Happy September

0
90
Happy September – Ceerpen 2 – Wans SabangSelesai aku menggunting pita sebagai peresmian tanda dibukanya gerai resto mie ayam jamur La Tahzan. Aku baru saja meresmikan gerai yang ke 20 di kota Makasar. Gemuruh tepuk tangan dan senyum gembira para tamu dan pengunjung membuatku merasa terharu. Selalu saja seremonial itu, menyisakan titik air mata di sudut mataku. Menisik. Dan menyulam nya kembali. Segala kenangan yg telah lapuk. Terima kasih, Tuhan. Aku yakin Engkau tidak tidur. Engkau mendengar dan akan mengabulkan setiap do’a dari hamba-hambamu yang ikhlas.*****

Perceraian. Akhirnya aku dihadapkan pada sebuah pilihan. Pilihan terakhir yang sangat pahit, sering orang menyebutnya seperti itu. Ada juga yang menyebut perceraian adalah kiamat atau akhir dari segalanya. Bagiku perceraian bukanlah sebuah pilihan keputus asa-an. Perceraian sejatinya adalah sebuah keputusan yang kita pilih atas dasar kesadaran dan tanggung jawab atas segala akibatnya. Bukankah jalan hidup yang telah dan akan kita lalui selalu ada hikmah dan pembelajaran yang sangat berharga dari Tuhan?

Kedua putriku, Aliya dan Rosnia adalah alasan yang membuatku harus tetap hidup. Bukan salah mereka jika perceraian itu akhirnya terjadi. Mereka tidak pernah minta untuk dilahirkan kedunia, sebagai ibu yang melahirkan, tanggung jawab dan kasih sayangku pada mereka tak boleh berubah baik disaat bersama maupun bercerai dengan Ayahnya anak-anak. Aku harus bangkit! Tak ada gunanya terus merenungi nasib. Ayo, Ayu bangkitlah!. La Tahzan!, jangan bersedih! Bukankah kesedihan hanya akan membuatmu dan anak-anak semakin terpuruk?

Mie ayam jamur La Tahzan, begitu nama yang terpampang pada warung sederhanaku. Jangan bersedih! Kata yang menginspirasiku untuk bangkit dari keterpurukan. Dengan keberanian yang masih tersisa dan hasil penjualan mas kawin yang selama ini setia melingkar di jari manisku. Aku mulai bangkit. Disela-sela kesibukan mengurus kedua putriku, aku berjualan mie ayam. Konsep yang ku tawarkan pada konsumen adalah mie ayam sehat dan vegetarian. Aku membeli mesin kecil alat pembuat mie. Mie nya aku buat sendiri, dari tepung dan campuran sari pati sayur-sayuran. Aku berusaha tampil beda dengan tukang mie ayam yang pernah ada.

*****

Disaat ku mulai bisa melupakan kenangan pada mantan suamiku, tiba-tiba saja wajahnya kini ada dihadapanku. Dia bercerita kalau dia telah keluar dari pekerjaannya, beralih profesi menjadi pengusaha tapi sayang usaha yang dirintisnya hancur karena ditipu oleh rekan bisnisnya.

“Maafkan aku, Yu. aku sudah bangkrut!. Aku sudah tidak mampu lagi untuk membiayai kamu dan anak-anak. Aku harap kamu mengerti.” Kata mantan suamiku. Beruntung dari hasil penjualan mie ayam, aku tidak terlalu bergantung lagi dari pemberian suamiku, “sabarlah, mas! namanya juga usaha, jatuh bangun itu adalah hal biasa. Yang terpenting kita jangan sampai kehilangan semangat!.”

“Itulah Yu, mengapa hari ini aku datang kemari. Aku berharap pengertianmu sekali lagi.”
Perempuan mana yang tidak mau mengerti kepada seorang lelaki yang pernah disayanginya. Aku diam mendengar penjelasannya.
“Kamu ikhlaskan?”
“Maksud, mas?”
“Aku ingin menjual rumah ini, Yu. Lalu hasil penjualannya kita bagi dua. Aku perlu modal untuk usaha lagi.”
”Bukankah Mas pernah bilang bahwa rumah ini adalah untukku dan anak-anak?.” Tanyaku kesal. “Lantas aku dan anak-anak mau tinggal dimana, Mas?”
“Jalanku sudah buntu, Yu! Aku tidak tahu harus bagaimana lagi?”
“Jangan pandang aku, Mas! Karena aku sekarang cuma orang lain bagimu. Tapi, lihatlah Aliya dan Rosnia mereka tetap anak-anakmu jugakan?”*****Cobaan demi cobaan selalu datang silih berganti. Aku menjalaninya dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan tidak pernah tidur. Dia memberiku kekuatan dan kesabaran dalam menghadapi cobaan hidup. Akhirnya rumah yang aku tempati tidak jadi dijual kepada orang lain. Dengan menjaminkan surat akte rumah ini ke bank akhirnya aku yang membelinya. Setelah mendapatkan pinjaman, aku memberikan uang yang setengahnya kepada suamiku. Dan selanjutnya cicilan pinjaman itu, aku yang bayar. Tahun demi tahun, usaha mie ayamku semakin maju. Cicilan pinjaman ke bank akhirnya bisa ku lunasi. Dengan dibantu oleh beberapa karyawan, selain mengurusi kedua putriku, aku pun bisa lebih fokus dalam mengembangkan La Tahzan. Aku tidak mau cepat berpuas diri. Banyak kekurangan yang harus ku perbaiki, terutama dalam hal me-manage usaha kuliner. Dari seminar ke seminar dan aktif dalam komunitasentrepreneurship, aku banyak mendapatkan ilmu. Brand image mie ayam jamur La Tahzan harus aku tingkatkan. La Tahzan harus naik kelas, bukan hanya warung mie ayam rumahan biasa.

Dengan menyewa sebuah kios di food court salah satu mall, La Tahzan kini mulai dikenal orang. Dengan konsep yang berbeda dan unik memiliki brand yang berkarakter kuat karena La Tahzan kini memiliki image sebagai pelopor mie ayam sehat. Banyak orang yang ingin bekerja sama menjadi mitra. Berbekal ilmu wira usaha dan keinginan untuk berbagi kesuksesan kepada orang lain, La Tahzan pun membuka kesempatan kepada orang lain untuk mempunyai bisnis kuliner dengan sistem franchise. Dengan membayar royalty fee, maka mitra usaha bisa menggunakan La Tahzan sebagai merk dagangnya.

******

“Oh, iya Des, habis peresmian ini, apa lagi schedule nya?.” Tanyaku pada Desy, sekretaris pribadiku.

“Acara Penganugerahan sebagai wanita wirausaha paling kreatif tahun ini dari sebuah majalah ekonomi.”
“Di Jakarta?.”
“Iya Bun, tiket pesawat dan keperluan lainnya sudah disiapkan.”
“Jam berapa kita berangkat?.”
“Masih ada waktu tiga jam lagi. Kembali ke hotel, makan siang disana. Kemudian bertemu dengan salah satu pimpinan partai karena beliau katanya sangat tertarik untuk merekrut Bunda menjadi calon legislatif dari partainya. Setelah itu baru ke Jakarta, waktunya diperkirakan cukup, Bund.”
“Bisa kamu cancel pertemuan itu, Des.”
“Mereka sudah beberapa kali minta di agendakan untuk bertemu Bunda.”
“Saya tidak tertarik dengan partai.”
“Tidak ingin menjadi pejabat, Bun?”
“Kenapa tidak kamu saja, Des yang ketemu dengan “beliau” mu itu?”
“Hahaha, Bunda bisa saja deh. Mana mungkin beliau tertarik dengan saya?”
“Jangan rendahkan potensi dirimu sendiri, Des. Kalau kamu tertarik, kamu harus raih itu!”
“Ma’af Bunda, saya lebih tertarik menjadi sekretarisnya Bunda. Mengurusi La Tahzan dan panti asuhan.”Begitulah kedekatanku dengan Desy, sekretarisku yang cekatan dan gesit. Kesuksesanku tidak terlepas dari kerja kerasnya juga. Keberadaannya sangat membantu pekerjaanku. Desy sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Dia membantuku disaat aku belum menjadi apa-apa. Hingga aku memutuskan untuk membangun panti asuhan untuk menampung anak-anak yang terlantar. La Tahzan, jangan bersedih. Masih ada 21 anak yang harus Bunda rawat dan beri nafkah di panti asuhan. Semoga kelak mereka semua menjadi anak-anak yang soleh. Begitu cara Desy membangkitkan semangat dikala aku merasa lelah karena ketatnya persaingan bisnis.
September yang harus aku syukuri. Bulan dimana aku resmi bercerai dengan suamiku. Di bulan ini pula, Tuhan mengabulkan do’a-do’aku. La Tahzan ku bisa berkembang pesat, dengan sistim franchise, La Tahzan telah tersebar ke beberapa kota besar di Indonesia. September ini saja para Franchisor atau pembeli wara laba sedang menjajaki untuk membuka gerai mie ayam jamur La Tahzan di Malaysia, Singapura dan Arab Saudi. Puji Tuhan, Happy September!*****

Tinggalkan Balasan