Jum. Apr 10th, 2020

Guruku

Guruku cantik
Ayu
Lembut.

Matanya besar
Tajam memandang
Suaranya lantang.

Hanya satu yang kurang
Tiap mengajar selalu tegang
Di tangannya memegang kayu panjang
Kayu penunjuk tulisan di papan
Kayu penunjuk pembuatku dendam
Kayu yang pernah keras mendarat di punggungku pembuat lebam

Hanya akibat satu teguran
Pada kawan yang sumbang berdendang
Si Ngadiman
Kalau menyanyi jadi guyonan
Selain sumbang bila takut dan kaget mendadak ayan
Epilepsi kata orang sekarang.

Kupandang danau nan tenang
Memantulkan cakrawala
Lelampu
Juga sang Bulan.

Mengapa wajah Bu Guruku datang
Wajah-wajah kejam tiap beri pelajaran
Apa yang kudapat?

Sepotong dendam
Apa yang disampaikan
Bisa kubaca di koran, majalah, buku, aneka bacaan
Apa terlalu cepat dapat pengetahuan
Hingga murid jadi luapan dendam?
Bilur punggungku sudah hilang.

Namun dendam itu begitu dalam
Sampai putih rambutku
Tiada pernah lenyap dari ingatan
Apa guru sekarang juga masih kejam?
Saat menyampaikan materi pelajaran
Belajar karena kalah duluan
Jadi sampaikan dengan canda dan kelembutan
Kedalaman ilmu tidak selaras dengan kekejaman.

Pada Guruku yang cantik ayu
Aku masih dendam
Mengancam pada jiwa terdalam
Untuk membunuh aneka kebengisan
Juga berbagai buruk keinginan badan
Ingin menyampaikan apa pun
Dengan senyuman
Satu hal kurindukan
Penuh kelembutan
Agar sepanjang masa dikenang nyaman
Mengapa kini hadir kenangan
Bukankah peristiwanya empat puluh tahun silam?

Salam Renungan Zaman
Buanergis Muryono
22 Juli 2016 02:09
Memory Kelas IV SD

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: