Rab. Des 11th, 2019

Kereta Api ke Surabaya oleh Tinta Angkara

Kereta Api ke Surabaya
oleh Tinta Angkara

Kereta api itu berangkat jam enam tepat di pagi hari yang cerah. Asap dari kereta bercengkrama mesra bersama kabut tebal yang mulai melayang seiring hangat terbitnya mentari. Terlihat sepasang kekasih lintas negara Indonesia-Belanda terus bercumbu tanpa menghiraukan orang-orang sekitar. Tidak ada yang berani mengingatkan, bukan karena pemuda Belanda itu anak Jenderal atau karena perilaku mereka tidak sesuai dengan kebudayaan Nusantara. Tapi karena air mata yang deras mereka teteskan, sungguh cumbu paling haru yang pernah kutemui.

Aku mengenal perempuan itu, dia anak tuan tanah di desaku. Namanya Citra, dia salah satu perempuan paling beruntung di desaku karena bisa bersekolah. Mungkin itu sebabnya dia agak dibenci warga desa, karena kini dia sudah seperti orang Belanda saja. Tingkah lakunya, cara berpakaiannya, ditambah lagi dia bertunangan dengan anak Jendral Belanda itu sekarang. Kereta sudah bersiap-siap berangkat, Citra masih saja mencumbu dari luar jendela sambil sesekali memohon kepada Pieter—anak jendral itu—untuk tetap tinggal.

Drama ini sedikit membuatku muak, kulanjutkan saja mencari tempat dudukku. Kutinggalkan gerbong tempat mereka bercinta menuju gerbong di belakang. Rupanya penduduk pribumi hanya boleh menempati dua gerbong paling belakang. Pantas saja orang-orang Belanda di depan selalu melihatku dengan mata sinis, meski tak sesinis pandanganku pada pasangan Pieter–Citra. Namun bukan berarti aku membenci mereka, aku bahkan ikut terharu dengan kisah mereka. Hanya saja aku memang benci jika aku terharu.

Gebong belakang sungguh penuh sesak, bukan hanya karena banyak orang, namun hewan ternak pun menjadi penumpang yang menderita di sini. Untunglah aku mendapat tempat di sebelah jendela. Aku bisa menghirup udara segar sekaligus memperhatikan pasangan drama tadi meski terpaut beberapa gerbong jauh di depan sana. Namun sesuatu yang lain sedikit menggangguku. Kukira kereta sudah mau berangkat karena mesin uap sudah menyala dari tadi. Tapi terlihat seorang paruh baya dengan seragam masinis sedang berlarian dengan beberapa petugas stasiun.

“Sungguh romantis ya mereka?” tanya wanita di sebelahku tiba-tiba.

“Maaf ….” Aku memastikan jika memang aku yang dia ajak bicara.

“Itu, mereka berdua. Saat perpisahan begitu nyata, setiap cumbu akan begitu sangat bermakna.”

“Oh, biar saja. Bukan urusan kita.” Tentu saja aku tak mau ketahuan memperhatikan drama percintaan itu dari awal naik kereta ini.

“Kamu ini, kamu pasti belum punya kekasih ya? Momen seperti itu memang menyakitkan bagi seorang yang kesepian.”

“Hey ….” Aku agak tersinggung karena itu benar.

“Haha, maaf hanya bercanda.”

Gara-gara wanita itu aku jadi kehilangan perhatianku pada masinis yang berlarian tadi. Namun tak lama berselang kereta pun berjalan. Suara mesin uap yang khas, getaran pada roda besi, dan tak mengetahui apapun yang menungguku di ujung rel sana, sungguh membuatku merasa bebas. Andai saja wanita di sebelahku tak seberisik ini. Dia terus saja membahas pasangan mesum tadi.

“… Gimana ya rasanya dapat suami bule?”

“Coba saja Mbak, mana saya tahu.”

“Kamu ini, aku hanya penasaran saja. Aku sangat tidak nyaman dengan pemerintahan Hindia—Belanda ini.”

“Benarkah? Lalu kenapa dari tadi seperti memuji-muji orang Belanda?”

“Aku benci penjajahan mereka, tapi tidak dengan orang-orangnya.”

“Mbak ini memang aneh.”

“Tidak semua bule yang kemari untuk menjajah, lho. Lihat Pieter, dia selalu menentang ayahnya yang selalu ingin menguasai segalanya.”

“Kamu kenal dia?”

“Aku kerja di rumahnya, dibayar dengan profesional ya, bukan diperbudak.”

“Lalu kenapa duduk di sini?” Meski pribumi, jika bekerja atau dekat dengan orang Belanda seharusnya bisa duduk di gerbong depan.

“Aku sebenarnya tak seharusnya ada di kereta ini. Aku ditugaskan hanya untuk mengawasi Pieter oleh ibunya sendiri. Tanpa ketahuan Pieter tentunya.”

“Oh, jadi Mbak di sini untuk memata-matainya.”

Kereta akhirnya berangkat juga. Teman baruku ini ternyata enak juga diajak ngobrol. Tadinya kukira dia hanya emak-emak yang suka ngurusin masalah orang lain. Ternyata memang tugasnya mengawasi Pieter.

Terlihat Citra berlari tak ingin melepaskan tangan Pieter. Hingga akhirnya tangan mereka pun harus terlepas karena laju kereta semakin cepat. Citra semakin menjauh sambil terus menatap kepergian Pieter. Sementara Pieter sendiri seakan ingin melompat dari kereta. Sepertinya dia baru sadar keputusannya meninggalkan Citra tidak sepenuhnya benar. Selang beberapa lama Pieter pun menutup jendela lalu menghilang dari pandangan kami berdua.

“Jika perpisahan sesakit itu, mengapa juga Pieter meninggalkan Citra?” tanyaku pada teman baruku.

“Ow, kau penasaran juga ternyata ya.”

“Bukan begitu, …”

“Karena Pieter ingin membantu kita.”

“Kita?”

“Dia mengkhianati ayahnya, Pieter naik kereta ini untuk bergabung dengan saudara-saudara kita yang berjuang melawan penjajah di Surabaya.”

“Benarkah? Tapi bagaimana seorang—”

“Sudah kubilang, tak semua bule itu penjajah.” Nada bicaranya menjadi serius sekarang.

“Mungkin kamu benar Mbak.”

“Ini karena kekuatan cinta, Citralah yang membuat Pieter begitu pemberani. Sebentar, kau sudah tahu nama pacar Pieter itu Citra, perasaan aku baru sekarang mengatakannya.”

“Oh, aku satu desa dengan Citra. Mungkin aku dan seluruh warga desa telah salah tentangnya selama ini.”

“Kau kira Citra itu pegkhianat ya?”

“Seperti itulah.”

“Dia memang harus begitu agar bisa mendekati keluarga Jendral.”

“Maksudmu Citra itu ….”

“Ya, dia mata-mata pejuang. Namun bukan hanya mencuri informasi, dia berhasil mencuri hati Pieter hingga dia sekarang ada di pihak kita.”

“Ya untungnya bukan Pieter yang mencuri hati Citra. Kalau iya, bisa terjadi sebaliknya.”

“Citra memang tertarik dengan Pieter sejak awal, tapi bukan wanita pejuang jika selemah yang kau katakan tadi.”

“Lalu kenapa kau katakan ini semua padaku? Bagaimana jika aku seorang pengkhianat?”

“Aku tahu kamu siapa, Mahesa.” Wanita itu beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ke gerbong depan.

“Ba … bagaimana kau tahu namaku?” Wanita itu tak menghiraukanku.

Bagai binatang buas, seorang bedebah entah dari mana melompat dari arah gerbong paling belakang. Dia melihat ke sekitar dengan matanya yang tajam. Seketika pandangannya tertuju hanya ke satu arah, yaitu ke wanita misterius itu. Sekuat tenaga bedebah itu melewati kerumunan, sementara sang wanita bergegas berlari ke gerbong depan.

Tak peduli menyakiti orang-orang di sekitarnya, bedebah itu akhirnya bisa berlari keluar dari sela-sela kerumunan penumpang dekil di dua gerbong belakang. Tak mau kalah, aku pun ikut berlari mengikutinya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Sayangnya aku hanyalah seekor keledai jika dibandingkan binatang buas itu. Lamat-lamat terdengar jeritan penumpang di gerbong depan. Aku terus bersusah payah berlari melewati gerbong demi gerbong. Jeritan semakin terdengar jelas, aku sudah begitu dekat, namun tiba-tiba kereta masuk ke lorong gelap di antara riuh wanita-wanita Belanda yang ketakutan.

Beberapa menit kereta dalam kegelapan. Perlahan mereka pun terdiam, namun kembali pecah seketika saat cahaya mentari kembali masuk melalui jendela-jendela tepat saat kereta keluar dari terowongan.

Bedebah itu tersungkur penuh darah di antara pintu penghubung gerbong empat dan lima. Buasnya tak lagi terlihat sekarang. Ia bagaikan bangkai raja hutan yang mati karena terlalu lelah untuk memangsa. Keributan semakin menjadi, sang wanita misterius hanya berdiri terpaku menatap mayat bedebah itu. Ia bahkan tidak peduli separuh gerbong menuduhnya pembunuh.

“Tunggu dulu! Kenapa kalian menuduhnya?” Sialnya aku tidak bisa berbahasa Belanda meski mengerti sebagian besar apa yang mereka katakan.

“Dia terbunuh saat mencoba mengejar wanita ini. Sudah pasti dia yang membunuhnya,” kata seorang noni yang bahasa Indonesianya lumayan bagus.

“Lalu bagaimana kamu bisa menjelaskan luka tusuk di punggung bedebah ini?” Karena emosi aku tak sadar menyebut mayat itu bedebah.

Entah mengapa dari awal aku melihat orang ini memang seperti bermuka bedebah. Namun sepertinya tidak ada yang menyangkal pernyataanku. Noni itu pun berfikir sejenak, dia tahu bahwa tidak mungkin orang yang dikejar bisa menusukkan belati atau senjata apapun ke punggung orang yang mengejarnya.

“Kau benar, tapi jika begitu siapa yang membunuhnya?” tanya noni itu.

“Dan, di mana pula alat pembunuhannya?” Aku menambahkan pertanyaan.

“Wati? Kenapa kau di sini?” Tiba-tiba Pieter datang dan menyadari pembantunya yang tak seharusnya tidak ada di kereta ini.

Ternyata wanita misterius itu bernama Wati, sedikit agak terhapus kemisteriusannya, meski aku masih penasaran bagaimana dia bisa mengenalku. Dia tak sedikitpun menjawab pertanyaan Pieter, sepertinya dia shock melihat seseorang terbunuh di depannya.

Tak lama kemudian petugas keamanan datang untuk mengendalikan keadaan. Mereka juga mengintrogasi kami semua yang dekat dengan kejadian itu. Wati hanya menjawab sepatah dua patah saja pertanyaan dari petugas. Terlihat sekali banyak hal yang ditutupi oleh wanita ini.

Setelah mencoba mencari alat pembunuhan yang tetap saja tidak mereka temukan. Petugas memutuskan untuk menutup akses gerbong-gerbong lain dengan dua gerbong tempat pembunuhan terjadi, yaitu gerbong empat dan lima. Tentu saja semua penumpang dua gerbong itu protes karena harus dikunci bersama dengan mayat bedebah itu. Tapi petugas tetap bersikukuh. Pieter yang tidak berada dekat kejadian terpaksa harus kembali ke tempatnya.

Aku dan Wati duduk di salah satu bangku kosong di bagian belakang gerbong lima. Terlihat dua petugas mondar mandir memastikan tidak ada yang berbuat aneh-aneh. Suasana menjadi kikuk karena wanita yang sangat berisik ini tiba-tiba menjadi sangat pendiam.

“Mau minum?” Aku menawarkan bekal minumanku kepadanya.

Wati hanya terdiam. Kali ini matanya berkaca-kaca.

“Kamu benar, dia memang bedebah keras kepala. Dia … dia pejuang yang sangat keras kepala. Satu-satunya bedebah yang bisa membuatku mencinta.”

“Ee … apa maksudmu?” tanyaku.

“Tidak ada yang tahu kenyataan ini, bahkan keluarga Pieter pun tak mengetahui. Sebenarnya, bedebah itu suamiku, dia memang preman, perampok, bahkan penjahat yang kejam. Tapi beberapa tahun ini dia bergabung bersama para pejuang.”

“Tunggu dulu? Mengapa suamimu sendiri ingin membunuhmu?”

“Dia mengejarku bukan untuk membunuhku, tapi untuk menghentikanku.”

“Menghentikanmu untuk apa? Apa yang sebenarnya akan kau lakukan?”

Wati tidak menjawab pertanyaanku, dia malah meneteskan air mata lalu memelukku begitu erat seakan aku adalah tempat di mana ia bisa menampungkan seluruh tetes kepedihannya. Aku sendiri tidak tahu harus berperasaan bagaimana, janda yang baru beberapa menit ditinggal suaminya terbunuh memelukku seperti ini.

Setelah beberapa lama, Wati mulai bisa menata perasaannya. Dia sudah bisa menceritakan mulai dari awal bertemunya dengan suaminya yang memang dari dulu seorang bedebah namun begitu gigih untuk mendapatkan hatinya. Sejak mereka menikah, Bondan—bedebah itu—sudah berangsur-angsur bertobat dari dunia hitam. Karena tahu Wati sungguh mencintai kemerdekaan, Bondan pun ikut dalam pasukan perjuangan.

“… Aku di sini tak semata-mata untuk mengawasi Pieter karena perintah ibunya. Aku sebenarnya juga tetap akan di kereta ini meski ibu Pieter tidak memerintahkanku. Karena aku mau menghentikan sesuatu yang mengerikan terjadi.”

“Aku semakin tidak mengerti …”

“Semalaman aku bertengkar dengan suamiku, dia tetap tidak bisa mempercayai Pieter, dia tidak mau memberi kesempatan kepada Pieter. Dia tetap bersikukuh melancarkan rencana awalnya.”

“Rencana apa? Jangan membuatku semakin bingung.”

“Gerbong pertama kereta ini berisi para petinggi Belanda, bayangkan jika mereka semua mati sekaligus dalam satu waktu.”

“Perjuangan di Surabaya nanti akan lebih mudah.”

“Ya, itu pasti. Tapi apa yang terjadi jika cara membunuh mereka dengan bom?”

“Jika gerbong pertama meledak, dengan kecepatan seperti ini seluruh gerbong juga bisa ikut hancur. Jadi kau katakan padaku jika kereta ini akan hancur? Kenapa tidak kau ceritakan hal ini dari awal!?”

“Jangan keras-keras! Jika semua panik, kita tidak bisa menemukan bom itu tepat waktu.”

“Baiklah, sekarang ayo kita cari bersama-sama.”

“Tidak, sekarang ini menjadi tugasmu.”

“Apa? Kau bilang kau pejuang kemerdekaan, kan? Mengapa kau jadi sepengecut ini?”

“Apa gunanya merdeka? Apa artinya mengusir penjajah bila satu-satunya orang yang kita cintai telah tiada?”

“Apa kau pikir Bondan akan senang di sana melihatmu seperti ini?”

“Mungkin memang ini yang dia inginkan, dia mengejarku agar aku gagal menghentikan bom yang telah dia pasang.”

“Jika bedebah itu seperti apa yang engkau ceritakan, orang seperti itu seperti dia sebenarnya tidak peduli dengan kemerdekaan, yang dia pedulikan hanyalah kekasihnya, yaitu kamu. Dia mengejarmu agar kau tidak ikut hancur bersama kereta ini.”

“Tapi—”

“Kamu sudah berjuang sebelum kenal bedebah itu bukan? Sebaiknya ingat kembali alasanmu untuk berjuang di kali pertama dulu!”

“Aku …”

“Katakan … katakan alasanmu!”

“Untuk Indonesia.”

“Lalu apa dua gerbong di belakang itu tidak dipenuhi dengan masa depan Indonesia?”

“Mereka hanya sebagian korban, kematian satu gerbong penjajah di depan lebih penting.”

“Mungkin aku harus memanggilmu bedebah juga. Satu nyawa pribumi Indonesia takkan bisa sebanding dengan berapapun darah penjajah. Dan kau lihat orang-orang ini, sebagian mungkin penjajah, tapi tidak semua. Beberapa di antara mereka hanya kebetulan dibawa ke sini oleh ayah atau suami mereka. Sebagian hanya berniat bekerja dan tidak mengerti apapun tentang konsep penjajahan. Seperti yang kau bilang, tidak semua bule itu penjajah, pikirkan juga Pieter, dia penjajah juga, kah? Bagaimana nasib Citra yang menunggunya? Bagaimana jika ternyata dia adalah kunci dari kemerdekaan kita?”

“Cukup! Aku mengerti. Maafkan aku, aku hanya terlalu dalam berkabung. Apapun yang kau ucapkan tadi sebenarnya sama dengan yang aku ucapkan pada Bondan semalam.”

“Bagus, sekarang bagaimana kita keluar dari sini?”

“Ini!” Wati mengambil dua buah pistol Luger dari tasnya yang telah dia sembunyikan di balik kotak emergency.”

“Apa kau gila? Kita bisa mati melawan Belanda sebanyak ini.”

“Ini memang rencanaku dari awal, dan kau benar mereka hanya pekerja. Penjajah hanya ada di gerbong depan.”

Seketika saja Wati menembak satu petugas yang saat itu sedang berjalan ke arah kami. Satu petugas lagi dari gerbong empat menghampiri kami sambil mengambil pistol dari pinggangnya. Tak pikir panjang, kurebut salah satu Luger yang Wati pegang untuk menghabisi petugas itu juga. Dua petugas tumbang dengan timah panas di kepala mereka bersama jeritan-jeritan noni-noni Belanda dalam gerbong. Sementara bule-bule pria hanya mencari aman, mereka hanya terdiam tidak mau berurusan dengan kami.

“Petugas keamanan tidak dihitung pekerja bukan?” tanya Wati.

“Diam saja dan terus maju ke depan!”

Wati melihat dari pintu pembatas gerbong tiga memastikan petugas di sana belum mengetahui apa yang terjadi di sini. Tapi ternyata beberapa petugas di depan sudah bersiap-siap. Baku tembak tak terhindarkan. Wati pun tertembak di bagian bahunya, namun dia tetap kuat dan terus menyerang. Kami pun akhirnya menang di sini. Setelah menjebol pintu kami pun masuk ke gerbong tiga. Salah satu petugas masih hidup, Wati pun menembaknya tepat di kepala.

“Wati?” tanya Pieter dari salah satu bangku penumpang.

“Tuan Pieter, maaf aku tak bisa menjelaskan sekarang. Tapi sebaiknya Tuan ikut saya jika ingin menyelamatkan seluruh penumpang!”

“Tidak, aku harus mengerti dulu apa yang sebenarnya terjadi.” Pieter menolak.

“Menyelamatkan seluruh penumpang itu berarti nyawamu juga, Tuan Pieter,” ucapku sambil menodongkan Luger ke kepalanya.

Pieter terpaksa ikut dengan kami, sebenarnya aku juga tidak mengerti kenapa dia harus ikut. Mungkin salah satu rencana Wati seperti itu.

“Pakai ini!” Wati menyodorkan pistol yang ia ambil dari mayat salah satu petugas kepada Pieter.

“Serius?” tanyaku.

Aku jadi kikuk sendiri karena orang yang kutodong malah diberi pistol.

“Gerbong dua ini berisi pasukan bersenjata, kita harus ekstra hati-hati,” ucap Wati memperingatkan.

Baku tembak kembali terjadi setelah pintu gerbong dua kami jebol. Tapi tidak seperti yang kami kira, di sana hanya ada empat prajurit Belanda. Bahkan Pieter belum sempat menembakkan pistolnya, empat prajurit itu sudah dengan cepat aku dan Wati bunuh.

“Aneh, mengapa hanya mereka saja di sini?” tanya Wati bingung.

“Sebenarnya bagaimana rencanamu sebenarnya?” aku kembali bertanya pada Wati.

“Aku tidak berniat menjinakkan bom, karena aku memang tidak tahu apa-apa tentang bom. Aku hanya akan melepas sambungan gerbong kedua dan ketiga. Tapi tadi aku baru saja ingat kalau Tuan Pieter bisa menjinakkan bom. Jadi kubawa saja dia.”

“Mungkin sebaiknya kau bekerja sekarang,” ucapku sambil menatap rangkaian bom yang ada di salah satu bangku penumpang.

“Kenapa bomnya ada di sini? Seharusnya ada di gerbong pertama,” tegas Wati.

Wati bergegas ke belakang gerbong untuk melepas tuas penyambung gerbong dua untuk memastikan gerbong-gerbong di belakang aman.

“Tidak, ini hanya sebagian bom, lihat kabel yang mengarah ke gerbong pertama ini. Ada empat kabel, jika hanya menyambung pada trigger, cukup hanya dua. Yang dua lagi pasti menyambung ke bom yang lain.” Pieter menjelaskan.

“Tunggu, mengapa letak bom dan kabel-kabel ini tidak tersembunyi?” Aku bingung.

Aku pun mengintip melalui pintu gerbong pertama, terlihat mereka duduk dengan rapi dan tidak ada satupun yang bergerak. Sungguh aneh mereka begitu tenang setelah baku tembak yang terjadi. Aku pun membuka pintu yang ternyata tidak dikunci lalu berjalan perlahan ke gerbong pertama.

“Apa yang kau lakukan!?” tanya Wati seakan melarangku.

Langkah demi langkah membuatku semakin merinding, seakan masuk ke dalam pemakamanku sendiri. Ada belasan petinggi Belanda berpakaian lengkap dan rapi duduk tenang tanpa suara sedikitpun, karena mereka semua telah mati dengan lubang di kepala. Jelas bukan dalam baku tembak, mereka telah dieksekusi oleh entah siapa.

“Ini jebakan!” teriakku.

“Apa maksudmu?” tanya Pieter.

Pieter pun menghampiriku untuk melihat keadaan di dalam gerbong itu. Dia juga melihat rangkaian bom yang lebih besar lagi di antara mayat-mayat itu.

“Apa kau bisa menjinakkannya?”

“Sebanyak ini? Tentu saja tidak.” Jawaban Pieter sungguh tidak menenangkan.

“Kalian benar, ini memang jebakan,” ucap Wati sambil melepas tuas penyambung gerbong satu dan dua.

Di gerbong dua yang mulai menjauh ke belakang, Wati tersenyum melihat kami yang seperti orang dungu terus melaju bersama dengan bom waktu yang bisa meledak kapan saja.

“Bangsat, betina itu menipuku habis-habisan,” umpatku sambil berlari memeriksa bagian lokomotif.

Ternyata tidak ada masinis di dalam sana, kemudi dan rem juga sudah dirusak. Kereta berjalan semakin kencang, tak mungkin untuk melompat keluar.

“Apa dia menggunakan trik tangisannya kepadamu?”

“Ya, dia bilang orang yang terbunuh tadi adalah suaminya.”

“Bondan memang suaminya, tapi dulu. Dia seorang pejuang. Aku tahu Wati seorang pengkhianat juga dari Bondan.”

“Kau sudah tahu jika Wati pengkhianat?”

“Ya, aku dan Bondan sudah lama bekerjasama di pasukan perjuangan. Bedebah itu memang sungguh keras kepala, dia bersikeras untuk bisa secara baik-baik mencegah Wati untuk membunuhmu.”

“Membunuhku?” tanyaku sambil duduk di tepi belakang gerbong.

Aku sebenarnya sudah pasrah tentang semua kejadian ini. Sebenarnya pemandangan dari sini indah jika saja tidak ada bom bersamaku. Pieter pun ikut duduk di sebelahku sambil mengeluarkan rokoknya. Tanpa basa-basi aku pun mengambil satu batang darinya.

“Ya, dia ingin menfitnahmu. Bayangkan bila kau mati bersama orang-orang ini di sini. Belanda akan menyerang kerajaanmu habis-habisan. Satu pribumi mati dalam ledakan bom yang berisi para petinggi Belanda. Pasti kamu akan dituduh sebagai pelaku bom bunuh diri. Lalu kerajaanmu akan rata dengan tanah esok paginya.” Pieter menjelaskan sambil menyalakan rokok untukku.

“Mengapa kerajaanku?”

“Tak perlu berpura-pura lagi, kami tahu kamu Pangeran Mahesa meski berpakaian seperti ini.”

“Ya, memang sudah tidak perlu berpura-pura lagi. Toh rencana Wati telah berhasil.”

“Siapa bilang, lihat itu!”

Terlihat kepulan asap dari kejauhan. Sepertinya sebuah ledakan telah terjadi. Ternyata Pieter telah menyeting bom di gerbong ketiga agar meledak beberapa saat setelah kabel penghubung gerbong satu dan dua terputus.

“Lalu bom yang di sini?” tanyaku sambil terus menikmati rokok.

“Ini bom yang tidak aktif, rencananya akan kita gunakan perang di Surabaya nanti.”

“Aku masih tidak mengerti, bagaimana Wati bisa membunuh Bondan? Meski Wati juga telah mati juga sekarang, saat sampai di Surabaya, tetap saja kita yang akan dituduh membunuh orang-orang ini.”

“Wati memang licik, dia bahkan mengancam akan membunuh Citra jika aku tidak membantu membuat bom ini. Tapi untunglah dia tidak mengerti tentang bom sama sekali. Jadi kupastikan dia mati sebelum sempat menyentuh Citra. Melihat kelicikan Wati, aku yakin Wati membunuh Bondan saat di terowongan dengan berpura-pura memeluk Bondan. Pisau yang dia gunakan juga disembunyikan bersama dengan dia menyembunyikan pistol Lugernya. Untuk mayat-mayat ini, kamu tenang saja Pangeran, mayat ini tidak akan ada yang menemukan.”

“Anggap saja aku percaya kamu, tapi bagaimana kita turun dari kereta ini?”

“Tenang, teman-teman perjuangan kita sudah menunggu kita, mereka akan mengalihkan jalur rel ke tempat yang hanya berputar-putar saja. Selama kita tidak menambah batu bara, nantinya kereta ini juga akan berhenti.”

Akhirnya aku bisa tenang sambil terus menikmati rokok Belanda ini, meski sebenarnya tidak pantas disebut rokok Belanda, karena tembakau ini milik kami dan semua pekerja dari petani sampai pengemasan juga orang-orang pribumi. Tapi tak mengapa kusebut rokok ini rokok Belanda hari ini saja, untuk menghormati teman baruku yang bule ini.

Kami pun semakin akrab karena lama menunggu kereta api berhenti. Tak lama kemudian kereta pun berpindah jalur seperti yang Pieter bilang.

“Boleh aku tanya satu hal lagi?” tanyaku lagi.

“Silakan.”

“Kau juga memanggil Bondan dengan sebutan bedebah tadi?”

“Mukanya memang seperti bedebah.”

“Haha, iya, seperti pemikiranku juga begitu.”

“Semoga dia tenang di sana,” Doa kami serentak, untuk bedebah itu.

Tak lama kemudian terlihat sayup-sayup sekumpulan prajurit pribumi tanpa seragam menunggu kami di kejauhan. Namun tiba-tiba Pieter menembak lengannya sendiri.

“Apa yang kau lakukan!?”

“Maaf teman … sungguh.” Ucapannya memang terdengar bersungguh-sungguh meski aku tak mengerti apa maksudnya.

Seketika itu juga dia tanamkan timah panas tepat di keningku. Pertemanan yang sungguh membingungkan bagiku. Dengan mata dari mayatku kusaksikan bom waktu yang sebenarnya. Dialah Pieter, intelegensi Belanda yang bertugas meledakkan para pejuang dari dalam. Semua hanya menunggu waktu.

“Selamat datang Pieter, akhirnya kau sampai juga.” Salah satu pejuang menyapanya.

“Aku berhasil menangkap Mahesa, ternyata info dari Wati benar, dia naik kereta itu untuk menjebak Komandan Bondan. Namun sayang aku tak berhasil menyelamatkan Bondan dan Wati,” bual Pieter sambil memegang lengannya yang ia tembak sendiri.

“Ceritanya nanti saja, sekarang obati dulu lukamu!” perintah salah seorang pejuang yang berpangkat tinggi.

“Tapi aku berhasil membunuh Mahesa, mayatnya ada di belakang. Oh ya, dan pastikan kalian bakar habis mayat-mayat lainnya. Jika ketahuan Belanda, habislah kita,” jelas Pieter sambil berjalan menuju klinik.

Senja belum datang, namun aku sudah tenggelam pada kematian, di lautan kebohongan. Dengan darahku sendiri, kususupkan musuh ke ruang makan saudara-saudaraku sendiri. Hingga berpuluh-puluh tahun kemudian, aku tetap menjadi bagian dari sejarah kepalsuan. Yang aku tahu, aku bukanlah satu-satunya. Masih banyak kepalsuan-kepalsuan yang tak terungkapkan.

Aku hanya bisa terdiam, menyaksikan dari tanah kematian. Menyesal dalam kebodohan. Namun tetap mengharap kemerdekaan bagi negeriku yang begitu kucintai ini. Jika hari itu ‘kan datang, kuharapkan janganlah dijadikan permainan kekuasaan, atau penjajahan akan kembali datang, dengan wajah yang lebih rupawan. Wajah kepalsuan.

TAMAT

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: