Sel. Agu 3rd, 2021

Sebuah Ciuman

Sebuah Ciuman – Cerpen 1 – Wans SabangI read all the letters,

I read each word that you’ve sent to me,
And though it’s past now and the words start to fade,
All the memories I have still remain,
Oh, If leaving me is easy… Then you know coming back is harder… 

Sepanjang perjalanan aku diam saja. Harry pun begitu.

Hanya terdengar untaian lagu If leaving me is easy nya Phil Collins dari tape mobilnya Harry.“Pritta, please keep contac walaupun nanti kita saling berjauhan.” Harry memecah keheningan.
“Aku akan tetap menunggumu, Ta.” Kata Harry lembut. Aku tak menanggapinya. Uh, bisa diam ‘gak sih ini orang. Bisik hatiku kesal. Buatku lagu yang sedang mengalun manis ini lebih meresap dari sejuta janji Harry.

“Kamu masih marah?.” Apa dia tidak tahu kalau aku sudah benci dengan seseorang, sulit sekali untuk memaafkan. Begitu juga kalau aku sudah sayang dengan seseorang, sulit sekali untuk menjauhi apalagi melupakannya.
“Maafkan atas kejadian itu, Ta.” Suara Harry semakin melemah.

Basi!. Telah berapa kali kamu minta maaf, Har?. Sejumlah itu pula aku tidak akan memafkan kejadian itu. Mungkin kamu anggap aku ini kejam, Har. Jujur, aku tidak pernah membencimu. Yang aku sesalkan adalah mengapa kejadian itu bisa terjadi disaat aku sedang memupuk kepercayaan kepadamu. Kepercayaan itu sangat mahal harganya buatku, Har.

*****

Aku lupa bagaimana awalnya aku bisa dekat dengan Harry. Di semester-semester akhir ini kami dekat. Apabila ada mata kuliah yang sama, Harry datang ke rumahku, menjemputku, kemudian pergi ke kampus bersama. Dan jika aku ada mata kuliah malam. Harry menungguku di taman kampus lalu mengantarku pulang.

“Kamu termasuk orang yang beruntung, Ta. Harry bisa ‘nyantol sama kamu.” Kata Eka saat di ruang kelas menunggu dosen datang. “Begitu Harry menjatuhkan pilihan hatinya ke kamu. Banyak teman kita yang galau.”
Sebenarnya aku malas menanggapi gosipnya Eka. Ya namanya juga gosip, semakin seru jika ditelusuri.
“Banyak?. Siapa saja Ka yang galau?.” Selidikku.
“Kalau aku kasih tahu. Tolong jaga perasaannya mereka ya, Ta.” Pinta Eka sambil memohon kepadaku.
“Memangnya mereka akan aku gigit!” Sahutku kesal.
“Bukan begitu Ta. Kasihan mereka kan… .” Ha, pintar sekali Eka ber-akting. Kok malah Eka nya yang bersedih, apa Eka termasuk kelompok galau juga kalau Harry dekat dengan aku. Huh! Dasar tukang gosip nomor wahid.
“Ya sudah. Kalau kamu ‘gak mau cerita, ‘ngapain juga kamu cerita. Mending juga kamu diam” Kataku ‘jutek.
“Sedekat apa hubungan kamu sama Harry, Ta?.”
“Kamu mau cari bahan gosip lagi?.” Jawabku kesal.
“Hehehe. Seburuk itukah citraku di matamu, Ta?” Eka ‘cengengesan sambil garuk-garuk kepalanya.
“Keramas! Makanya kalau mandi jangan lupa keramas biar ketombe tidak tumbuh subur di rambutmu yang gimbal. Hehehe.” Ejekku sambil melototi wajah Eka yang salah tingkah.
“Baru kemarin creambath di Rudy”
“Rudy salon atau Rudy ketok magic?.”
“Gila ‘lo Ta! Memangnya ‘gue ‘penyok-penyok?.”

*****

“Har, ‘ma kasih.” Kataku basa basi. “Sebenarnya aku bisa naik taksi sendiri dan ‘gak perlu merepotkanmu.”
“Ah, Ta. Kamu ini seperti orang lain saja. Aku nya yang mau. Aku senang, Ta bisa ‘ngantar kamu.” Kata Harry berusaha mencairkan kekakuan kami berdua.
“Kenapa sekarang kamu beda, Ta?. Seolah ada tembok besar yang menghadang diantara kita.”
“Gak perlu dibahas, Har. Aku harus mengurus tiket dan koper-koper bawaanku sekarang. Permisi Har.” Aku membalikkan badan sebelum meninggalkan Harry.
Baru beberapa langkah dari Harry.
“Ta!. Tunggu!.”

Aku menoleh ke arah panggilan. Harry bergegas mengejar ke arahku. Ketika jarak kami berdiri kira-kira tinggal dua langkah. Harry berdiri menatapku layu.
“Ta, aku minta maaf atas kejadian itu. Mudah-mudahan kamu mau memaafkan. Dan aku berharap kita bisa dekat lagi seperti dulu.”
Aku diam saja. Menatap tajam ke mata Harry yang semakin lama semakin layu dan hampir redup.
“Ta, ini permintaan maaf yang tulus dari hatiku yang paling dalam. Kalau sekarang kamu belum bisa memaafkan. Beri ruang sedikit saja bagi hatimu untuk mempertimbangkannya. Aku cuma bisa memohon itu saja padamu, Ta.”
Harry merogoh saku celananya. Memberikan kotak perhiasan itu kepadaku.
“Pakai liontin itu disana ya, Ta. Agar kamu bisa ingat kembali kenangan indah yang pernah kita rajut bersama.”
“Ma kasih, Har. Permisi!.”
Aku meninggalkan Harry yang masih diam terpaku menatap kepergianku.*****

Hilangnya kepercayaanku pada Harry ketika dia mencium bibirku disaat aku tertidur di mobilnya sepulang kami nonton di 21. Hanya sebuah ciuman! Tapi bagiku itu adalah sebuah prinsip, Harry bukan hanya telah mencuri bibirku tapi juga telah merampas kepercayaanku padanya. Tak lama aku di ruang tunggu. Qantas pun berangkat jam 18:30. Pesawat ini tidak langsung menuju ke Perth. Tapi transit dulu di Singapur. Setelah pesawat lepas landas, aku mulai bisa berfikir lagi. Akibat kejadian itu, apapun yang Harry lakukan padaku, langsung membuatku illfeel.

*****

“Kenapa sih kedekatan seseorang itu selalu dihubungkan dengan cinta?.” Tanyaku pada Eka saat kami pulang kuliah bersama di kereta.
“Hei non!. Kamu ‘nanya atau kumur-kumur sih?.” Tanya Eka kesal. “Don’t be naïf, Ta. ‘lo tuh cewe dan Harry itu cowo. Sama-sama masih jomblo. ‘Ngapain juga Harry pendekatan dan baik sama ‘lo?. Ya, karena cintalah. Dan ‘ngapain juga ‘lo ‘manut saja didekati Harry. Ya, karena ‘lo cinta jugalah.”
“Kesimpulan yang nekat ‘lo, Ka.”
“Dari pada ‘lo kesal dengan kesimpulan ‘gue. Lebih baik ‘lo jujur saja, Ta dengan hati kecil ‘lo sendiri,”
Memang Harry pernah menyatakan kalau dia cinta padaku. Saat itu aku tidak mengiyakan dan tidak juga menolaknya. Apa yang aku

katakan pada Harry sama dengan apa yang aku katakan pada Eka.
“Saat ini aku lebih nyaman kalau kedekatan kita tidak dihubung-hubungkan dengan perasaan, Har.” Kataku lebih tegas lagi.****

Seperti sebelum lepas landas. Pramugari mengingatkan para penumpang untuk mengenakan seat beltkarena sebentar lagi pesawat akan mendarat di Changi Airport.  Di lorong panjang Changi Airport, aku menatap liontin pemberian Harry. Liontin yang cantik dan anggun. Liontin berbentuk hati yang terbuat dari white gold. Lama aku menatap liontin itu.

September ini aku tidak di Jakarta, tidak bersama Harry dan Eka temanku si biang gosip. Sebentar lagi aku akan sampai di Perth,

September ini diramalkan cuaca akan cerah dan hangat. 30 menit dari Perth, aku bisa menjelajahi kebun anggur kelas dunia di Swan Valley, berlayar di Swan River dengan kano melewati taman-taman dan gedung pencakar langit yang menghiasi kota Perth. Aku akan bermalas-malasan di pasir putih pantai Cottlesloe sambil menunggu datangnya sunset. Sebuah lembaran baru yang indah, aku tersenyum membayangkannya.Sampai di pintu exit Changi Airport, di sudut ruang ada tempat sampah yang terbuat dari stainless. Aku menatap liontin itu sekali lagi. Membuka tutup tempat sampah dan … membuang liontin itu disana. GoodbyeHarry… Welcome Perth.

*****

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: