Rab. Sep 28th, 2022

Perempuan Penggenggam Kenangan

ACTION 2 – Perempuan Penggenggam Kenangan – Enggar Murdiasih”Sudahlah maa…. Tak baik sedih berkepanjangan gitu….,” Salindri memeluk bahuku dari belakang. Pipinya yang hangat ditempelkannya ke pipiku yang basah.Aku tak tahu sejak kapan ia berada di belakangku. Kupikir, ia sudah pergi bersenang-senang dengan temannya. Ini hari Sabtu, hari dimana ia selalu menghabiskan waktu liburnya dengan ‘gerombolannya’.

“Pagi ini kuabaikan senyum mentari, meskipun hangat menyapa namun berbayang mendung di belakangnya. Sama seperti mendung yang bertahun-tahun menjadi payung hati, mungkin akan selamanya menaungi. Suram? Belum tentu. Mendung juga tawarkan bayangan, dimana bisa kutemukan seraut wajah serupa kamu.”

Kupandangi coretan puisi yang masih tersimpan rapi di meja kerja Damara. Entah sudah berapa puluh kali kupandangi, kubaca ulang, kurapikan lagi setelah kuacak-acak. Setiap kali pula air mata ini akan deras mengalir, tak terbendung.

“Maa ……,” Salindri masih memelukku. “Ini September ke tiga setelah  papa pergi. Mama ga bakalan ikhlas kalau masih terus menerus membongkar kenangannya….,” Kurasakan bahuku basah. Rupanya Salindri ikut menangis juga.

“Tak butuh rinai hujan untuk basahkan bedeng tempat kutaburkan benih-benih tentang kisah yang tercecer di sepanjang halaman kenangan. Cukuplah dengan derai air mata yang tak mampu kubendung, menyiramnya hingga tak tersisa lagi sudut kerontang….”

“Sa …..,” kuelus lengannya yang terkulai di pangkuanku. “Tidakkah kau merasa bahwa Papa sudah merasa akan meninggalkan kita begitu cepat? Cobalah kau baca bait-bait puisinya. Semua menyiratkan kesedihan …..,” bisikku. Sedu yang kutahan sejak tadi, membuat dadaku sesak.

“Sisi baiknya, aku menjadi penyuka dini hari. Kau tahu, betapa nikmatnya merasakan elusan lembut kabut yang membungkus pagi, membagi gigil hingga pucuk hidung pun terasa seperti bongkahan es. Semua berawal hanya dari satu kata, satu sapa ….. namun mampu membalikkan dunia yang selama ini aku hindari.”

Kutunjukkan selembar coretan bertanggal 12 September. Damara selalu membubuhkan tanggal di setiap puisi yang ditulisnya. Kebiasaan yang memudahkan aku dalam menyusun koleksi puisinya. Salindri meraih kertas kusam itu, memandanginya lalu kembali memelukku.

“Mama tahu, Sa nggak suka puisi. Itulah kenapa Sa tak bisa memahami jalan pikiran Mama dan Papa,” katanya lagi.
“Lihatlah yang ini Sa….,” kutunjukkan lembar berikutnya. “Sejak kapan Papamu menyukai malam, tengah malam atau dini hari?”
“Dan aku dengan suka cita menyambut malam yang merambat. Meski gelap dan dingin menjadi dayang-dayang pengawal yang setia menyertai namun aku percaya bila aku akan kembali menjumpai dini. Yaa, dini hari. Tempat kulabuhkan harap. Tempat kurajut sekeranjang impian. Tempat sempurna kugeletakkan segala penat yang membungkus raga.”
“Papa seperti merasa bila akan pergi…..,” lambat-lambat Salindri bergumam. Ia meraih lembar berikutnya.
“Entah ini siang yang ke berapa, aku tak ingin menghitungnya lagi. Tidak untuk kali ini. Karena tlah kubiarkan siang berlalu berpayungkan terik, dengan bunga-bunga awan di ujungnya, menebarkan hangat yang memanggang ubun-ubun. Aku di sini, meneduh di bayang-bayang senyummu, yang membantuku hadirkan semilir meski bayu enggan berhembus.”
“Kau ingat saat itu Sa?” tanyaku. Salindri memandangiku. Sorot matanya menyiratkan kecemasan.
“Mamaaa …..,” Salindri berbisik lelah. “Tidak inginkah mama beranjak dari kenangan tentang papa?” tanyanya khawatir.
“Sa hanya ingin mama melangkah. Menatap masa ke depan. Sa tidak ingin mama terbenam dalam kubangan kenangan. Biarkan semua kisah manis itu tersimpan dalam hati yang terdalam.” Salindri menangis di pangkuanku.

Aku masih saja membukai lembar demi lembar puisi yang belum sempat diterbitkan. Damara keburu pergi memenuhi panggilanNya. Kecelakaan tragis itu merenggutnya dari kami.

*****

Damara, lelaki berhati lembut itu telah merampas seluruh rasa cintaku. Ia pandai mengajuk hatiku, membuaiku dengan coretan kata-kata indah hingga membuatku mabuk kepayang.

“Ayaa…..,” begitu selalu katanya. Panggilan kesayangan yang makin menguatkan cintaku padanya.
“Maafkan, seharian ini tak kutuliskan kisah tentang embun, dini hari, pagi ataupun tengah hari yang temaniku menjelajah rangkaian waktu yang terus bergulir,” tulisnya manis.
“Terlalu sayang melewatkan sapamu, senyummu dan impian indah tentang masa depan. Binar di matamu, pengharapan di setiap kata yang kau ungkapkan, optimisme yang tak kusadari menular di hatiku,” sambungnya lagi.
Hati perempuan mana yang tak mekar berbunga-bunga karenanya? Aku seperti diajaknya terbang ke angkasa, mengelus gugusan awan, menyapa pelangi…… Indahnya. Itulah kenapa aku tak menolak permintaannya dulu. Siapa yang tak ingin menikah dengan lelaki romantis macam Damara?

Kehadiran Salindri menjadi perekat sempurna di antara kami. ‘kurcaci kecil’ demikian ia biasa menyebutnya dengan sayang. Salindri tumbuh dan dewasa dalam limpahan kasih sayang kami, meskipun terkadang kami tak bisa memenuhi semua keinginannya. Hidup dengan mengandalkan penghasilan dari dunia tulis menulis membuat Damara kelimpungan. Tak pernah sekali pun kudengar ia mengeluhkan keadaan ini. Yang aku tahu, ia selalu berusaha mencari penghasilan tambahan selain menulis. Hingga malam itu. Malam ketika hujan deras turun sejak sore hari.

“Bu Dyah…..,” kudengar suara Pak RT mengetuk pintu rumah. Kupandangi Salindri yang tertidur lelap di depan tivi.
“Selamat malam Bu Dyah. Saya Kapten Joko,” sebuah suara bariton terdengar mantap. Kulihat dua orang berseragam Polantas berdiri hormat di belakang Pak RT.
Blaaarrrr……… suara petir yang menggelegar di luar sana seakan tak mampu mengimbangi keterkejutanku. Kabar yang disampaikan Kapten Joko membuat duniaku gelap tiba-tiba. Aku tak ingat apa-apa lagi, yang sempat kudengar hanya teriakan Salindri memanggilku. Selebihnya, gelap. Aku terbangun keesokan harinya di tempat tidurku sendiri. Salindri tertidur menelungkup di sebelah pinggangku. beberapa bungkus obat dan segelas teh manis terhidang di meja pendek depan cermin rias.

*****

Kepergian Damara membuatku limbung. Entah berapa kali aku harus bolak balik dirawat di rumah sakit. Tekanan darahku turun drastis, asam lambung meningkat tajam.

“Maa….,” kata Salindri hati-hati. “Mama dapat salam dari Kapten Joko. Tadi aku ketemu di lorong rumah sakit.” Aku mendengar ada keriaan di nada suara Salindri. Kuperhatikan wajah Salindri. Ada binar keceriaan di sorot mata yang biasanya sayu itu. Aah, gadis kecilku, apa yang telah terjadi padamu, nak? gumamku pedih.
“Kapten Joko?” tanyaku pura-pura bego. Seleret kekecewaan membayang di wajahnya.
“Dia baik lho ma. Tadi aku ditraktir makan soto….,” lanjutnya.
“Dia pandai bercerita. Apa saja yang kutanyakan, dia bisa jawab dengan panjang lebar ma.
“Kutepuk jidatku perlahan. Bodohnya aku ini. Salindri terbiasa menghabiskan sore dengan mengobrol berbagai hal dengan papanya dulu. Apakah….apakah ia telah menemukan penggantinya pada sosok Kapten simpatik itu? Desir di dadaku terasa mengiris, kurasa asam lambungku naik tiba-tiba. Mual sekali.
“Sa….,” bisikku hampir tak terdengar. Kuraih gelas di meja, ingin kuredakan perih ini dengan obat anti asam lambung pemberian dokter. Gelas itu terpelanting, jatuh. Bunyinya mengagetkan Salindri yang tertidur.

Kubiarkan ia membersihkan pecahan gelas dan mengepel lantai. Pandanganku terpaku pada kertas yang tadi diletakkan Salindri di tempat tidurku.

“Sepertinya pagi ini aku harus berdamai dengan aroma secangkir teh yang terhidang di depan hidungku. Memaksaku untuk menoleh, membaui aroma khasnya, mencecap perpaduan manis dan sepetnya di ujung lidah. Sejenak ku terlupa pada garis-garis tipis yang sedang kugambar menggenapi raut wajahmu, teduh mengulum senyum.”

Aku mengerenyitkan kening. Sepertinya aku mengenal bait-bait yang tertulis di sana. Tapi kapan dan dimana? Sampai lelah aku mencoba mengingat-ingat, tak kutemukan jawabannya.

“Kuhabiskan menit-menit yang berlalu sepanjang hari ini untuk menghitung lembar kenangan. Terserak diantara perdu di tepian padang, menguntainya menjadi kanvass meski serupa mozaik perca. Hanya untuk sebuah jawab atas tanya: yakinkah?”

Dari mana Salindri mendapatkan kata-kata seindah ini? Mau tidak mau ingatanku melayang pada Damara. Aah, lelakiku. Kenapa sulit sekali menyimpan kenangan tentangmu?

“Menunggu rindu, yang kan bawakanku setangkup renjana, terpenjara di bentang muara….. dan kau sebut ia ‘delta kangen’, tempat kau hamparkan mozaik romansa…. jemari terpaut, dalam pagut”

Kubaca lembar berikutnya. Rasa penasaranku makin membesar.

“Senja meluruh membawa kabut yang pepat di sorot matamu. Tak dapat lagi kau sembunyikan lelah dan gulana, menanti ‘rendevouz’ kita di pojokan balai cinta. Aah, adakah itu? Dimanakah kan kita temui keberadaannya? Tenanglah, selalu tersedia kelepak hati untuk menjadi sandaran penatmu, di lubuk hati.”

Tak dapat lagi kutahan deraian air mata di pipiku. “Maa…..sudahlah. Tak baik menangisi papa yang sudah pergi. Seandainya papa masih di sini, tentu papa akan sedih melihat mama selalu menangisinya….,” Salindri memelukku. Tangisnya meledak di bahuku.

*****
Pulang dari rumah sakit, Salindri menyongsongku. Tawanya menggema memenuhi halaman.
“Mamaaa ……,” dipeluknya tubuhku, diciuminya pipiku bertubi-tubi.
“Ada siapa di dalam Sa?” tanyaku tak mengerti. Salindri seperti tengah menyembunyikan seseorang di ruang tamu.
“Selamat sore Bu Dyah….maaf kalau kedatangan saya mengganggu…,” suara bariton itu memaksaku untuk menoleh ke arahnya.

Kapten Joko. Dia nampak gagah dengan kemeja kotak-kotak kombinasi biru muda dan biru tua. Warna kesukaanku dulu. Diam-diam kuperhatikan mereka berdua bercengkerama. Cara Kapten Joko melayani gurauan Salindri, binar di sorot mata gadis kecilku itu……. Ada yang berdesir di relung hatiku. Benarkah apa yang kulihat ini?

“Maaa …..,” Salindri menarik tanganku, menumpangkannya ke telapak tangan Kapten Joko. Ia menggeleng kuat-kuat ketika aku berusaha menarik tanganku kembali.
“Pliiiss, maa….,” rengeknya.
Kulihat Kapten Joko menganggukkan kepalanya. Kupandangi Salindri, air mata kebahagiaan mengalir turun di pipinya.
“Maa, aku mau Kapten Joko menjadi papaku,” katanya mantap.
“Sa……,” kalimatku belum lagi selesai, tapi Salindri sudah bersorak gembira. Tangan kirinya memeluk pinggangku, sementara tangan kanannya menggayuti lengan Kapten Joko.

*****

Malam ini, aku berada di kamar kerja Damara. Kubuka laci meja yang menyimpan koleksi puisinya yang terbendel rapi. Mas Joko meraih kertas biru muda di sudut laci, membacanya sejenak lalu menyerahkannya padaku.

“Tentu. Kan kuberi sepenuh waktu untukmu merenda cerita yang lama tertunda. Oleh jarak, oleh waktu, oleh geliat tubuh yang tak penuh istirah dari detik ke menit lalu beranjak ke jam berikutnya hingga tersisa penat dan letih di muara jiwa. Pergilah, bawa dan nikmati jeda waktu yang kau punya, cecap dan rasai semua keinginan yang tertahan oleh jauhnya pandangan mata. Karena suatu hari nanti, aku yang akan berada di sana, menantimu. Membawakanku cerana beraroma madu yang pernah kau janjikan penuh untukku.” Mas Joko tersenyum penuh kasih. Dikecupnya keningku, lalu ditinggalkannya aku sendirian dengan kenanganku. Sesaat, kudengar bisiknya lembut membelai gendang telingaku.

“Jeng Dyahningtyas, perempuan penggenggam kenangan……aku menunggumu di kamar sebelah,” kedipan matanya membuatku segera bangkit dan menyusulnya.
September kali ini tak kulalui dalam derai air mata.*****

Tinggalkan Balasan