Sen. Okt 21st, 2019

NOL oleh Indah Patmawati

NOL
oleh Indah Patmawati

     Ini malamku yang ke delapan belas, terdampar di Kota eksotik yang banyak menorehkan kenangan cinta, saat aku pertanyakan sekali lagi kesungguhan cintamu padaku. Kau hanya tersenyum, tidak ada kata sepatah pun. Sementara aku blingsatan mereka-reka kalimat untuk memukul mundur niatanmu mengulur waktu pernikahan kita. Aku sudah begitu tua!

     “Santai sajalah, say,” begitu selalu katamu sambil cengengesan.

     Kampret! Santai gimana, aku sudah keluar uang banyak untuk membiayai hidupmu dan keluarga besarmu. Demi cinta yang telah menutup kedua mataku dari kenyataan dan kebenaran. Sekarang kau berkelit-kelit seumpama ular, berusaha mengelak dengan berbagai alasan.

     “Tidak bisa!” jawabku tegas.

     “Kok marah, say. Iya iya…kita menikah,” jawabmu kalem.

     Aku menjadi berang dengan sikapnya yang seolah menggampangkan. Kenapa baru kali ini aku menyadari lelaki seperti apa yang selama ini menguras energiku.

     “Aku hamil!” kataku pelan.

     “What???” jawabmu seperti orang kesetrum.

     Membuat perutku tiba-tiba mual melihat ekspresimu yang seolah tidak berdosa. Ya Tuhan, makhluk apa yang tengah berdiri di hadapanku ini. Begitu naifnya aku telah mencintainya dengan tulus lahir batin. Rela berbagi kekayaanku dengan pecundang yang tak bertanggungjawab.

     “Kenapa bisa hamil say? Denganku kah itu?” pertanyaan murahan yang keluar dari mulut sampahmu.

     Aku malas menjawab, lalu pergi setelah membungkus hatimu dalam tas kresek hitam dan membuang ke selokan.

     Kau tak mungkin berteriak dan cengengesan lagi padaku.

#pentigraf

Pendem ~ Batu, 17.8.17

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: