
Pasak pasak pasung

Para petarung
Masuki pelosok kampung
Datangi lumbung lumbung
Para penyanjung

Para petarung
Tebar pesona paling ulung
Sebelum janji terkatung
Sebelum menjadi orang orang agung

Para petarung
Siapkan penyeru dengung
Lantang bergaung
Besambut gayung

Para petarung
Kuatkan jantung
Sekira gelombang tiada terarung
Sekarat mu jangan sampai tanpa juntrung

Linglung…

…git…(281018)


002
KAMI YANG KEHILANGANMU

Kian menabuh gamang, riuh berlagu sumbang,
Sembunyikan sekeranjang umpat maki
Isyaratkan sebah, yang tak lagi tertahan terendam nyali…

Kami yang kehilanganmu

Merunut buntu
Termangu di lesat hilangmu, tercekat mendeteksi raibmu

Suara kami, hanya pekik memekak, rongga telinga sendiri…

Bersahut senyap…
Menggema di liang sepi…

Kami yang kehilanganmu

Menggilas gelisah diri
Lampiaskan gerah nadi dalam puisi,
Apatis, garing ambisi

Sirnamu membungkam lantang serapah

Lenyapmu tersekap dibawah kesiur kekata redam amarah…

Kami yang kehilanganmu

Masih menancap, laksana tonggak tonggak penyanggah rebah
Melukiskan usangnya penantian
Bersama do’a do’a tak berperantara..

…Kau dimana…

..git..(6Nov18)

#waitingyourwisdom
#ka


003
ATAS SENDIRIMU, SU…


su,
nantikan aku di singgasana heningmu,
‘kan kubawa utuh diri,
berhias seulas senyum,
tanpa bimbang, cemas dan takut,
… seperti pesanmu,

su,
siapkan sambutan tanpa tarian sakral,
atau nyanyian religi metal,
hanya sajian sejilid puisi paling murni,
bermajas penelusuran,
bermakna perenungan,
berhikmah kesadaran,

… yang ‘kan kita deklamasikan dibawah purnama,
tanpa bintang tanpa kekunang,
hanya berlatar ketenangan dan berkecipak bening embun …

su,
sabarlah dalam teduhmu,
biar sendiri kutempuh jelajah sunyi,
‘kan kutempah dalam kancah suratan paling sarat larat,
… seperti sirat wejangmu ketika melepasku, waktu lalu …

su,
puisikanlah tabahmu,
dalam bahasa paling gampang kucerna,
sebagai bekal suciku,
‘tuk menuju pertautan kembali, kita yang memecah,
kita yang terbelah,

‘kan kita tenggak berdua setangkup kalut rasa,
menjadi penghanyut dahaga jiwa …

su,
disinilah kita,
berdialog dengan mesra,
dalam bahasa tanpa suara …

..git…(siantar, 15Nov18)


004
SEKILAS, ‘kuMEMAKNA

Bertepat janji matahari dengan hadirnya,
walau tanpa panas cahaya,
tetap terang segala arah oleh pendarannya,
menyaput dinding dinding hampa,
menyirat ke semua celah, menerpa ke setiap sudut,
menghangati lembab semesta …

Bukan ketiadaannya yang menebalkan gelap seksama,

Bukan keberadaannya yang menebar sinar kejiwa jiwa luka,

Bukan sembunyinya yang kelamkan siang serupa gelap malam tanpa rembulan purna,

Berjanji matahari,
menyebar surya di antara lembayung fajar berjingga muda,
merata suamnya pada dingin paling gigil yang meraja,
hangati kuntum kuntum bunga dengan gelayut embun bening nan manja …

Berjanji matahari menyimpan kisah,
melukisnya dalam rahasia rasa,
tertulis sebagai wasiat sebaik pusaka,
tertata asri sebagai keindahan abadi,
sebentuk kaji tanpa ambisi,
menyemai pada suara suara tanpa bunyi..

… berhikmah g e r a k h a t i …

..git..(siantar, 18Nov18)


005
SATU BAIT SAJA, ADALAH KITA …

Satu bait saja, tulislah …

Rerangkai aksara,
tentang satu rasa,
tentang satu nuansa,
tentang sebuah kisah …

Biar mengalir apa adanya, biarkan menyentuh dasar jiwa, biar tersemai menjadi bernas do’a,
atas sederhananya pinta,
pada malam malam yang tinggal sepemejaman mata …

Ketika rindu menemu buntu untuk diluah tuju,
atau ketika rintik gerimis menikam sepotong bulan yang kehilangan purnamanya,
maka igauan mimpi menjadi suara kejujuran paling rasa …

Tentang sebidang ruang remang yang sembunyikan berlaksa dendam,
tentang tonggak hitam yang menancap garang,
memacak di sebongkah daging merah …

Walau satu bait saja, tulislah …

Cukupkan kelam tertera pada kata kata,
cukupkan kusam terpahat di hitam karang,
cukupkan duka mendera luka hanya pada jiwa jiwa yang mati rasa,
dan kita, bergegaslah …

Bersama membaitkan seksama cita,
terkemas suci dalam seharkat citra,
menyemai buliran buliran asa bermuatan cinta …

…git…(siantar, 21Nov18)


006
SENYATA ILUSI …?

Satu dimensi terbentang, menjabar gamblang sederas gelombang bandang,
nuansa meremang,
irama irama syahdu tembang berkalang …

Dua jiwa nyaris tanpa ragu,
bersahutan tiada bisik rayu,
‘saling mengurai pilu,
berbalasan tatap sayu, isyaratkan selaksa rindu, menyauh kalbu …

Hahh …!!!

… hanyut dilarung gelegar syaraf melindu …

Ceracau memberingas,
menyaru dalam lintas dengus nafas …

Sejurus sentuh usap membius, bergerilya dalam ronta ronta halus,
melena,
benteng kokoh tertembus,
oleh lirih mendayu nada sesaling pinta,
meliuk gemulai serupa cengkerama bayu di taman taman goa bermega,

… pengab lorong melembab,
oleh liur cipta masyhug menjerembab …

Kemarau berderak,
kerontang melonjak,
kekeringan terkecipak,
gelimang oleh basah hangat merambat,
rerembes peluh melunas kecap,
tunai satu prosesi pembenihan,
lebur dalam kemauan tanpa penyangkalan,
kobar sekam tersulut bara,
derukan hasrat keras merambat,
gemeretak menderak,
gigilkan senyawa molekul darah,
gelayut sipu terhalau …

Hahh …!!!

Suara mengigau,
tercekat parau …

…git…(Siantar, 23Nov18)


007
BERLABUH DALAM SEPI

sepotong bulan bimbang mengambang
sinarnya terperangkap di bingkai harapan
hangatnya terpasung dalam dingin kristal bening
bergelayut di helai daun
irama kidung rindu membentur dinding cadas
bergema menyusupi rongga gersang dan curam
resah menjadi kepasrahan
atas gebu dan gencarnya keinginan
nadi dan nyali dialiri berjuta molekul romansa
hasrat menghamba
pada damba cinta tanpa jeda
suara mengemas desah
hening terpecah
semilir angin terbelah
oleh tajam gairah
yang melesatkan anak panah dari busurnya
desirnya panas menuntas
melepuh di keteguhan
gemuruh meronta,
cengkeram bertaut
menahan letupan pesona
pada pancaran pancaran tirta
sepenuh rasa
dan sepotong bulan masih bimbang
mengambang di kanvas pagi yang terkoyak
cahaya redupnya menjadi saksi sunyi
tanpa alibi

…git…(siantar, 27D18)


008
IBU
(ijabah do’a paling rasa)

Pada segumpal darah yang menjanin,
dan bernyawa,
hidup dan tumbuh,
benih kasih taburan ibu.

…putih dalam balutan aneka warna yang menyertainya…

Menjadi kekuatan paling cinta, tak tergoyah,
oleh dera berlaksa noda,
melahirkan keagungan penuh sahaja dalam menghalau kekerdilan,
menjadi benteng kesabaran atas derasnya gempuran kesedihan.

Seiring waktu berjalan,
banyak perihal durja mencabiknya,
mengkebiri keteguhannya menjadi sebuah kelemahan,
menggerusnya dengan berbagai kesakitan,
merobeknya penuh nista tanpa ampunan,
melenyapkannya dari pembuluh pembuluh sarat elemen persenyawaan
asah, asih dan asuh.

Pada segumpal garah yang menjanin.
Kasih ibu tetaplah padu dan menyatu.
Leburnya menjadi perekat paling lekat,
menjadi sinar seterang cahaya syurga,
menjadi wadah seluas angkasa,
yang menampung beribu keluh berjuta kesah

…menjadi ijabah do’a tanpa dimohon pinta…

Hikmah suci yang terkandung dalam sayang mu, ibu,
adalah kesaktian paling sakral dan rahasia,
yang mumpuni mengayom keterpurukan jiwa jiwa anaknya.

..git..(20Des18)


009
SEGARIS DALAM BEDA
( * git )

Sungguh,
bukanlah aku sehampar taman asri penuh bunga warna warni,
yang akan bisa memberimu sehasta kesegaran ketika letihmu menggamit di senja itu…

Hanyalah aku serumpun perdu di tepian jalan berbatu,
yang hanya mampu memberi sejenak teduhan ketika langkahmu melintas di jalan berdebu,
pada panas hari paling menyembilu…

Sungguh,
bukanlah aku sebait madah fatwa pujangga,
yang setiap waktu akan selalu menghiburmu dengan kidung tembang merdu mendayu,
sebab aku hanyalah pelaku hidup yang coba menata huruf menjadi kata,
merangkai kata jadi lebih ada makna ‘tuk sekedar gubahan suasana jiwa…

Sungguh,
bukanlah aku sedanau bening tirta,
yang akan mampu membasuh seluruh tubuhmu hingga nyaris tanpa debu,
sebab aku hanyalah seteguk air ‘tuk sekedar menyeka dahagamu di serentang langkahmu berkayuh…

Maka,
maafkanlah aku,
jika tiada satu pun dari seluruh unsurku yang berkenan dalam senyawa purnamu…

(Siantar, 1002’18)


010
KELA(m)BU
(:git…)

Makna terselubung,
Tersimpul dalam ketenangan
Merobek robek lembaran asa
Tandus santun budaya
Tanah tanah permai dijalari kesumat
Berakar
Melata
Tersulut sumbu sumbu basah
Siapkan semburan paling membisa
Lembut menyengat
Tersamar dalam basa basi purwa makna bahasa
Rangkaian kecerobohan
Terkabar sebagai prosesi ketabahan
Atau malah sebagai bumerang pembuktian
masih setia sembunyikan pembodohan dalam rentan kebijakan
Pengakuan tumpang tindih
Menggilas sebelah badan
Derit ronta dibengkalai
Dianggap penyempurna gerak laju sahaja
Melayari arena pengagungan
Sosok sosok dipertuan

…Sampai kapan keabuabuan bertahan dalam kericuhan…

Jangan lagi meringkas waktu jadi alasan pengabur kesimpulan,
Sebab menunggu juga butuh gizi asupan,
Demi terang mata,
demi telinga yang mencerna,
Untuk akal yang mengeja,
pada bathin yang membaca,
Bisakah semua terurai tanpa harus terberai…

(Siantar, 12\12\’19)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: