Sab. Mei 8th, 2021

Isabella Adalah

Sudah tiga hari ini, Isabel bersikap tidak seperti biasanya. Tidurnya lebih lama. Dan makanan yang disediakan, selalu saja bersisa. Ia lebih banyak diam, duduk saja disampingku. Aku sering bawel selalu ingatkan ia, kalau bermain berlebihan.
“Isabel, jangan!”sambil telunjuk ku acungkan padanya.
Sering aku tak tega sendiri sehabis menegurnya.
“Kesini sayang! Ayo kesini!”
Mata coklatnya yang mengiba padaku seketika membuatku ingin memeluknya, mengelus-elus dan menciuminya sepuasku. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama, ketika mata coklatnya yang lembut membuat hatiku  teduh. Matanya yang mengiba, memohon agar ia bisa selalu bersamaku.
“Tinggal sekamar denganku? Wah papa mama bisa marah!”
Jangankan tinggal sekamar, tinggal di rumahku saja papa mama tidak setuju. Sekali tidak  suka, papa dan mama tetap tidak suka selamanya.
“Mama alergi! Tolong jauhkan ia dari mama.”
Apa yang dikhawatirkan papa juga terbukti. Aku lebih banyak menghabiskan waktuku dengan Isabel di kamar dari pada dengan mereka. Tugas-tugas kuliahku sering terlantar. Tapi aku tak bisa berpisah dengan Isabel. Dengan cara sembunyi-sembunyi Isabel pun tinggal sekamar denganku. Lumayan ada yang menemaniku di saat jomblo.Pulang kuliah langsung aku lari ke kamarku. Baru berpisah sebentar saja, rasanya kangen sekali ingin memeluknya, mengelus-elusnya dan menciuminya. Isabel sekarang sudah tidak sungkan lagi, ia pun langsung membalas menciumiku, mengelus-elus betisku hingga aku kegelian.Oh ya, kebiasaan barunya sekarang Isabel sering menyelinap masuk kedalam selimutku. Ia begitu manja, tak ingin tidur terpisah denganku. Dan aku harus mengelus-elusnya sampai ia tertidur. Setelah itu, aku pun memeluknya dengan hati-hati agar ia tidak terbangun. Setelah itu, kami berduapun tertidur pulas sampai alarm membangunkanku.
“Isabel … Isabel?” biasanya ia langsung menyambutku begitu aku panggil.
Isabel hanya diam saja duduk di sofa, wajahnya murung. Mata coklatnya tak berani. Aku pun duduk disampingnya.
“Kenapa, sayang?”
Aku periksa keningnya, ku belai dengan lembut.
“Hah!, kamu demam ya? Badanmu panas sekali.”
Bergegas dengan scooterku, aku membawa ia ke dokter.
“Infeksi telinga, nanti selesai dibersihkan telinganya dan diberi obat, sudah bisa dibawa pulang, kok.”
“Tidak berbahaya, Dok?” tanyaku cemas.
“Untung cepat dibawa kemari, kalau di diamkan radangnya bisa kronis, lama kelamaan bisa berkembang menjadi tumor atau
kanker yang akan menutup saluran telinganya.
“Wah, gawat juga ya, dok?”
Dokter itu pun menenangkan aku.
“Gak usah panik, kan sudah ditangani.”
Sambil Dokter mengelus-elus kepala Isabel.
“Hmmm, kucing siam yang lucu, siapa namanya?”
“Isabel, dok!” jelasku. “Isabella, kepanjangannya.”
Dokterpun mengelus-elus kepala dan tubuh Isabel lebih sayang lagi.
“Cepat sembuh ya.”
“Makasih, Dok.” ucapku tulus karena dokter hewan itu pun menyayangi Isabel dengan tulus

******

Karya: Wans Sabang

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: