NUKILAN ROMANTIS MATA HATI CHENDANA BIRU

0
370

001
Senja
———

Sayang,
Di antara warna-warna mega
Kusematkan sebutir mentari di sana
Agar ia bercahaya
Menjadi lampu indah kenangan
Tak lagi hitam
Seperti semalam

Sayang,
Seandainya senja ini hujan
Aku ingin meminta dekapan
Untuk hangat sepanjang malam
Mengusir gigil mimpi yang ngeri
Dan menyambut debarmu sebagai puisi

Sayang,
Apakah senja di sana sama
Aku berharap kau bisa melihat kita
Saling menatap langit jingga
Dan menyerahkan sepi pada waktu
Untuk pertemuan di dalam doa
Yang dibaca oleh rindu

Sayang,
Tak tertulis lagi rasanya
Hanya rintik airmata yang ada
Menitis di atas lembar
Satu-satu membasahi huruf
Cair tak terbentuk
Bersama rindu aku pun hanyut

Chendana@biroeku
Dili, 16062018, 1959pm

[divider]

002
Rindu Ini Untuk Cinta
———————————–

Dalam perjalanan matahari
Yang baru bermula
Sudah kusiapkan airmata
Dan segenggam doa
Di dalam monolog udara
Sebentuk kata sebagai sajak cinta

Sejak dinihari
Embun mulai menyetubuhi malam
Melahirkan pagi
Dalam kelopak Jun yang masih anggun
Menjadi bunga kenangan
Di kamar kita yang kesepian
Belum ada kisah tentang pertemuan

Aku memeluk dingin mimpi sendiri
Pada selimut dan bantal
Di tiap sudut dan ruang
Di tiap angka jam

Nombor-nombor di kalendar
Waktu yang sulit beredar
Hanya bisa membelai diam
Di halkum pagi
Tak bisa ditelan
Oleh banyak perkataan

Kusisihkan sedikit sunyi
Di langit pagi yang masih kelam
Berbagi pada awan
Yang baru tumbuh di gelegar cakrawala

Sedikit pada hujan
Yang masih disimpan di mata mentari
Selebihnya telah kutitipkan pada bulan yang hampir habis
Di ranting cemara yang menangis

Pagi ini,
Aku merindukanmu kekasih..

Chendana@Biroeku
Dili, 16062018, 0655pm

[divider]

003
Malam Indah Kita
—————————–

Melirik gundah di dalam
Bingkai malam
Mengisar kesepian
Di dalam lesung kenangan
Desau angin meritmakan gelap
Bayang-bayangmu yang sesaat
Melintas sekilas lalu hilang dalam dekap

Kulipat hujung kertas sajak
Selembar rindu mengombak jarak
Antara paduan ayat
Melangkau baris dalam senyap
Menulis kekasih tanpa harakat

Langit hitam membaca doa
Dalam cahaya purnama
Merapal namamu yang kupuja
Kusyairkan dalam degup tanpa suara
Memuja-mujimu pada Yang Esa

Lihatlah di sana
Sebutir kejora tersenyum manja
Menganyam sinar di balik mega
Mencumbui bibir cakrawala
Malam indah kita
Di ranjang asmara

Chendana@biroeku
Dili, 17082018, 2136pm

[divider]

004
Nada Cinta
——————

Mempesonakan sekali
Terlantun dalam petikan jari
Tumpah menjadi bait puisi
Mengisi rongga rindu di bulan Juni
Meniduri kembali luka ini

Di sini kunukilkan abjad-abjad
Tanpa hijab
Makna-makna indah tersurat
Megah terungkap
Kukirim sebagai surat
Tanda hati kita terikat erat

Noktahkan saja
Seperenggan di sana
Tentang kecewa
Lara
Pedih
Sedih
Yang masih berkelana

Kemarilah
Aku menjadi hentian
Untuk kau pulang
Merebahkan resah
Mematahkan tangkai gelisah
Yang masih merah

Bersamaku
Kita rangkaikan irama
Nada-nada cinta
Kelopak-kelopak asmara
Kita cantumkan semula
Di dalam doa
Penuh sejahtera

Chendana@biroeku
18062018, Dili, 1815pm

[divider]

005
Pergantian Waktu
——————————

Gulungan-gulungan ombak
Tak mengenal lelap
Di bibir pasir
Ia mendarat
Mencumbu tanpa keringat

Mendekap hangat mentari
Lalu lebur
Menjadi buih-buih kecil
Sisakan rindu
Yang tak ingin pergi

Laut itu
Seperti resahku
Meniti permatang hati
Menumbuk
Segenggam harapan
Diam-diam membuatku karam

Di sisi perjalanan
Pagi, senja dan malam
Menjual seribu ingatan
Tentang kelmarin yang hilang
Terlepas dari dekapan

Seribu bayang
Terukir di batu-batu
Memahat senyum bisu
Yang beku dalam tunggu

Di paras waktu
Sepi mengambang
Tanpa lukisan
Wajah rindu
Menjadi kenangan

Chendana@biroeku
18062018, Dili, 1934pm

[divider]

006
Kujaga Rasa Ini Untukmu
—————————————–

Angin sore
Mengirim pesan
Sepasang hati yang kerinduan
Membekam dalam diam
Bergeming dalam hening

Apakah telah tersampaikan
Wangi sekuntum kembang
Yang kupetik di lereng kenangan
Sebagai persembahan manis
Harum yang magis
Untukmu sayang

Akan tetap kukirimkan
Sepanjang usia kedewasaan
Biarpun mentari menua
Dan bulan tak lagi remaja
Takkan pernah tergantikan
Dirimu sayang

Kau telah menjadi jawapan
Dari banyaknya doa semalam
Saat aku bertanya pada Tuhan
Dalam puisi-puisi tak berperenggan
Dalam tidurku yang tak diam

Akan selalu kujaga rasa ini
Melewati waktu tanpamu di sisi
Jarak tak lagi memberi arti
Sepi tak bisa membunuh hati
Karna kita bukan lagi mimpi
Dan rasa ini saling kita miliki

Chendana@biroeku
19062018, Dili, 1016pm

[divider]

007
Perempuan Sukma
——————————-

Takkan pernah aku tanyakan
Seperti apa kau mencintaiku
Takkan pernah aku persoalkan
Sedalam mana rindumu

Biarkan aku berenang di dalam rasa
Membuka bilik hati
Menjamahi lukisan-lukisan sepi
Yang masih tergantung di sana
Walau sudah tak berwarna

Akan kujelajahi mimpi-mimpi
Yang masih akrab mendekap lelap
Akan kujagai tidurmu
Sepanjang malam kenangan itu
Akan aku usir igauan ngeri
Yang menjadi wajah luka seribu

Aku perempuanmu
Takkan pernah berhenti mencintai
Takkan pernah lelah mengubati
Akan aku perah sari airmata
Untuk kupersembahkan pada jiwa
Yang dahaga
Sebagai syarat untukmu bahagia

Chendana@biroeku
19062018, Dili, 1929pm

[divider]

008
Tanpa Sua
—————–

Seutas tali kasih mengikat hati
Kuat tak terlepaskan lagi
Tak bisa aku leraikan simpulan
Telah terikat setia dan kejujuran

Terlanjur mencintaimu
Di dalam mata hatiku
Yang kerap menangisi rindu
Di punggung waktu
Aku bagai di laut bergelombang
Menimang cemburu dan bimbang

Katakanlah sayang,
Tidak salah aku mencumbui perasaan
Kadang kutangkap bayang-bayang
Kupeluk dalam diam
Kusimpan antara debaran

Waktu sudah memulai percakapan
Dalam lembar Juni
Ketika mimpi meleleh di birai pagi
Dan dikemasi mentari
Aku sudah tidak takut lagi
Mencintai sepenuh hati

Aku takkan pernah tahu
Tentang rasamu padaku
Seperti engkau takkan pernah tahu
Tentang aku

Karna kita hanyalah sepasang rasa
Yang tak pernah bersua
Cuma sebatas rekayasa
Seorang penyair senja
Untuk puisi terakhirnya
Sebelum malam tiba

Chendana@biroeku
20062018, Dili, 0602am

[divider]

009
Nikmat Asmara
————————–

Kupasrahkan jiwa
Wahai pemilik rindu
Seluruh rasa yang kutahu
Dalam tatap mata kita
Setelah ijab membuka niqab
Menyentuh denting-denting hati
Melayari indah hidup ini

Seperti embun pagi
Yang kutemui diujung rumput ini
Bagai mutiara salji
Membiaskan warna mentari
Sebelum pergi
Menitipkan tasbih cinta
Di atas sehelai doa di dalam dhuha

Kini kita di mimbar bahagia
Keronsangkan senyum di bibir
Dalam pesona warna
Berbalut harum dan wangi syurga
Membakar hangat di dalam dada

Kita tak lagi dahaga
Cangkir rindu tak lagi meminta
Kita hirup nikmat asmara
Sesegar arak
Di telaga kauthsar

Chendana@biroeku
20062018, Dili,1015am

[divider]

010
Kita Dan Waktu
————————-

Aku tahu bagaimana waktu
Tidak memahami
Tentang kau dan aku
Menghadapkan kita
Dengan seribu pertanyaan
Lalu pergi tanpa meninggalkan jawaban

Kita terkial-kial di atas banyak alasan
Mencari di celah-celah hari
Dalam kemarau dan hujan
Di bilah-bilah mimpi
Antara bulan dan mentari

Entah sebanyak mana tanya
Kita tuliskan untuk Dia
Namun aku percaya
Tuhan punya banyak cara
Untuk rindu kita
Saling menjaga

Chendana@biroeku
20062018, Dili, 1825pm

Tinggalkan Balasan