Sel. Agu 3rd, 2021

Lupa

LUPA (1)

Rindu seperti tamu asing. Ia berdiri termangu di depan pintu, tak mau sekalipun ia mengetuk. Apalagi melongok kedalam jendela yang selalu dibiarkan terbuka. “Bukankah ini rumahmu juga?” sahut suara lembut dari dalam rumah. “Entahlah, setiap kali aku pergi dan kembali pulang, aku bersikeras untuk mengenalnya lagi.” “Ketuklah tujuh kali pintunya, di dalam kau akan temukan aku!” “Ah pintu, kau lebih mengenal penghuni rumah ini dari pada aku… “

LUPA (2)

Aku duduk di ruang tamu. Memandang topeng hitam di dinding tertawa terkekeh padaku. Sementara di depannya, pintu kamar setengah terbuka. Seorang wanita tergolek di ranjang dengan baju setengah tersingkap, “Ia kah perempuanku?” Ranjang kenangan menjerit, “lupa atau memang semua ingin kau lupakan?” “Entahlah, ranjang! Setidaknya engkau yang tak bisa ku lupa.” Ranjang tua dengan kenangan yang t’lah lapuk …

 

(dikutip dari Kumpulan Puisi “Lelaki Menangis” Karya : Serpihan Abad)

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: