Sab. Okt 1st, 2022

Lika Liku Luka Jalu

Pagi yang indah. Jalu berdiri di jendela yang dua daunnya dia biarkan terbuka, menatap keluar memandang riap gerimis sambil merenungi takdir yang menjadi satu ketetapan yang telah terukir jauh saat sebelum Jalu dilahirkan, narasi hidup sekarang ini, yang sedang jalu kenang, saat-saat indah bersama Ipah bercumbu rayu sambil merangkai masa depan, di sebuah taman di perkampungan tempat Jalu mengontrak di jakarta.

Tapi gagasan, maksud serta hari esok yang Jalu harapkan hanya suatu hasrat yang dapat dia upayakan supaya menjadi kenyataan, namun Jalu tak kuasa menolak kenyataan. Jalu sering kali mendengar pepatah menyampaikan, tiap-tiap pertemuan pasti bakal ada perpisahan, tetapi yang dia rasakan saat ini adalah indahnya pertama kali berjumpa sepadan dengan perihnya saat berpisah, karena yang terjadi adalah sebuah perpisahan yang dia alami ini di sebabkan lantaran tidak memperoleh restu dari orang tua Ipah.

Jalu menatap kosong keluar jendela sambil menghembuskan asap rokoknya sejauh mungkin agar hilang semua resah. Mendengus dia “Ungkapan rasa sedih benar-benar sangat susah untuk kutuang kedalam tulisan, saat maksud cintaku menuju tahap pernikahan yang teratur indah selesai seperti butiran debu tertiup angin. Sapa salam ku pedulikan, senyum hangat ku abaikan, seluruhnya itu kulakukan bukanlah lantaran cinta yang kau berikan, tetapi lantaran tak memperoleh restu dari orang tua yang sampai kini ku agungkan.

“Maafkan Ipah Jalu.” Jalu mendengus kesal sambil melempar hape yang berisi sms dari ipah.

Kata kata itu memanglah sakit didengar oleh Jalu, namun apa daya yang dapat dia lakukan terkecuali ikhlas serta menerima kenyataan. Tetapi Jalu yakin bahwa jodoh ada di tangan Tuhan,” untuk apa aku perjuangkan bila telah jelas restu yang kuharapkan tak kudapat”. Berbalik Jalu ke ujung ranjang ke sebuah meja kecil lalu menyalakan radio tape dan terdengarlah sebuah lagu dari maestro Iwan Fals.

Pagi yang cerah gerimis telah hilang Matahari muncul menghangatkan bumi Jalu masih merebahkan diri diatas kasur dengan seprei kumal penuh bercak. Matanya menatap kosong kelangit kamar. Menarik nafas panjang dan menghembuskannya.

“Matahari bercahaya dan hari begitu cerah, tetapi hatiku merasa hampa serta pandangan mataku juga membias kosong tanpa ada harapan.” lirih Jalu berucap pada diri sendiri.

Di ambilnya sebatang rokok lalu dinyalakannya, dihisapnya asap rokok dalam-dalam lalu dihembuskannya kuat-kuat.

“Entah bagaimana langkahku melupakanmu Ipah, lisanku berkata tidak tetapi hatiku penuh rasa cinta. Apakah ini segalanya yang paling baik untuk kita atau kah cuma hanya ujian cinta kita? Aku cuma dapat berserah diri serta berdo’a pada Tuhan yang mempunyai diriku serta dirimu.” ucap jalu.

Jalu mengambil sebuah hape yang diletakkanya di sebuah meja di samping sebuah buku TTS, “Ipah resah ini masih melandaku, ipah aku memanglah bukan orang berada aku hanya seorang pencopet, aku memanglah bukan orang yang mempunyai tahta serta harta, tapi aku yakin aku mampu membahagiakanmu dengan penuh rasa tanggung jawab dengan cinta. Jangan sampai kamu melihat kebahagiaan dengan mata sebelah, karena tahta dan harta bukanlah sumber kebahagiaan.” tulis jalu pada sebuah kolom sms.

“Seberapa besar permasalahan yang ku hadapi, aku mampu bertahan serta melaluinya, tetapi saat orangtua mu tak merestui, mungkin saja inilah akhir dari suatu perjuangan cintaku.” klik, dikirimnya sms itu kepada Ipah.

Sebentar jalu mendesah panjang lalu kembali mengetik sebuah sms “Ipah, lanjutkanlah masa depanmu raihlah gelar sarjanamu dan bahagiakan Orang Tuamu dan Suamimu. Aku yang terluka selalu mendo’akan kebahagiaanmu. Salam Sayang, JALU” klik dikirimnya pesan terakhir kepada Ipah. Lalu jalu mematikan HPnya dan bergerak melangkah keluar.

*Lanang kusasih*Bandung16

Photo by : Cornelia Schauermann

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: