Jum. Apr 10th, 2020

Rahwana Kelangan Rai

Image Source : www.rumahzakat.org

Rahwana Kelangan Rai

Ada seorang bercadar hitam. Di tengah malam, mengendap pelan jalan bertahap perlahan, memasuki peraduan maha mewah berhiaskan emas permata dan pajangan kulit yang dikupas dari hewan primata. Di luar istana, suara jengkerik masih mengkerik membuat berisik suasana, namun semua penjaga yang berada di samping kiri kanan pintu masuk tak sedikitpun bersuara, penjaga itu berupa raksasa buta dengan membawa senjata gada, sedang lemas tertidur tanpa dengkur, tak seperti biasanya, yang selalu waspada, siap siaga, berjaga-jaga.

Kokok ayam melengking seirama senyum fajar menyungging. Sang Maharaja Buta membuka kedua mata, semua selir rupawan juga terbangun menyiapkan makanan untuk nanti sarapan. Sedangkan Putri Nareswari dari kalangan bangsa peri berwajah bidadari, masih ditahan dalam kurungan sangkar emas dengan wajah bersendu memelas, ia sudah terjaga beberapa waktu lalu. Sebenarnya ia tidak tidur, masih terbayang wajah kekasih pelipur lara, yang tak tahu bahwa ia diculik oleh Rahwana, dibawa kabur, mau dijadikan wanita penghibur.

“Selamat pagi cantik! Lelapkah istirahatmu malam ini?” Rahwana berjalan mendekat tanpa busana.

“Siapa kamu?” Putri terkaget melihat sosok baru.

“Lho sayang, kau tak mengenaliku? Akulah Rahwana, raja dari segala raja raksasa! Hahaha.”

Menggelegar suaranya menggaung di seluruh kamar istana. “Janganlah kamu berpura amnesia, aku yang kemarin menculikmu di hutan rimba. Hahaha.”

“Bukan! Itu bukan kamu! Kamu bukan Rahwana! Kamu yang berpura-pura!” Bantah Putri yang memang melihat sosok di depannya tidaklah sama dengan yang kemarin melarikannya.

“Hohoho. Aku tahu ini hanya muslihatmu, supaya aku menyangka kau telah gila dan aku akan segera membuangmu dari Alengka. Iya kan? Hahaha. Aku tak sebodoh yang kau kira, cantik! Hahahahaha.”

“Tidak! Aku pantang untuk berdusta. Dan sungguh! Kau bukanlah yang kemarin. Kau berubah!”

“Hahaha, bukankah memang tiada sesuatupun yang tetap di semesta ini? Semua pasti berubah, dari waktu ke waktu, detik demi detik, tiada yang permanen. Bukankah begitu? Hahaha.”

“Iya, tetapi kini kau bukanlah kamu! Lihatlah sendiri rupamu! Kau bukanlah dia yang kau maksud! Bercerminlah!”

Kerajaan Alengka geger seketika, semua muka yang biasa dipakai Rahwana hilang tanpa sisa. Kesepuluh wajah yang menjadi taji kekuatan utamanya itu telah dicuri, ditanyakan kesana kemari, tiada yang mengetahui. Ia pergi ke Gua Lawa dengan tujuan menanyakan kepada adiknya-Kumbakarna, barangkali wajahnya sedang dipinjam untuk menakut-nakuti harimau loreng atau macan kumbang, tetapi Kumbakarna sama sekali tidak tahu menahu, dan tak mungkin juga hal itu terjadi, karena ketika Rahwana menemui Kumbakarna, adiknya itu masih lelap mendengkur, ia sedang menjalani ‘tapa turu’ selama satu windu.

“Heladalah. Dimana sebenarnya muka-muka-ku? Siapa gerangan yang mencurinya? Hoalah hasssuuuu! Genjik briliik! Celeng nggaleng! Kalau ketemu tak jadikan rujak polo cecunguk itu!” Kesah Rahwana membanting gelas hingga belah, pecah. Ruah.

Rahwana mengamuk, mengobrak-abrik seluruh istana, banyak barang remuk, dihantam tangannya. Di gua, Kumbakarna bangun dari tapa brata, mengeluh karena suara riuh gaduh dari arah istana, segera saja ia berlari, sendiri, tanpa pasukan kavaleri.

“Hei! Ada apa ini? Siapa yang berani mengorak-arik istana Alengka? Celeng mancen ka!” Bentak Kumbakarna sesampainya di dalam keraton.

“Aku. Memangnya kenapa? Heh!” Jawab Rahwana bermuka merah, menahan amarah.

“Siapa kamu? Berani-beraninya mengobrak-abrik istana Alengka?” Tanya Kumbakarna yang tidak tahu kalau sosok itu adalah kakaknya.

“Aku Rahwana! Bodoh!” Bentak Rahwana.

“Hei! Jangan coba-coba kau mengaku sebagai kakakku! Kakanda Rahwana tak mempunyai muka sebanci kamu!” Kumbakarna semakin tak percaya.

Memang wajah Rahwana yang tadinya seperti emotikon. Ada sepuluh ekspresi raut ronanya, muka setan alas roban, muka menjulurkan lidah ular naga, muka cemberut gorila tua, muka kaku singa lodra, muka tidak tertarik segawon lanang, muka sarkastik kirik blirik, muka sedih buaya putih, muka marah elang merah, muka malu babi alas, dan muka terkejut hiu laut. Kini berbentuk muka aslinya, tanpa dilapisi topeng taji. Wajar saja jika Kumbakarna pangling, delapan tahun yang lalu dan tahun-tahun sebelumnya, semenjak kecil, ia belum pernah melihat wajah Rahwana yang sesungguhnya. Muka Rahwana kini berwajah tampan rupawan seperti jelmaan Sang Hyang Kamajaya.

“Dinda Kumbakarna, aku benarlah Rahwana. Ada seseorang yang telah mencuri semua mukaku! Percayalah padaku duhai adikku!” Rahwana menenangkan diri dan menjelaskan kejadian yang terjadi.

“Tidak! Aku tidak pernah punya kakak sepertimu! Kalau kau benar-benar kanda Rahwana, cobalah kau bertiwikrama menjadi raksasa seperti biasanya!”

“Duhai Adinda Kumba, aku telah kehilangan tajiku, bagaimana mungkin aku bisa mengubah diri menjadi raksasa? Tapi percayalah! Aku ini Rahwana. Raja semua raksasa!”

“Kalau begitu kau bukanlah kanda Rahwana! Aku tidak bisa mempercayaimu sebelum kau bisa membuktikannya. Sekarang cepat ubah dirimu menjadi raksasa atau pergi dari istana ini, atau kalau masih ngeyel. Kau mau aku buat mati? Cepat ubah atau pergi!”

“Dinda Kumba.” Rahwana memelas, seperti mau menangis, baru kali ini ia merasa tak berdaya. Jika pun ia melawan adiknya, tentunya ia akan kalah, mati sekonyol-konyolnya, ia tahu, ketika ia tak memakai topeng taji, maka ia tak mempunyai kekuatan yang berarti.

“Baiklah. Aku akan pergi dari sini, akan aku cari pencuri mukaku itu, dan akan aku buktikan kepadamu bahwa aku adalah benar-benar Rahwana, kakandamu!” Rengeknya. “Dan sebelum aku pergi, aku berpesan padamu. Meskipun mungkin saat ini kau tak mempercayaiku bahwasannya aku ini benar-benar Rahwana, kakandamu. Aku titipkan istana Alengka ini kepadamu, jagalah pula Putri Nareswari yang telah susah-susah aku curi. Jagalah ia hingga aku kembali. Firasatku mengatakan bahwa yang mencuri mukaku pasti si bajingan Putra Narendra itu. Akan aku cari dia, aku akan berunding, bernegosiasi dengannya, akan aku tukar kembali Nareswari dengan muka tajiku.” Tak berselang lama, Rahwana telah meninggalkan istana, pergi menelusuri hutan rimba.-

Seorang bercadar hitam yang diceritakan di awalan, bisa kita lihat, ia sedang menjemur ketela yang telah dikupas, direndam dan dirajang kecil-kecil menjadi gaplek, gaplek yang telah kering nantinya diolah lagi dan akhirnya menjadi tiwul atau leye. Ia tinggal disebuah gubug kayu beratap rumbia, sederhana sekali. Sementara Rahwana kita amati sedang berjalan cepat, kadang berlari kecil, kadang cepat, kadang berhenti istirahat, berlari cepat lagi, berlari kecil, berjalan cepat, dan berjalan pelan menuju tempat tinggal seorang bercadar hitam. Semakin lama semakit dekat, mendekat, dan sampailah Rahwana di gubug sederhana itu dengan selamat.

“Narendra! Hosssh hosssh hosssh! Narendra! Sssh, sssh.” Teriak Rahwana dengan nafas megap-megap.

“Iya, ada apa? Siapa kisanak ini? Ada perlu apa datang kemari?” Tanggap seorang bercadar hitam.

“Mana muka-mukaku yang kau curi itu?” Terus terang Rahwana tanpa basa-basi adat Jawa.

“Mukamu? Siapa kamu? Mana aku tahu?”

“Alaaah! Jangan berpura-pura kamu! Aku Rahwana dan kau yang mencuri muka-mukaku kan?”

“Jangan asal tuduh! Punya bukti apa kau menuduhku mencuri mukamu?”

“Halaaah! Aku tak mau basa-basi, serahkan mukaku itu padaku sekarang juga!”

“Tunggu-tunggu. Janganlah kamu terburu nafsu, segalanya bisa kita bicarakan secara santai dan tenang, baiknya panjenengan singgah masuk dulu ke dalam gubug saya ini. Biar saya lakukan apa yang seharusnya aku lakukan pada tamuku. Kau adalah tamuku, mari aku jamu dengan jamuan ala kadarnya.” Ajak seorang bercadar hitam sopan.

“Tidak! Terimakasih, tetapi yang aku inginkan permasalahan kita segera selesai! Sekarang di mana kau sembunyikan mukaku itu? Cepat kembalikan padaku sekarang juga!” Rahwana semakin tak sabar.

“Enak saja kau menuduhku! Apa buktinya kalau aku yang mencuri mukamu? Heh!”

“Penulis cerita ini yang tadi memberitahukan kepadaku. Kalau kau masih tak percaya, silahkan saja tanyakan kepadanya!” Lho lho lho, kok Rahwana malah katakan yang sebenarnya? Dasar tak tahu diuntung! Melempar api sembarangan.

“I…I…iya Narendra, aku yang memberitahukan kepada Rahwana, soalnya nganu… emmm… aku kasihan lihat Rahwana seperti itu. Maafin aku ya! Soalnya, biar cerita ini cepet selesai juga. Hehe.” Kataku menjelaskan pada seorang bercadar hitam itu.

Kita bisa menyaksikan betapa kecewanya seorang bercadar hitam itu kepadaku.

“Baiklah. Aku akui bahwa memang aku yang mencuri mukamu. Tapi kau perlu tahu juga! Aku melakukannya karena aku menuntut balas kepadamu wahai Rahwana! Bukankah kau juga yang telah mencuri kekasihku, Putri Nareswari?”

“Iya, aku yang telah mencurinya. Sekarang aku bisa merasakan betapa kecewanya menjadi seorang pencuri yang kecurian. Hal yang paling dibenci oleh pencuri adalah ketika barang miliknya dicuri orang lain, pun sama halnya kekecewaan seorang pembohong adalah ketika ia berhasil dibohongi orang lain.” Kata Rahwana bijak. “Aku mengakui kesalahanku, aku telah mencuri Nareswarimu.”

“Baiklah, sekarang jelas. Ia yang mencuri pasti akan dicuri, sedang ia yang memberi pasti akan diberi. Sekarang apa yang akan kita lakukan?” Seorang bercadar hitam membuka perundingan.

“Baiklah, karena ini sudah jelas. Maka aku ingin menawarkan untuk kita sama-sama saling mengembalikan apa yang telah kita larikan. Kau mengembalikan muka-mukaku, dan aku akan kembalikan kepadamu Nareswarimu. Bagaimana?”

“Baiklah, sepakat!”

“Kalau begitu, mari ke istanaku.” Ajak Rahwana senang. “Oh iya, satu lagi, aku meminta tolong kepadamu, agar kau nanti bisa menjelaskan kepada adikku, Kumba, bahwa aku memang benar-benar Rahwana. Kakaknya.”

“Iya, kita lihat nanti.”

Berdua. Rahwana dan seorang bercadar hitam bersegera menuju Keraton Alengka.

Nun mati bertemu tasjid yang jauh di belahan sana. Di istana Alengka, Kumbakarna sedang merayu Putri Nareswari. Diberikannya gombalan-gombalan dan rayuan, agar sang Putri luluh hatinya, jatuh cinta padanya, dan mau diajak tidur dengannya.

“Seumpama embun pagi, kau adalah embun yang paling suci, bolehkah kiranya daku meneguk kesucian itu barang setetes saja, agar dahaga menahunku ini bisa lega seketika? Wahai cantik. Kupikir para bidadari kahyanganpun cemburu dengan kecantikan parasmu.” Bisik Kumbakarna ke dekat telinga Putri, ia masuk ke dalam jeruji sangkar yang mengurung Nareswari.

Si putri hanya diam dan menghindar sebal ketika dagunya disentuh oleh Kumba.

“Hahaha, bodoh sekali Kanda Wana, tak tahu kalau aku hanya berpura-pura tak mengenalinya. Sekarang, kini kekuasaan Alengka berada di tanganku sepenuhnya. Selama ini aku sudah muak dengan kepura-puraanku bersikap baik padanya, semenjak kecil, hanya ia yang selalu diunggulkan, selalu diuntungkan. Sedangkan aku? Aku selalu menjadi yang nomor dua.” Kesah Kumba mengakui kesebenaran isi hatinya. “Hah! Peduli setan! Terpenting sekarang akulah yang menjadi penguasa kerajaan raksasa. Aku sudah bosan bertahun-tahun hanya tidur-tiduran saja, sekarang saatnya aku mulai memerintah Alengka. Akulah Sang Kumbakarna, menjadi maharaja diantara para raja raksasa! Hahahahaha.”

Kumbakarna kembali mendekati Putri, Ia meraba-raba tubuh Putri yang tangannya masih terikat ke belakang. Putri meronta, menghindar. Namun Kumba berhasil menusukkan keris tumpulnya ke dalam lubang surgawi Nareswari. Di saat seperti itu, entah dengan ajian apa Rahwana dan Seorang bercadar hitam telah memasuki istana.

“Hei Kumba! Apa yang sedang kau lakukan?” Teriak Rahwana marah melihat adiknya berkelakuan tak senonoh kepada Putri.

Kumbakarna kaget setengah modar kepergok dua sosok yang dikenalinya. Kakaknya dan satu lagi seseorang yang pernah menemuinya untuk mengajak kerjasama.

“Narendra, cepat berikanlah muka-mukaku biar kuhajar Si Kumba!” Gegas Rahwana meminta kepada seorang bercadar hitam.

Secepat kilat Kumba berubah menjadi sesosok raksasa besar bertubuh beruang dan berwajah menyeramkan, gigi taring sepanjang gading, membuat siapa saja yang melihatnya pasti akan merinding. Pun sama halnya dengan Rahwana, ia telah memakai topeng tajinya, sehingga ia berubah menjadi sesosok monster berkepala sembilan. Memang sengaja masih disisakan satu topeng taji paling sakti oleh seorang bercadar hitam, masih disembunyikan dikempit di ketiaknya.

Terjadilah tarung kembang super dramatis, antara Kumba dengan Wana. Kedua raksasa saling hajar, pukul dan dipukul, menggajul dan digajul, tumbuk dan tertumbuk.

“Bajingan kau Narendra, kau telah berkhianat kepadaku, kau mengingkari janjimu untuk tak akan memberikan muka Kanda Wana kembali.” Umpat Kumbakarna di sela pertarungannya.

“Bukankah memang seperti ini yang seharusnya aku lakukan pada pengkhianat sepertimu. Tega sekali kau memintaku untuk mencuri topeng taji kakakmu sendiri, hanya agar kau bisa mengusir kakakmu dan menguasai kerajaan Alengka ini! Terlebih lagi kau pun telah berkhianat kepadaku, teganya tadi kau mencoba memaksa Dinda Nareswari hanya untuk kepuasan nafsumu!” Bantah Seorang bercadar hitam sinis.

“O.o.o. Jadi seperti ini ternyata pembalasanmu padaku Kumba? Tiada ampun lagi bagimu! Hyaaaat!” Serangan mendadak dilancarkan Rahwana sehingga gada rujak polonya tepat mengenai ubun-ubun Kumbakarna, kepalanya pecah, otaknya berhamburan, muncrat kemana-mana, dinding istana berubah merah hati, Kumbakarna mati.

Suasana kembali tenang. Rahwana menghampiri seorang bercadar hitam, dipeluknya ia seperti memeluk sahabat yang sudah berjuta tahun tak pernah jumpa.

“Terimakasih Narendra, kau telah membantuku memusnahkan pengkhianat dalam selimut kamar istanaku. Terimakasih. Kau layak untuk mendapatkan istrimu kembali. Silahkan bawa saja Nareswarimu itu ke tempat asalmu.” Kata Rahwana dengan tersenyum bangga.

Seorang bercadar hitam menjabat tangan Rahwana dan kembali memeluknya. Melangkah seorang bercadar itu memasuki kurungan emas, didekati Nareswari yang telah tergolek lemas, dilepaskannya ikatan yang memborgol tangan kekasihnya itu, mereka berpelukan, Nareswari menangis, airmatanya membasahi jubah hitam yang ia kenakan. Disaat adegan romantis itu berlangsung, Rahwana langsung menutup kembali jeruji emas sehingga mereka berdua terkurung di dalamnya.

“Hei! Apa yang kau lakukan? Bukankah kita sudah bersepakat? Aku telah percaya kepadamu, kenapa kau malah berkhianat!” Bentak seorang bercadar hitam.

“Hoahahahaha! Ia yang berkhianat pasti akan dikhianati. Bukankah ini juga pantas untukmu? Kau telah mengkhianati Kumba! Hahahaha.” Rahwana tertawa lebar-lebar.

“Tapi kita sudah sama-sama berjanji!”

“Janji? Hahahahaha. Apalah arti janji bagi seorang pengkhianat? Bukankah itu hanya bumbu manis penyedap rasa? Hahaha.”

“Biadab kau Rahwana!” Geram seorang bercadar hitam mengoyak jeruji hinga gemetar.

“Huahaahahahaha! Huahahahahahaha!”

Rahwana terus terbahak-bahak, sesekali ia tersedak hingga suaranya serak. Ia tak menyadari bahwa masih ada satu topeng taji paling sakti yang belum ia dapatkan kembali. Di dalam jeruji, seorang bercadar hitam itu memakaikan topeng milik rahwana ke wajahnya, dan dalam hitungan seperdetik ia telah berubah menjadi raksasa berwajah menyeramkan, berkepala seperti singa, bertanduk kijang, bersayap elang hitam, bersisik kura-kura, dan berekor naga. Jeruji emas hancur seketika.

“Hoi pengkhianat biadab! Pergilah ke neraka!” Hanya dengan satu hantaman, satu gigitan, satu patukan serangan saja Rahwana telah hancur lebur seketika. Seorang bercadar hitam yang tadi bertiwikrama menjadi raksasa itu telah kembali menjadi wujud aslinya. Seorang dengan cadar hitam menutupi sebagian mukanya.

“Dinda Nareswari. Kau tidak apa-apa?” Segera Ia menghampiri kekasihnya dan memeluknya erat-erat.

Tanpa sepengetahuan seorang bercadar hitam, Nareswari mengambil sebilah keris yang terselip di pinggang kekasihnya itu, tanpa babibu, langsung ditusukkan keris itu bertubi-tubi ke arah punggung, perut, dan dada. Seorang bercadar hitam tersungkur, tergeletak di lantai, sekarat.

“Meng…mengap…mengapa? Kka…kkkaaa…kkkauu, lakk laaakku…kaaan ini, pad..padaku?” Tanya seorang bercadar tersendak-sendak, kini cadarnya telah tersingkap, memperlihatkan dagunya menjulur maju lebih panjang dari rahang atasnya. Muka bagian bawahnya sungguh jauh dari ketampanan, hancur menjijikkan. Irama gending Gondosuli berbunyi mengiringi detik-detik akhir hidup seorang bercadar hitam yang kini telah tersingkap.

“Mengapa aku lakukan ini? Ketahuilah bahwa sebenarnya akulah yang mengundang Rahwana untuk mengambilku darimu, aku telah jatuh cinta padanya, ia memiliki segalanya, ketampanan lelaki yang sesungguhnya, harta kekayaan, dan kebahagiaan, tidak sepertimu. Aku telah bosan hidup dalam kemelaratan, terlebih lagi lihatlah dirimu! Apakah kiranya seorang putri secantik diriku selalu bercinta dengan seorang buruk rupa sepertimu. Dan kau seharusnya tahu, apalagi yang bisa menjamin cinta di dunia ini, kecuali harta?” Terus terang Nareswari.

Betapa remuk redam hati seorang bercadar hitam yang kini telah tersingkap itu. Ia merasa ketiadaan dirinya yang dalam. Mengapa di sisa akhir hidupnya, bukanlah cinta dan kasih sayang yang ia dapatkan. Malah pengkhianatan. Kekejaman wanita. Semakin cantik rupanya maka semakin menyakitkanlah jatuh cinta padanya.

“Kau boo…boleh mengkhianatiiiku. Taaa…tap…tapi kau harus taaau… Ti..tiada balasan terbaik bagi peng…pengkhianat selain dii..dikhianati. Tuu…buhmu akan mengkhianatimu. Kkkaaau akan segera meem meenyusulku…” Kutuk seorang bercadar hitam yang kini telah tersingkap kepada mantan kekasihnya. Nafasnya semakin pekat, sesak memberat, semakin sekarat, dan arwahnya terbang ke akhirat.

“Hahaha. Kini, semua kekayaan istana ini hanya milikku sendiri. Hahaha.” Nareswari tertawa penuh kemenangan.

Namun beberapa menit kemudian, seluruh tubuhnya terasa gatal, timbul bintik-bintik merah kehitaman, semakin besar dan membesar, kulitnya seperti terbakar, melepuh, darah mulai mengucur dari benjolan-benjolan di seluruh tubuhnya, semakin deras dan memeras. Darahnya terkuras.

Pencerita bosan. Mematikan ceritanya.

(Diselesaikan di Wonosobo, 8 September 2016)

Minggu

Karya Samantha Tirta Anantareja

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: