Sen. Jul 6th, 2020

Korek Api yang Jatuh Cinta Pada Tuannya

Photo source : http://www.buscarfondos.com/

Korek Api yang Jatuh Cinta Pada Tuannya

Oleh : Ilkhas Suharji

Ku awali cerita ini dengan kata ‘CINTA’, kata cinta kepadamu wahai Sang Dewi yang menginginkan diriku menunjukkan cinta, cinta kepadamu wahai Sang Bidadari yang menginginkan diriku untuk bercerita tentang cinta, dan cinta yang kutujukan kepadamu wahai Sang Pemilik Cinta”.

Aku menjelmakan diriku menjadi korek api yang selalu engkau bawa di ransel yang bergambar dua mata, aku menjelmakan diriku saat itu juga, saat engkau berkata dengan sedikit menantang “Cobalah kau buatkan cerita tentang ini”, engkau menunjuk pada korek api yang kunyalakan untuk membakar sebatang rokok di saat kita akan berlatih vokal drama. “Baiklah”, jawabku menyanggupi, yang segera jiwaku merasuk pada sebatang korek api itu, aku menjelmakan diriku tanpa sepengetahuanmu.

Aku selalu ada di manapun engkau berada, aku senantiasa menemanimu di semua waktu yang engkau punya, dan aku sebenarnya menjagamu ketika engkau dalam gelapnya gulita.

Kebutuhan manusia akan cahaya sebenarnya sebanding dengan kebutuhan manusia akan cinta. Tanpa adanya cinta ia akan bermurung dalam kegelapan kesunyian dan kegalauan akan masa depan. Seperti sore itu, ya sore itu, saat kau sendirian di kamar di sebuah asrama tempat tinggalmu yang semerbak wewangian, seperti sewajarnya kamar seorang gadis memang selalu wangi sepanjang hari. Itulah kesukaan seorang lelaki, tapi janganlah terlalu berlebihan sebab dalam agama ‘seorang wanita yang memakai wewangian terlalu berlebihan akan djadikan sebagai sarana oleh setan untuk berbuat kemaksiatan, sebab dari wewangian itu, seorang lelaki akan timbul berahinya’. Tapi tak mengapa, jangan kau takutkan aku, walaupun aku ini lelaki, kini aku sedang menjelma menjadi sebatang korek api untukmu kutemani, jangan khawatirkan diriku, aku takkan pernah merusak kesucianmu.

Kau masih termenung entah memikirkan apa aku tak punya ketahuan, aku hanya mampu melihatmu, hanya mampu memandangmu. Mungkin kau capek setelah seharian penuh kuliah, lalu berlatih drama denganku juga. Kau rebahkan badanmu di atas kasur yang empuk dan bersih, aku yakin kau pasti kecapaian, kau bahkan tak melepas seragam putihmu untuk menggantinya dengan kaos atau baju santai yang lainnya. Lalu beberapa waktu kemudian kau telah lelap bersama mimpi menjelang senja sirna.

Aku mencoba memasuki alam mimpimu, tentunya aku harus kembali dalam wujud asliku. Dalam mimpimu, seperti halnya dejavu saja, mimpimu hanyalah mengulang kejadian tadi siang saat kita berlatih vokal untuk drama, di pinggir sungai Serayu bersama nyanyian riak air yang bagai teriakan serbuan ribuan prajurit cinta membanjiri hatimu. Masih dalam mimpimu itu aku berpuisi ria yang kupersembahkan untukmu, dengan seksama kau dengarkan sementara aku berdendang;

“Seiring dengan gemuruh suara riak serayu,

Kutuliskan syair cinta untukmu wahai kekasih,

Dari atas sini,

Di atas aliran sungai berhiaskan batu-batu,

Tak bosan kupandang paras indahmu meski kau tak menau.

Seperti air yang mengalir dengan derasnya,

Begitupun gejolak ini selalu meletup tiada habisnya,

Berlari menuju samudra lautan cinta,

Berombakkan kebahagiaan-kebahagiaan dalam syair dan do’a,

Kasih,

Aku mencintaimu dengan semua kekamuanmu.”

Kamu terhentak, bangun dari alam mayamu, dan aku juga kembali disampingmu, kembali menjelma menjadi korek api, di samping tas yang kau geletakkan disamping tepian ranjang sebelum engkau tidur tadi. Tapi suasana gelap, ini pasti mati lampu, gulita mencekam menimbulkan rasa takut dalam kalbumu, kau gelagapan kebingungan mencari cahaya, seperti halnya manusia mencari cinta. Aku menghadirkan diriku dalam tangan ketika kau meraba-raba apapun yang bisa membuat cahaya penerang, dalam genggaman tangan yang membelai halus tubuhku, lembut terasa sangat belaianmu dan dengan satu hentakan kau hidupkan cahaya lewat semburan api cinta yang memancar menyala-nyala, lewat cahaya api itu kau mencari ponselmu, aku tak bisa mencegahmu atau mengingatkan atau bahkan memintamu untuk kau adakan aku satu-satunya pegangan dan penerang dalam kegelapan.

Kau raih ponselmu bersamaan dengan itu kau padamkan api cahaya cintaku, aku yang kini padam hanya bisa melihat dan mengamati engkau menekan tombol-tombol keypad handphone-mu kalau tidak salah blackberry merknya untuk menghubungi seseorang, tak lama berselang kudengar suara seorang lelaki yang kau jawab dengan mesra, adakah dia kekasihmu? Ah tak peduli aku, karena sejatinya cinta yang sejati adalah cinta yang berorientasi pada yang dicintainya, cinta yang sejati sejatinya tidak membutuhkan lagi hasrat kepemilikan, karena cinta adalah memberi tanpa harus meminta.

Betapa perih, tapi aku harus rela, karena aku sadar dan aku masih mengingat kata-katamu tadi “Janganlah menjadi korek api, karena ia akan mudah terbakar percikan api kecemburuan”. Benar katamu, tapi tidaklah sepenuhnya, karena aku akan tetap menjadi korek api, bukan korek api yang mudah terbakar kecemburuan seperti yang kau perkirakan. Aku akan tetap menjadi korek api yang mana akan siap sedia memberikan cahaya cinta ketika kau dalam kegelapan, meski pada akhirnya ia akan tanggung rasa sakit ketika padam dan tak lagi dibutuhkan. Hingga nanti kau akan tahu tentang arti keberadaanku yang kini tanpa sepenuhnya kau sadari.

Pada akhirnya, aku harus kembali lagi ke dalam wujud semulaku, menjadi manusia yang menggunakan korek api untuk membakar sebatang rokok, yang kemudian menyedot-tiupkannya hingga asapnya mengepul-kepul, aku kembali menjadi diriku sendiri apa adanya tanpa harus menjadi korek api yang rela membakar tubuhnya demi memberikan cahaya untuk orang yang dicintainya.

“Kalau kamu saja tak bisa menjaga milikmu, bagaimana bisa kamu menjagaku?”. Ini sindiran darimu yang aku tahu dimaksudkan agar aku tidak lagi merokok. Lalu apakah aku harus kembali lagi menjadi korek api yang senantiasa siap sedia memberikan api cahaya cinta di setiap waktu ketika kau membutuhkanku?

Sepertinya aku memang harus mengabadikan diriku menjadi sosok korek api yang selalu engkau bawa di dalam ranselmu yang bergambar dua mata itu, menunjukkan padamu bahwa aku siap melakukan apapun untuk kebahagiaanmu. Aku akan menjadi korek api yang telah jatuh cinta kepada tuannya.

“Ku akhiri kisah ini masih dengan kata ‘CINTA’, cinta kepadamu wahai Sang Dewi yang kini tersenyum membaca ceritaku, cinta kepadamu wahai Sang Bidadari yang kini tahu aku sungguh mencintaimu, dan cinta yang selalu kutujukan kepadamu wahai Sang Pemilik Cinta”.

Wonosobo (saat mati lampu sore hari) Jum’at, 5 Desember 2014

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: