Menuju Ujung Dunia

0
93

Menuju Ujung Dunia

Cerpen karya Fulan Az Zahwan

Jalanan sedikit lebih sepi dari biasanya saat jam kerja. Di depan gedung bank ternama Indonesia itu terlihat satu mobil Pos Indonesia terparkir dengan mesin menyala. Di bangku kemudi, Catur menggenggam erat setir mobil. Dia terlihat begitu ketakutan. Terlebih lagi saat mendengar suara tembakan dari dalam gedung. Suaranya tidak begitu keras karena jaraknya yang jauh, tapi itu sudah membuat jantung Catur berdegup kencang. Wajah pucat Catur mulai berkeringat.

Tak lama kemudian, Eka dan Panca dengan ransel besar di punggungnya bergegas mengangkat tubuh Dwi yang terluka masuk ke dalam mobil. Mereka terlihat sangat kesusahan. Catur semakin panik dan langsung menancap gas seketika mereka bertiga sudah masuk mobil.

“Tunggu!” teriak Eka sambil membuka topengnya, “Mereka masih di dalam.”

“Berhenti!” teriak Panca sambil terus menekan luka di perut Dwi.

Mobil terus melaju, Catur sama sekali tidak menghiraukan teriakan mereka.

Dari dalam gedung suara tembakan makin terdengar keras. Sambil memegang AK47 dan ransel kecil di punggungnya, Tri bergegas keluar dari gedung sambil terus melihat ke arah gedung. Lalu Sapta menyusul sambil berkali-kali menembakkan shotgun ke arah gedung memastikan tidak ada yang mengikutinya.

“Sapta …, kita ada masalah.” kata Tri.

“Sial! Anjing! Mereka meninggalkan kita,” umpat Sapta setelah sadar mobilnya tidak ada.

Jalanan menjadi ramai karena melihat mereka berdua terus menembakkan senjata di jalanan. Banyak mobil yang ditinggalkan begitu saja di jalan karena pemiliknya takut. Hal ini membuat kemacetan. Apalagi orang-orang di dalam gedung mulai berhamburan keluar. Tapi ini justru menguntungkan Sapta dan Tri. Polisi yang mengejar mereka agak terhalangi orang-orang itu. Di antara keramaian itu, Asih menemukan sebuah motor bebek modifan tergeletak begitu saja. Sementara Sapta terus berlari.

“Cepat naik!” teriak Tri saat bisa menyusul lari Sapta dengan motor bebek tadi.

Dalam van Panca melepas topengnya dan juga topeng Dwi. Topeng-topeng mereka terbuat dari kain hitam, jadi Panca bisa menggunakannya untuk menutupi luka Dwi. Sementara Eka mulai marah pada Catur.

“Berhenti! Atau kuledakkan kepalamu.” ancam Eka sambil menodongkan pistol FN ke kepala Catur.

Catur pun menghentikan mobilnya. Dia terlihat sangat pucat dan basah kuyup oleh keringatnya sendiri. Mereka beruntung jalanan tempat mereka berhenti sangat sepi, jadi tidak ada yang memperhatikan.

“Percuma saja, sudah terlambat, kita akan mati jika harus kembali ke sana.” ucap Panca.

“Tapi A … Tri dalam bahaya.” Eka hampir salah mengucapkan nama Tri karena emosi.

Panca diam sejenak lalu mencoba menenangkan Eka, “Jadi Tri pacarmu? Apa pacarmu wanita yang lemah dan bodoh?”

“Apa kau bilang?” Eka tidak terima.

“Jawab saja!” Ternyata Panca lebih pintar menggertak.

“Tidak, tentu saja tidak, dia lebih pintar dari kita semua.” Sepertinya Eka mulai mengerti maksud Panca.

“Jika dia memang pintar, dia akan menemukan jalan, kita sebaiknya menunggu di markas. Tri dan Sapta juga harus melakukan hal yang sama,” jelas Panca.

“Tapi … sebelumnya kita … kita harus mengganti mobil dulu,” ucap Catur sedikit gagap.

Eka akhirnya bisa sedikit tenang dan mereka pun meneruskan perjalanan ke suatu gudang tak terpakai yang mereka sepakati untuk berkumpul dan menjalankan rencana selanjutnya. Gudang tersebut juga merupakan markas mereka untuk menyiapkan rencana-rencana mereka selama seminggu lalu.

Di atas motor, Tri dan Sapta melepas topeng mereka dan membuangnya begitu saja.

“Ada banyak mobil, kenapa kau pilih motor butut ini?” tanya Sapta sambil memeluk erat Tri karena Tri begitu kencang melaju motornya.

“Kau diam saja, pakai motor lebih mudah menghindar,” jawab Tri sambil terus menikung-nikung masuk ke dalam lalu lintas untuk menghindari kejaran polisi.

“Tri …, ada polisi pakai trail.” Sapta memberitahu.

“Pegangan lebih erat!” perintah Tri. Cara dia menaiki motor juga semakin menggila.

Eka dan lainnya mengganti mobil mereka dengan mobil van lain berwarna biru bertuliskan salah satu nama perusahaan ekspedisi yang sudah mereka siapkan sebelumnya. Mereka lalu membakar mobil pos untuk menghilangkan jejak sebelum meneruskan perjalanan.

“Jalan!” perintah Panca pada Catur.

“Sini biar gantian aku yang memeganginya.” Eka bergantian dengan Panca untuk merawat Dwi.

“Ee … Eka ….” Dwi bicara sambil menahan sakit.

“Tenang, jangan banyak bergerak!” ucap Eka sambil terus merawat luka Dwi.

“Ka … kalau aku mati, apa bagianku akan hilang?” tanya Dwi.

“Aku tidak tahu, semua terserah Sunya.” jawab Eka.

“Meski Sunya tidak mengatakannya, sudah pasti Sunya akan membagikan pada yang hidup saja. Jadi kau bertahanlah, jangan mati.” jelas Panca.

“Hik … anakku ….” Dwi sangat sedih mendengarnya, seakan dia yakin akan mati.

“Tenanglah, nanti akan kusisihkan bagianku untuk anakmu. Berikan saja alamatnya.” kata Eka.

Dwi tidak berkata apa-apa lagi, hanya memberikan sebuah kunci loker. Namun Eka tahu persis jika alamat yang dia tanyakan ada di dalam loker milik Dwi yang ada di markas.

Tri melaju motor dengan sangat lincah memasuki gang-gang sempit, jalan setapak, hingga ke tempat yang bukan jalan pun ia lewati. Beberapa kali mereka hampir tertangkap namun akhirnya mereka bisa lepas dari kejaran.

“Kalau aku mati, akan kubunuh kau Tri,” ancam Sapta.

Van memasuki gudang, Eka dan Panca mengangkat Dwi yang sudah mulai pucat dan sangat lemas. Catur berjalan cepat memasuki ruangan. Tubuh kurusnya terus bergetar namun dia masih bisa menyingkirkan barang-barang di atas meja untuk bisa digunakan Dwi berbaring. Meski itu membuat ruangan jadi berantakan.

“Letakkan di sini,” kata Panca.

“Astaga, Catur! Kau pasti habis makai.” Eka baru sadar ada yang salah dengan Catur.

“Ee … se … semalam aku tidak bisa tidur.” jawab Catur gagap.

“Anjing! Kenapa pecandu bisa jadi supir kita?” Eka marah.

“Di mana yang lainnya?” Tiba-tiba Sunya muncul dari ruangan lain.

“Tanya padanya! Dia yang meninggalkan mereka,” jawab Eka sambil mendorong Catur.

“Ya, kenapa pecandu ini bisa jadi supir kami?” tanya Panca.

“Hanya dia yang tersisa, itu sudah yang terbaik yang bisa aku dapatkan untuk kalian,” jelas Sunya.

“Kita harus menunggu mereka, aku yakin mereka bisa selamat,” pinta Eka.

“Kita tunggu sepuluh menit, jika mereka tidak datang, kita lanjutkan sesuai rencana. Sementara itu siapkan semua yang kalian dapatkan dari bank! Pastikan tidak ada yang ditandai atau GPS tracker tersembunyi.” Sunya pergi ke ruangan sebelah setelah memberi perintah.

“Sepuluh menit? Yang benar saja? Dasar nenek peyot,” bisik Eka.

“Dia baru empat lima tahun.” kata Panca sambil mengeluarkan uang-uang dari ransel.

“Sebentar …. Hey … kenapa kau diam saja, bantu sini!” Eka menyuruh Catur menggantikannya mengurus Dwi. Catur pun menurut.

“Ma … maaf”

“Tekan ini terus, jangan biarkan Dwi pinsan,” suruh Eka.

“Hanya Tri yang bisa menolongnya, dia sekolah di kedokteran.” kata Panca.

“Bagaimana kau tahu itu semua? Umur Sunya, pendidikan Tri, dari awal kita kan hanya menggunakan nama samaran.” Eka heran.

“Aku sempat menyelidiki, kau tahu, pacarmu bukan yang paling pintar di sini.” Panca mengingatkan perkataan Eka saat menyebut pacarnya yang paling pintar di antara mereka.

“Sebentar, itu berarti kau tahu semua nama-nama asli kami semua?” tanya Eka penasaran.

“Tentu saja, aku ikut tim ini karena aku hacker hebat.” kata Panca sombong.

“Ah … jika kau sehebat itu, tidak mungkin kau direkrut Sunya dan terjebak disini bersama kami.” Eka tak percaya.

“Justru itu masalahnya, aku bisa nge-hack komputer Sunya, itu artinya polisi pun bisa melakukannya.” Penjelasan Panca sungguh membuat Eka khawatir.

“Jadi identitas kita bisa ketahuan kapan saja?” tanya Eka.

“Yep, tapi itu takkan masalah, ketika itu terjadi aku sudah ada di Cina dengan bagianku ini.”

“Ya, aku juga akan segera ke Singapore setelah ini bersama Tri.”

“Negara cuma satu kabupaten gitu apa kau nggak akan bosan?”

“Tidak, selama ada Tri.”

“Asih maksudmu?”

“Hey, jangan keras-keras. Oh ya, beritahu aku siapa saja teman-teman kita ini,” bisik Panca.

“Semua menggunakan nama samaran angka Sansekerta. Eka, dwi, tri, … dan seterusnya. Aku mulai dari angka pertama, Eka, nama aslimu Reno, dulu kamu tentara, dipecat karena menyelundupkan narkoba,” jelas Panca.

“Dijebak, aku hanya dijebak, ah … skip tentangku, yang lainnya saja.”

“Dwi, nama aslinya Iwan. Dia mungkin orang paling baik diantara kita semua, dia dulunya guru, dia terpaksa keluar dan memulai usaha lain agar bisa membiayai perawatan anaknya. Namun usahanya malah bangkrut. Tri yang tentunya kau tahu nama aslinya Asih, anak orang kaya yang kabur dari rumah demi kamu sepertinya. Seharusnya dia sudah menjadi dokter sekarang jika bukan karenamu. Kukira kalian hanya saling suka karena seminggu ini sering bersama saja di sini. Namun kekhawatiranmu tadi jelas sekali kalian sudah lama menjadi kekasih.”

“Ya, cukup tentang Tri, lanjut ke pecandu itu.”

“Catur, nama aslinya Dika. Aku masih tidak percaya kalau dia pecandu, dalam data yang kudapat dia mantan pembalap profesional. Mungkin dia mulai menjadi pecandu sejak dulu, itu yang membuatnya dipecat sepertinya.”

Tiba-tiba ada suara langkah dari luar. Eka dan Panca langsung bersiaga meraih senapan mereka.

“Ayaankkk …” teriak Tri manja sambil berlari pada Eka lalu mereka berpelukan dan ciuman.

“Mereka … ?” Sapta heran sambil melihat ke arah Panca. Panca hanya mengangguk.

“Maaf tadi Catur terus saja jalan, padahal aku dan Panca sudah menyuruhnya menunggu, dia nggak mau denger.” Eka merasa sangat bersalah.

“Sudahlah ay, yang penting aku selamat.” Tri menghibur.

“Di mana Sat?” tanya Panca.

“Dia takkan berhasil, dia terjebak di dalam sana. Jika tidak tertangkap, dia sudah mati tentunya,” jawab Sapta.

“Baiklah, jadi bagian Sat kita bagi rata saja. Tanpa Sat berarti ada 7 bagian,” jelas Panca.

“Jadikan enam,” sela Sapta.

Semua melihat ke arah Sapta dan terdiam beberapa saat sampai mereka mendengar suara tembakan yang menggema di dalam gudang. Sapta melepaskan tembakan tepat di antara kedua mata Catur.

“Apa yang kau lakukan?” teriak Tri.

“Menambah jatah masing-masing dari kita. Catur hampir saja membahayakan seluruh misi. Hukumannya mati,” jelas Sapta.

“Ya, tapi kita selamat.” Tri tak habis pikir dengan pola pikir Sapta.

“Sudahlah, percuma berdebat. Sekarang buka ransel kalian.” Panca sepertinya memang yang paling bijak diantara semuanya.

“Ada apa ini?” tanya Sunya, “Ah, kalian sudah sampai ternyata.”

“Tri, sebaiknya kau obati Dwi,” kata Eka. Tri pun bergegas menyiapkan peralatan.

“Biarkan saja dia? Makin sedikit orang makin banyak jatah kita,” kata Sapta.

“Jangan kau coba-coba! Jangan buat aku menyesal tak melemparmu di jalan tadi,” ancam Tri.

“Aku akan ke ruanganku, kabari jika sudah selesai. Jangan sampai lebih dari tiga puluh menit.” Sunya pun pergi ke ruangannya seakan tak peduli jika semua yang ada di ruangan itu saling membunuh satu sama lain.

“Kenapa dia dapat jatah yang sama dengan kita semua? Dia kan nggak melakukan apa-apa,” guman Sapta.

“Aku masih bisa mendengarmu, jika bukan karenaku, tidak akan ada misi. Kalian masih beruntung aku tidak mengambil 50% jatah,” teriak Sunya dari ruangan sebelah.

“Nenek itu punya pendengaran yang bagus,” gumam Sapta.

“Berisik! Aku masih bisa mendengarmu! Sapta! Masuk ke ruanganku!” teriak Sunya lagi.

“Sial, aku pasti dapat masalah.” Sapta mengambil ranselnya lalu masuk ke ruangan Sunya.

Eka pergi dari ruangan tersebut dan menyiapkan senjata dan peralatan lainnya untuk rencana selanjutnya. Rencananya adalah dari gudang tersebut, mereka akan pergi menggunakan kendaraan sendiri-sendiri. Mereka sudah menyiapkan beberapa motor dan mobil di garasi gudang tersebut, kendaraan curian semua tentunya, namun sudah dilengkapi surat-surat palsu. Dari situ mereka akan berpencar lalu berkumpul lagi di sebuah pelabuhan untuk mengambil identitas palsu mereka yang bisa mereka gunakan untuk kabur ke luar negeri. Kecuali Sunya, dia punya rencana sendiri untuk dirinya sendiri.

Sapta keluar dari ruangan Sunya. Wajahnya seperti orang bingung.

“Kau kenapa?” tanya Tri.

“Ah tidak, aku akan bantu Panca memasukkan uang saja.”

Di garasi Eka memasukkan peralatannya ke dalam mobil sedan Chevy klasik berwarna abu-abu. Eka dengan seksama memeriksa mesin dan bensin, memastikan bisa sampai ke pelabuhan dengan mobil tersebut.

Beberapa menit kemudian uang-uang juga sudah diperiksa dan dibagi menjadi enam bagian. Setiap bagian telah dimasukkan dalam satu tas ransel sedang.

“Baiklah, aku ambil bagianku, dan selamat tinggal semuanya,” ucap Sunya sambil mengambil salah satu ransel penuh uang.

“Terimakasih, dan jangan panggil kami lagi,” kata Panca.

“Aku masih mau, ini menyenangkan, hubungi saja aku jika ada misi lagi” kata Sapta sambil mencoba memeluk Sunya. Dia pun didorong oleh Sunya karena ketidaksopanannya. Sunya lalu tersenyum namun terlihat sekali senyumnya dipaksakan kemudian pergi begitu saja menggunakan mobil sedan hitam.

“Sepertinya Dwi takkan selamat. Dia terlalu banyak kehilangan darah,” ucap Tri sedih sambil melihat kondisi Dwi yang sangat lemah tak sadarkan diri terbaring di atas meja.

“Sudah siap semuanya, mari kita pergi dari sini, kita bawa juga Dwi lalu kita tinggalkan saja di depan rumah sakit. Paling tidak ada harapan dia selamat di sana,” kata Panca sambil menyerahkan ransel ransel ke Sapta dan Tri.

“Aku bawakan ransel Dwi.” Panca membawa dua ransel.

“Di mana Eka?” tanya Tri.

“Mungkin di garasi, aku akan kesana.” Panca menyusul Eka ke garasi.

“Hey, bagaimana Dwi?” tanya Eka pada Panca. Panca bertemu Eka sebelum sampai ke garasi.

“Dia takkan bertahan,” jawab Panca.

“Sebentar, kau dengar itu?” Eka mendengar suara bip seperti jam digital atau semacamnya.

Mereka berdua mencoba mencari sumber suaranya dan arahnya dari ruangan Sunya. Mereka begitu kaget ketika menemukan bom waktu yang terpasang di dalam ruangan tersebut. Tepat di bawah meja Sunya. Dari angka yang terlihat, bom itu akan meledak satu menit lagi.

“Suruh semua keluar dari sini!” teriak Eka.

“Kau mau kemana?” tanya Panca, namun Eka hanya terus berlari sambil mengambil sebuah kunci dari sakunya.

Rupanya Eka mau menepati janjinya kepada Dwi, dia mau mengambil sesuatu di loker Dwi. Dia hanya menemukan sebuah amplop yang bertuliskan alamat di mana anak Dwi tinggal.

“Cepat keluar dari sini! Ada bom!” teriak Panca.

“Bantu aku angkat Dwi!” pinta Tri.

“Tidak cukup waktu, tinggalkan dia!” Panca begitu panik. Mereka hanya bisa mengambil ransel-ransel untuk diselamatkan, lalu berlari keluar gudang.

“Eka di mana?” tanya Tri.

“Jangan khawatirkan dia, cepat lari!” teriak Panca sambil berlari.

Dengan susah payah membawa ransel penuh uang, mereka akhirnya berhasil keluar dari sana. Tepat sebelum bom waktu meratakan seluruh gudang tersebut. Mereka semua tergeletak di tanah karena terhempas oleh ledakan.

“Panca, di mana Eka?” Tri bangkit karena mengkhawatirkan Eka.

“Di mana kau Reno?” gumam Panca lirih.

“Hey, lihat itu!” teriak Sapta sambil menunjuk ke sebelah kanan reruntuhan gudang.

Sebuah mobil Chevy muncul dari sebelah reruntuhan, perlahan keluar dari balik asap dan debu yang beterbangan mendekati mereka. Mereka pun tersenyum gembira melihat Eka di dalam mobil.

“Cepat masuk!” teriak Eka.

Sama sekali tidak sesuai rencana, tapi mereka memutuskan melanjutkan perjalanan bersama ke pelabuhan untuk mengambil surat-surat identitas palsu mereka.

“Tunggu dulu, Sunya telah mengkhianati kita semua, sementara semua ini rencana dia. Bisa saja tempat itu sebenarnya tidak ada.” Sapta khawatir.

“Tumben kau cerdas. Aku setuju, kita bahkan bisa masuk perangkap jika ke sana,” ungkap Tri yang duduk di sebelah Eka.

“Ya, mungkin saja, tapi aku tahu jika dokumen-dokumen kita itu memang ada di sana,” jelas Panca.

“Bagaimana kau tahu? Oh, iya. Kau seorang hacker.” kata Eka sambil melirik ke kaca spion tengah agar bisa melihat Panca di belakangnya.

“Ya, aku seorang hacker, tapi bukan itu alasannya. Tapi karena aku yang membuatnya.” Panca menjelaskan.

“Kenapa kau tidak membuatnya lagi saja?” tanya Tri.

“Bisa saja, tapi itu butuh waktu berhari-hari,” jawab Panca.

“Dan kita tak punya waktu sebanyak itu.” Sapta memperjelas.

“Baiklah, kita harus tetap ke pelabuhan, ini perjalanan panjang,” kata Eka.

“Mungkin kita harus saling mengenal satu sama lain sekarang.” Tri merasa harus bisa percaya kepada Sapta dan Panca yang selama ini dia kenal hanya dengan nama samaran.

Panca menjelaskan tentang Eka sampai Catur persis saat dia menjelaskan kepada Eka saat di gudang. Reno sebagai Eka, Iwan sebagai Dwi, Asih sebagai Tri, Amir sebagai Catur, dan kali ini dia meneruskan.

“…, dan aku sendiri Panca artinya lima, nama asliku Wendi, aku hanya seorang hacker, aku sudah menjadi buronan sejak lama, itu kenapa aku ikut dalam misi ini. Aku butuh uang banyak untuk kabur,” jelas Panca.

“Bukanya kau bisa dengan mudah mengambil dari rekening orang hanya dengan beberapa bahasa pemrogaraman?” tanya Asih (Tri).

“Tidak semudah itu, aku juga tidak sehebat itu, sejak pertama kali aku tertangkap dulu, semua aktivitas digitalku selalu diawasi. Aku juga sudah tidak bisa membuat rekening di bank manapun. Sampai suatu hari aku bertemu Sunya, dia punya modal untuk melakukan misi ini. Dari stiker hologram untuk membuat passport sampai senjata-senjata yang kita gunakan selama ini, Sunya bisa dengan mudah menyiapkannya” Panca (Wendi) terus menjelaskan.

“Masuk akal,” sela Sapta.

“Ssst … Diam!” Tri menyuruh Sapta diam.

“Lalu Sat, semoga dia baik-baik saja di manapun dia sekarang. Nama aslinya Amir, tidak seperti kita, dia hanya pegawai biasa yang ingin mendapat uang banyak. Aku heran kenapa dia mau bergabung dengan tim ini. Lalu Sapta, itu memang nama aslimu, aku sedikit tak percaya saat pertama kali melihat datamu,” ungkap Panca meneruskan.

“Serius?” tanya Reno (Eka).

“Ya, Sapto tepatnya, Saptogiri, pakai O bukan A. Aku juga tidak peduli dengan nama samaran. Semua orang sudah kenal aku sebagai kriminal,” ujar Sapto.

“Ya, sepertinya kau memang yang paling menikmati di sini, kau dari dulu seorang kriminal, keluar masuk bui dengan alasan yang beragam. Mulai dari perkelahian kecil sampai pembunuhan pernah kau lakukan. Namun ada kasus yang begitu menarik perhatianku, kau pernah dipenjara karena memperkosa ibumu sendiri. Seharusnya kau dihukum mati atau minimal seumur hidup di penjara.” Wendi menatap Sapto dengan pandangan sinis. Asih (Tri) juga melakukan hal yang sama, kemudian disusul Reno (Eka) lewat kaca spion.

“Tunggu-tunggu, aku tidak melakukan itu. Itu sudah lama sekali. Ya aku memang pembunuh, penjahat, atau terserah kalian mau sebut apa. Tapi aku bukan pemerkosa, apalagi ibuku sendiri, itu fitnah dari ayahku, ya bajingan itu menfitnahku,” jelas Sapto membela diri.

“Dengan begitu banyak tindak kriminal seperti itu, kenapa kau masih bisa ada di luar sini?” tanya Reno.

“Aku ahli dalam hal kabur dari penjara. Lagipula penjara di sini keamanannya sangat buruk. Sipir-sipir juga sangat mudah disuap.” jelas Sapto

“Bagaimana dengan Sunya? Semua memiliki arti angka dalam Sansekerta, itu mudah bagiku, Eka satu, Dwi dua, Tri tiga, … sampai Sapta adalah angka tujuh. Tapi angka delapan harusnya Hasta kalau tidak salah,” tanya Tri.

“Sunya artinya angka nol dalam Sansekerta. Nama asli Sunya adalah Lena. Aku tidak tahu data lengkapnya, namun sepertinya dia mantan polisi. Entahlah, mungkin hanya polisi yang dipecat karena korup,” jelas Wendi.

“Tapi ada yang aneh dengannya, pertama jika sesuai rencana, dia rela mengeluarkan modal begitu besar, dari senapan-senapan ini sampai bom yang hampir membunuh kita semua. Dia lakukan demi apa? Seperdelapan bagian uang ini? Aku bisa memikirkan banyak rencana lain agar bisa mendapat semua uang ini, tapi dia memilih untuk menghancurkan uang-uang ini bersama kita.” Reno heran.

“Obsesinya bukan uang. Dia hanya peduli dengan lukisan,” ungkap Sapto.

“Apa maksudmu?” tanya Tri.

“Kalian ingat saat aku masuk ke ruangan Sunya, emhh … Lena?” tanya Sapto, “waktu itu aku menyerahkan lukisan itu padanya. Lukisan yang aku curi dari bank. Dari awal aku secara pribadi memang ditugaskan mencuri lukisan itu dan aku dilarang memberitahu kepada kalian.”

“Jadi selama ini kau membohongi kami?” Asih marah.

“Tidak juga, Asih kau juga melihatku saat mencurinya,”

“Ya, tapi kukira kau hanya psychopath gila yang menderita OCD yang tak tahan melihat lukisan yang kau suka,” jelas Asih.

“Aku juga juga tidak bisa percaya kepada satupun dari kalian, kita menyembunyikan identitas masing-masing, bahkan kita selalu menggunakan nama samaran sejak pertama bertemu.” Sapto menjelaskan.

“Lalu kenapa kau mengatakannya sekarang?” tanya Wendi.

“Kita sudah berkenalan dan jujur satu sama lain, bahkan kita hampir mati bersama. Kurasa itu membuat kita menjadi teman.” Sapto mengutarakan pemikirannya.

“Kita tidak berteman, Sapto!” jelas Reno.

“Emm … mungkin ini bisa membuat kita berteman.” Sapto mengeluarkan semacam tabung kertas panjang dari ranselnya.

“Itu …?” Wendi merebutnya lalu membuka tabung itu dan benar isinya adalah sebuah lukisan wajah yang berantakan.

“Ya … aku mencurinya kembali. Wendi, kau mungkin ingat saat aku didorong Lena saat mencoba memeluknya. Saat itu aku mendapatkannya. Tadinya aku tidak tau dan tidak peduli kenapa Lena menginginkan ini, namun setelah aku pikir-pikir, kukira lukisan ini lebih berharga dari seluruh jatah kita jika digabungkan.” Sapto mengungkapkan.

“Ya mungkin kau benar, ini Harlequin Head, karya Picasso. Kabarnya lukisan ini sudah terbakar jadi abu. Kenapa bisa ada di sini?”

“Mungkinkah itu lukisan asli?”

“Tidak tahu, aku bukan ahli lukisan. Tapi jika ini memang asli, memang harganya akan sangat-sangat mahal. Bahkan lebih mahal dari jatah kita jika digabungkan lalu kita tambahkan satu angka nol di belakangnya,” jelas Wendi.

“Kenapa aku kecewa memberitahu ini kepada kalian ya?” Sapto terkejut melihat nilai lukisan itu.

“Haha, Sapto, kau memang teman terbaik kami.” Eka berubah pikiran tentang Sapto.

“Jangan senang dulu, kita tidak begitu tahu tentang Lena. Saat sadar kita masih hidup dan lukisannya ada pada kita, kita pasti akan diburunya dengan seluruh kekuatan yang dia miliki.” Wendi menjelaskan posisi mereka saat ini.

“Benar juga, belum lagi polisi juga akan mencari kita, mungkin sebaiknya kita istirahat dulu di hotel atau penginapan. Terlalu berbahaya berkendara di siang hari. Kita takkan bisa apa-apa jika kita diserang saat terjebak macet.” Asih berpendapat.

“Aku setuju, di depan sepertinya ada motel. Kita lanjutkan nanti malam.” Reno pelan-pelan mengarahkan mobil masuk ke motel tersebut.

Mereka pun turun dari mobil lalu masuk ke motel yang terlihat sepi itu. Mereka memesan dua kamar bersebelahan agar bisa digabung. Wendi membayar semuanya di muka dan meminta tidak diganggu.

“Astaga, berat banget!” Asih mengeluh sambil meletakkan ransel ke kasur.

“Kalau keberatan, buatku saja,” goda Sapto.

“Enak saja!” sahut Asih.

“Aku beli makanan dulu, ada yang mau nitip sesuatu?” tanya Wendi.

“Terserah saja, yang penting bikin kenyang,” kata Reno.

“Aku nitip bir,” pinta Sapto.

“Bir dan rokok,” tambah Asih.

Wendi pun pergi membeli makanan.

“Emm … bukannya jatah Dwi tidak ada yang punya?” tanya Sapto.

“Namanya Iwan, aku sudah janji padanya untuk memberikannya pada anaknya,” jelas Reno.

“Iwan punya anak?” tanya Sapto.

“Ini, surat Iwan untuk anaknya. Kau tidak keberatan kan?” Reno memberikan surat Iwan pada Sapto.

“Yah … nggak apa-apa sich, semoga lukisan ini asli, gitu aja.” Menurut Sapto jika lukisan itu asli, kehilangan uang-uang itu juga takkan seberapa rugi.

“Emm, ngomong-ngomong, di mana lukisannya?” Asih sadar lukisannya tak ada disitu.

Mereka saling pandang, lalu tiba-tiba ada suara mobil distarter.

“Wendi!” Serentak mereka berteriak. Namun sudah terlambat, saat mereka mengejar Wendi keluar, Wendi sudah membawa lukisan itu bersama mobil mereka.

“Sial, bangsat!” umpat Reno.

“Kenapa motel ini sepi amat sih? Nggak ada mobil atau motor sama sekali yang bisa kita curi,” gumam Asih.

“Coba aku tanya ke resepsionis, mungkin ada mobil yang bisa kita gunakan. Kalian packing saja.” Reno masuk kamar sebentar lalu pergi ke resepsionis.

“Sial aku lapar.” ucap Sapto.

Berapa menit kemudian, mereka sudah menaiki mobil SUV butut yang Reno dapatkan.

“Mobil butut gini gimana kita bisa mengejar Wendi?” tanya Sapto meremehkan.

“Jangan berisik! Cuma ini mobil yang ada.” jawab Reno.

“Kau mencurinya?” tanya Asih.

“Aku membelinya.” jawab Reno.

“Pakai uang siapa?” tanya Sapto.

“Uang Wendi lah.” jawab Reno sambil fokus mengemudi.

“Oh iya, Wendi meninggalkan ranselnya.” Asih baru sadar.

“Wendi merelakan uangnya demi lukisan?” Sapto heran.

“Berarti lukisan itu benar-benar asli,” ujar Asih.

“Kemungkinan besar.” ujar Reno.

“Berhenti!” teriak Asih.

“Ada apa?” tanya Reno sambil menghentikan mobilnya.

“Dari tadi orang-orang yang menuju ke arah sini selalu seperti memberi kode. Lihat itu!” Asih menunjuk pengendara sepeda motor yang memainkan jari-jarinya seperti memberi kode tertentu.

“Kau benar, ada pemeriksaan polisi di depan. Itu kebiasaan orang-orang sini jika ada pemeriksaan, mereka saling memberi kode.” Sapto menjelaskan.

“Sekarang gimana?” Asih bingung.

“Ini jalan satu-satunya, kita harus bersembunyi dulu. Aku parkir di belakang mini market itu saja.” Reno memutar bailk.

Mereka akhirnya bersembunyi di belakang sebuah minimarket tak jauh dari situ.

“Aku beli makanan sekalian,” kata Reno sambil meraih ransel.

“Hey, tinggalkan ranselnya!” larang Sapto.

“Aku cuma ambil uang.” Reno pun pergi masuk ke minimarket.

“Jadi, kau benar-benar memperkosa ibumu?” Asih penasaran dengan masa lalu Sapto.

“Tentu saja tidak, kan aku sudah bilang!” Nada bicara Sapto agak meninggi.

“Lalu apa yang sebenarnya terjadi?” Asih bertanya dengan nada halus.

“Ibuku memang diperkosa, tapi oleh teman Ayahku. Ayahku menjualnya untuk membayar hutang. Sementara ayahku sibuk menghitung uang, aku dipaksa untuk melihat ibuku dipukuli dan diperkosa. Ada tiga orang waktu itu, satu bajingan yang memperkosa dan dua lainnya memegangiku. Entah seberapa keras aku menangis dan meminta tolong. Ayahku hanya diam saja. Tidak puas sampai disitu, aku juga ditelanjangi dan ditinggalkan begitu saja bersama ibuku yang sudah lemas. Aku ingin menolongnya. Tapi semua sudah terlambat, ibuku sudah tak bernyawa lagi. Aku hanya bisa terus menangis. Sampai banyak warga mendobrak pintu rumahku. Mereka tidak percaya dengan penjelasanku. Aku malah diarak keliling kampung sambil dipukuli. Aku beberapa minggu di rumah sakit sampai akhirnya harus mendekam di penjara.

“Kau takkan bisa membayangkan neraka yang mereka berikan untuk narapidana pemerkosa di sana.” Sapto menceritakan apa yang sebenarnya terjadi padanya dulu.

“Ya Tuhan, maafkan aku.” Asih tidak menyangka Sapto akan menceritakan masa lalunya yang kelam itu.

“Sudahlah, kau juga pasti sebenarnya tidak percaya kan?” Sapto skeptis.

“Tidak, tidak, aku benar-benar percaya sama kamu. Aku bisa melihatnya di matamu.” Asih mencoba menghibur, namun sepertinya Asih benar-benar tulus mengatakannya.

“Terimakasih, tapi sudahlah, lagipula aku sudah membunuh ayahku dan mereka semua, secara perlahan.” Sapto mencoba mengalihkan rasa sedihnya. Reno pun datang seakan menyelamatkan Sapto dari pembicaraan yang mellow.

“Lihat yang aku bawa!” kata Reno sambil menunjukkan sepaket bir kaleng.

“Biiirrr … !” teriak Sapto senang.

“Dan makanan tentunya.” Reno juga menyodorkan roti-roti.

“Rokok?” tanya Asih.

“Ini …,” mengambil tiga bungkus rokok dari tas plastik.

“Akhirnya …” Asih membuka bungkus rokok itu dengan cepat.

“Sekarang bagaimana?” tanya Sapto sambil menikmati bir dan makanannya.

“Ya, terpaksa kita menunggu gelap,” jawab Reno sambil mengatur tempat duduknya untuk tiduran.

Hari sudah mulai gelap, pemeriksaan polisi pun sudah selesai. Reno, Asih. dan Sapto meneruskan perjalanan. Namun di jalan mereka melihat banyak pecahan kaca mobil yang berkilauan karena memantulkan cahaya lampu mobil.

“Apa yang telah terjadi di sini?” tanya Reno.

“Di sana, belok kanan,” Asih melihat ada kumpulan orang sedang mengangkat mobil polisi yang jatuh ke persawahan. Mereka pun berbelok melewati orang-orang itu.

“Apa ini ulah Wendi?” tanya Reno.

“Mungkin saja,” jawab Sapto.

“Kalau benar berarti Wendi lewat sini,” ujar Reno.

“Terus jalan saja!” kata Sapto.

Mereka terus jalan lumayan jauh dari tempat tadi. Jalanan semakin sepi dan gelap.

“Pelan-pelan!” Asih menyuruh Reno pelan karena melihat sesuatu.

“Lihat itu, sepertinya itu mobil kita.” Asih menunjuk ke tepi jalan yang gelap.

“Mana?” Reno dan Sapto tak melihat apa-apa.

“Itu di bawah sana. Mundurkan lagi mobilnya biar lampunya menyorot ke sana,” kata Asih sambil menyalakan rokok.

Mereka menemukan mobil yang dibawa Wendi terperosok ke hutan. Namun Wendi sudah tak ada di situ. Mereka mencoba menderek mobil itu ke atas. Sebenarnya mudah saja jika ditarik menggunakan mobil lain. Saat terperosok, Wendi sendirian dalam pengejaran, jadi tidak mungkin jika dia melakukannya sendiri.

Setelah mereka berhasil menarik mobil itu, mereka langsung memeriksanya.

“Mobilnya masih utuh, hanya goresan-goresan dan beberapa bekas tembakan.”

“Kita bisa lebih cepat dengan mobil ini daripada pakai mobil SUV butut itu,” kata Reno.

“Iya, tapi mobil ini pasti sudah dikenali polisi,” ujar Asih.

“Kita cat saja, dan ganti platnya,” ujar Reno.

“Kenapa kita nggak menghadang mobil orang saja dan rebut mobilnya?” tanya Sapto.

“Orang yang kita rebut pasti juga akan melaporkannya ke polisi, jadi sama saja. Beda dengan mobil Chevy ini, meski curian, tapi lebih aman karena dokumen-dokumennya sudah dipalsukan.” Reno menjelaskan.

“Kalau begitu bunuh saja orangnya.” Sapto masih tetap ngeyel.

“Jangan asal membunuh orang! Kau juga jangan membunuh orang lagi.” Asih sepertinya melihat sesuatu pada hati Sapto. Asih ingin Sapto bisa berubah lebih baik lagi.

“Baiklah, terserah kalian saja.” Sapto pasrah.

“Kau harus janji dulu, jangan membunuh lagi. Aku tahu kau sebenarnya orang baik.” Asih menatap mata Sapto sambil memintanya berjanji.

Beberapa lama Sapto hanya terdiam sambil memandang Asih. Dalam hati Sapto terharu karena ini pertama kali dia dibilang baik.

“Baiklah, aku janji.” Sapto menjawab lirih sambil mengangguk.

“Sekarang belikan pylox yang banyak di minimarket tadi. Aku tunggu di bangunan itu,” perintah Reno.

Sapto agak tersinggung dan mau marah, namun saat melihat Asih, Sapto berubah pikiran.

“Please …,” kata Asih manja.

Sapto pun pergi menggunakan mobil SUV ke minimarket tadi. Reno dan Asih membawa mobil Chevy itu ke sebuah bangunan seperti bekas pabrik, sangat sepi, bangunannya juga sudah sangat rusak.

Selang beberapa lama, Sapto pun datang membawa banyak pylox.

“Dari sekian banyak pilihan warna, kenapa kau memilih merah muda?” protes Reno.

“Cuma itu yang stoknya banyak. Daripada aku beli banyak warna, warna pelangi sepertinya terlalu mencolok untuk mobil,” ujar Sapto membela diri.

“Chevy pink juga sangat mencolok, tapi aku suka,” kata Asih yang memang pecinta warna merah muda.

“Ya sudahlah, mari kita kerjakan.” Reno pasrah.

Butuh waktu lama untuk mengecat satu mobil dengan tiga orang bekerjasama. Namun akhirnya selesai juga. Plat juga sudah diganti dengan plat SUV. Mereka memandang Chevy pink di depan mereka dengan seksama. Mereka tersenyum dibuatnya karena Chevy mereka jadi begitu imut.

Namun kesenangan mereka tidak lama, tiba-tiba saja Wendi muncul dari kegelapan lalu menyekap Asih sambil menodongkan pistol ke kepalanya.

“Terimakasih sudah memperbaiki mobilku,” kata Wendi.

“Wendi, tenang! Lepaskan Asih!” pinta Reno sambil menurunkan senjatanya. Sementara Sapto masih menodongkan AK47-nya dengan tenang ke arah Wendi.

“Tenang Sapto, kau sudah berjanji. Jangan membunuh lagi!” Asih mengingatkan Sapto akan janjinya.

“Ya, sebaiknya kau dengarkan Asih. Jadilah anak baik! Sekarang turunkan senjatamu!” perintah Wendi.

“Turuti saja yang dia katakan, Sapto!” perintah Reno sambil meletakkan pistolnya ke lantai.

“Berikan kunci mobilnya!” Wendi memaksa.

“Sapto, berikan saja kuncinya!” teriak Reno.

Sapto tak bergerak sedikitpun.

“Sapto, lihat aku, lihat aku!” pinta asih sambil melonggarkan dekapan Wendi, “kau percaya padaku kan? Ambil kuncinya lalu lepar kesini!”

“Tapi …” kata Sapto sambil mengambil kunci mobil.

Reno bingung karena tidak tahu apa yang Asih rencanakan.

“Ayo cepat lempar saja!” Wendi mulai tidak sabar.

“Lempar kuncinya dan lepaskan janjimu!” teriak Asih.

“Baiklah,” ucap Sapto sambil melempar kunci itu. Saat pandangan Wendi teralihkan Asih menghantamkan sikutnya ke ulu hati Wendi dan bergegas menjauh. Sapto dengan sigap menembakkan senapannya tepat ke kepala Wendi. Namun sayang pistol Wendi pun meledak. Asih pun terjatuh.

“Tidak!!!” teriak Reno berlari meraih Asih.

“Aku nggak apa-apa, cuma kena bahu.” ujar Asih.

Sapto bergegas mengambil peralatan P3K di dasbord mobil lalu diberikannya pada Reno agar bisa membalut luka Asih.

“Lukanya tembus, ini bagus karena tidak ada peluru terjebak di dalam,” kata Reno sambil membalut luka Asih.

“Maafkan aku,” kata Sapto.

“Tidak, aku yang meminta maaf membuatmu melanggar janji.” Asih tersenyum.

“Emm … Janji itu sangat susah. Begini lebih baik.” Sapto pun ikut tersenyum.

“Yang penting kau melakukannya untuk menolong nyawaku. Itu bukan pembunuhan.” ujar Asih.

“Ya, itu penyelamatan, terimakasih Sapto,” ucap Reno.

“Dan lihat, kita mendapatkan lukisannya,” kata Asih sambil menunjuk lukisan yang tergeletak di samping mayat Wendi.

“Ya, kita mendapatkannya.” Sapto memungut lukisan itu.

Waktu sudah menunjukkan jam sebelas malam. Setelah selesai membalut luka Asih, mereka memutuskan melanjutkan perjalanan. Namun baru beberapa meter mereka keluar, polisi sudah mengepung mereka. Seakan tak percaya, setelah susah payah mengecat mobil, ternyata semua sia-sia saja. Tanpa disangka, seseorang keluar dari salah satu mobil polisi. Orang itu ternyata adalah Lena a.k.a Sunya.

“Nenek peyot, ternyata dia bukan mantan polisi. Dia masih polisi,” ujar Sapto.

“Dengan jabatan tinggi.” Asih menambahkan.

“Tenang, semua akan baik-baik saja,” kata Reno dingin.

“Aay, apa maksudmu …?” Asih bingung dengan Reno.

“Selamat tinggal, Ay…” ucap Reno sambil mengambil tabung kertas berisi lukisan itu, “Sapto, seharusnya kau tak mencurinya lagi dari Lena.” Reno keluar sambil membawa lukisan itu.

“Ay, kau mau kemana? Ay … Ay … Reno …!” Teriakan Asih tak dihiraukan.

Reno perlahan menghampiri Lena. Lena pun menyuruh anak buahnya tidak menembak.

“Asih, pindah ke kursi kemudi!” perintah Sapto lirih.

“Kenapa dengan Reno? Ada yang tidak beres.” kata Asih sambil pindah ke kursi kemudi.

“Tentu saja, kekasihmu baru saja mengkhianatimu,” jelas Sapto.

Reno memberikan lukisan itu kepada Lena. Dia melihat ke arah mobil sambil tersenyum jahat dan melambaikan tangan. Lena pun meminta anak buahnya bersiap.

“Kau masih ingat darimana Wendi muncul tadi?” tanya Sapto.

“Ya,” jawab Asih dengan wajah penuh amarah sambil terus melihat ke arah Reno.

“Itu jalan keluar kita, masukkan gigi R, dalam hitungan ketiga langsung tancap gas.” Sapto memberi rencana singkat.

“Tidak! Aku yang menghitung, dalam hitungan ketiga, kau bunuh Reno.” Asih benar-benar kecewa dengan Reno.

“Reno atau Lena?” Sapto memastikan.

“Persetan Lena, bunuh Reno. Kuyakin bidikanmu bisa diandalkan.”

“Tentu saja,” ucap Sapto sambil membidikkan senapannya ke kepala Reno.

Lena perlahan mendekati mobil, sepertinya dia tidak bisa melihat ke dalam mobil karena kaca riben.

“Satu, dua, tiga!” Asih mengucapkannya dengan cepat.

Sapto pun melepaskan tembakannya bersamaan dengan Asih menancap gas. Peluru yang Sapto tembakkan mengenai telinga Lena dan terus melesat sampai menembus mata Reno. Pasukan Lena pun bertubi-tubi melepas tembakan. Kaca mobil pun pecah sementara Asih dan Sapto menunduk menghindari peluru yang beterbangan. Mobil melaju ke belakang kembali masuk ke pabrik. Meski sudah remuk, kaca depan masih menempel dan menghalangi pandangan. Asih bergegas menendangnya. Lalu terus melaju melewati jalan keluar lain. Lena dan pasukannya kembali masuk ke mobil mereka lalu mengejar Asih dan Sapto.

Kejar-kejaran berlangsung beberapa lama. Sapto berkali-kali menembakkan senapan ke arah mereka. Beberapa mobil polisi pun hancur dan akhirnya mereka tak mengejar lagi. Asih dan Sapto akhirnya bisa selamat. Mereka pun meneruskan perjalanan mereka. Namun sebelumnya mereka harus mencari bengkel yang aman untuk memperbaiki mobilnya. Karena sudah malam, mereka hanya bisa menemukan bengkel yang sudah tutup. Sapto harus menggedor-gedor pintu bengkel. Sepertinya pemiliknya sedang tidur.

“Ya … ya … ya …!” teriak si montir dari dalam.

Tak selang berapa lama, akhirnya si montir pun membukakan pintu.

“Tolong perbaiki mobil kami,” pinta Sapto.

“Kami sudah tutup,” kata si montir yang sekaligus pemilik bengkel tersebut.

“Tolong,” kata Asih sambil menyodorkan satu gepok uang.

Sang montir pun akhirnya mau, namun setelah mobil masuk ke bengkel dan melihat kondisinya. Si montir geleng-geleng kepala.

“Ini akan memakan waktu satu bulan paling cepat,” kata montir.

“Tak perlu bagus-bagus, yang penting kami bisa sampai ke pelabuhan pagi ini,” jelas Sapto.

“Itu tidak mungkin, mesinnya saja bocor, kalian beruntung bisa sampai kesini.” Si montir menjelaskan.

“Ini aku tambah,” Asih memberinya dua gepok lagi. Jadi semua tiga gepok.

“Sepertinya kalian orang kaya, kalian punya puluhan gepok?” tanya si montir.

“Apa!! Itu pemerasan puluhan gepok hanya untuk memperbaiki mobil!” Teriak Sapto.

“Bukan untuk memperbaiki mobil, tapi untuk ini.” Si Montir menunjukkan sebuah mobil Chevy Impala tahun ‘60 berwarna merah yang sangat mulus.

“Wow …,” Asih kagum.

“Daripada memperbaiki mobil kalian, lebih baik beli saja mobilku ini,” ujar montir.

Sapto pun mengambil ransel lalu menumpahkan separuh isinya ke lantai.

“Segini cukup?” tanya Sapto.

“Ya … Ya, cukup banget. Tapi aku harus menyiapkannya dulu. Bannya harus diganti, dan tentunya kalian akan butuh bensin full kan?” Montir itu terlihat sangat senang melihat uang yang Sapto berikan lebih dari cukup.

“Berapa lama?” tanya Sapto.

“Nggak sampai sejam. Kupastikan mobil ini dalam kondisi prima. Kalian benar-benar membawa keberuntungan. Tunggu saja di sebelah, silahkan ambil makanan atau apapun sesuka kalian.” ucap montir itu.

Ternyata di ruang sebelah ada sebuah cafe dan mini market kecil. Asih duduk ke sebuah kursi untuk istirahat. Sapto mengambil beberapa makanan dan minuman dari minimarket dan dibawanya ke depan Asih.

“Hey, kenapa kau sedih?” tanya Sapto.

“Aku baru membunuh Reno, bagaimana aku nggak sedih?” Asih balik bertanya.

“Pertama, Reno itu bajingan. Kedua, aku yang membunuhnya, bukan kamu.” jelas Sapto sambil makan.

“Ya, tapi aku yang menyuruhmu.”

“Bagaimanapun juga aku akan membunuhnya tanpa kau suruh. Cuma … mungkin aku lebih memilih membunuh Lena dulu baru Reno.”

“Aku … aku hanya kecewa saja, selama ini Reno membohongiku. Dia selalu terlihat baik. Bahkan dia repot-repot mempertaruhkan nyawanya hanya untuk mengambil alamat anaknya Iwan. Dia sangat peduli dengan orang lain selama ini.” Asih menjelaskan.

“Tidak juga, jika dia begitu peduli, kenapa surat ini masih ada padaku, dia bahkan tidak sadar surat ini masih ada padaku.”

“Hah, mungkin kau benar, dia hanya berpura-pura peduli.” kata Asih.

“Selama ini dia sudah mengkhianati kita, mungkin dari awal mengenalmu dia sudah mengkhianatimu. Kau anak orang kaya, mungkin sebenarnya memang kekayaanmu yang membuat dia tertarik padamu. Saat membuat janji dengan Iwan, dia tidak benar-benar berniat untuk menepatinya karena tahu Iwan pun akan mati. Dia juga sama saja dengan Lena, dia lebih memilih uang yang lebih besar dari lukisan itu. Saat di markas, aku curiga dia mendapat kabar dari Lena kalau lukisannya masih ada pada salah satu dari kita. Itu kenapa dia mengarahkan Wendi untuk menemukan bomnya. Padahal dari awal dia mau kabur sendiri dan meninggalkan kita semua mati di sana. Buktinya hanya mobil dia saja yang sudah siap. Terus saat di pabrik tadi, kau pikir bagaimana Lena bisa mengetahui jika bukan Reno yang memberitahu? Dari awal Reno sama sekali tidak peduli dengan kita.

“Dan aku sepertinya lebih memiliki jiwa peduli, jadi aku ingin membaca isi surat ini.”

“Haha … itu lebih ke kepo daripada peduli.”

“Mau aku bacakan?”

“Silakan …”

“Untuk anakku Alisa, maaf papa tidak bisa menemuimu. Namun suatu saat papa pasti akan menemuimu lagi. Bukan esok, bukan bulan depan, maupun tahun depan. Tapi percayalah, kita akan bertemu lagi. Saat ini papa ada di tempat yang sangat jauh bersama teman-teman papa yang sangat ramah. Mereka sangat lucu-lucu. Nama mereka seperti angka-angka Sansekerta yang pernah Alisa ajarkan pada papa. Papa mungkin pernah jadi guru SD, tapi bagi papa, Alisa adalah guru papa yang paling genius.

Sunya teman papa paling dewasa, dia seperti nenek ketika marah. Eka orang yang baik, tapi sepertinya dia suka berbohong, Alisa jangan jadi orang seperti dia ya? Terus Dwi adalah sahabat papa, dia bukan orang baik, dia suka melakukan tindak kriminal, namun dengan papa dia sangan baik, bahkan ia yang membantu papa mengumpulkan uang ini. Jangan khawatir, uang ini uang halal. Papa dan teman-teman memulai bisnis perbankan disini, ayah bisa menghasilkan uang yang banyak di sini. Jadi jangan khawatirkan papa.

Tri satu-satunya teman wanita papa, dia cantik dan lugu. Tenang saja papa tidak akan jatuh cinta dengannya. Tri pacarnya Eka, dan papa juga masih setia dengan almarhumah ibumu. Papa juga berteman dengan seorang pembalap, namanya Catur. Alisa pasti akan senang melihat mobil balapnya. Apalagi saat dia melaju dengan sangat cepat. Ada juga teman papa namanya Panca, dia sangat ahli dengan komputer. Dia mengajariku membuka akun facebook Alisa. Papa sangat senang bisa melihat foto-foto Alisa di sana. Alisa sangat cantik, dan sudah besar sekarang. Alisa jaga diri baik-baik ya, jangan mudah ditipu para lelaki.

Ada teman papa, namanya Sat, dia tidak banyak bicara. Papa juga tidak begitu mengenalnya. Mungkin dia agak kelainan. Dan yang terakhir teman papa yang namanya Sapta. Dia sangat galak, namun kadang tingkahnya juga lucu. Papa pikir dia sebenarnya orang pintar, baik, dan memiliki empati yang tinggi. Hanya saja dia terlalu menyembunyikannya. Tapi papa bisa lihat dengan jelas, bahkan papa tahu persis kalau Sapta mencintai Tri. Begitu juga sebaliknya, Tri juga diam-diam menaruh hati pada Sapta. Jika tidak ada Eka, papa yakin mereka akan jadi pasangan serasi.

Alisa sayang, papa bahagia di sini bersama teman-teman papa. Papa harap Alisa juga bahagia di sana.

Papa sungguh ingin melihatmu masuk ke SMA, perguruan tinggi, dan menemanimu saat Alisa berhasil menjadi Profesor ahli sejarah seperti cita-citamu. Meski papa tak bisa melakukan itu sekarang, papa harap uang ini bisa mengantarmu menuju apapun cita-citamu dan membiayai seluruh biaya rumah sakit sampai Alisa sembuh. Papa yakin Alisa bisa menggunakan uang ini lebih bijaksana dari papa.

“Selamat tinggal Alisa, peluk dan cium dari papa yang selalu merindukanmu. Papa.” Sapta membaca surat Iwan sampai terbawa suasana. Asih pun sampai meneteskan air mata.

“Surat yang indah,” ujar Asih.

“Huft…, sebaiknya aku mengirimkan surat dan satu ransel ini padanya. Kurasa sekarang jadi tanggung jawabku.”

“Ya, mungkin montir itu tahu di mana kau bisa mengirimnya di sekitar sini.”

Sapto pun pergi ke ruang dimana montir itu bekerja.

“Hey, kau tahu di mana perusahan ekspedisi di dekat sini?” tanya Sapto.

“Mau ngirim paket?” Si montir balik bertanya sambil memasang ban mobil.

“Iya,”

“Taruh saja disitu, jangan lupa alamatnya ditulis.”

“Maksudnya?”

“Bung, ini bengkel, cafe, mini market, dan juga ekspedisi,” kata si montir dan ia pun berhenti mengerjakan mobil untuk ngobrol dengan Sapto.

“Serius?” Sapto melihat ke sebuah banner bertuliskan Hasta Rejeki, Bengkel, Cafe, Mini Market, dan Ekspedisi.

“Taruh saja di situ, besok aku suruh kurir mengirimnya.”

“Jadi, kau yang punya ini semua?” tanya Sapto.

“Ya, cuma aku memang suka jadi montir, ini hobiku dari dulu.”

“Haha …“ Sapto melihat lagi nama di banner tadi.

“Kenapa tertawa?”

“Nggak apa-apa, jadi kau anak ke-delapan ya?”

“Yup, benar sekali. Bagaimana kau tahu?”

“Namamu …” sambil menunjuk banner.

“Haha, Hasta, iya itu namaku. Jadi mengirim paket?”

“Oh, iya …”

“Masukan saja di kardus itu, aku tak peduli apa yang kau kirim, langsung saja segel lalu tuliskan alamatnya di atas,” kata Hasta sambil kembali memasang ban mobil.

Sapto pun memasukkan surat dan satu tas ransel ke dalam kardus, menyiapkannya untuk dipaketkan ke anak Iwan. Mobil pun sudah siap pakai, tas-tas dan peralatan tempur juga sudah dipindahkan ke mobil Chevy yang baru.

“Ini surat-suratnya,” kata Hasta sambil menyodorkan satu amplop besar berisi surat-surat kendaraan.

“Ya, terimakasih,” ucap Sapto.

“Mobilmu yang lama bagaimana?” Hasta bertanya.

“Untukmu saja,” jawab Asih.

“Jangan lupa paketnya dikirimkan,” pesan Sapto sambil menancap gas.

Hasta hanya memandang mereka pergi sambil tersenyum.

Asih dan Sapto pun melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan.

“Aku hanya menurut dengan Peta, tapi sebenarnya pelabuhan mana kita menuju?” tanya Sapto.

“Pelabuhan Ujung, Surabaya,” jawab Asih.

“Hmm … kita akan berkendara sepanjang malam.”

“Mungkin juga akan melewati pagi.”

“Yah, kuharap pagi nanti kita masih bernafas.”

Mereka terus melaju kendaraannya, sempat beberapa kali mereka bergantian menyetir.

Mentari belum juga muncul, namun cahaya lain yang tidak mereka harapkan kembali muncul. Cahaya kerlap kerlip lambu sirine polisi mengejar mereka dari belakang. Mereka kembali berperang sekuat tenaga. Kali ini mobil-mobil polisi yang mereka lawan jauh lebih banyak. Asih yang mengemudi saat itu, sementara Sapto terus menembaki polisi dengan amunisi yang semakin menipis. Asih tertembak di bagian perut, namun ia terus bertahan mengemudikan mobil.

“Asih, kau tidak apa-apa?” tanya Sapto.

“Jangan khawatirkan aku, singkirkan saja mereka.”

“Bertahanlah, akan kubunuh mereka semua.”

Sapto semakin membabi buta. Mungkin dalam hati, dia sebenarnya sudah putus asa melawan banyaknya polisi itu. Beberapa kali Sapto tertembak, mulai dari tangan, bahu, pipi, hingga perut. Sampai akhirnya amunisi yang ia miliki habis. Sapto juga sudah kehabisan akal, dia membuang senapannya. Dia hanya terdiam dengan separuh badannya di luar jendela.

Mentari mulai muncul, Sapto memandang ke ufuk timur memandang sejenak keindahan cahaya itu meski di tengah-tengah keterpurukannya. Sampai tiba-tiba satu peluru melesat ke dada kiri Sapto dan terjebak di dalamnya. Sapto tidak terjatuh, sambil menekan lukanya Sapto masuk kembali ke dalam mobil dan merebahkan tubuhnya.

“Sapto, jangan tinggalkan aku!” teriak Asih.

“Tidak Asih, aku takkan meninggalkanmu,” ucap Sapto lemah.

“Aku sudah tak punya siapa-siapa lagi.”

“Kau harus tetap hidup, menyerah saja pada mereka, dan kembali ke orang tuamu.”

“Aku bukan kabur, mereka yang mengusirku, aku tak bisa kembali.” Asih terpaksa berhenti karena di depan sudah banyak sekali polisi menghadangnya.

“Menyerah sekali ini saja untuk hidup. Namun jangan pernah menyerah setelahnya.”

“Kata-katamu membuatku bingung.”

“Haha …”

“Kenapa kau masih bisa tertawa?”

“Kau ingat kata-kataku? Aku berharap waktu itu, jika pagi ini kita semoga masih bernafas. Dan disinilah kita, masih bernafas. Bahkan mentari begitu hangat menyambut kita. Lihatlah, indah kan?”

“Ya, kau benar, aku jadi teringat suratnya Iwan. Dia menceritakan kita semua dengan caranya sendiri,” ucap Asih ambil meneteskan air mata.

“Dia bahkan tahu jika aku mencintaimu.”

“Dia juga tahu jika aku menaruh hati padamu.”

Sapto hanya terdiam saja.

Sapto, Sapto …” Asih memanggil-manggil Sapto sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya, namun Sapto tak merespon sedikitpun, dia sudah tak bernyawa lagi.

Di antara puluhan polisi di depan Asih, dari kejauhan terlihat Lena keluar dari salah satu mobil polisi, samar terlihat juga ia meletakkan lukisan itu di atas dasboard mobil. Asih mencoba mencari-cari senjata berharap masih ada meski hanya satu peluru tersisa. Namun Asih hanya bisa menemukan sebuah pelontar granat dan hanya ada satu granat tersisa.

Asih pun menggenggam pelontar granat itu lalu keluar dari mobil. Dia melihat ke sekeliling, dia benar-benar sadar dia memang sudah terkepung, puluhan polisi di samping depan dan juga belakang sudah siap siaga mengarahkan senapan mereka ke arah Asih. Pilihannya hanya menyerah atau mati. Asih memandang tubuh Sapto sejenak, lalu memandang mentari terbit untuk terakhir kali. Asih pun bergegas berjalan ke depan menuju ke arah Lena berada, kemudian berhenti. Dia sadar jika melangkah sekali lagi dia akan dihujani peluru. Lena terlihat bingung dan hanya bisa menerka-nerka apa yang akan dilakukan Asih.

Tanpa berfikir lebih lama lagi, akhirnya Asih menembakkan granat ke arah Lena. Semua menjadi berantakan. Sebagian polisi mencoba berlari menghindari granat, sebagian lagi menembaki Asih bertubi-tubi. Sebagian lagi seakan hanya terdiam seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tubuh Lena hancur terbakar bersama lukisan kesayangannya. Entah lukisan itu asli ataupun tidak, tak ada lagi yang akan mempersoalkan. Seluruh dunia tahu lukisan itu telah menjadi abu bertahun-tahun yang lalu. Dan kini ia menjadi abu lagi, dari abu kembali ke abu.

Seperti kenangan-kenangan indah manusia, jika terlalu lama kita kenang, itu hanya membuatnya mengusang tak berarti. Bersama lemahnya ingatan kita saat menua kenangan-kenangan pun memudar hilang. Lebih baik habis terbakar, itu membuatnya menjadi abadi, meski hanya dalam sebuah cerita. Cerita yang abadi.

Semua selesai sudah, meski tak seperti yang diharapkan, mungkin ini yang terbaik. Semua akan mati pada akhirnya, polisi korup biarlah terbakar, Asih pun bisa tenang bersama kekasih barunya di alam sana. Meski perih peluru-peluru tajam menghujani tubuhnya. Ia kan rela, mereka pasti kan rela. Lalu siapakah kita berani meramalkan kemana mereka yang mati karena cinta.

—Tamat—

“Menuju Ujung Dunia”

karya Fulan Az Zahwan

Wonosobo, 20 Maret 2018

Photo source : Goodfellas

Tinggalkan Balasan