Ming. Jun 20th, 2021

SYAIR SANG PERINDU

SYAIR SANG PERINDU

Dan malam pun berlabuh, baku sandarkan sunyi dan menyentuh palung hati, senja telah merapat menyuguhkan sepotong aku yang tersesat dalam alunan syair yang mengalirkan butiran rindu. Terasa sejuk bagaikan curug yang tak henti membilas sebidang hati
Hingga membatu dalam bisu menunggumu.
Kosong …
Sunyi, namun kunikmati jua perjamuan ini.
Rindu, telah mengekang jiwaku, menyuguhkan tembang bimbang yang mengalun pada hembusan angin malam 
Selaksa semilir sang bayu yang mengusap lembut di wajahku, menghadirkan malam lalu temaram di seraut bayanganmu.

Telah ku lukis petala langit dengan rajutan benang-benang kasih, juga gemintang telah datang menyempurnakan wajah malam, aku masih saja terdiam sendirian.
Lihatlah …
Awan telah menepi, menghadiahi rembulan yang datang tanpa berjanji
Sedang diriku masih terdiam dan menanti
Haruskah kubujuk tujuh bidadari yang bersembunyi, lalu membentang lembar demi lembar pelangi malam ini
Agar kau mengerti betapa malam ini sunyi, tanpamu …
Ujung nyiur telah melambai, rembulan pun telah benderang sempurna apa kau tak merasakannya?
Kekasih …
Aku rindu.

Jambi juni 2018
#Hamam_Nasrudin

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: