Sen. Okt 21st, 2019

GURATAN KALBU Kumpulan Puisi MUTAUFIK

001
Jeritan Jiwa
Oleh: MuTaufik

Terbersit jutaan bayang kelam
Kubicara dalam diam
Terus bergumam
Geram

Resah
Aku gelisah
Hatiku sungguh gundah
Teringat masa yang sudah

Melangkah tanpa sadar penuh
Tercekat ribuan keluh
Aku terjatuh
Aduh!

Tolong!
Aku melolong
Jiwaku terus merongrong
Kumohon agar Engkau menolong

Bekasi, 030818

#Kode_111
#Mencoba_Format_Patidusa

[divider]

002
SEBUAH PERINGATAN
Oleh: MuTaufik

Melupakan Sang Maha Suci
Saat hatimu mendengki
Akan terpatri
Benci

Angkara
Selalu tercipta
Saat nafsu mengemuka
Saat peringatan tidak bermakna

Ketika bencana kian melebar
Perilaku menjadi kasar
Sesal menyebar
Gusar

Damai
Mudah tergapai
Jika hatimu santai
Jika ajaran Tuhan dipakai

Bekasi, 050818 12:20

#Kode_111
#Cegah_Kemurkaan_Tuhan
#Ketagihan_Patidusa

[divider]

003
Sampaikanlah
Oleh: MuTaufik

Janganlah kamu berpura-pura tegak
Padahal kutahu dirimu sedang terbekap
Oleh kesedihan yang mengiringi sepi
Oleh kerinduan yang selalu menghantui

Kabarkanlah langsung hanya padaku
Perihal beban yang menyesakkan hatimu
Jangan kamu sampaikan pada sang angin
Sebab ia seringkali lupa untuk mengirim

Tolong jangan membuat aku menunggu
Untuk mendengar semua jeritan hatimu
Yang kamu sampaikan hanya lewat bisikan
Sedang aku tak mampu mendengarkan

Kamu sungguh sangat mengetahui
Bahwa aku selalu menyiapkan diri
Sebagai tempatmu berkeluh kesah
Juga berbagi semua cerita yang indah

Bekasi 050818 16:20
#Kode_111

[divider]

004
Tema: MENYAMBUT KEMERDEKAAN RI KE-73 (1945-2018)

KISAH SANG PEJUANG
MuTaufik

Desing peluru musuh berkeliaran
Berkilat api dari ujung-ujung senapan
Gemuruh mesin perang kerap meraung
Dentum ledakan seakan mengurung

Demi anak bangsa yang sedang tertekan
Kau rela berjuang memasang badan
Dinginnya malam tiada pernah menyakiti
Tiada pula kau hiraukan teriknya mentari

Menyusup perlahan ke dalam ruangan
Tempat musuh berlindung merasa aman
Ancaman sergapan yang tiada henti
Kau anggap sebagai penyemangat hati

Terdorong oleh rasa marah dan terhina
Kau berjuang dengan segenap jiwa raga
Tawaran harta hina tiada kau peduli
Demi bebasnya jutaan anak negeri

Duhai sang pejuang kemerdekaan
Untukmu kini kami selalu mendoakan
Agar seluruh pengorbanan muliamu
Membuat Tuhan makin sayang padamu

Bekasi, 20 Juli 2018

[divider]

005
Lupa

Kita dengan begitu mudahnya
Mendoakan bagi saudara kita
Agar mereka tertimpa azab dan nestapa
Mereka yang memahami dengan berbeda
Atau menyakiti kita dengan terpaksa
Sebab sikap kita pada mereka
Sangat jauh dari nilai mulia

Kita sering lupa
Bahwa karena setitik dosa jumawa
Yang seringkali kita lakukan
Tuhan berdaulat untuk menghempaskan
Juga kita sering lupa
Bahwa dengan setitik kebaikan
Yang tulus telah mereka lakukan
Tuhan berdaulat untuk meninggikan

MuTaufik
Bekasi, 090818
.

[divider]

006
Kesimpulan Akhir

Oleh: MuTaufik

Hari demi hari kulalui
Berbagai jalan coba kutelusuri
Alam raya terus kupelajari
AjaranNya coba kupahami
Guna mempertajam nurani
Serta memperlembut hati

Terkadang akupun menyesali
Kepongahan yang terselip di dalam hati
Dan aku sampai pada kesadaran diri
Semakin banyak hal yang kupelajari
Semakin kecil arti diriku ini
Di hadapan Sang Maha Mengetahui

Kini hanya cintaNya yang selalu kuresapi
Sambil terus berusaha untuk mensyukuri

Bekasi, 140818

#Kode_111
#Guratan_Kalbu

[divider]

007
PERI

By: MuTaufik

Kilauan cahaya warna-warni
Kulihat muncul dari balik pelangi
Meluncur turun mendekati bumi
Terlihat indah memanja netra ini

Kepak sayap anggun berkilat
Selendang cahaya lembut mengikat
Kristal menyerpih dari tubuh yang berkelebat
Menguar aroma wangi memikat

Kulihat wajah sendu bermata jeli
Tersenyum indah merona di pipi
Sinar mata tajam menenangkan hati
Seakan mengajak menenggelamkan diri

Duhai peri berparas jelita
Kusambut hadirmu dengan wajah bahagia
Ajaklah aku terbang mengangkasa
Bersama kita menyusuri keindahan nirwana

Bekasi, 140818
#Kode_111

[divider]

008
SUDAHKAH KITA MERDEKA?

—Edisi Kemerdekaan—
By: MuTaufik

Sudahkah kita merdeka?
Saat kita memuja segala yang datang dari luar sana
Saat kita meremehkan kemampuan anak bangsa

Sudahkah kita merdeka?
Saat kita lebih ingat satu kesalahan saudara
Saat kita lupa ribuan kebaikan mereka

Sudahkah kita merdeka?
Saat kita ketakutan akan serbuan dari luar negara
Saat kita malah senang memecah persatuan bangsa

Sudahkah kita merdeka?
Saat kita bergantung kepada dia yang akan bertahta
Saat kita enggan mengandalkan Sang Maha Bijaksana

Sudahkah kita merdeka?
Saat kita sangat takut kehilangan cinta dari manusia
Saat kita melupakan kasih sayang dari Sang Maha Mencinta

Bekasi, 160818

#Kode_111
#Guratan_Kalbu

[divider]

009
PICIK

Menggunakan retina hanya dari satu sisi
Menerjemahkan bait sepotong saja
Menjabarkan tanda sesuka hati
Menyembur ludah tanpa memandang rasa
Menghukumi tanpa mau mengadili
Itu tanda awal kepicikan jiwa

Bekasi, 170818

MuTaufik

#Kode_111
#Guratan_Kalbu

[divider]

010
HENING MALAM

Malam yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi
Setelah keriuhan yang mulai membiasa
Mendekap lembut hatiku yang mulai lelah akan keramaian
Gemintang bersembunyi di balik awan tipis
Rembulan muda berpendar dengan ragu di atap langit

Sunyi yang menyapaku semalam
Menghadirkan puluhan rasa di hati
Bingung
Terasing
Takut
Dan sedikit sedih
Namun ternyata jauh tersimpan di lubuk hati
Aku merindukan pelukan keheningan malam

Dalam selimut diam
Terpulihkan walau belum sepenuhnya
Tenaga pikiranku dan juga ragaku
Yang tanpa kusadari terkuras habis
Oleh aliran diksi dan hingar bingar lingkungan

Ketenangan yang mendadak datang tadi malam
Membawaku pada sebuah pemahaman
Bahwa terkadang kita perlu mengasingkan diri
Untuk beristirahat dan menyayangi diri sendiri

MuTaufik

Bekasi 180818

#Kode_111
#Guratan_Kalbu

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: