Rab. Des 11th, 2019

PIDIO KOL oleh Indah Patmawati

PIDIO KOL
oleh Indah Patmawati

“Wueeehhhh…jiamputtt! Kau ini mau ke mana, Mad. Pakai baju batik celana komprang. Necis amat,” teriak Kang Parjo dari gubuk pinggir sawah Pak Kaji Suleman.

Pagi ini ada yang nyleneh melihat Kemad datang ke sawah memakai baju safari kayak anggota de pe er. Tidak biasanya bujang satu ini berbuat neko-neko. Sebab si Kemad ini memang utun dan lugu.
Kemad hanya senyum-senyum, mendengar candaan dari teman seprofesinya para buruh tani yang sehari-hari bergulat dengan lumpur.

“Kau mau melamar siapa?” tanya Pakdhe Rebo penasaran.

Sebab sejak tadi Kemad tidak memberi komentar sama sekali, selain hanya senyum-senyum sambil membuka rangsel bututnya. Kemudian dikeluarkan sisir kecil yang sudah berwarna hitam, dan dengan santai Kemad menyisir rambutnya.

“Gimana, Kang? Sudah ganteng belum?” tanya Kemad sambil mengedipkan matanya tiba-tiba.

Kang Parjo tertawa ngakak, bocah ini kesurupan dari mana. Pagi-pagi sudah jual tampang di sawah.

“Kalau pakai baju begini, kau seperti pegawai kelurahan Mad, guanteng!” kata Mbah Min menimpali.

“Nggak kelihatan seperti buruh tani,” lanjutnya sambil tertawa.

Kemad tak terlihat marah digojloki teman-temannya, ia sibuk mencari-cari sesuatu dalam rangselnya. Setelah ketemu, ia memamerkan pada teman-temannya.

“Wuiiihhh hapemu baru ya?” tanya Kang Parjo terkejut.

“Iya dong, buruh jaman now hapenya harus baru?” seloroh Kemad dengan gayanya yang lucu.

“Yuuukkk kang selpi dulu…!” ajak Kemad sambil jeprat jepret moto dirinya sendiri.

Sedangkan yang lain pada bengong lihat tingkah Kemad yang aneh.

“Coba lihat nih, Kang?”
Kemad menunjukkan hasil potonya kepada Kang Parjo dan Pakdhe Rebo.

“Wueeehhh ediaaannnn, lha kok kayak bintang pilem kau Mad. Wajahmu muluusss gitu.” Kata Pakdhe Rebo heran melihat hasil jepretan Kemad.

“Sebentar ya, Kang. Aku mau pidio kol dulu ya…?” Kata Kemad sambil berjalan agak ke tengah sawah.

“Pidio kol? apa itu Mad?” teriak Mbah Min makin penasaran.

“Nanti aku jelaskan.” Jawab Kemad.

***
Sejak pagi Sundari menunggu pujaan hatinya menghubungi. Mad Rover cogan (cowok ganteng) yang dikenalnya di pesbuk dua bulan lalu. Hatinya berbunga-bunga tiap kali inbokan sama Mad Rover. Benih-benih rindu mulai tumbuh bersemi di hatinya, apalagi kalau membaca tulisan Mad Rover yang mendayu-dayu. Sundari dibuatnya klepek-klepek hidup enggan mati pun juga enggan.

Seperti sebuah candu Mad Rover telah membuatnya mabuk kepayang, matanya berkunang-kunang ditimpa seribu bayangan. Di bibirnya hanya nama Mad Rover yang selalu disebutnya. Berkali-kali ia melihat jam yang ada di hapenya. Jam tujuh akan dihubungi melalui pidio kol oleh Mad Rover. Sejak tadi hatinya sudah berdebar tak karuan, membuatnya bolak-balik harus ke belakang; pipis.

Tiba-tiba nada dering terdengar keras dari hapenya, Kontan saja Sundari kaget bukan kepalang. Mana dia baru masuk kamar mandi lagi. Buru-buru dia mengurungkan niatnya ke kamar mandi dan menerima pidio kol dari pujaan hatinya.

“Halo say…met pagi?” Sapa Mad Rover dengan suaranya yang lembut.

“Mad Roveeerrr… ganteng banget! Mau ke kantor ya!” jawab Sundari histeris. Begitu melihat ketampanan Mad Rover.

“Iya say… sebentar lagi ada miting nih.” Jawab Mad Rover bangga.

“Kau cantik sekali pagi ini, say.”

Sundari tersipu malu, pujian Mad Rover . melambungkan angannya. Dia berharap Mad Rover adalah orang yang tepat untuk mengakhiri masa jandanya.

“Say, maaf ya aku harus ke kantor. Ma kasih kiriman hapenya. Nanti setelah miting aku hubungi lagi. Lop yu.” Mad Rover mengakhiri pembicaraan dengan tersenyum.

Hati Sundari bagai terbang ke langit, ketika Mad Rover bilang lop yu. Tidak sia-sia ia mengirim hape baru ke laki-laki pujaannya itu.

#edisinggombal

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: