Sab. Mei 8th, 2021

Redenominasi Rupiah

Akan muncul penerapan kebijakan dari Bank Indonesia mengenai rupiah yang dalam waktu 5 tahun kedepan sudah akan diberlakukan di tengah masyarakat Indonesia. Kebijakan yang sekaligus wewenang mutlak Bank Indonesia ini merupakan sebuah nuansa baru bagi dunia perbankan meskipun pada kenyataannya Bank Indonesia masih gamang untuk mewujudkan kebijakan tersebut.
sf0_Ilustrasi Redenominasi Rupiah
redonominasi-rupiah
1352289p
Redenominasi adalah menyederhanakan pecahan mata uang menjadi pecahan lebih sedikit dengan cara mengurangi digit (angka nol) tanpa mengurangi nilai mata uang tersebut. Misalnya Rp. 1.000 menjadi Rp. 1. Hal itu diberlakukan juga pada harga barang-barang sehingga daya beli masyarakat tidak mengalami penurunan. Pada waktu terjadi inflasi, jumlah satuan moneter yang sama perlahan-lahan memiliki daya beli yang semakin melemah. Harga produk dan jasa dituliskan dengan jumlah yang lebih besar. Ketika angka-angka ini semakin membesar, mereka dapat memengaruhi transaksi harian karena risiko dan ketidaknyamanan yang diakibatkan oleh jumlah lembaran uang yang harus dibawa atau tidak efektif menangani perhitungan angka dalam jumlah besar. Untuk memperkecil masalah ini maka dilakukanlah redenominasi yaitu satuan yang baru menggantikan satuan yang lama dengan sejumlah angka tertentu dari satuan yang lama dikonversi menjadi 1 satuan yang baru. Prosedur ini dapat disebut sebagai “penghilangan nol”.Pertimbangan signifikan lainnya dari Bank Indonesia ketika memunculkan kebijakan ini adalah dalam rangka menciptakan sistem pembayaran yang efisien, cepat, aman, dan handal. Redenominasi mata uang rupiah menentukan salah satu kewenangan Bank Indonesia dalam rangka mengatur dan menjaga keselarasan sistem pembayaran.
Alasan yang melatarbelakangi Bank Indonesia melakukan redenominasi mata uang rupiah adalah:
1. Uang pecahan Indonesia yang terbesar saat ini adalah Rp100.000 yang merupakan pecahan terbesar kedua di dunia setelah mata uang Dong Vietnam yang pernah mencetak 500.000 Dong. Namun tidak memperhitungkan negara Zimbabwe yang pernah mencetak 100 trilyun dolar Zimbabwe dalam 1 lembar mata uang.
2. Munculnya keresahan atas status rupiah yang terlalu rendah ketimbang mata uang lainnya, misalnya terhadap dolar, euro, dan uang global lainnya, bukan soal substansi, tapi soal identitas karena kekuatan mata uang kita relatif stabil.
3. Pecahan uang Indonesia yang selalu besar akan menimbulkan ketidakefisienan dan ketidaknyamanan dalam melakukan transaksi, karena diperlukan waktu yang banyak untuk mencatat, menghitung dan membawa uang untuk melakukan transaksi sehingga terjadi ketidakefisienan dalam transaksi ekonomi.
4. Untuk mempersiapkan kesetaraan ekonomi Indonesia dengan kawasan ASEAN dalam memasuki era Masyarakat Ekonomi ASEAN pada tahun 2015.
Adapun sosialisasi redenominasi tersebut dimulai dari 2011-2012, dilanjutkan dengan masa transisi dari tahun 2013-2015. Penarikan mata uang rupiah lama pada 2016-2018 dan redenominasi secara penuh dilaksanakan pada tahun 2019. Pada tahap transisi, diberlakukan penggunaan kedua mata uang rupiah lama dan baru. Jadi, masyarakat boleh memilih untuk menggunakan mata uang rupiah yang lama ataupun yang baru dalam bertransaksi.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: