Jangan Panggil Aku Banci

0
139
“Banci! … Banci! … Banci!”
Laki-laki muda itu senang sekali mengejekku banci. Pagi, siang dan bahkan malam, setiap berpapasan muka sambil tertawa mengejekku dihadapan teman-temannya.

Awalnya aku biasa saja tapi lama-lama kupingku panas. Kemudian hatiku jadi ikut panas serasa dibakar bara api. Aku benci sekali! rasanya aku ingin membunuhnya saja! Dengan belati yang tumpul dan berkarat, perlahan namun pas di jantungnya.
Aku ingin laki-laki muda itu mati dengan rasa sakit yang sangat menyiksa. Sedetik demi sedetik, agar dia bisa merasakan lebih lama kejamnya siksaanku. Sebagaimana panggilan “banci” nya yang tak pernah berhenti dan tajamnya menikam ulu hatiku.
Puas sekali rasanya kalau aku benar-benar telah membunuhnya! Tak perduli jika aku harus di hukum mati karena telah menghilangkan nyawa seseorang. Begitu juga dosa, aku tak takut! Karena aku punya alasan tersendiri dihadapan Tuhan nanti.
*****
Hah? Gak mungkin? Ini pasti cuma mimpi… Aku mencubit keras pipiku, auh! Ini bukan mimpi, rasa sakit di pipi tadi menyadarkanku. Bagaimana mungkin “kelamin” ku bisa berubah? Apakah Tuhan telah mengabulkan do’a ku? Aku meraba dada, ada yang menyembul. Walaupun tidak besar tapi … hmm, sebuah tonjolan yang menantang juga. Sesungging senyum di bibirku, “akhirnya … Oh Tuhan terima kasih.”
*****
Huh, laki-laki yang sering mengejekku itu! Mulutnya terkunci, matanya jalang menatapku dari ujung rambut sampai ujung high heels-ku. Berhenti agak lama di bagian dadaku, matanya tak berkedip sedikitpun, lidahnya menjulur kemudian menjilat-jilati bibirnya. Oh, Tuhan efeknya bisa sampai sedahsyat itu? Bibirku mendesah menggodanya, aaah! Mata melototnya kini berpindah ke pinggulku yang dibalut rok kulit ketat dan sangat pendek.
“Mau kemana, sayang? Abang antar yuk!”
“Ma kasih, Bang … Saya bisa jalan sendiri kok!” Pinggul bergoyangku meninggalkan matanya yang masih terpaku. Berjalan ala cat walk dihamparan karpet merah.
“Yang … Yang jangan lewat situ! Kuburan!” Teriaknya mencegatku.
“Memangnya kenapa kalau kuburan, Bang?”
“Gak takut sama setan?”
“Saya lebih takut sama orang “hidup”, Bang.” Jawabku kalem.
“Sepi, sayang … nanti sayangnya Abang bisa diperkosa.” Kata laki-laki itu care.
Hah! Sejak kapan dia care padaku? Sejak matanya tak pernah lepas dari dada dan pinggulku?
“Masa sih Bang di kuburan masih di perkosa juga? Apa orang yang perkosanya gak takut mati seperti orang yang ada di dalam kuburan itu?”
“Wah mana saya tahu, Yang … Abang kan belum pernah mati.”
“He he he, iya juga sih. Ma kasih ya Bang udah di ingetin.” Aku pun berlalu meninggalkan laki-laki itu.
“Eh, sayang … jadi kan dianter Abang?” Tanyanya memelas.
Aku cuma menjawabnya dengan senyum yang ku buat semanis mungkin.
Aku dan laki-laki itu berjalan berdampingan melewati jalan setapak memasuki kawasan pemakaman umum. Menerobos semak dan alang-alang setinggi pinggang. Awalnya laki-laki itu menggenggam jemariku, meremas-remasnya. Lalu … laki-laki itu mulai berani menyentuh pinggulku, berusaha keras untuk bisa meraih pinggulku dan mungkin ingin memeluknya.
Tangan laki-laki itu kreatif, dari jari merayap ke lengan. Dari lengan pindah ke pinggang lalu menempel ketat di pinggulku. Aih, mau hinggap dimana lagi tangan kreatif itu?
Di bawah rerimbunan bambu yang lebat dan gelap, “aaahh, Abang … “ Aku mendesah. “Jangan, Bang!”
“Abang udah gak tahan, Sayang.” Akhirnya tangan kreatif itu hinggap di dadaku. Aku memegang kuat tangannya sambil berbisik ditelinganya.
“Saya belum pernah, Bang.”
“Sayang masih perawan?” Sumringah sekali senyum laki-laki itu. Tangannya bersemangat meremas-remas dadaku.
Kalau saja aku punya indera ke enam, mungkin aku bisa melihat sepasang “tanduk” setan di kepalanya.
“Bukan itu maksudnya, Bang… Saya belum pernah membunuh!” Bisikku lirih tapi laki-laki itu terus saja mendesakku.
“Abang, jangan!”
“Ayo, terus Sayang … “
Aku hujamkan belati yang telah ku siapkan tepat ke bagian jantungnya. Matanya melotot lalu berubah mendelik ke arahku. Erangannya nyaris tidak terdengar.
“Teruskan, Bang?” Belati itu terus ku hujamkan sampai kedalam jantungnya. “Abang kan yang minta?”
Hembusan napas terakhirnya yang bau menyapu make up ku. Aku dorong laki-laki yang sudah tak bernyawa itu seperti aku membuang seonggok sampah.
Belati kusimpan kembali ke dalam tas Gucci abal-abalku. Lalu aku buang karet silikon yang telah menyumpal dada dan pinggulku.
Ku hapus riasan make up dan lipstick merah marun di bibirku. Kaos tang top dan rok kulit, kumasukkan ke dalam tas. Aku berganti baju mengenakan kemeja kotak-kotak dan celana jeans lagi.
Berjalan seringan awan. Memasuki sebuah perkampungan.
“Banci! … Banci! … Banci!”
“Hei, jangan panggil aku banci!” Teriakku pada seorang laki-laki tua yang mengejekku.
“He he he … dasar banci ya banci saja! Kenapa marah?” Laki-laki itu menyeringai semakin mengejekku.
“Awas kau bandot tua!”
“Banci! Banci! Banci!” Laki-laki tua itu terus mengejekku.
Aku pun tak menggubris bandot tua itu. Hmm, sebagai banci harus banyak-banyak sabar. Ada saatnya untuk membunuh! Lihat saja nanti!
*****
Oleh: Kutu Kata

Tinggalkan Balasan