Kam. Mei 13th, 2021

Mengeja Waktu

ACTION 2 – Mengeja Waktu – Retno Yustiar
Suara gending sayup-sayup terdengar terbawa hembusan angin yang bertiup menjauhi desa Karangasri. Di sebuah jalan setapak yang dikelilingi pepohonan rimbun nampak seorang wanita berjalan sendirian sambil nyincing salah satu ujung jaritnya, sinar rembulan yang temaram ditambah lagi harus menembus dedaunan yang lebat, tak ayal membuat perempuan itu berjalan sangat hati-hati agar tak tersandung bebatuan yang tersebar di jalan setapak itu.
Setelah beberapa saat langkahnya terhenti, gelagatnya nampak gelisah. Menoleh kekanan dan ke kiri seolah-olah dia takut ada yang melihatnya berjalan di jalan setapak yang sunyi itu. Sambil sesekali merapikan cepolnya, dia nampak semakin gelisah karena malam semakin larut.
Tiba-tiba didengarnya langkah kaki, dirapatkan tubuhnya ke pohon yang ada di dekatnya, dia berusaha agar tak terlihat oleh orang yang lewat di jalan tersebut. Langkah kaki lelaki itu yang semula cepat kini melambat di dekat pohon dimana perempuan itu bersembunyi.
“Lastri…” suara itu perlahan namun jelas terdengar di malam yang sunyi.
“kang Pardi… kaukah itu Kang?” Lastri perempuan berkebaya dan berjarik itu keluar dari persembunyiannya.
Diiringi suara binatang malam dan desau angin yang melewati dedaunan, kedua insan itu berpelukan. Melepaskan rasa yang terpendam.
Tiba- tiba si perempuan melepaskan diri dari lelaki itu.”Bagaimana Kang,apa kau sudah membicarakan hubungan kita dengan ibumu?”
“Maafkan aku Lastri, aku sudah mencoba….namun rupanya kanjeng ibu masih tetap dengan pendirian beliau”
“Berjuanglah Kang, demi cinta kita…..”
“Lastri…aku sungguh tak mampu, engkau mengerti kan keadaanku, orang tuaku dan semua saudara-saudaraku, tidak menyetujui hub….”
“Karena aku sinden ya kang?” kata-kata Pardi diputus oleh ucapan Lastri yang mengetahui arah pembicaraan Pardi selanjutnya. Pardi hanya mampu menunduk.
“Sudah malam kang, aku harus kembali ke tobong… aku bisa kena marah Ki Sastro kalau aku telat”
Sesampainya di tobong, Lastri segera merias wajahnya. Jam terbangnya yang cukup panjang sebagai pesinden telah cukup melatih dirinya berdandan sendiri. Tak berapa lama riasannya telah selesai. Sesekali matanya melirik ke arah kelir. Ki Sastro sibuk merapikansimpingan, sementara para nayaga telah siap di tempat duduk mereka masing-masing.
Hari menjelang pagi ketika pertunjukan wayang itu selesai. Lastri melepas konde yang menempel dikepalanya, tersisa sebuah gelungan kecil yang terbentuk dari rambutnya sendiri. Tanpa menghapus riasan, Lastri bergegas keluar tobong.
Udara dingin menyentuh kulitnya yang halus, begitu keluar dari tobong yang pengap.  Tiba-tiba sebuah tangan mencengkeram lengannya dengan kuat. Hampir saja Lastri berteriak kalau saja dia tidak segera melihat bahwa Pardi yang ada di depannya.
“Kakang… jangan temui aku disini Kang”
Sebagai seorang sindhen, Lastri sangat menghormati Ki Sastro yang merupakan dalang sepuh yang dihormati. Ki Sastro betul-betul ngugemi arti kata dalang, yang  dalam bahasa jawa berarti nguDHAL piwuLANG. Yaitu orang yang memberikan piwulang atau tuntunan kepada penonton melalui wayang yang dilakonkannya. Oleh karena itu Lastri tidak ingin mencoreng arang di wajah Ki Sastro dengan menemui lelaki di tempat yang tidak semestinya, karena akan menimbulkan fitnah.
Dengan setengah memaksa, Pardi menyeret Lastri ke tempat yang lebih gelap. Darah Lastri berdesir melihat siluet wajah Pardi yang dibentuk oleh sinar rembulan yang temaram. Wajah yang selalu hadir di tiap mimpi-mimpinya. Hidungnya walimiring, seperti sebuah pisau belathi kecil, mengingatkannya pada hidung yang dimiliki tokoh bangsawan yang berwatak halus di lakon pewayangan. Sayangnya watak Pardi terlalu halus, hingga tak mampu memperjuangkan cinta mereka dihadapan orangtua Pardi.
“Lastri, maukah kau menungguku lagi? Aku akan perjuangkan cinta kita di hadapan orang tuaku” Pardi berkata sambil memandang penuh harap kepada Lastri.
“Maafkan aku Kang, aku sudah terlalu lama menunggu, kemarin Ki Sastro datang kerumah, dia pinang aku untuk menikah dengan putranya, mas Gunadi…” suara Lastri semakin lirih.
“Dan kau menerimanya Lastri?”
“Sore nanti mas Gunadi akan datang ke rumah untuk menanyakan keputusanku, tadinya aku berharap banyak pada pertemuan kita tadi sore, kuharap Kakang membawa kabar yang menyenangkan, tapi ternyata… pupus sudah, Kakang tidak tegas bahkan untuk kehidupan yang akan Kakang  jalani sendiri.”
“Lastri…” suara Pardi tercekat di tenggorokan, dia sangat terkejut.
“Sudahlah Kang, sudah hampir pagi. Kasihan Simbok sudah menungguku di rumah.”
Lastri beranjak pergi di iringi tatapan Pardi yang pilu, sepilu hatinya karena kehilangan gadis yang sangat dicintainya.
*****
Beberapa hari kemudian tersiar kabar ke seluruh penjuru desa kalau Lastri akan menikah dengan Gunadi, putra Ki dalang Sastro.
Hati Pardi begitu hancur. Sebelum lebih hancur lagi, Pardi membuat keputusan besar. Tiga hari sebelum pesta pernikahan Lastri yang kabarnya akan digelar secara meriah di kediaman Ki dalang Sastro, Pardi memutuskan untuk meninggalkan desa Karangasri. Meninggalkan keluarganya, meninggalkan teman-temannya dan tentu saja meninggalkan kenangan terindahnya bersama Lastri.
*****
Sudah lima tahun ini Pardi merantau ke kota, selama lima tahun pula Pardi tidak pulang ke desanya Karangasri. Namun Pardi sempat mendengar kabar kalau Lastri telah memiliki seorang putra dari Gunadi. Walaupun demikian luka di hati Pardi masih menganga, hatinya masih belum mampu merasakan cinta lagi. Padahal banyak gadis yang suka padanya. Ada yang malu-malu tapi ada juga yang terang-terangan menyatakan perasaannya.
Pardi tersadar umurnya semakin bertambah, terlalu larut dalam kecewa hanya akan menambah dalam luka itu sendiri, perlahan dibukanya hati untuk wanita lain. Mencoba perlahan melupakan Lastri. Sampai akhirnya dia berkenalan dengan Rina, gadis asli kota itu.
Sebagai gadis kota tentu Rina berpenampilan lebih modern dari pada Lastri, Rina berani mengungkapkan apa yang ada di hatinya tanpa ragu-ragu. Hal itulah yang memikat hati Pardi, sifat terus terang Rina telah membuat Pardi jatuh cinta dan akhirnya menikahi wanita itu.
Tujuh tahun menikah, merupakan masa bahagia Pardi. Dikaruniai dua orang anak, perempuan dan laki-laki yang lucu menambah lengkap kebahagiaan mereka.
Namun menginjak tahun kedelapan, setelah kelahiran putri ketiga mereka, Pardi merasakan perubahan sifat Rina. Istrinya menjadi sering marah-marah, tidak ada lagi rasa hormat pada suaminya. Pardi hanya mengalah, mungkin kelelahan mengurus rumah tangga, ditambah lagi harus mengasuh tiga anak sekaligus membuat istrinya capek. Demikian sampai bertahun-tahun, Pardi terus mengalah demi keutuhan rumah tangganya.
Suatu hari, Bu Darmo ibunda Pardi datang berkunjung. Karena sudah rindu pada ketiga cucunya.
“Bu, kalau mau makan ambil sendiri nasi sama lauknya” kata Rina.
Bu Darmo melihat ke arah meja makan, sedikit nasi sisa kemarin dan sepotong tempe.
“Adanya cuma itu, sudah tanggal tua” ujar Rina lagi dengan acuh tak acuh.
Kejadian itu berlangsung berhari-hari, hingga suatu hari Pardi pulang lebih awal dari kerja. Tak didapatinya makanan, dilihatnya sang ibu tengah mengepel lantai, sedangkan istrinya tidur-tiduran saja sambil memeluk guling.
“Rina….cukup sudah kesabaranku…kau boleh tidak menghormati diriku sebagai suamimu, tapi aku tak rela kau perlakukan ibuku seperti pembantu!” kemarahan Pardi pun mencapai puncaknya.
*****
Lima tahun sejak perpisahan itu, Pardi asyik dengan kesendiriannya. Hatinya masih tertutup untuk wanita, dua kali mengenal wanita, dua kali pula kecewa.
Kini anak-anaknya sudah dewasa yang pertama sudah bekerja, anak yang kedua sudah hampir lulus kuliah, sedangkan yang ketiga baru saja masuk perguruan tinggi. Ketiga anaknya sudah menyarankan Pardi untuk menikah lagi, namun Pardi tetap bergeming.
Pada suatu hari, Pardi hendak mengunjungi Ibunya di desa Karangasri, kebetulan anak-anaknya sedang sibuk urusan kerja dan kuliah mereka, sehingga Pardi hanya sendirian ke rumah ibunya yang sudah sepuh. Mobil tua miliknya satu-satunya sedang di Bengkel karena ada masalah dengan mesin. Dengan terpaksa Pardi naik kendaraan umum.
Dalam angkot terakhir yang menuju desanya, mata Pardi tertegun melihat seorang wanita berkerudung, yang hendak naik ke dalam angkot. Usianya tak beda jauh dengannya, wajahnya masih menampakkan kecantikan masa mudanya. Hanya saja tubuhnya tak seramping dulu. Hati Pardi tergetar, wajah itu sangat dikenalnya, wajah yang pernah mewarnai hari-harinya, ya…wanita itu adalah Lastri.
Pardi meredam suara jantungnya, namun semakin cepat saja detaknya ketika dia melihat Lastri juga melihat ke arahnya. “Kang Pardi?”
Senyum Lastri terkembang, ada bunga-bunga yang turut mekar dihatinya. Namun Lastri segera menguasai keadaan, dia sadar semua telah jauh berbeda, waktu mungkin saja memudarkan rasa yang ada di hati Pardi.
Pardi terkesiap, dengan reflek di menggeser duduknya untuk memberi tempat wanita itu. Suasana sempat kaku karena masing-masing berusaha untuk menguasai perasaan yang bergejolak. Sampai akhirnya Lastri memberanikan diri untuk memecah kebuntuan
“Sendirian aja kang? Anak-anak sama istri kok tidak diajak sekalian?” bergetar bibir Lastri, sebenarnya telah lama dia mendengar kabar tentang Pardi, namun dia memilih tidak percaya kabar burung yang menyebar.
“Anak-anakku sibuk dengan urusan mereka masing-masing, sedangkan istri…sudah 5 tahun ini aku hidup sendiri, kami berpisah karena sudah tidak ada kecocokan lagi” jawab Pardi panjang lebar.
Bukan main senangnya hati Lastri mendengar jawaban Pardi, tapi lagi-lagi perasaan rendah dirinya muncul, dia hanya seorang janda dari desa mana mungkin Pardi masih menyimpan rasa itu kepadanya.
“Lha kamu kok sendirian juga?” tanya Pardi kepada Lastri.
“Suamiku sudah 4 tahun meninggal kang, kecelakaan sepeda motor, sedangkan anakku yang pertama sudah menikah, yang kedua masih kuliah di kota” jawab Lastri.
Perasaan Pardi campur aduk mendengar jawaban Lastri, antara sedih, kasihan tapi juga senang mendengar kenyataan kalau Lastri sudah sendiri lagi. Didorong rasa ingin tahu yang kuat, Pardi bertanya lagi kepada Lastri
“Jadi sekarang kamu sendiri… mmm maksud saya mmm.. tidak punya pendamping?”
“Iya kang…” jawaban singkat Lastri membuat Pardi menarik nafas lega.
*****
Dua minggu setelah pertemuan itu, Pardi  melangsungkan akad nikah dengan Lastri. Tepat tanggal 7 September. Setelah dua puluh lima tahun terpisah, akhirnya dua hati dapat bersatukembali di bulan September, bulan penuh keceriaan dan kebahagiaan bagi Pardi dan Lastri.
Pardi teringat doa-doa yang pernah dia lantunkan dulu, tentang keinginannya mempersunting Lastri, ternyata memang benar, Tuhan selalu mengabulkan doa hamba-Nya, hanya kapan doa itu dikabulkan hanya Dia Maha Mengetahui. Sujud syukur Pardi atas kebahagiaan yang dirasakannya, dia berjanji akan membahagiakan Lastri semampunya dan berusaha menjadi imam yang baik bagi keluarga barunya.
*****
Keterangan :
Nyincing : mengangkat sebagian
Tobong   : bagian belakang dari sebuah panggung pertunjukan, tempat para pemain berkumpul, biasanya terbuat dari bilik bambu
Kelir   : panggung tempat memainkan wayang kulit
Simpingan  : wayang yang tidak dimainkan dalam lakon,yang dijajarkan di sebelah kanan dan kiri kelir
Nayaga  : Para penabuh gamelan
Ngugemi  : mematuhi
Walimiring  : bentuk hidung pada wayang yang menggambarkan sifat kebangsawanan dan kehalusan budi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: