Kam. Mei 13th, 2021

Sembunyi, Nak!

Sore itu seperti sore biasa, Mia pulang terlambat dari sekolahnya. Kegiatan ekstra kulikuler SMA banyak menyita waktunya akhir-akhir ini.Ia membuka pintu dengan lemas dan segera menuju dapur berharap segelas air putih bisa meyejukkan tenggorokannya yang kering. Belumlah ia menyentuh ketel air yang berwarna biru itu, langkahnya terhenti. Ia melihat ibunya tertidur pulas di atas sofa, di pojok ruang makan dengan tangan yang masih menyisakan bekas-bekas bumbu masakan.

Wajah ibunya yang dimakan usia tersirat hidup yang getir. Setiap hari tanpa henti mengupas bumbu dapur lalu menjualnya ke rumah makan.Harga yang didapat tidak pernah sebanding dengan keringat dan luka yang membekas di jarinya.Mata mia berkaca-kaca, dia mendekati ibunya lalu mencium keningnya.
“Ibu, aku pulang…” sapa mia lembut. Lalu ia bermanja, memijat kaki ibunya perlahan.
“Ibu ketiduran, ya?” beliau tersipu, lalu mengelus rambut anak perempuannya itu.
“Pindah ke kamar saja, Bu. Biar aku yang melanjutkan pekerjaan Ibu,”
“Jangan, buat saja PR-mu,Nak…” lalu ibunya berdiri.
“Ibu, aku saja,” Mia merengek.
Ibunya menggelengkan kepala. Jika ia diam artinya ia serius. Mia yang sedikit kecewa memilih beranjak ke meja makan dan mengeluarkan bukunya.Ibunya tersenyum melihat anak perempuannya mulai belajar.Karena, bagi dirinya ilmu adalah misteri.Dia tidak bisa membaca dan menulis. Karena itu ia mempunyai hasrat yang kuat, agar anaknya tidak bernasib sama sepertinya.
Tiba-tiba seorang lelaki yang sedang mabuk datang dan berteriak-teriak.
“Istriku!Di mana kau!” lelaki itu berjalan sempoyongan dan menjatuhkan keramik pot bunga.
“Itu ayahmu, Mia.Masuklah ke kamarmu.Sembunyi, Nak!” ibunya panik.
Mia pun bereaksi refleks.Karena hal ini sudah dilakukannya sejak masih kecil.Mia duduk dipojok kamarnya, memeluk bantal, memejamkan mata tapi telinganya mencuri dengar.
“Mana uangmu?Berikan padaku!” ayah Mia memaki ibunya.
“Ampun, Pak. Uang itu untuk Mia sekolah,” ibu Mia memelas.
“Anak itu tidak perlu sekolah! Kau kawin kan saja dia sayang! Hahaha,” lalu terdengar suara tamparan yang keras, “Plakkkkkk!”
“Pukul saja aku sepuasmu.Tapi jangan ambil uang itu,” ibunya memelas lagi.Menahan kaki suaminya agar tidak bisa ke kamar mengambil uang yang disimpan ibu Mia.
Tak lama terdengar suara pecahan kaca.
Mia semakin takut.Lalu, terdengar suara tapak yang berlari seperti ketakutan. Namun, suara ibunya tak terdengar lagi sama sekali.
Mia keluar kamar dengan tubuh gemetar, dia perlahan mendekati kamar ibunya.Gemetar tubuhnya terhenti. Dia terhenyak melihat tubuh ibu.Darah yang mengucur deras, mulai membasahi tubuh ibunya. Dilihatnya, tangan ibu masih menggenggam beberapa helai uang ribuan.Mia tertegun, orang yang paling dicintai dan disayangnya kini terbaring tak bernyawa.
Seperti orang kehilangan jiwa, Mia berjalan pelan menuju dapur.Diambilnya pisau yang tadi digunakan ibu mengiris bumbu.Kemudian, Mia berjalan pelan ke luar rumah.Diam, santai, seperti tidak terjadi apa-apa. Di dalam benaknya saat ini, hanya ada satu hal: Mengeluarkan hati ayahnya yang menurutnya tak pernah dipakai sama sekali.
*****
Oleh: DP Anggi

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: