Kam. Mei 13th, 2021

Musim hujan, nih!

Musim dalam versi pengetahuan yang dipegang petani atau nelayan diwariskan secara oral (dari mulut ke mulut). Selain itu, ia bersifat lokal dan temporal (dibatasi oleh tempat dan waktu) sehingga suatu perincian yang dibuat untuk suatu tempat tidak sepenuhnya berlaku untuk tempat lain. Musim dapat dikaitkan pula dengan perilaku hewan, perkembangan tumbuhan, situasi alam sekitar, dan dalam praktiknya amat berkaitan dengan kultur agraris.

Kawanan semut yang bermigrasi,  jangkrik yang mengerik dan  laba-laba yang membangun jaring mereka adalah beberapa ciri perubahan musim. Berdasarkan ciri-ciri ini setahun juga dapat dibagi menjadi empat musim utama dan dua musim “kecil”: terang(“langit cerah”, 82 hari), semplah (“penderitaan”, 99 hari) dengan mangsa kecil paceklik pada 23 hari pertama, udan (“musim hujan”, 86 hari), dan pangarep-arep (“penuh harap”, 98/99 hari) dengan mangsa kecil panèn pada 23 hari terakhir.  Namun, baru sekarang asumsi ini secara ilmiah telah dikuatkan.
Dalam sebuah penelitian digambarkan bahwa tiga spesies yang berbeda – seekor kumbang, ngengat dan kutu kentang – semua menjadi kurang aktif secara seksual ketika tekanan atmosfer turun. Diperkirakan serangga menggunakan reseptor rambut seperti kecil untuk merasakan perubahan tekanan.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: