Perpisahan dan Pertemuan yang Tak Terduga oleh Sekar Rachmawati

0
304
TesaPhotography / Pixabay

Perpisahan dan Pertemuan yang Tak Terduga
oleh Sekar Rachmawati

Ratih adalah siswa SMA N 21 Surakarta yang kini duduk di kelas 10. Ratih adalah anak yang pendiam tapi dia cerdas dalam segala hal. Suatu ketika ia mengikuti kegiatan kepramukaan dan juga mengikuti kegiatan kerohanian atau keagamaan di sekolah. Selama ia duduk di kelas 10 Ratih menjalani kegiatan itu dengan senang hati.

Selama setahun Ratih duduk di bangku SMA Ratih, kini Ratih telah duduk di bangku kelas 11 dan juga melihat adik kelasnya yang baru saja masuk SMA. Disinilah ketegangan Ratih ketika harus mendidik adik kelasnya yang baru saja masuk SMA di bidang kepramukaan. Pertemuan pertamanya dengan adik kelas hanya sekedar perkenalan semata untuk mengenal lebih dekat sikap mereka tentang rasa hormat mereka terhadap kakak kelas mereka.

Seiring berjalannya waktu, Ratih ada yang membuat menarik perhatiannya, yaitu dengan seorang anak kelas 10 laki – laki. Dia bernama Nando. Entah kenapa Ratih tertarik dengan anak tersebut. Mungkin karena dia memiliki perawakan seperti tentara, atau mungkin dia religius. Karena dia telah mengikuti kegiatan yang sama seperti Ratih, yaitu kegiatan kepramukaan dan keagamaan. Seiring berjalannya waktu pun Ratih terus mengamati Nando dalam setiap kegiatan.

Selama berjalannya waktu Ratih terus mengamati kegiatan dari Nando dan sampai pada akhirnya kenaikan kelas pun tiba.memang tidak ada yang aneh, awalnya dalam pikiran Ratih. Ketika sudah memasuki kelas 12 memang tidak terlihat aneh sama seperti sebelumnya. Tetapi setelah berjalannya waktu baru beberapa hari setelah kegiatan latihan dasar kepemimpinan untuk anggota baru dan pelantikan pengurus baru Ratih mulai berpikir ada suatu hal yang membuatnya teringat pada Nando dan kegiatan yang telah dia lakukan selama Ratih masih menjadi pengurus kepramukaan dan keagamaan. Yaitu tentang cara Nando mendekati Ratih untuk memberikan saran dan pertanyaan pada Ratih. Ratih baru tersadar bahwa Nando memiliki sikap yang sama dengan Ratih dari sisi cara bicaranya yang sopan dan menghormati satu sama lain. Ratih berpikir bahwa Nando adalah adiknya atau lebih tepatnya adalah sebagai kembarannya karena Ratih berusia sama seperti anak kelas 11 atau lebih muda daripada teman temannya yang satu angkatannya.

Suatu ketika malam hari Ratih sedang dirumah berkumpul bersama dengan keluarganya. Bercerita apa yang mereka alami dan mengarang cerita yang membuat tertawa cekikikan hingga akhirnya waktu tidur pun tiba. Saat Ratih tertidur lelap, Ratih bermimpi tentang Nando. Dalam mimpinya Nando berpakaian rapi dengan baju Koko dan memakai peci sambil mengajari adik kelas mengaji dengan lancar. Keesokan harinya Ratih langsung mencuci muka dengan segera. Ibunya dengan kaget melihat Ratih gelisah tak menentu.

“Ratih, kamu kenapa? Kamu kayak habis dikejar maling aja …,” tanya ibunya Ratih.

“Jadi, gini lo, Bu. Aku tu habis mimpi aneh …,” jawab Ratih.

“Mimpi apa kamu, Nak?” tanya ibunya Ratih kembali karena penasaran.

“Jadi aku tu mimpi adik kelasku, namanya itu Nando yang sikapnya aneh banget enggak seperti biasanya. Dia itu berpakaian rapi dengan baju Koko dan memakai peci sambil mengajari adik kelas mengaji dengan lancar,” jawab Ratih.

“Terus? Kenapa kamu heran? Kan itu mimpi yang bagus dong  …,” kata ibunya Ratih

“Ya, aneh aja gitu, Bu …,” kata Ratih.

Di  suatu hari tanpa sengaja Ratih bertemu dengan Nando.

“Halo Kak Ratih …,” sapa Nando.

“Hai …,” balas Ratih.

“Oh iya Kak Ratih, nanti bisa enggak ketemu di perpustakaan? Aku mau konsultasi nih …,” tanya Nando

“Emmhh, bisa …,” jawab Ratih.

“Baiklah, Kak. Nanti pulang sekolah ya, Kak …,” kata Nando.

“Iya …,” kata Ratih.

Mereka pun akhirnya membuat janji setelah pulang sekolah di perpustakaan.

Suatu ketika Ratih merasa depresi dan stres karena tugas yang menumpuk dan ulangan dadakan. Hingga akhirnya Ratih memutuskan untuk tidak masuk sekolah dengan izin ada kepentingan mendadak selama 2 minggu untuk membebaskan semua stres dan depresinya.

Setelah 2 minggu tidak masuk sekolah Ratih pun kembali masuk sekolah. Pada hari Jum’at, hari ke 5 Ratih masuk sekolah, Ratih terpaksa harus pulang lebih cepat karena ayahnya Ratih telah menjemputnya karena telah ada hal yang mendesak. Ternyata orang tua Ratih mengajaknya ke rumah sakit.

“Ayah kenapa kita ke rumah sakit?” tanya Ratih kepada Ayahnya.

“Ada suatu hal yang perlu ayah beritahu. Yaitu hal yang tak terduga, jadi siapkan dirimu untuk mendengarkan apa yang terjadi …,” jawab ayah Ratih dengan rasa berat.

Akhirnya Ratih dibawa ayahnya di sebuah ruangan yang ternyata di sana sudah ada ibu Ratih, Nando dan orang tuanya.

“Ayah, kenapa ada Nando dan orang tuanya di sini?” tanya Ratih lagi pada ayahnya.

“Jadi sebenarnya kita disini ingin mengetes DNA kalian, karena ayah menduga kalau kalian adalah anak kembar.”

Mendengar hal tersebut Ratih terkejut bukan main.

“Sebenarnya apa yang terjadi ini?” tanya Ratih .

“Ayahmu merasa bahwa kau dan Nando adalah anak kembar kami. Sedangkan putra dari kedua orangtua yang merawat Nando selama ini sudah meninggal sejak lahir. Jadi disini kita untuk membuktikan kebenaran yang ada,” jelas ibu Ratih.

Setelah perbincangan mereka selesai, mereka langsung menemui dokter untuk menguji DNA Ratih dan Nando apakah mereka sedarah atau tidak. Setelah pengujian selesai mereka menunggu hasilnya keesokan harinya.

Keesokan harinya mereka ke rumah sakit untuk mengambil hasil tes tersebut. Ternyata hasilnya pun cukup mengejutkan. Dugaan dari orang tua Ratih dan Nando benar apa adanya. Nando dan Ratih adalah anak kembar. Nando adalah anak dari orang tua Ratih. Sedangkan orang tua yang telah merawat Nando menerima keadaan yang ada dan juga ikut merasa senang.

Hari hari telah berlalu, suatu hari ketika Ratih hendak ingin pergi ke parkiran untuk mengambil motor dan pulang ke rumah, tiba tiba Ratih merasa pusing dan hidungnya mimisan tak lama kemudian Ratih pingsan. Tak lama kemudian satpam dan Nando mengetahui hal tersebut pun datang menghampiri Ratih dan langsung membawanya ke rumah sakit terdekat. Sesampainya dirumah sakit Nando pun menghubungi Ayah dan Ibunya.

Tak lama kemudian Ayah dan Ibu mereka datang tepat waktu setelah dokter selesai memeriksa keadaan Ratih.

“Dokter bagaimana keadaan anak saya?” tanya Ibu Ratih gelisah.

“Anak Bapak dan Ibu menderita kanker darah yang sulit untuk disembuhkan.” Jawab dokter.

“Lalu apa yang harus dilakukan, Dokter?” tanya Ayah Ratih.

“Anak Bapak dan Ibu harus menjalani serangkaian pengobatan medis seperti kemoterapi,” kata dokter menjelaskan.

“Baiklah dokter jika itu bisa membantu meringankan penyakit anak saya,” kata Ayah Ratih.

“Baiklah, Pak, Bu, saya tinggal dulu,” pamit dokter.

Mendengar hal tersebut membuat sedih Ayah dan Ibu Ratih, terutama Nando yang baru saja ia anggap sebagai saudarinya kini harus berbaring di rumah sakit untuk sementara waktu. Selama Ratih di rumah sakit, Nando selalu menemani Ratih di rumah sakit sampai sampai Nando menginap di rumah sakit.

Suatu ketika Ratih diperbolehkan untuk pulang karena Ratih harus menjalani rawat jalan selama pemulihannya. Setelah diperbolehkan untuk pulang Ratih melakukan kegiatan seperti biasa dengan pengawasan orang tua dan dokter.

Selama di sekolah mendapatkan perhatian khusus dari teman temannya agar selalu semangat dalam menghadapi sakitnya dan juga semangat dalam belajar hingga lulus nanti. Dari situlah Ratih mendapatkan semangat selain dari orang tua dan saudaranya yaitu Nando. Selain dari teman temannya, Ratih juga mendapatkan dukungan dari para guru pengajar dan kepala sekolah agar bisa bertahan hingga lulus nanti.

Hari dimana UN pun tiba. Selama 4 hari UN berlangsung. Semua gugup dalam menghadapi UN tersebut, termasuk salah satunya Ratih yang telah belajar dengan keras untuk UN yang akan dihadapinya. Setelah UN selesai semua murid kelas 12 senang karena semuanya telah mengerjakan UN dengan sungguh sungguh, termasuk Ratih. Namun tak lama kemudian Ratih merasa pusing dan hidungnya mimisan lagi.

“Ratih kamu enggak papa?” tanya Tasya salah seorang temannya.

Lalu tiba tiba semua mengelilingi Ratih yang sedang sekarat.

“Kepalaku pusing …,” kata Ratih yang dengan tiba tiba langsung pingsan.

“Ratih …,” sorak teman teman Ratih.

Lalu ada salah satu teman Ratih memanggil guru sekaligus Nando saudara kembar Ratih. Setelah itu Ratih langsung dibawa ke rumah sakit untuk diperiksa keadaannya. Melihat hal tersebut teman teman Ratih langsung sontak menangis karena harus melihat salah satu teman mereka sakit dengan masa hidup yang tak lama lagi.

Sesampainya di rumah sakit, Ratih langsung diperiksa oleh dokter. Sedangkan Nando menghubungi Ayah dan ibunya untuk segera ke rumah sakit. Sesampainya orang tua Ratih dan Nando di rumah sakit kebetulan juga dokter sudah selesai memeriksa keadaan Ratih.

“Bagaimana keadaan anak saya dokter?” tanya Ibu Ratih.

“Keadaannya sedang kritis, sehingga harus menjalani kemoterapi segera. Jika tidak maka nyawa anak Bapak dan Ibu akan melayang,” kata dokter.

“Baiklah, Dokter. Segeralah lakukan Kemoterapi,” kata ayah Ratih.

“Baiklah, Pak. Kami permisi dulu untuk mempersiapkan Kemoterapi,” kata dokter.

“Silahkan, Dokter,” kata ayah.

Dokter pun langsung meninggalkan orang tua Ratih dan Nando untuk mempersiapkan Kemoterapi.

“ Ayah, Ibu …,” kata Nando sambil memeluk orang tuanya.

“Semua akan baik baik saja, Nak. Kakakmu pasti sembuh, kakakmu pasti bisa melewatinya,” kata ibunya yang menenangkan hatinya.

Setelah persiapan dokter selesai, dokter langsung membawanya ke sebuah ruangan untuk melakukan Kemoterapi.

Hari hari berlalu kondisi Ratih masih lemah sehingga Ratih harus di opname di rumah sakit. Melihat keadaan Ratih yang masih lemah membuat Nando tak bisa tenang dan sedih sampai sampai Nando menemani Ratih di rumah sakit hingga tak pulang kerumah. Hingga suatu ketika Ratih terbangun dari masa kritisnya dan melihat adiknya di sisinya yang selalu senantiasa menemaninya. Melihat hal itu Ratih menjadi terharu melihat adiknya selalu memberikan dukungannya agar terus bertahan dan bangkit dengan cara seperti yang ia lakukan sekarang ini.

“Nando …,” kata Ratih dengan suara lirih.

“Ratih …,” sahut Nando.

“Kenapa kamu enggak pulang ke rumah?” tanya Ratih.

“Aku merasa khawatir denganmu, jadi aku menemani di sini,” jawab Nando.

“Tidak perlu terlalu khawatir sampai kamu menemaniku di sini. Kamu kan masih harus sekolah besok, jadi pulanglah kerumah. Aku baik baik saja di sini. Masih ada dokter yang mengawasiku disini,” kata Ratih.

“Baiklah …,” kata Nando.

Nando pun menuruti perkataan Ratih untuk segera pulang ke rumah.

Keesokan harinya Nando pergi ke rumahsakit sebentar untuk melihat kondisi Ratih sebelum berangkat ke sekolah.

“Assalamu’alaikum …,” salam Nando.

“Wa’alaikumsalam …,” jawab Ratih.

“Bagaimana keadaanmu Ratih?” tanya Nando.

“Alhamdulilah keadaanku semakin membaik. Kamu tidak berangkat ke sekolah?” tanya Ratih.

“Aku akan berangkat ke sekolah. Aku memang tadi sengaja mampir kesini dulu untuk melihat kondisimu,” jawab Nando.

“Sekarang kamu sudah tahu kan keadaanku? Kalau begitu kamu berangkatlah ke sekolah. Carilah ilmu di sekolah, selesaikan sekolahmu, jangan terlalu terbawa kesedihan. Berjanjilah padaku agar kamu selalu bersungguh sungguh di sekolah, berjanjilah demi aku,” kata Ratih.

“Baiklah, aku berjanji. Aku berjanji akan bersungguh sungguh di sekolah demi kamu asalkan kau bertahan dan tidak menyerah melawan kankermu …,” kata Nando.

“Aku berjanji……” kata Nando.

“Baiklah, aku akan berangkat sekolah dulu. Assalamu’alaikum,” pamit Nando.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Ratih.

Nando langsung pergi meninggalkan rumah sakit untuk pergi ke sekolah sesuai dengan janjinya pada Ratih untuk selalu bersungguh sungguh di sekolah.

Hari hari dilalui Nando diakhir kelas 11 ini sungguh sungguh demi janjinya pada Ratih. Dengan kesungguhan Nando dalam belajar sampai pada kenaikan kelas, Nando mendapatkan peringkat terbaik dikelasnya. Mendengar hal tersebut Nando langsung menemui Ratih dan orang tuanya di rumah sakit. Sesampainya Nando di rumah sakit, Nando melihat orang tuanya menangis tak tertahankan.

“Ayah, Ibu …. Ada apa? Mengapa kalian menangis?” tanya Nando khawatir.

“Saudaramu, Ratih … keadaannya semakin memburuk. Sekarang dia sedang ditangani oleh dokter,” jawab ayah Nando

“Ya Allah …,” ucap Nando.

Tak lama kemudian dokter pun keluar dari ruangan.

“Bagaimana Dokter, keadaan anak saya?” tanya ibu Ratih gelisah.

“Keadaan anak Bapak dan Ibu semakin memburuk sehingga kami sulit menanganinya. Jadi, kami memberi waktu untuk melihat keadaan anak Bapak dan Ibu,” jelas dokter.

“Baiklah, Dokter,” kata Ayah Ratih.

“Silahkan,” kata dokter.

“ Ratih …,” teriak Nando sambil memasuki ruangan.

Tidak hanya Nando tergesa gesa untuk melihat keadaan Ratih orang tua Ratih pun juga tidak sabar melihat keadaan Ratih.

“Ratih, kamu harus bisa bertahan. Kamu sudah berjanji padaku untuk bertahan untuk melawan kankermu itu, kamu harus bertahan Ratih. Lihat aku Ratih, aku sudah melaksanakan janjiku untuk bersungguh sungguh di sekolah. Dan ini hasilnya Ratih kamu harus melihatnya,” kata Nando sambil menangis.

“ Nando …,” kata Ratih.

“Lihat ini Ratih, lihatlah!” kata Nando.

“Kau sudah melakukannya dengan baik, Nando. Tapi maafkan aku, Nando. Aku sudah berusaha untuk melawan kankerku ini, tapi aku sudah tidak sanggup lagi,” kata Ratih dengan lirih.

“Kamu harus bertahan Ratih, kamu harus bisa … jangan sampai berakhir disini,” kata Nando sambil menangis takut kehilangan.

Di satu sisi Orang tua Nando dan Ratih pun ikut menangis melihat hal tersebut. Di detik detik terakhir mereka saling dukungan. Namun takdir berkata lain, Ratih harus meninggal di dekapan Nando.

“Ratih …,” kata Nando sedih melihat saudara harus pergi untuk selamanya.

Keesokan harinya Ratih pun akhirnya dimakamkan di tempat peristirahatan terakhirnya.

“Ratih, kamu yang tenang dialam sana ya …,” kata Nando untuk terakhir kalinya.

Tamat

Tinggalkan Balasan