Sel. Agu 3rd, 2021

Rendezvous

ACTION 2 – Rendezvous – Angga Indra AnurragaSudah belasan tahun aku mencari pekerjaan dan tidak ada satupun yang mau menerimaku. Talentaku dalam bermusik tidak akan berguna sedikitpun karena aku dituduh sebagai mantan anggota PKI. Sebenarnya aku bukanlah seorang PKI, aku hanya seorang guru musik biasa yang kebetulan mengajar para anggota GERWANI, Gerakan Wanita Indonesia. GERWANI adalah salah satu organisasi dibawah kekuasaan PKI. Namun aku beruntung masih bisa hidup sampai sekarang ini.

Bulan September 1978 aku memutuskan untuk pindah ke Wonosobo, mungkin disana tidak akan ada yang tahu masa laluku. Aku tinggal bersama pamanku sampai aku dapat pekerjaan tetap. Aku mengirim puluhanan surat lamaran berharap salah satunya bisa memberiku pekerjaan agar tidak merepotkan orang lain lagi. Ternyata Tuhan menjawab doaku. September 1980 aku diterima sebagai guru musik di salah satu Perguruan Tinggi Swasta, kali ini talentaku dalam bermusik sepertinya sangat berguna.Pria 40 tahun dengan ijazah S1 bisa dipercaya untuk mengajar di perguruan tinggi, aku sangat bersyukur Tuhan memberikan talenta ini dan tidak ada satupun di kota ini yang menanyakan keterlibatanku dengan PKI. Aku sangat mencintai kota ini. Aku punya banyak mahasiswa dari kelas reguler hingga extensi, mereka biasa memanggilku Bapak Juna.Setahun mengajar di universitas tersebut semua berjalan lancar, aku bahkan sudah bisa kontrak rumah sendiri tanpa merepotkan pamanku.

Sekarang sudah memasuki bulan ke sembilan dimana pendaftaran siswa baru telah berakhir. Di hari pertama ajaran baru ini aku mengajar kelas extensi. Banyak sekali wajah baru di kelas waktu itu, penampilan mereka terlihat seperti karyawan, guru, buruh, PNS dan hanya beberapa pelajar muda. Wajah mereka begitu asing bagiku kecuali satu, kulihat seorang wanita duduk di pojokan yang mungkin berumur sekitar 30 tahunan, ia mengingatkanku pada seseorang yang kukenal. Seperti dejavu, situasi yang sama saat aku pertama kali bertemu dengan wanita dalam ingatanku. Kenangan itu seperti terjadi sekali lagi di kelas ini. Ingatanku kembali ke 17 tahun yang lalu, di hari pertama aku mengajar di GERWANI tahun 1964. Aku memasuki ruangan yang penuh dengan wanita. Kebanyakan dari mereka adalah ibu – ibu muda dan hanya sedikit remaja.

Pandanganku terpana pada sesosok remaja cantik yang duduk di pojok kelas, matanya begitu indah seperti butiran embun pagi. Dia bernama Ambarwati, biasa dipanggil Wati, tapi aku lebih suka memanggilnya Ambar. Dia juga ternyata memiliki suara yang indah dan sangat antusias mempelajari musik, dan itu membuat kami semakin dekat. Dalam 1 bulan kamipun menjadi sepasang kekasih. Hari – hari kami begitu indah setelah itu. Kami juga hampir tidak menghiraukan kondisi ekonomi yang semakin terpuruk di negeri ini.

Selama kami bersama tidak ada yang mampu mengusik kebahagiaan kami.Sayangnya kami tidak bisa selamanya bersama, tepatnya 30 September 1965 terjadi revolusi besar – besaran. Sejak saat itu kami semua harus bersembunyi terutama orang yang memiliki hubungan dengan PKI, GERWANI, Serikat Buruh, Barisan Tani Indonesia, atau organisasi – organisasi lain di bawahnya. Aku harus terus bersembunyi, aku tidak bisa bertemu dengan Ambar. Aku hanya bisa berharap dia baik – baik saja. Jakarta, Yogyakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, sampai Bali tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi. Pembantaian terjadi dimana – mana. Banyak anggota GERWANI yang diperkosa dan dibunuh. Aku sangat khawatir dengan Ambar. Aku sangat sedih dan juga takut, aku sedih harus berpisah dengan Ambar seperti ini, aku takut jika kami tidak bisa bersama lagi.

Hampir 2 tahun aku bersembunyi, berpindah dari satu rumah ke rumah lain, menghilang dari pencarian pasukan Soeharto. Tidak ada satu malampun aku bisa tidur dengan nyenyak. Aku baru berani keluar saat kekacauan sepertinya sudah mulai reda. Aku dengar di radio kekayaan negara kami sedang dibagi – bagikan kepada negara lain. Freeport mendapat emas di Irian Jaya, Caltex menguasai ladang minyak di Riau, ladang gas di Natuna untuk Mobil Oil, sementara perusahaan – perusahaan lain mendapat hutan tropis. Kebijakan ekonomi pro liberal telah diterapkan. Entah mau jadi apa negeri ini.Aku mulai mencari kabar tentang Ambar, namun bertahun – tahun aku tidak berhasil menemukannya. Hari ini wanita di pojok kelas kuharap dia adalah Ambar, namun aku sudah tidak bisa lagi melihat mata sebening embun seperti dalam ingatanku. Wanita itu memandang kosong ke depan, bahkan dia tidak memperhatikanku. Mungkin aku salah mengenali orang, lalu aku melanjutkan mengajar seperti biasanya.

“Baiklah, saya sudah menulis lirik lagu Can’t Smile Without You yang dipopulerkan oleh Barry Manilow, ada yang bisa menyanyikan lagu ini? Biar kuiringi dengan gitar.” beberapa mahasiswa mengangkat tangannya. Termasuk wanita di pojok tadi. “Oke, ternyata banyak juga, baiklah yang di pojok silahkan maju.” Dia tidak langsung maju ke depan sampai teman disebelahnya menepuk punggungnya. Wanita itu melangkah ke depan kelas menggunakan sebuah tongkat, ya ampun ternyata wanita itu buta. Kedua bola matanya palsu. Lalu mulai kumainkan gitarku, dan dia mulai bernyanyi, suaranya begitu merdu dan indah, tak pernah aku mendengar suara seindah itu sejak 17 tahun lalu. Aku sangat yakin sekali dia adalah Ambar kekasihku dulu.

Setelah sekian lama berpisah akhirnya kami bisa bertemu. Pasti saat itu Ambar tertangkap dan mereka mencongkel mata Ambar. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana itu bisa terjadi, melihatnya seperti ini saja sudah membuatku harus membendung airmataku. Bahkan aku tidak berani mengatakan bahwa aku adalah Juna kekasihnya. Aku juga tidak tahu apakah dia sudah bersuami atau belum. Biarlah, mungkin dia tahu namaku Juna, tapi kurasa dia tidak tahu kalau aku adalah Juna yang sama dengan pria yang pernah dia cintai.

Sejak saat itu aku sering memperhatikan Ambar dari jauh. Aku tidak tahu apa yang salah dengan diriku, aku merasa gugup jika harus berhadapan langsung dengannya, apalagi jika harus berbicara berhadapan, lidahku terasa kaku dan tanganku bergetar. Karenanya aku harus menjaga jarak dengan Ambar dan memilih untuk memandangnya dari jauh. Aku hampir gila dibuatnya, pertemuan kami yang hanya seminggu sekali membuatku selalu ingin memandang ke arahnya setiap kali bertemu. Bahkan saat pelajaran seni rupa atau seni tari aku sering lewat ke depan kelasnya hanya untuk melihatnya dari jendela.Sekarang sudah bulan September lagi, entah kenapa banyak hal besar yang terjadi di bulan September di kehidupanku, entah itu hal yang indah ataupun hal buruk. Suatu ketika mahasiswa lain menggodaku, dia tahu pandanganku kepada Ambar bukanlah pandangan biasa.

“Pak, ngomong aja langsung pak, daripada setiap hari curi – curi pandang.”
“Maksudmu?”
“Ya itu, Ambar, bapak suka kan dengan Ambar?”
“Jangan ngaco kamu”
“Aku tahu pak, dari mata bapak aja sudah keliatan koq, udah samperin aja pak, hehe.”
“Memang dia belum punya suami?”
“Belum pak, wanita seperti Ambar yang, emm maaf, buta, pasti sangat sulit mencari pasangan hidup.”
“Tapi dia cantik, pasti ada juga yang menyukainya.”
“Iya si, kalau pacar udah beberapa kali, tapi semuanya nggak ada yang tulus, menurut mereka macarin wanita buta tidak akan ketahuan kalo selingkuh.”
“Hah, tega – teganya mereka berbuat seperti itu?”
“Iya, aku juga kasian melihat Ambar, dia suah 35 tahun dan belum mendapatkan pendamping hidup”
“Begitu ya? Baik aku harus pergi, ada pekerjaan yang harus kuselesaikan.”
“Eh, pak Juna, tunggu, aku tahu bapak tulus dengannya. Jangan memendam perasaan pak. Kurasa Ambar juga punya rasa yang sama dengan bapak.”
“Haha, tidak mungkin, kami bahkan jarang bertegur sapa, tapi terimakasih ya.”

“Ya Tuhan, Ambar belum bersuami, apa aku harus mengatakan hal yang sebenarnya kepada Ambar, mengingatkan dirinya tentang cinta kami berdua? Tapi bagaimana mengatakannya? Harus mulai darimana? Arrgghh… Kenapa aku ini?” Aku mencoba berunding dengan diri sendiri dan kudapatkan  sebuah kesepakatan.Setelah mengumpulkan seluruh keberanianku, kucoba untuk bertanya kepada Ambar. Semoga hal besar yang terjadi di September kali ini bukan hal buruk, melainkan hal yang indah.

Saat itu Ambar sedang dalam kelas seni rupa, dosen yang seharusnya mengajar kulihat sedang pergi keluar kampus, sementara para mahasiswa sedang sibuk membuat patung di kelas. Perlahan aku mendekati Ambar yang sedang membersihkan sebuah patung sebesar manusia buatannya sendiri, aku tak menyangka bagaimana bisa wanita buta bisa membuat sebuah patung. Aku bersembunyi di belakang patung, setelah beberapa lama aku mencoba menyapa Ambar.

“Hey, apa yang sedang kau buat?”
“Pak Juna?”
“Ya, bagaimana kau tahu?” aku tetap berdiri di belakang patung, itu membuatku menghilangkan rasa grogiku.
“Suara bapak, aku bisa mengenalinya”
“Oh… Jadi kau sedang buat apa?”
“Oh, ini untuk bapak”
“Untukku?” aku bertanya heran.
“Lihatlah.” lalu aku berjalan ke depan patung itu, Ambar sedikit menyingkir agar aku bisa melihat patung itu secara keseluruhan. Aku begitu takjub melihatnya, Ambar membuat patung diriku, dia bahkan membuat wajahku begitu detail. Aku seperti melihat diriku sendiri 18 tahun lalu.
“Be.. bag.. Bagaima kau membuat ini?” lidahku mulai kaku lagi
“Ini bagaimana aku bisa melihatmu, Arjuna.”Ambar menyebutkan nama lengkapku sambil memegang pipiku dan meraba lekuk mukaku. Aku lalu memegang tangan Ambar. Kami sama – sama meneteskan air mata.Kebahagiaan 18 tahun lalu seakan kembali kepada kami. Kami pun langsung berpelukan tak peduli ada banyak mahasiswa lain di situ yang semuanya melihat ke arah kami. Kami berpelukan begitu lama sampai seorang mahasiswa wanita bertepuk tangan dan diikuti oleh semua mahasiswa lainnya. Mereka bersorak atas kebahagiaan kami. Kamipun tersenyum melihat ke arah mereka. Tak lama kemudian kami pun menikah.
“Dan begitulah cerita cinta kami”
“Aku baru tahu kakek punya dongeng bagus” kata Andy cucuku
“Haha… itu bukan dongeng, itu kisah nyata kakek”
“Cerita itu lagi pa? Aku hampir bosan mendengarnya” Didit anakku memang sudah sering kuceritakan tentang kisah ini.
“Kau jangan begitu, Dit”
“Haha, iya pa, aku nggak bosan, aku suka cerita papa, I Love You pa.” Didit mencium keningku.
“Dasar kamu Dit, itu bantu Ibumu” Didit dan Andy membantu Ambar keluar dari kamar agar bisa duduk bersama kami di ruang makan. Lalu datang Nancy istri Didit membawa makanan ke meja.
“Sudah nggak sabar menunggu ya? Nich makanan sudah siap, kujamin rasanya enak.”
“Haha.. Pasti, istri siapa dulu.”
“Mama cocok jadi koki.”
“Eits… jangan ngobrol sambil makan Andy” kata Ambar
“Nggak papa, ini akhir September, kita harus merayakannya.”
“Merayakan apa? Revolusioner?” tanya Didit.
“Didit.” Ambar memperingatkan Didit halus.
“Iya ma, aku tahu ini hari pernikahan mama sama papa”
Kami tertawa dan mereka turut merasakan kebahagian kami. Kami merasa pantas dan bangga atas semua ini setelah kepedihan panjang yang telah berlalu. Dan cinta memang telah berpihak kepada ketulusan. Rendezvous ini adalah saksi. Akhirnya aku bisa berbahagia selamanya dengan Ambar, Tuhan juga menganugerahi kami kebahagiaan lebih melalui Didit, Nancy, dan juga Andy, semua baik dengan kami. Kami sangat beruntung memiliki mereka, dan itulah kebahagiaan kami sesungguhnya.

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: