Rab. Des 11th, 2019

bngdesigns / Pixabay

LINDUR oleh Indah Patmawati

LINDUR
oleh Indah Patmawati

“Ini untuk yang terakhir kalinya Nur, kuulangi permintaanku yang kemarin-kemarin. Menikahlah denganku dan jadilah istriku!” kata Ran tak mampu mengusir kegundahan hatinya. Sejak bertemu kembali dengan Nur beberapa bulan yang lalu hatinya seakan runtuh.

Kenangan akan cinta pertamanya mulai tergambar kembali di setiap dinding kamarnya. Dulu, diam-diam ia mencintai Nurindah, perempuan paling cerdas di kelasnya. Perempuan sederhana berpenampilan kalem yang kalau sudah berbicara membuat dadanya berdebar tak karuan. Semua berebut untuk bisa dekat dengan Nur, termasuk Ran. Ia ingin sekali bisa meraih hati Nurindah. Tapi tak pernah ada keberanian. Jangankan mengatakan isi hatinya, untuk mendekat saja Ran tak punya nyali. Saat itu, ia hanya laki-laki culun yang tak punya kelebihan apapun untuk bisa menarik hati Nur. Sampai akhirnya ia tahu Nurindah berpacaran dengan Pam, ia pertamakali merasakan patah hati. Berhari-hari Ran tak selera makan, apalagi setiap di kelas ia melihat kemesraan Nur dengan Pam, hatinya sakit bukan kepalang.

***

Nur diam mematung, serasa dilolosi seluruh tulang belulangnya. Ia hampir lupa bagaimana mencintai, setelah menjanda hampir lima tahun. Ia lupa kehangatan dan kasih sayang seorang laki-laki. Menurutnya, sendiri seperti ini mungkin lebih baik. Hatinya telah dibungkus rapat dengan keangkuhan yang diam-diam dibangun dalam hatinya. Adakah laki-laki yang benar-benar mencintainya? Selalu muncul pertanyaan seperti itu dalam hatinya.

“Bagaimana Nur? Mau kan menikah denganku?” Ran mencoba mendesak Nur yang sejak tadi hanya bungkam. Tidak ada jawaban, kecuali angin yang berdesir melewati ujung telinganya.

Pikiran Nur kembali sibuk, banyak hal yang tiba-tiba beterbangan di kepalanya. Ketidakpercayaannya pada cinta laki-laki telah mengakar dalam dadanya yang masih padat. Nur paham betul bagaimana seharusnya menikmati sebuah hubungan rumah tangga, satu dengan yang lain harus seiring sejalan. Runtang runtung kayak mimi lan mintuna itu falsafah jawa yang dipegangnya. Dan itu hanya untuk mereka yang bisa menjalani.

“Aku tidak bisa menikah denganmu, Ran.” Akhirnya Nur bersuara meski serak dan berat.

“Yang kau butuhkan adalah perempuan yang bisa mendampingimu setiap waktu, Ran. Menemani hari-hari tuamu dengan penuh cinta, perhatian, dan kash sayang yang tulus. Dan itu semua tidak bisa aku berikan padamu.” lanjut Nur terdengar parau dan kering.

“Aku tak pernah ada setiap kau butuhkan, jadi pikirkanlah baik-baik. Gunakan logikamu untuk memutuskan sesuatu, jangan hanya karena emosi sesaat hingga kau kelak akan menyesal. Karena ini masalah serius yang berkaitan dengan kelangsungan hidupmu.” lanjut Nur dengan mata berkaca-kaca.

Nur menyadari benar efek keputusannya. Bahwa hatinya akan tersayat menjadi luka yang sangat ngilu. Apalagi ia sadar betul tentang hatinya, ada lapisan yang berisi kenangan tentang Ran. Laki-laki yang dulu pernah ditaksir. Laki-laki kecil yang memekarkan harapan remajanya. Hanya sayang Ran tak pernah punya keberanian mengungkapkan isi hatinya, sampai akhirnya Nur menjalin hubungan dengan Pam teman sekelasnya juga. Kenangan masa remaja yang ternyata tak mudah dihilangkan dari ingatannya.

***

Jika Nur menolak menjadi istri Ran, bukan karena ia tak mencintainya. Tetapi Nur tahu betul bahwa ia tak mungkin bisa membahagiakan. Pekerjaannya sebagai widyaiswara yang harus loyal terhadap tugas dan kewajiban, menuntutnya sering meninggalkan keluarga. Nur tak tahan melihat lelaki yang dicintainya kelak akan meringkuk sendiri di sudut kamar, menghabiskan malam dengan kesepian yang paling jahanam. Adakah lelaki yang tabah dengan kesepian?

“Kau meragukan ketulusanku, Nur?” Ran seolah tahu apa yang ada di kepala Nur.

“Kau memikirkan pekerjaanmu kan? Yang selalu terbang ke sana kemari seperti kutu loncat. Tak mengenal hari minggu atau hari libur lainnya. Memiliki resiko tinggi jika harus menyusuri pelosok-pelosok tanah air seorang diri. Ahhh seharusnya pemerintah memberimu tunjangan yang sangat tinggi untuk semua pengorbanan atas pekerjaanmu. Hanya perempuan-perempuan tangguh yang mampu menjalaninya. Dan aku mencintai ketangguhanmu itu, Nur.” lanjut Ran mengukuhkan niatnya.

Nur hanya menggeleng, ia tak sanggup mendengarkan seluruh argumentasi Ran.

“Kau keliru, aku bukan perempuan tangguh, justru sebaliknya aku ini rapuh dan cengeng. Tak sekuat yang kau sangka, aku sering takut dan mengeluh pada kondisi tertentu.” gumam Nur nyaris tak terdengar.

“Ayolah Nur, kau butuh tempat untuk berbagi hati, tempat untuk mendengarkan keluhanmu, tempat untuk melabuhkan segala penatmu. Dan itu aku orangnya,” kata Ran sambil menggenggam tangan Nur lembut.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa, selain sebidang dada tempat berkumpul segala ketabahan dan keikhlasan, bahwa cinta adalah soal hati. Dan hati adalah sesuatu yang sangat abstrak, tak bisa dihitung dengan cara matematis.” Lanjut Ran dengan tatapan tajam menusuk.

Nur hanya memejamkan mata, seperti ada lindur dalam dadanya dengan gerakan tak beraturan. Ada ketakutan yang menyusup pelan-pelan, takut melukai. Aku harus bilang apa Ran?

#edisispesial
Lombok, 7 Desember 2018

Lindur = gempa
Mimi lan mintuna = melambangkan cinta sejati
Runtang-runtung = ke sana-kemari selalu bersama

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: