Jum. Apr 10th, 2020

Pak Tua dari Tanah Jauh

Pak Tua dari Tanah Jauh

Aku mengenalnya sebagai seorang pengembara. Dia berasal dari desa yang jaraknya puluhan kilometer dari rumahku. Saat aku bertanya tentang bagaimana tidurnya, dia hanya menjelaskan bahwa tanah Tuhan itu luas, hanya itu yang aku tahu sekilas tentang dirinya. Perkenalan kami pada suatu warung kopi yang dekat dengan rumahku pun termasuk lucu, mulanya dia bertanya begini:

“Apa pekerjaanmu?”

“Aku bekerja untuk keabadian.” Jawabku.

Orang itu tergelak, tak henti-henti sampai dia jika aku tengah memperhatikannya dengan pandangan tidak suka.

“Tak ada yang abadi, kau bekerja untuk tuhan?” tanyanya mengejek, dan aku sudah menduganya. Orang-orang macam inilah yang aku cari. Yang setiap kata-katanya akan aku tulis untuk dicerca atau dipuja oleh generasi sesudahnya.

“Keabadian yang aku maksud bukan semacam itu, keabadian ini adalah keabadian dalam ukuran manusia.”

“Kau ingin jadi penulis? Apa yang hendak kau tulis? Kau akan membuat ilusi tentang hidup damai di desa, menggambarkan dangau-dangau petani sebagai cipratan surga? jangan bermimpi, di mana pun di negeri ini, semua sama, tak ada yang dapat makan dengan gampang. Sudahlah, jangan membuat kebohongan macam itu lagi…”

Apa maksudnya? Dikiranya aku main-main dengan ucapanku. Demi tuhan, aku tak pernah suka dengan basa basi, meskipun aku baru mengenalnya kali ini. Bagiku, kata adalah wakil raga.

“Ada yang salah dengan keputusanku?” aku bertanya geram.

“Kau seperti cerita tujuh pemuda dalam sebuah kitab suci. Hanya bedanya kau ditidurkan oleh penguasamu. Anak muda, di negerimu tak ada sejarah, yang ada hanya kepalsuan sejarah yang disembah-sembah. Jika kau tak mengikuti anjuran penguasamu, kau akan mati sebelum kau menggoreskan tintamu untuk yang pertama kalinya.”

Ouwh, ternyata dia mengkhawatirkanku. Tak apa, itu sikap wajar orang tua terhadap yang lebih muda. Lamat-lamat terdengar suara Napoleon beberapa abad lalu, “Sejarah adalah kesepakatan antara pihak yang berkuasa.”

Dan sejak itu kami sering bertemu, dari berbicara kesana-kemari tentang palawija, kopi atau jagung, sampai cerita tentang susahnya hidup pada masa penjajahan Belanda, dan berlanjut sampai sekarang. Sesekali kami bergaya sok politisi memikirkan urusan negeri ini, tentu saja tanpa ada tindakan lanjutan, persis seperti para politisi yang asli.

Atau jika aku tengah bergembira, aku mengajaknya singgah ke rumahku sekadar menghabiskan segelas teh wangi, lantas kembali ke warung kopi menghabiskan sore.

***

Waktu berjalan tanpa pernah berpihak kepada manusia, mengawal kisah hidup dengan dengan semena-mena. Kadang diperlambat, kadang dipercepat. Seperti aku yang memperlakukan masa lalu dengan semena-mena pula. Bayangan tentang pak tua Marno sudah berganti dengan slide-slide kehidupan yang lain yang menganggap dirinya lebih penting. Pak tua Marno sudah terkubur sama sekali oleh aktivitas-aktivitas yang membosankan. Aku tak lagi berpikir tentangnya, apalagi berpikir apakah dia sudah mati atau belum.

Aku kembali melihatnya setelah tiga tahun tanpa sua di sebuah warung kopi pada suatu hari pasaran di pasar kecamatan. Tak jauh dari rumahku. Wajahnya masih seperti tiga tahun lalu. Hanya sedikit lebih putih dan tampak kurus, hingga tulang rahangnya semakin menonjol. Dan siapapun akan segan bertatapan mata dengannya. Jika memakai istilah kawanku, “Sangar!”

“Sekarang kerja dimana? Atau masih bekerja untuk keabadian?” tanyanya ramah. Tak ada nada mengejek. Aku tersenyum.

“Tapi kita memang bukan peramal masa depan. Justru aku yang baru saja masuk penjara.” Lanjutnya.

Aku terperanjat, tapi segera kuperbaiki sikapku dengan bertanya, “Kenapa?”

Lama dia terdiam, aku kembali berpikir tentangnya setelah tiga tahun ingatan tentangnya ini terkubur oleh hiruk pikuk tak penting ini. Semacam reka-reka tentang kejahatannya tak mampu aku lukis dalam otakku. Dia terlalu baik buatku, hingga membayangkannya tengah melakukan kejahatan saja aku tak tega, terlalu sederhana, hingga akhirnya aku mengambil kesimpulan bahwa ini adalah pembenaran atas kata-katanya tiga tahun lalu, dan membuatku yakin jika ada yang salah dalam sistem di negeri ini, kenapa? Aku lebih percaya kepada petani tua sederhana yang lugu daripada kepada penguasa yang memang pekerjaannya menyalahkan rakyatnya. Sudahlah, biarkan dia bercerita sendiri.

“Aku sebagai tertuduh atas pencurian kayu di tanah desaku.” Jawabnya tenang.

Kami sama-sama diam lebih tepatnya aku tak tahu apa yang akan aku lakukan. Lanjutnya, “Dan tiga tahun adalah ganjaran atas perbuatan yang tidak pernah aku lakukan.”

“Dan kau tak melawan? Atau setidaknya menolak tuduhan itu?” aku bertanya.

Dia tersenyum, menusuk ulu hati yang sebagian orang menyebutnya nurani. Semacam humor tragis yang tak dapat disampaikan melalui media apa saja. Terlalu menyakitkan hingga hanya senyumlah yang dapat mewakili.

“Melawan manusia bersenjata? Atau melawan penguasa yang memang pekerjaannya mencari kesalahan rakyatnya? Membaca tuntutannya saja aku tak paham, apalagi menolak? Dari pengalaman itu juga aku menemukan hal baru, undang-undang yang katanya harus dipahami oleh semua orang di seluruh negeri ternyata dibuat rumit. Manusia memang sering aneh.”

Aku memerhatikan sekeliling kami, takut kalau-kalau ada yang mencuri dengar. Rupanya orang-orang tak peduli dengan pembicaraan kami. Mereka sudah larut dalam topik mereka sendiri. Aku agak lega.

“Bisa kau ceritakan kejadian yang membuatmu masuk penjara?” tanyaku hati-hati.

Dia tersenyum, seraya menghembuskan rokok tembakau racikannya sendiri, disini orang-orang menyebutnya lintingan. Lalu bersiap bercerita.

“Awalnya tanah itu adalah tanah adat. Tanah yang sudah dikuasai oleh leluhur kami secara turun temurun dan dikelola secara bersama-sama.”

“Lalu datanglah orang Belanda merampas tanah itu dari tangan kami melalui pemerintah desa bentukan mereka.”

Sambil menyalakan lintingannya, dia menatap mataku. Sebuah tatapan yang sanggup membuat siapa saja gemetar. Beruntung aku adalah temannya. Jadi aku tak perlu bersusah-susah untuk takut.

Angin musim kemarau berhembus dengan para debu yang bimbang. Lalu lalang orang-orang sudah tinggal satu dua. Beberapa pedagang tampak sibuk mengemasi barang-barangnya. Ini hari sudah mendekati sore. Tapi tak apa, toh biasanya warung ini buka sampai jam 11 malam, itu pun jika pak Marno mau menemaniku sampai selarut itu. Tak ada yang menjamin dia tak akan melanjutkan pengembaraannya.

Dia masih terdiam, piring tempat makanan kecil di depan kami sudah kosong, pemilik warung datang membawa sepiring penuh pisang goreng, lantas membawa masuk piring kosong itu.

Ah, seandainya hidup ini diperlakukan semacam piring itu, betapa tak adilnya dia. Orang yang tak bisa dimanfaatkan akan disingkirkan begitu saja, diganti dengan mereka yang berotak penuh, penuh dendam, penuh nafsu ingin menguasai saudaranya yang lain dan segala penuh yang menafikan kemanusiaan. Kenapa yang kosong itu tidak diisi saja? Biar sama-sama punya tugas dan saling mengisi. Agar hidup lebih punya proporsi dan komposisi.

Dia hendak kembali bercerita, aku membetulkan letak dudukku, tak ingin terkesan menyepelekan. Aku pun sudah terlanjur mendengarkan, mati penasaran jika aku atau dia menghentikan ceritanya sebelum habis.

“Dan setelah tanah itu diserahkan kepada kami oleh Belanda, tanah itu tak pernah kembali kepada kami. Tanah itu dijadikan kawasan yang tak boleh terjamah oleh siapa pun, kami hanya diberi keleluasaan untuk mengolah di pinggiran hutan dengan tumpukan syarat yang sangat memberatkan kami. Tapi kami hanya bisa membiarkan, keberatan kami tak pernah didengar.”

Pak Marno menelan ludah, “Kami juga sama sekali tak berharap jika tanah itu diberikan sepenuhnya kepada kami. Kami sadar diri, kami orang miskin yang sangat miskin. Jika tanah itu diberikan sepenuhnya kepada kami, kami takut ketika kami membutuhkan uang, kami menjualnya kepada para tuan tanah. Dan selamanya kami akan mejadi buruh tani yang tak berdaya dan kurang perhatian…”

“Lantas?” Aku bertanya sambil masaih mencerna kata-katanya.

“Biarlah tanah itu menjadi milik negara, ini lebih menjamin kehidupan kami. Tapi sistem bagi hasilnya harus jelas dan adil, tak perlu tetek bengek syarat yang justru mengaburkan kesepakatan itu. Kami lebih tahu bagaimana cara memerlakukan tanah kami. Dan kami punya semuanya selain tanah.”

“Lalu sampai pada penangkapan itu?” aku mengalihkan pembicaraan. Aku belum tertarik pada persoalan panjang tentang tanah. Suatu saat jika aku sudah siap, aku kan bertanya kepadanya.

“Sebagian tanah itu adalah hutan, dulu leluhur kami memang sengaja menyisakan tanah itu untuk dijadikan hutan rakyat. Dari sana kami bisa membangun rumah, mendapat ranting-ranting pohon dan sebagai sumber mata air. Dari dulu pula kami tak pernah berlebihan terhadapnya.”

Desahan napas terdengar berat dan keras.

“Setelah hutan itu diambil alih, kami sama sekali tak diperbolehkan mendekatinya, apalagi masuk. Moncong senapan selalu diarahkan kepada kami. Hanya ada perjanjian kecil yang memperbolehkan kami masuk. Dan karena itulah tiga tahun aku diistirahatkan di penjara.”

“Saat itu kami ke hutan hendak mengambil kayu untuk tiang masjid di desa. Lalu dari kejauhan tampak beberapa orang bersenjata api mendekati kami. Kami biasa saja, kami pikir mereka hanya sekadar hendak menyapa kami. Tapi ketika mereka sudah berada sekitar 25 meter dari kami, terdengar suara letusan. Seketika itu kami lari kocar-kacir. Pikirku ini bukan waktu yang tepat buat bertegur sapa.”

“Kami terus berlari, letusan itu terus menjadi, aku pun terus berlari. Sampai kemudian orang-orang yang melihat kepulanganku menatap iba padaku. Ternyata di rumah sudah menunggu para polisi yang hendak membawaku ke kantor. Orang-orang kampung, seperti halnya seperti aku, tak bisa berbuat apa-apa. Hanya tatapan mereka yang mengisyaratkan bahwa mereka mendukungku.”

Dia mulai meracik tembakaunya. Sejenak hening. Ada kegalauan yang hendak diterbangkan bersama tembakau lintingannya. Sepertinya sangat berat.

“Akhirnya aku dibawa ke sel tahanan dengan tuduhan yang sangat memalukan, pencuri kayu! Dan tak ada pembelaan dari siapa pun, bahkan selalu dipojokkan. Hanya orang kampung yang saban seminggu sekali berdemonstrasi menuntut pembebasanku.”

“Kenapa yang ditangkap hanya satu orang, bukankah yang hendak menebang kayu lebih dari seorang?” aku bertanya.

Pak Marno hanya tersenyum, “Kau memang perlu banyak belajar. Tak aku katakan kenapa, suatu saat kau akan tahu kenapa bisa terjadi hal demikian. Juga jangan kau anggap suasana di desamu sama dengan suasana di desaku. Jauh…”

Aku terdiam, dia menepuk pundakku seraya pergi, tepat pada saat beduk Maghrib bergema. Sambil berkata, “Itu negerimu, sementara waktu aku belum punya negeri. Sebab negeriku ada hanya untuk kemakmuran rakyatnya. Maka jika kemakmuran masih jauh dari rakyat dan hanya menjadi bahan kampanye, negeriku masih hanya menjadi negeri bayang-bayang.”

Kali Ireng, 070509

Karya Itox VC

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: