Rab. Des 11th, 2019

geralt / Pixabay

MALAM DAN KENANGAN oleh Chendana Biru

MALAM DAN KENANGAN
Cerpen

Karya: Chendanabiru

Fika menatap satu persatu menu di warung makan itu. Dia tertarik untuk duduk di situ selama mungkin. Sebenarnya, sejak berminggu-minggu lalu dia sangat tertarik dengan pelbagai lampu yang menghiasi warung tersebut.

Suasana malam agak dingin. Sementara menunggu pesanannya, Fika menyarung kembali jaket yang dibukanya tadi. Kedua lengannya memeluk tubuh. Dia bersyukur, sebentar kemudian seorang pemuda berambut panjang diikat kemas membawa segelas lemon tea panas kepadanya.

Fika mengucapkan terima kasih lewat senyuman.

Pelanggan tidak berapa ramai memandangkan masih dalam mood cuti Chinnese New Year. Fika meneguk minumannya perlahan. Segar menjalari seluruh tekaknya.

Matanya tidak lepas memandang lampulampu yang bercahaya indah. Menurut temannya, isteri pemilik warung makan berkenaan memang sangat sukakan lampu dan mengoleksi lampulampu yang berkenan di hati.

“Ia tidak akan bercahaya selamanya.”

Fika kaget. Suara lakilaki menangkap gegendang telinganya. Dia berpaling. Seorang lakilaki yang duduk sendiri di meja sebelahnya sedang menghembus asap rokok.

“Merokok di premis perniagaaan adalah satu kesalahan,” ujar Fika dengan niat menasihati.

Lelaki itu ketawa, tidak panjang dan ketawanya juga aneh.

“Biarkan saja undang-undang dengan dunianya, cik puan tak perlu bersusah hati,” lakilaki yang sukar dilihat wajahnya itu bersuara.

Kebetulan dia duduk di meja yang agak jauh dari cahaya lampu. Seperti Fika juga yang memilih tempat yang agak gelap.

“Makan di waktu malam bisa menambahkan lagi berat badan cik puan.”

Katakata lakilaki itu membuat Fika seakan hilang sabar. Sengaja menyindirnya atau bagaimana.

“Menjadi masalah buat encikkah?”

“Sepertinya cik puan dalam kesepian.”

Akhirnya Fika mengambil keputusan untuk mendiamkan diri. Lebih baik daripada membazir waktu melayani lakilaki yang tidak dikenali di sebelahnya.

Fika memanggil pelayan untuk membayar makanannya.

“Sudah dibayar lakilaki tadi,” pelayan itu bersuara sambil menunjukkan meja sebelah yang sudah kosong.

Hanya ada beberapa puntung sisa rokok di dalam bekas dan cangkir kosong di atas meja.

Fika memandang ke jalan, tanpa berlengah dia mengejar sosok lakilaki yang sedang berjalan. Dia yakin kalau itu lakilaki tadi.

“Encik!”

Lakilaki itu berhenti dan menoleh. Dia menunggu Fika sampai kepadanya.

“Saya tak mahu berhutang, saya bayar,” ujar Fika sambil menghulur wang.

“Cik puan, saya ikhlas.”

“Tolong, tolong ambil wang ini,” Fika seakan merayu.

“Hmmm, begini saja, apa kata kalau malam ini Cik puan habiskan waktu berjalan-jalan denganku, menikmati suasana malam, lampu, langit dan bintangbintang.”

“Dan mungkin bercerita sedikit tentang kenangan,” sambung lakilaki itu lagi.

Fika terdiam. Bingung. Lakilaki yang tidak dikenali. Rasionalkah kalau dia menuruti permintaan lakilaki ini?

Mata lakilaki itu menikam wajahnya, menanti jawaban. Fika terkialkial sambil mencari perkataan.

“Nanti kalau cik puan haus dan lapar kita bisa singgah di warung makan tapi jangan minta ke restoran, saya tidak punya banyak wang.”

Mereka berdua berjalan hingga ke padang rumput yang luas. Di ujung sana, ada bangku-bangku kosong.

“Sepuluh tahun lalu aku pernah di sini, di malam seperti ini, membaca pesanan ringkas dan menangis,” ujar lakilaki yang masih belum bernama itu.

“Putus cinta?”

“Cinta kami tak pernah putus, takdir yang tidak mengizinkan. Lalu kami terkorban di dalamnya,” suara lakilaki itu mulai perlahan.

Fika memandang langit yang terang. Bulan tersenyum dengan begitu menawan. Matanya beralih ke wajah lakilaki tak bernama itu. Mungkin seusia dengan dirinya.

“Aku sudah melupakan tentang kenangan-kenangan lama. Di usia begini sudah bukan waktunya untuk aku menghibakan diri pada cinta yang tak pernah menjadi milikku,” Fika bersuara tenang. Menyembunyikan semua gelora yang ada di dalam dirinya.

“Cik puan yakin? Pasti pernah ada satu cinta yang benarbenar tak bisa kita lupakan, Cik puan?”

Fika terdiam. Itu sudah sangat lama. Sudah jauh meninggalkan dirinya. Mengapa harus diungkit lagi. Dia berusaha sepanjang hidup untuk melupakannya.

“Sepertinya, kita berbeda. Aku tidak pernah bisa melupakan perempuanku. Aku tak pernah berusaha melupakannya,” ada sedikit getaran pada suara lakilaki itu.

“Aku sangat mencintainya, bahkan saat bapaku menentang hubungan kami aku sangat patah hati, dan beberapa kali aku cuba bunuh diri,” Fika mengetap bibir.

“Kami hanyalah orang kecil di bawah kekuasaan bapaku, yang tidak menginginkan lakilaki seperti kekasihku ada dalam keturunannya,” sambung Fika lagi sambil memandang jauh ke depan.

Dia tidak berani memandang lakilaki itu. Dia tidak mahu lakilaki itu melihat matanya basah.

“Rasa cintamu sama,seperti rasa cintaku terhadap perempuanku, dia akhirnya menikahi lakilaki yang tidak dicintainya.”

“Aku mengerti perasaan dan pengorbanan perempuanmu, percayalah!”

Lakilaki itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Tunduk dan jari jemarinya menarik helaian rumput.

“Kamu pernah bertemu dengannya setelah itu?”

“Satu kali saja sepanjang hubungan kami,” jawab lakilaki itu tenang.

“Kamu beruntung, aku tak pernah melihatnya,” ujar Fika perlahan.

“Mungkin juga lebih baik kalau kamu tidak melihatnya, pasti lebih sakit untuk kamu melupakannya.”

Fika mengakui katakata lakilaki itu. Dia menghela nafas panjang. Sudah dua puluh lima tahun kisah itu.

“Heyy, usiamu berapa sekarang?” soal Fika kepada lakilaki itu.

“Aku sudah empat puluh tujuh tahun, kamu pasti empat puluh satu tahun,” lakilaki itu menebak.

“Tebakanmu benar, kita sudah tua tapi masih setia terhadap masa lalu.”

“Bukalah tirai jendela kamarmu, lihatlah mentari, jangan selalu berkurung dalam kegelapan.”

“Tahu dari mana kamu?”

“Aku bisa lihat dari wajahmu, matamu dan sikapmu, masih tidak mahu pulang dari masa silam.”

“Itulah yang membuatku tetap hidup. Kenangan.”

“Iya, sama denganku, kenangan aku dan perempuanku.”

“Aku tak pernah lagi menemui lakilaki seperti dia.”

“Kamu tidak mencari.”

“Untuk apa? Hatiku sudah dimiliki.”

“Oleh kenangan dan masa lalu.”

“Iya, oleh lakilaki ku.”

Suasana kembali hening. Embun mulai membasahi rumput. Bulan juga semakin kelabu di langit.

“Aku boleh pulang?” Fika bertanya sambil memandang lakilaki itu.

“Kau mahu meninggalkan aku sendiri di sini? Kamu haus? Aku belikan air ya, kamu tunggu di sini.”

Belum sempat Fika mengatakan apaapa, lakilali itu sudah pergi. Fika mendekap tubuh, matanya mulai layu. Dia rindu pada Zulfikar. Sudah dua puluh lima tahun, rindunya pada lakilaki itu tak pernah surut.

Di jalan, orang ramai berkerumun. Darah membasahi jalan raya. Tubuh lakilaki itu sudah tidak bergerak lagi. Seorang anggota polis mengambil dompet dari saku celana lakilaki tersebut. Dicatat nama mangsa yang meninggal, Zulfikar Mohammad, berusia empat puluh tujuh tahun.

Di bangku, Fika sudah tertidur. Cerita-cerita rindunya pada Zulfikar menimbun di dada. Luruh dalam airmata.

11022019, Kuala Lumpur.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: