Jum. Agu 6th, 2021

Hampa

HAMPA

Di depan stasiun kuhirup aroma kenangan, wanginya melebihi ribuan melati yang memagari rumah ibuku. Berjalan ke arah selatan di sepanjang Jalan Dr. Sutomo hatiku berjatuhan. Kita pernah lebur dalam keinginan yang sama, dengan sepincuk nasi pecel dan segelas wedang tomat. Kuseduh rindu dengan sedikit airmata, untuk menawarkan kepiluan, aku tersenyum getir. Aroma parfummu memang hanya kelas murahan, tapi entah mengapa harumnya begitu lekat di ingatan. Seperti lekatnya tubuhmu saat berpapasan dengan sekumpulan badai, berguncang menahan segenap rasa yang sering kita lupa begitu berkali-kali.

Berhenti di ujung timur Jalan Kartini, duduk di bangku taman yang mungil. Aku mendengar kau menyapa dengan suara yang lembut. Kau tenteng gitar tua, lalu duduk di sampingku.

“Apa kabar, Nda?” sapamu lembut.
Aku hanya menengok sekilas, pura-pura tak mengenalmu. Sebab sesungguhnya ada ribuan kekesalan yang sudah kutulis dalam catatan harianku, tentang perlakuanmu. Tapi nyatanya tak bisa kusampaikan padamu. Sekedar menjawab sapamu pun aku tak sanggup. Padahal jika kau tahu, betapa aku sangat merinduimu.
“Tak bisa kuingkari hanya engkaulah satu satunya, yang bisa membuat jiwaku yang pernah mati jadi berarti.” Syair lagu Ari Lasso yang kau nyanyikan di sampingku, begitu menusuk di hati. Suaramu masih seperti dulu, begitu bagus. Suara yang membuatku mabuk dalam khayalan.
“Kau menangis Nda?” tanyamu tiba-tiba.
Lagi-lagi aku tak bisa menjawab, aku hanya menggeleng menyembunyikan perasaan. Seberapa pun besar rasa cintaku aku harus tetap bertahan untuk tetap menyimpan rasa ini.
Kau menghela nafas berat, lalu kau nyanyikan satu lagu kebangsaan kita. Lagu yang dulu sering kita nyanyikan saat purnama.
Dadaku serasa hampir meledak, lagu itu tiba-tiba begitu menakutkan. Pecahlah tangis yang sejak tadi kutahan, ternyata aku masih mencintai laki-laki ini.
“Jangan menangis, Nda!” hiburmu sambil memeluk bahuku erat.
“Inilah takdir kita, maka jangan diratapi. Mungkin ini cara terindah yang Tuhan berikan untuk menegur kita yang selalu mabuk dan lupa akan hakikat cinta,” lanjutmu dengan suara sempurna.
“Aku tak bisa melupakanmu, Mas,” kataku diantara isak tangis yang belum juga reda.
“Sama, Nda. Aku tak pernah bisa melupakanmu. Cinta kita terlalu indah, memberi ruh bagi hidup yang hampir mati. Tapi aku yakin, kau perempuan hebatku pasti bisa melewati semua ini. Kau kuat, Nda!” bisikmu lembut.

Aku makin tenggelam pada palung cinta yang tersembunyi di dasar hatimu. Sekian lama aku bertahan untuk tetap tegar dan kuat, tapi berada di sampingmu aku hanyalah remah yang lumat dalam sekali hempasan.
“Aku lelah mas!” Suaraku makin parau didera sejuta luka.
“Sini tidurlah di bahuku,” jawabmu sambil memelukku erat. Ada airmata yang menetes di pipimu, aku melihat dari pantulan cahaya lampu taman. Tiba-tiba aku tersenyum. “Yang nangis aku saja,” selorohku sambil menghapus airmata dipipinya.
“Sudah, tidurlah! Kau lelah, Nda!” perintahmu lembut.
Aku merasakan hangat dan nyaman di bahumu. Sekilas aku melirik gemintang di atas sana melambaikan tangan dengan senyum paling damai.
“Selamat tidur, Nda!” katanya
Aku hanya mengangguk dan mempererat pelukan.
“Aku tidur di bahumu, Mas,” bisikku.
“Tidurlah …”
….
“Ah, hujankah?”
Aku tergeragap kaget bukan kepalang.
“Sundal, pergi! tidur di taman kota, bikin rusak pemandangan!”
“Kata-kata petugas kebersihan itu menusuk hatiku, Mas. Aku sakit, tiap kali mereka selalu mengatakan begitu padaku. Tidakkah engkau dengar, Mas?” bisikku sambil meninggalkan taman dengan basah kuyub. Mereka telah menyiramku dengan air.
“Bunda tunggu …!”
“Kalian bajingan, bundaku bukan perempuan sundal!” teriak Yuf sambil melempari petugas kebersihan dengan batu.

Oleh Indah Patmawati
Madiun, 16.9.17
(Salah satu cerpen yang ada di kumcer Angin Selalu Bertiup)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: