Sab. Mei 8th, 2021

Penantian 11 Tahun

ACTION 2 – Penantian 11 Tahun – Gubug Batu Tanah BasahApakah  kamu tahu? Apa yang kupikirkan beberapa detik terakhir ini? Saat segalanya tiba-tiba terasa ringan dan seakan terbang menjauh dariku begitu saja? Hanya sejumlah  hal tentangmu yang begitu jelas memenuhi pikiranku. Bingung, dan aku merasa melihatmu. Kurasa itu kamu yang ada di depanku sekarang.

Melihatmu ada  membuat ingatanku berputar kembali  ke 11 tahun yang silam.Pada bulan yang  sama, ,suatu  pagi  di September yang menjemukan dan sedikit unik. Ya, Aku pertama kali bertemu denganmu. Aku, lelaki dengan payung diakhir musim kemarau. Hujan memang belum kunjung tiba, tapi entah  mengapa aku merasa sangat ingin membawa payung itu. Aneh dan sedikit kemayu. Tapi ternyata Tuhan punya rahasia lain.

***

Pastinya kamu  ingat, saat aku hampir mati  kaget dan tersedak. Air teh botol yang sedang kunikmati tersembur keluar gara-gara terkaget olehmu. Muncul tiba-tiba untuk memohon meminjam payungku. Mahluk mungil pipi gembil, mata membulat dengan mimik penuh harap.

“Mas, pinjem payungnya ya. Payungku hilang, tadi aku sudah bawa, tapi aku ga tau sekarang di mana” pintamu dengan cemas memelas.”

Tanpa menunggu ijin dan jawaban, kamu langsung ngeloyor pergi membawa payungku, meninggalkan aku yang terpaku. Aku belum tahu kamu itu siapa, anak mana, rumah di mana, benar-benar gadis dari antah-berantah. Aku menduga kamu adalah salah satu dari kesekian mahasiswa baru yang sedang menjalani orientasi di salah satu kampus dekat situ. Hari itu pun berlalu begitu saja, datar, dengan satu tanjakan satu kejadian.

***

Keesokan paginya, aku terbangun oleh telepon petugas hotel tempat aku menginap, dan diberitahu bahwa ada yang sedang menungguku di lobby. Akupun bergegas kesitu.

“Mas, ini payungnya aku  kembalikan. Terimakasih ya. Kemarin aku bener-bener ga tau payungku ada di mana, padahal aku udah nyiapin lho. Sungguh! Maaf ya Mas. Bener-bener aku minta maaf, pinjam payung tapi langsung ninggalin Mas begitu saja.”

Mimpi apa aku, pagi-pagi sudah dapet sarapan kata-kata darimu yang ramai seperti itu.
“Iya, gak papa Mbak, santai aja. Payung itu fasilitas hotel kok” jawabku.
 “Oh….Ya sudah, aku Cuma  ingin mengembalikan payung mas. Kalau begitu aku balik dulu ya Mas, terimakasih banyak” kamu langsung buru-buru ingin pamit.
“Eh mbak, tunggu sebentar…ada yang mau aku sampaikan ke Mbak. Sebentar saja kok”
Akupun bergegas kembali ke kamar hotel,  teringat tentang payung lain yang aku temukan kemarin. Payung mungil berwarna ungu, yang tergeletak dekat halte.
“Kemarin aku nemuin ini, kurasa ini punya Mbak”
Senyummu mengembang. Kamu tahu?  Senyum itu  adalah senyum terindah yang pernah aku dapatkan. Ya, bahkan sampai saat ini. Menatap matamu yang berbinar senang. Hatiku entah kenapa juga turut mengembang senang.
“Itu payung unguku….Duh kok Mas bisa tau kalo payung ini punyaku? Ini memang payungku. Kemarin sampe bingung dan putus asa  nyariin nya. Ah..syukurlah kalo sudah ketemu. Mas, makasih lagi ya” sambutmu segera penuh suka cita.
“Iya, sama-sama. Mbak..em…boleh tahu nama Mbak siapa ya?” tanyaku berlanjut.
“Namaku Asa. Kalo nama Mas siapa?”
“Asa? Nama kita mirip. Namaku Ara.”
Dan sentuhan  pertama di antara kita pun terjadi. Sedetik.. ah tidak…itu sekitar 2 detik. Dan aku tidak akan bisa melupakan waktu itu. Apakah kamu juga mengingatnya? Suatu awal di bulan September 11 tahun yang lalu.?***

Sejenak pikiranku  berlompatan di antara labirin-labirin kenangan  tentangmu. Berlari membuka satu pintu ke pintu yang lain, keceriaan yang sudah lama tidak pernah aku rasakan. Seperti main petak umpet benda, dengan detail kenangan tentangmu sebagai targetnya. Menyusuri tepian  jalan, mengomentari lekuk-lekuk pohon, menertawai bayangan  kita sendiri di kaca etalase, saling memperhatikan saat makan dan mengunyah, menikmati gamit tanganmu saat menyeberangi jalan, menghabiskan hari yang sepertinya memang sudah disiapkan untuk kita. Hatiku  melihatmu secara kekanak-kanakan dan sambutmu pun kekanak-kanakan. Sungguh aku bahagia. Mata dan tubuh dewasaku memilih bersisian saja. Lalu kubiarkan sehari itu kekanakanku  meraja . Ada satu hal yang kita setujui bersama, yaitu menikmati suasana hujan dengan hening, tanpa kata-kata. Dan senja itu hujan turun seperti diminta. Bener gak?

“Kapan Ara balik?” tanyamu memecah sunyi

“Harusnya siang tadi.” jawabku sambil tetap menatap hujan.
“Hah? Siang tadi? Trus kenapa kok Ara masih ada di sini?”
“Gak tau”
Tahukah kamu bahwa saat itu aku merasa rela melewatkan segalanya untuk lebih lama bersamamu?***

Tiba-tiba terlintas kenangan yang selalu ingin aku buang jauh-jauh. Yang kuharap tidak pernah terjadi pada 7 bulan setelah pertemuan kita. Sebuah percakapan di telepon.

“Aku ngga bisa Ara, sungguh aku ngga bisa” ucapmu cemas.
“Kenapa? Apa yang bikin Asa ngga bisa? Asa mau Ara berbuat apa? Ara datang ke rumah orang tua Asa? Ara siap, sungguh siap. Ara mau ketempat Asa malam ini, bagaimanapun caranya. Ara ga rela Asa dimiliki orang lain!” balasku panik.
“Jangan Ara, kumohon jangan. Demi Asa, dan demi Papa-Mama. Kumohon…” isakmu
“Ara jangan cari Asa lagi. Asa minta maaf dan Asa ngga akan lupain Ara. Asa minta maaf…Sungguh …maafin Asa”
Itu adalah suara terakhir yang aku dengar darimu. Dan aku tidak pernah mendapat jawaban dari  semua “kenapa” itu sampai saat ini. Suatu saat akan kutanyakan lagi padamu. Dan apakah kesempatan itu adalah sekarang? Karena kini kamu ada di depan mataku? Berdiri dengan manis di seberang jalan. Kamu tidak banyak berubah, tetap seindah dulu. Seperti saat pertama kali bertemu. Tapi mengapa hanya diam dan tersenyum? Mengapa kamu berdiri jauh di situ? Apa harus aku yang menghampirimu? Baiklah.“Asa!!!” aku berseru memanggilmu sambil melambaikan tangan.

Kulihat kamu  mengeluarkan payung ungu kesukaanmu dan membukanya. Oh, ternyata turun hujan. Aku baru menyadari kalau pepohonan sudah basah dan jalanan tampak licin. Dan kulihat kamu telah siap dengan payung serta senyum yang terkembang indah. Aku pun mendekatimu.
“Asa? Ternyata benar kamu” aku membuka sapa. Penuh rindu tapi kaku.
“Iya Ara,ini Asa. Asa memang sudah menunggu saat ini.”
“Saat ini?” tanyaku.
Jujur aku masih belum paham  atas semua kenangan yang mendadak muncul, dari pertemuan yang kunilai sebagai kebetulan gila  ini.
“Iya Asa, ini saat kita untuk bisa bertemu lagi, untuk bisa bersama lagi. Ara kok keliatannya gak suka? Gak suka ketemu Asa lagi? Gak senang kalau kita bisa bersama lagi”  jawabmu renyah, masih seperti dulu.
“Aku suka, sungguh seneng banget. Cuman, masih kaget aja. Kenapa semuanya terasa cepat dan sangat tiba-tiba. Trus, keluarga Asa gimana? Pernikahanmu?”  aku masih bingung. Bahagia tapi belum bisa memahami dengan baik situasi ini.
“Asa tidak jadi menikah, dan tidak akan bersama orang lain, selain dengan Ara. Tuhan punya kejutan yang lain buat Asa dan Ara.” ucapmu  lagi.
“Hah? Kok bisa?” aku makin terheran-heran dengan penjelasanmu.
“Setelah menelpon Ara pada waktu itu, Asa nangis, sampai tidak memperhatikan jalan. Motor Asa tertabrak mobil, tidak jauh dari wartel.”
“Tertabrak? Berarti Asa….? Trus Ara berarti…?”
Aku menoleh kebelakang, dan  kulihat kerumunan orang. Sesosok tubuh tertelungkup bersimbah darah dan sebuah sepeda motor yang ringsek berjarak beberapa meter darinya. Aku menoleh ke arahmu.
“Kita sekarang bisa bersatu lagi, dan bahagia bersama” ucapmu seraya menggamit lenganku untuk satu payung denganmu.
Aku tersenyum, menyambutmu tanganmu. Menyambut bahagia yang telah sekian “September” tertunda.
“Kali ini, maut yang menyatukan kita.” Jawabku*****

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: