Kam. Mei 13th, 2021

POLIGAMI

POLIGAMI

“Aku pendukungnya!” Sebuah suara yang membuat terhenyak seluruh peserta. Semua mata memandang perempuan cantik, muda, yang kira-kira berusia tiga puluh lima tahun itu. “Hebat benar perempuan itu!” batinku. Memiliki keikhlasan yang luar biasa, jarang sekali ada wanita yang berpikir bijaksana seperti itu. Seperti aku misalnya. Kata suamiku aku ini egois, cemburuan, posesif, temperamen, dan banyak lagi yang negatif lainnya. Salahkah aku, bila semua itu kulakukan atas nama cinta? Mencinta yang dalam sudut pandangku adalah memiliki seutuhnya. Tidak terbagi oleh siapapun. Seperti yang kuberikan pada suamiku, bulat dan utuh.

Aku mencermati perempuan cantik itu dengan seksama. Dari ujung rambut hingga ujung kaki, nyaris sempurna sebagai perempuan. Lha, jadi malu aku. Membandingkan bodiku yang melar sana sini dengan perempuan cantik itu, tiba-tiba hatiku jadi galau. Sekaligus mentertawakan pandanganku yang absurd.

Perempuan itu memperkenalkan diri dengan nama Zahra. Tutur katanya lembut, senyum manis selalu mengembang di bibirnya yang merah.
“Saya mendukung poligami,” katanya tegas. “Sebab poligami adalah syariat yang didukung oleh agama, dihalalkan Allah dalam kitab sucinya, dihalal oleh Rosullah dan disepakati oleh umat islam semua. Lalu apa masalahnya? Yang penting suami atau laki-laki yang mau berpoligami harus paham betul adabnya,” lanjut Zahra dengan ketenangan yang luar biasa. Uraiannya yang panjang lebar disambut dengan tepuk tangan meriah, terutama peserta laki-laki. Mereka seperti mendapat angin setelah mendapat uraian panjang lebar dari Zahra. Sementara peserta perempuan, masam semua termasuk aku. Wajah mereka merah padam. Geram dengan Zahra.
“Maaf ibu Zahra, saya termasuk orang yang menentang poligami. Saya kira tidak ada perempuan manapun yang sudi dimadu dengan alasan apapun. Hanya awalnya saja laki-laki itu bisa berbuat adil dengan isteri-istrinya, tapi lama-lama pasti akan ketahuan belangnya,” komentar seorang ibu dengan berapi-api. Tentu saja peserta perempuan giliran mendapat pembelaan. Jadi seru, jika saja sang moderator tak segera menengahi.

Aku tak begitu tertarik mengikuti acara ini, kemudian keluar ruangan. Aku sengaja menunggu sampai acara bubar dan ingin ngobrol dengan Zahra. Perempuan hebat yang memiliki pandangan bijaksana. Bisa berbagi cinta dengan hati ikhlas seperti yang diuraikan tadi, betapa indahnya.

“Bu Zahra!” Aku memanggil perempuan cantik itu setelah hampir dua puluh menit aku menunggu acara bubar.
“Iya bu, memanggil saya?” tanyanya sambil tersenyum anggun.
” Bisakah say berbincang dengan ibu sebentar saja?” tanyaku ragu.
Perempuan cantik itu melihat arloji sebentar, sebelum memutuskan untuk menerima tawaranku.
“Ok bu, bisa. Saya ada waktu sekitar duapuluh lima menit, cukup kan?” jawabnya elegan. Membuatku makin tak percaya diri. Tapi demi menghilangkan rasa penasaran ku, aku menguatkan hati.

Aku mengajaknya duduk di sebuah resto di luar gedung itu. Tempat yang sejuk dan asri.
“Ada yang bisa saya bantu, Bu?” Perempuan cantik itu mengawali pembicaraan. Sepertinya iya tak mau basa basi lagi.
“Maaf bu, masih menyambung apa yang ibu sampaikan di forum tadi, benarkah Bu Zahra mendukung poligami?” tanyaku memastikan.
Perempuan itu tidak segera menjawab. Hanya pandangan matanya tajam diarahkan padaku, seperti menahan emosi. “Sepertinya jawaban saya tadi sudah cukup jelas, bu. Bahkan saya sampaikan juga dasar hukumnya,” jawabnya diplomatis.
“Jadi jika ibu dimadu, apakah ibu akan rela?” tanyaku mengejar.
“Iya, saya rela,” jawabnya sambil menyruput teh hangat yang kami pesan.
“Benarkah?” tanyaku tak percaya.
“Benar!” jawabnya singkat.
“Kalau ibu dimadu bagaimana?” tanyanya balik. Dan itu membuatku gelagepan. Aku bingung mau menjawabnya.
“Tentu saja saya tak mau Bu Zahra, saya mencintai suami dengan tulus, di samping itu kami juga sudah punya anak. Apa jadinya kehidupan kami bila harus berbagi dengan wanita lain. Lagian suami saya hanya pegawai rendahan dengan gaji yang pas-pasan yang selalu habis di tengah bulan. Boro boro mau kawin lagi, ada perempuan mendekat saja sudah kudamprat!” jawabku berapi-api. “Suamiku tak berani macam-macam bu, takuuut!” lanjut ku sambil tertawa.
Perempuan itu ikut tertawa, sambil melirik jam di tangannya.
“Nah, itu masalahnya bu. Ibu sangat mencintai suami ibu. Jadi wajar bila tak mau dimadu.” katanya mengakhiri pembicaraan kami.
“Hai sayang,”
Perempuan cantik itu melambaikan tangan pada seseorang.
“Ibu saya harus pamit, jadi intinya saya mau dimadu, karena saya tidak mencintai suami saya lagi,” bisiknya sambil melangkah pergi.

Glek! secangkir teh tandas sekaligus.
Gila!

Madiun, 24.4.17

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: