Selma oleh Chendanabiru

0
262

Selma
oleh Chendanabiru

Selma mendekati jendela, melihat pagi yang masih pucat di balik tirai dan menikmati hawa dingin yang menikam kulit ari. Dia memeluk tubuh, menahan separuh gigil yang menelanjangi rasa.

Secangkir kopi panas sudah tersedia di atas meja, asapnya mengajak suasana berbicara. Namun Selma tidak mahu ikut campur, memilih untuk diam dan perlahan menepi dari kenangan.

Kopi itu selalu mengingatkannya tentang Arman. Tentang semalam dan kehilangan. Selma sudah lama meletakkan kesedihannya pada banyak lembar kertas, ucapan-ucapan hati yang sepi, kata-kata luka yang masih merah.

Bell pintu berbunyi, Selma merasa aneh. Pagi-pagi begini sudah ada yang berani mengganggu.

Daun pintu dibuka. Seperti mahu dia berteriak, muncul wajah Arman yang sugul, menatap Selma dengan belas.

Sudah hampir lima tahun Arman pergi, memilih perempuan lain sebagai tujuan hidup. Selma sakit, hati, jiwa dan raga. Selama itu juga Selma menderita.

Kopi yang sudah dingin di atas meja ditolak ke depan Arman. Lakilaki itu sudah agak kurus, tidak seperti lima tahun lalu. Malah rambut juga semakin tiada.

Selma memerhati Arman dengan diam-diam. Barangkali gagal lagi bersama dengan perempuan berkelas tinggi yang dia kenali dengan nama Wati.

“Habiskan kopi itu dan kau boleh pulang,” suara Selma begitu dingin.

Malah lebih dingin dari udara pagi tadi. Lebih gigil dari sepi.

Arman mendongak, memandang Selma dengan sayu.

“Aku harus ke mana?”

“Ke mana mana saja, tapi bukan di sini,” ujar Selma dengan tegas.

“Tapi kita masih suami istri,” balas Arman dengan perlahan.

“Kau harus ingat ini sebelum kau menghilang dulu, tapi sekarang semuanya sudah tak bererti.”

Katakata Selma seperti menghiris jantung waktu. Hening dan bungkam. Arman hanya bisa menghirup kopi dingin itu separuh hati. Cuma pahit yang dia rasakan.

“Pergilah, aku tidak perlukan lakilaki seperti kau,” Selma menegaskan lagi.

Terdengar keluhan dari Arman, seperti begitu berat untuk dia menerima hal itu.

Selma kembali merasa sakit itu, seperti masih baru melukakan hatinya. Dia yang selalu ditinggalkan sendirian di tiap malam. Tenaganya yang dipergunakan oleh Arman demi sukses dalam pekerjaan.

Berapa puluh kamar hotel lima bintang dia jelajahi, menyerahkan tubuh kepada banyak lelaki, hanya kerana Arman ingin sukses dalam bisnis.

Setengah jam kemudian.

Selma hanya memandang Arman lewat jendela kaca. Tiada sedih ataupun rindu. Semua memang sudah berlalu. Dia sudah bisa menerima kenyataan itu.

Di pinggir jalan, Arman terjatuh. Darah membuak-buak keluar dari mulutnya. Perutnya seperti tembus. Dia tergeletak di situ, di jalan sepi tanpa orang, menghembus nafas terakhir sendirian.

Di balik tembok, Selma berselimut hitam, melihat tubuh Arman yang kaku. Dia mengintip di ujung jalan. Racun yang dibubuh di dalam kopi pagi tadi adalah untuk dirinya sendiri, namun Tuhan mengirim Arman datang dan Selma telah menukar fikiran, membunuh Arman.

05032019, Kuala Lumpur.

Tinggalkan Balasan