Ming. Jun 20th, 2021

“GORESAN MATA HATI” kumpulan puisi Chendana Biru

Di Ruang Ini
*************

Terpaku pada waktu
Dalam belaian rindu
Dari mata kenangan lalu
Memandang seluruh hatiku
Menjamah sudut-sudut sepi
Yang telah lama kehilangan mimpi
Menyentuh kembali luka
Yang belum sembuh
Hingga airmataku jatuh
Dan tersedar
Di ruang ini aku masih sendiri
Tanpa puisi

Chendanabiru
07062018, Dili, 1306pm

[divider]

Membunuh Kenangan
***********************

Tadi malam
Bulan menua di ranting hitam
Beredar perlahan
Dari jendelaku yang kelam
Bayang-bayang hitam tertinggal
Dari senyum terakhir
Pahit dalam luka yang getir
Bibirnya kusam dan lebam
Diam-diam mengunyah mimpi
Satu-persatu
Aku menunggu
Tertipu
Cumbu demi cumbu
Berlaku
Hingga lelahnya waktu
Pagi pun datang
Aku sendiri
Di bawah lampu temaram
Bersama sebilah belati tajam
Masih berdarah di tangan

Chendanabiru
07062018, Dili,1351pm

[divider]

Sesat Dalam Rindu
********************

Hari ini aku masih berjalan
Di antara bebatuan waktu
Dan kerikil-kerikil tajam yang sepi
Setia menanti
Untuk menikam
Tapak kakiku yang telanjang
Tanpa kenangan

Perjalanan dari senja kelmarin
Setelah aku kehilangan hujan di atap genting
Gersang dan kering
Kemarau menangis di lereng-lereng
Rerumput sembunyikan embun
Untuk musim yang tak lagi ranum

Perjalanan ini mencariMu
Jauh
Masih tidak bertemu
Jalan-jalan  berliku dan kelabu
Aku berpatah pulang
Rumahku bukan lagi kediaman
Aku lupa
Terlalu alpa
Dan buta
Di hatiku Kau
Sentiasa ada
Aku gagal menyentuhnya
Lewat doa

Chendanabiru
07062018, Dili, 1657pm

[divider]

Kalam
*******

Terpasung di sini
Dalam lidah-lidah mimpi
Sana-sini mencaci
Memaki harga diri

Bulan jatuh di kaki
Terhempas setengah mati
Di jariku
Mentari membakar puisi
Kertas-kertas langit dikoyak sepi

Senja hanya bayangan
Serupa malam hitam
Diperkosa neon jalan
Tergeletak sebelum pagi datang
Dalam dahaga yang telanjang

Kemarau ini
Tumbuh dalam luka
Dewasakan airmata
Menitik menjadi tinta
Tertinggal dalam pusara
Masih bernyawa

Chendanabiru
07062018, Dili, 1813pm

[divider]

Lukisan
********

Tak perlu lagi mencaci
Kata-kata berukuran benci
Melapah segenap isi hati
Lidahmu mulai terasa basi
Mengulum bibirku yang sepi

Simpan saja bicara manismu
Aku sudah cukup tahu
Semalam kita bercumbu
Nafsumu begitu tajam
Mengoyak dadaku yang telanjang

Kau pelukis malam
Beriku warna-warna kelam
Kau hadiahkanku sepasang bulan
Cahayanya mati dalam kegelapan

Aku terbingkai indah
Di kamarmu yang tak pernah ramah
Tanpa rindu dan kenangan
Ditemani sejumlah luka dan dendam
Aku mengusang perlahan-lahan

Kau hilang dalam mentari
Kau pulang membawa gelap
Kau beri ku mimpi-mimpi
Sisa warna  dari kuas pucat
Yang tak pernah kau lihat

Chendanabiru
08062018, Dili, 0934am

[divider]

Nafas Puisi
************

Masih
Tentang cinta kita
Kuguratkan sepenuh hela
Menjadi sehelai puisi asmara
Untuk waktu membacanya

Apakah ia tidak jemu
Menelaah kegilaan rindu
Yang ada dalam tiap tulisanku
Mengakrabkan diksi-diksi
Mengintimkan dua hati

Aku tanpamu
Seperti siang tanpa mentari
Tanpa hala tanpa arti
Bernyawa serasa mati
Nyata serupa mimpi

Kini
Akulah engkau
Engkaulah aku
Menjadi denyut nadi
Saling mengisi
Nafas puisi

Chendanabiru
08062018, Dili, 1017am

[divider]

Kau dan Aku II
****************

Aku menatapmu
Dalam netraku
Sebuah pelangi
Yang sedang dilukis warna
Oleh malaikat pembawa cahaya

Kau menjadi serba indah
Dan mulai bernafas
Aku bisa menjamah
Kau hidup di kanvas

Kau juga mulai tahu
Merindu padaku
Bagai berkaca pada waktu
Ngilu ditikam sembilu
Kau meminta
Senyumku yang beku

Perjalanan ini menjadi sedih
Kita tak bisa memilih
Semua tidak putih
Cinta dan kasih

Siapalah aku dan kamu
Kita hanya secangkir rindu
Tumpah dari cawan kenangan
Kau di dalam lukisan
Aku hanyalah puisi hitam

Chendanabiru
08072018, Dili, 1147am

[divider]

Sebelum Menjumpaimu
**************************

Tentang musim ke musim
Ketika diri merasa terasing
Seperti bunga yang jatuh dari ranting
Aku menangis
Merasa betapa diri terpelanting
Lalu tercampak ke tanah yang kering
Aku tidak luka
Tapi hatiku telah patah

Lalu aku menyeret langkah
Di dalam hari tak berwajah
Aku menerka-nerka nasib
Di celah-celah waktu yang menghimpit
Mencari senyumku yang pernah mentari
Mataku yang bulan
Hilang dalam kegelapan

Dan musim ini
Aku menjumpaimu dalam sepi
Di antara riuhnya mimpi
Yang mentertawai hati
Aku seperti menjamah pelangi
Berharap setidaknya warnamu
Bisa lekat di jari
Untuk kutulis sebagai puisi

Chendanabiru
08062018, Dili, 1245am

[divider]

Daun-Daun Sore
******************

Daun-daun sore yang kering
Berbagi cerita di kaki pohon
Memungut debu-debu basah
Sisa hujan semalam
Berharap akan hijau lagi
Sebelum senja memiliki mentari

Angin lantunkan lagu
Nyanyian terakhir di jalan itu
Sebelum kenanganku dan ayah
Terbang ke langit lepas
Bersama daun sore yang mulai pasrah

Senja menghulur bayang
Daun-daun sore mengucap salam
Lambaian terakhir dari kenangan
Aku dan ayah terlepas genggam

Chendanabiru
08062018, Dili, 1714pm

[divider]

Pagi dan Embun
******************

Pagi yang paling pagi
Dingin merayapi ke tulang sunyi
Embun bertengger di lampu-lampu jalan
Menunggu mentari membuka ingatan

Gigil tanpamu
Selimut ini terasa sepi
Tidur tak mahu pejam lagi
Embun di lampu-lampu jalan
Dan pagi yang sedang menjual mimpi
Memulai percakapan
Mengejekku di kamar ini

Pagi Juni  tanpa warna
Harummu tertinggal dalam udara
Seikat embun di birai jendela
Masih berbicara tentang kita
Sejumlahnya
Telah menjadi airmata

Biroeku
09062018, Dili,0650am

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: