Sel. Des 1st, 2020

LELAKI TERINDAHKU oleh Chendanabiru

LELAKI TERINDAHKU

Karya: Chendanabiru


Pagi ini, tiada bicara antara kami. Barangkali suara kami hilang dalam pertengkaran semalam. Hingga cumbu tadi malam begitu sepi, tanpa desah dan lenguhan. Ternikmati begitu saja. Entah manis atau hambar. Sukar untuk aku gambarkan.

Kertas-kertas putih di meja seperti mempersendakanku. Sudah seminggu ini tiada pergomolan kata-kata. Selalunya ia biasa menjadi ranjang, untuk pena menumpahkan berahi asmara pada kalimat-kalimat puitis dan romantis.

Aku duduk di birai katil. Dua cawan kopi di meja kecil yang kami beli di salah sebuah kedai perabot kegemaran makin kehilangan asap. Aku tidak melihat dia. Hanya bunyi air dari kamar mandi memberitahuku kalau dia ada di sana.

Hujan sudah kering di tanah, namun angin lembap dan basah masih terasa. Aku menarik selimut, membungkus tubuh mungilku dengan erat. Mencuba untuk memejamkan mata.

“Mandilah, bangun.”

Suara Bakhtiar membuat aku tersentak. Tapi aku kembali bergulung dalam selimut. Mengabaikan katakata lakilaki berkulit sawo matang dan bertubuh atletis itu.

“Masih marah?” Bakhtiar berusaha menarik selimut.

Aku tahu dia berusaha membuatku bangun dan kembali bersemangat. Tapi seperti biasa sifat keperempuananku yang sedikit degil dan keras kepala cuba aku menangkan dalam hal ini.

“Rin, bangunlah. Ayuh, kita nikmati kopi.”

Aku lemas. Bakhtiar sudah menindih tubuhku. Lalu membuka selimut yang menutup wajahku.

“Jangan siksa aku begini, say …” lakilaki kesayanganku berbisik lirih.

Aku membuka mata. Menatap dua bola coklat di dalam mata milik Bakhtiar.

Aahh, aku jadi tidak tega. Dia, seperti kucing persia yang sedang butuh belaian.

Bakhtiar mengecup bibirku perlahan. Manis dan penuh rindu. Aku memejamkan mata, menikmati semuanya, lalu aku mendekap tubuhnya dengan erat.

********

“Kita akan terus berikhtiar, jangan bersedih,” Bakhtiar tak putus-putus memberiku semangat.

“Aku merasa tersinggung dengan sikap Papa dan Mama,” ujarku perlahan.

“Lupakan saja dulu, mari kita jalani semua ini dengan indah. Tuhan lebih tahu semuanya,” Bakhtiar memelukku.

“Iya, dugaan Tuhan terlalu berat untukku, sudah lima tahun kita nikah tapi aku belum bisa memberi anak.”

“Jangan begitulah. Optimis, mungkin belum waktunya.”

Sungguh aku senang sekali mendapat suami seperti Bakhtiar. Dia, selalu membuatku merasa tidak sendirian menghadapi apa saja masalah.

Tapi jujur, aku sangat tersiksa saat orang tua Bakhtiar menyuruh suamiku menikah lagi, garagara anak. Sudah berbagai cara, rawatan modern dan tradisional kami cuba. Namun belum mendapatkan hasil.

“Udahlah, kamu sudah beberapa hari ni belum menulis puisi,” Bakhtiar bersuara, sambil meletakkan segelas susu panas di hadapanku.

“Iya, sebentar lagi aku mau menulis, tentangmu,” ucapku sambil menarik hidung Bakhtiar.

“Tentang kitalah,” protes Bakhtiar.

“Kalau tentang kita, belum. Aku mau menulis tentang lakilaki kesayanganku.”

“Sebanyak mana sayangmu?”

“Seluruh puisi pun belum bisa menghitung banyaknya sayangku padamu,” bisikku seraya menggigit telinga Bahktiar.

Lakilaki kesayanganku ketawa. Dia mengejar dan mahu memelukku. Ahh pasti saja aku tidak menghindar. Aku lebih rela menyerah setiap saat dalam pelukannya.

*****

Aku tidak lagi dapat membendung airmataku. Aku sudah tidak malu untuk menangis terisak-isak di hadapan kedua orang tua Bakhtiar. Karena aku tidak bisa menunjukkan luka besar yang terjadi dalam hatiku pada mereka. Aku berharap mereka dapat membaca kesedihanku lewat airmata.

“Jangan suruh saya nikah lagi, saya cintakan Nurin, dia istri sah saya, Mama, Papa,” suara Bakhtiar bergetar.

“Mama bukannya suruh kamu buat kerja haram, Bakhtiar, sudah lima tahun. Cukuplah kamu memberi peluang kepada dia,” Datin Normah bersuara sambil menjeling ke arahku.

“Pa, tolonglah,” Bakhtiar melutut kepada Datuk Marzuki.

“Tapi keluarga kita perlukan zuriatmu,” ucap Datuk Marzuki sambil menatap Bakhtiar dalam-dalam.

“Kalaupun saya nikah lagi, belum tentu juga saya akan dapat zuriat,” balas Bakhtiar.

Aku hanya menyandar di sudut dinding sambil memejamkan mata. Sungguh aku tidak rela memberi suamiku kepada orang lain!

******

Bakhtiar mengusap mataku yang bengkak. Udara malam membuat kami saling berpelukan. Sengaja malam itu kami berdua jalan-jalan di pinggir laut. Walaupun semua sudah hitam, namun aku senang mendengar suara ombak.

“Apakah aku harus mengalah?” bergetar suaraku, sambil kumenatap wajah Bakhtiar.

“Jangan say, aku tidak bisa mencintai orang lain lagi selainmu,” ucap Bakhtiar sambil mencium dahiku.

Airmataku satusatu jatuh ke pipi. Aku tahu, kami samasama menderita dalam situasi ini.
Aku tidak ingin perempuan lain yang melahirkan anak kepada suamiku. Aku mahu menjadi satu satunya.

“Janji, jangan pernah katakan seperti itu lagi,”
Bakhtiar mengusap pipiku.

Aku hanya bisa menganggukkan kepala. Katakata seperti tersekat di dalam halkum, dadaku terasa mahu pecah!

“Kita jangan pernah berpisah,” ucap Bakhtiar, membuat airmataku jatuh dan jatuh lagi.

*******

Bunyi bell pintu mengejutkanku. Aku turun dari ranjang dan bergerak ke pintu utama. Terasa lelah sekali.

Aku membuka pintu, Mama dan Papa tersenyum sambil memelukku dan mengusap usap perutku yang berusia tujuh bulan.

“Banyakkan istirahat sayang, Mirna ke mana?” Datin Normah bersuara sambil mencari kelibat orang gajiku.

“Oh, dia baru ke pasar, Rin suruh dia belikan sesuatu, ada yang Rin teringin makan,” ujarku sambil tersenyum.

“Istirahat saja, biar Mirna yang lakukan semua kerja, kalau sunyi, pindahlah ke rumah kami. Jangan bersendiri di sini,” ucap Datin Normah sebak.

Iya, sejak Bakhtiar meninggal dunia. Aku tidak pernah mahu meninggalkan rumah ini. Semua kenangan dan memori sangat berarti dan terus hidup di sini. Bagiku, Bakhtiar sentiasa ada di sini, bersamaku dan selalu memelukku penuh rindu, menemani malam dan siangku, dalam potret-potret juga tulisan. Bakhtiar telah mati tapi dia tak pernah pergi.

22022019, Kuala Lumpur

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: